Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
catatan rahasia Ratu


di aula agung, kekaisaran Ming.


seseorang maju dan berlutut di hadapan Kaisar baru, orang itu tidak lain adalah pangeran Jing Hao yang di angkat menjadi pejabat tingkat tiga.


"Yang Mulia, mohon di pertimbangkan lagi, walaupun kali ini pangeran Jing Hao sudah melakukan jasa besar, tetapi pangeran Jing Hao berasal dari kerajaan lain, tidakkah mengangkat nya menjadi pejabat tingkat tiga terlalu berlebihan" ucap menteri pertahanan dengan suara berat nya yang berwibawa.


"cukup menteri pertahanan chow, ini pantas untuk nya, dan aku butuh penjelasan tentang ini dari mu" ucap Kaisar, sambil melemparkan lencana yang di dapat kan dari para penyerang itu, di hadapan menteri pertahanan chow.


semua pejabat menatap ke arah menteri pertahanan chow, dan beberapa tersenyum sinis.


wajah menteri pertahanan menjadi pucat karena sebelumnya sudah mendengar rumor tentang insiden lencana nya.


"Yang Mulia, saat ini hamba tidak memiliki bukti yang cukup untuk membela diri hamba" ucap menteri pertahanan chow sambil menunduk.


"jadi kau mengakui telah memerintahkan penyerangan ke pada ibu suri kekaisaran ini" teriak Kaisar.


"Yang Mulia, itu tidak benar, hamba tidak akan berani, mohon Yang Mulia mempertimbangkan nya lagi" ucap menteri pertahanan chow sambil berlutut.


"mohon Yang Mulia mempertimbangkan" ucap sebagian menteri dan pejabat lain nya yang merupakan pendukung menteri pertahanan chow, dan ikut berlutut.


"tidak ada yang perlu di pertimbangkan lagi, hari ini aku menghukum menteri pertahanan chow, dengan....


"tunggu!!!! Yang Mulia Kaisar, sebaiknya kau mencari bukti terlebih dahulu, sebelum menghukum menteri chow." ucap seorang wanita yang tubuh nya tertutup tirai, hanya dari arah Kaisar yang bisa melihat wanita itu.


"ibu.... bukti apalagi? ini sudah jelas bukti yang nyata" ucap Kaisar baru itu.


"anakku, seseorang mengatakan padaku, apa yang terlihat sering kali bukan kebenaran, dan begitu pula sebaliknya, mereka semua sudah terlatih, jikapun mereka suruhan dari menteri pertahanan chow, mereka tidak akan membawa identitas diri dalam melakukan serangan seperti itu." ucap Ibu Suri dengan tenang.


Kaisar muda itu hanya mengangguk,


"baiklah, kali ini karena ibu suri memberikan pendapat seperti itu, untuk sementara menteri pertahanan chow di bebas tugas kan, sampai ada perintah selanjutnya dariku" ucap Kaisar muda itu.


"terimakasih atas kemurahan hati Yang Mulia" ucap menteri pertahanan chow, dan di ikuti oleh semua pejabat dan menteri di aula agung itu.


"ternyata ibu Suri bukan lah orang yang mudah aku taklukkan, ini semakin membuat ku menginginkan nya" batin pangeran Jing Hao, terlihat wajah nya sangat kesal.


*****


beberapa hari kemudian di kediaman ibu suri, dua wanita sedang berbincang, sampai terdengar suara seorang dayang dari ruangan kedua wanita itu.


"Yang Mulia, pangeran Jing Hao ingin bertemu anda" ucap dayang itu dari luar ruangan.


"persilakan" ucap ibu suri, dan kepala pelayan itu bersembunyi di balik pintu rahasia yang ada di belakang ruangan itu.


pangeran Jing Hao dengan langkah tenang masuk dan duduk di depan sebuah tirai.


"katakan apa yang ingin kan?" ucap ibu suri dari balik tirai.


pangeran Jing Hao mengangguk, memantapkan hatinya.


"hamba datang ingin bernegosiasi" ucap pangeran Jing Hao, membuat mata Ibu Suri melebar, karena tidak ada yang berani bicara seperti itu sebelumnya.


"lancang!!! apa maksud mu?" ucap wanita di balik tirai itu.


"haha.... Ibu Suri, aku tidak akan berpura-pura lagi, sebenarnya aku ingin agar kau selalu mendukung ku, jadikan aku orang terkuat di istana ini setelah Kaisar," ucap pangeran Jing Hao


"omong kosong apa ini? segera tinggalkan istana ini sebelum aku memanggil pengawal dan melempar mu kepada binatang buas" teriak Ibu Suri


"aahhh... seperti itukah cara anda memperlakukan orang yang telah menyelamatkan mu dan anak mu?" tanya pangeran Jing Hao


"apa maksud mu? cepat katakan dan jangan berbelit-belit seperti ini" ucap Ibu Suri dengan wajah marah.


"hahaha... kau termasuk orang yang tidak sabaran, baiklah jadikan aku orang terkuat, dan sebagai bayaran nya, aku tidak akan mengungkapkan jika anak mu itu adalah mandul, dan juga sebagai Kaisar yang durhaka karena telah meracuni ayah nya sendiri" ucap pangeran Jing Hao yang kini sudah berada di samping Ibu Suri.


mata Ibu Suri melebar, bibirnya bergetar karena marah, dan sekaligus tidak pernah terbayang dengan ucapan pangeran Jing Hao.


"bajingan, jaga ucapan mu, cepat keluar dari tempat ini" teriak Ibu Suri.


****


di salah satu bangunan kecil di kediaman Ibu Suri,


Xiao Zhou sedang meracik ramuan untuk kepala pelayan, kening nya sedikit berkerut dan beberapa kali menggeleng.


"bagaimana menurut mu?" tanya kepala pelayan itu.


"bibi, aku sudah melihat Yang Mulia Kaisar, dan dari semua catatan kesehatan nya Yang Mulia adalah pemuda yang sehat, ini adalah permainan dari pangeran Jing Hao, aku sudah memeriksa catatan tabib yang merawat Yang Mulia Ratu, dan lihat lah....!!! ratu selalu mengkonsumsi pil yang membuat nya tidak bisa hamil, banyak orang yang terlibat dalam rencana busuk ini" ucap Xiao Zhou dan mengeluarkan sebuah buku.


"ini adalah buku catatan rahasia milik tabib yang merawat Yang Mulia Ratu, tulisan tangan nya tidak dapat di palsukan" ucap Xiao Zhou dan memberikan kepala pelayan itu semangkuk ramuan.


wajah kepala pelayan itu terlihat bersemangat lagi, senyum nya mengembang dari yang sebelumnya begitu murung.


"bagaimana kau bisa melakukan hal-hal yang begitu jauh di depan ku, aku sudah meremehkan mu selama ini, maafkan aku Zhou'er, dengan bukti-bukti ini Yang Mulia ibu suri akan mengirim bajingan itu ke tiang gantungan" ucap kepala pelayan itu, dan mulai meminum ramuan nya.


"aku tidak akan melakukan itu jika menjadi Ibu Suri, pangeran Jing Hao begitu licin, Ibu Suri harus melakukan hal lain terlebih dahulu" ucap Xiao Zhou, dan kembali berbicara.


dan beberapa saat kemudian.


"ide mu sangat sempurna, dan ramuan mu kali ini tidak begitu buruk, apakah kau sudah benar meracik nya?" tanya kepala pelayan itu, kulit nya tampak terlihat bersih, dan warna kebiruan di wajah dan beberapa bagian tubuh nya sudah tidak ada lagi.


Xiao Zhou hanya mengangguk,


" beristirahatlah bibi, racun dalam darah mu sudah hampir hilang, tinggal mengeluarkan liur serigala yang masih ada di tubuh bibi, tunjukkan di mana luka nya!!" ucap Xiao Zhou.


wanita itu hanya mengangguk, dan membuka jubah nya dan tampak luka bekas gigitan serigala di pangkal lehernya.


luka itu begitu mengerikan, tampak di sekitar luka itu urat-urat keunguan menonjol.


"energi qi ku tidak bisa mendorong nya keluar bibi, energi qi yang ku miliki hanya mampu untuk menghisap nya, jika bibi tidak keberatan aku akan melakukan nya" ucap Xiao Zhou.


mata kepala pelayan itu sedikit melebar, wajah nya kini memerah dan menunduk.


"lupakan saja, aku tidak ingin kau melakukan Zhou'er, selama ini kau sudah begitu baik, aku tidak mungkin menyuruh mu melakukan hal menjijikkan seperti itu" ucap kepala pelayan itu, dan mengenakan jubah nya kembali.


"baiklah, aku akan pergi bibi" ucap Xiao Zhou.


"tunggu!!!" ucap kepala pelayan itu dan memeluk tubuh Xiao Zhou.


"terimakasih, kau sudah menyelamatkan nyawa ku, dan sekarang kau sudah membuat ku tenang dan percaya diri menghadapi semua, bisakah malam ini kau tidur di sini" ucap Kepala pelayan itu.


"baiklah bibi, tapi dengan satu syarat, biarkan aku menghisap luka itu, jika di biarkan pengobatan ini akan sia-sia" ucap Xiao Zhou.


"aaahhhh......."


"aaahhhh......"


desahan mulai terdengar dari rumah kecil itu, jubah kepala pelayan itu sudah jatuh di lantai, tangan nya memegang erat meja di hadapan nya.


bibir Xiao Zhou menempelkan di leher jenjang wanita itu dan sesekali meludah, wanita itu menggigit bibir bawahnya seperti menahan sesuatu.


"aahhh... bibir pemuda ini begitu lembut, dan sesuatu dalam diri ku kini hidup lagi, gairah ini sudah lama aku tidak merasakan nya," batin kepala pelayan itu.


dan malam itu Xiao Zhou keluar dari kediaman kepala pelayan itu.


"Yang Tian, ada tugas menyenangkan untuk mu, mulai bunuh semua mata-mata yang mengikuti setiap pergerakan wanita ini, dan bersih kan kediaman Ibu Suri mulai sekarang" ucap Xiao Zhou.


"baik tuan" ucap Yang Tian dan keluar dari bayangan Xiao Zhou.


keesokan harinya kepala pelayan itu menghadap Ibu Suri dan mereka mulai melakukan rencana Xiao Zhou.


mereka memilih secara diam-diam seorang puteri pejabat dan memasukkan nya ke kediaman Ibu Suri.