
para penyerang masih bertahan di pulau keseimbangan, pertempuran masih berlangsung di berbagai tempat, begitu pula dengan kobaran api yang semakin banyak.
malam yang awalnya begitu hening dan gelap kini menjadi bising dan begitu terang karena api dan dentuman pertempuran.
Xiao Zhou mendarat di atas sebuah bangunan yang di peruntukan untuk pengobatan, terlihat para tabib sedang mengobati para pengawal dan orang-orang yang terluka akibat serangan dari orang-orang berpakaian hitam.
"nona laba-laba, sekarang bantu aku," ucap Xiao Zhou.
"tuanku, kau?" mata siluman laba-laba melebar seakan ingin menelan Xiao Zhou bulat-bulat, karena merasa di bohongi oleh tuannya.
"beberapa luka ini terkena senjata rahasia yang beracun, kau seorang ahli racun bukan?" tanya Xiao Zhou.
"cih... aku mengerti, tapi setelah ini kau harus membayar ku," guman siluman laba-laba kesal dan menghisap salah satu luka beracun di lengan seorang pelayan wanita.
siluman laba-laba itu menelan darah yang mengandung racun dari pelayan itu, sesekali kepala nya mengangguk,
"racun ini cukup ganas, dapat membunuh manusia dalam hitungan menit, cepat kumpulan orang-orang yang terkena racun, aku akan membuat ramuan yang tepat," ucap siluman laba-laba itu menatap kepada Xiao Zhou.
"kau menyuruhku?" tanya Xiao Zhou.
"apa kau ingin para tabib ini berlari ke dalam pertempuran untuk menyelamatkan para korban," teriak siluman laba-laba itu dengan mata melotot.
Xiao Zhou keluar rumah pengobatan dan melompat di atas-atas atap untuk mencari para korban,
kedatangan penghuni alam Qing Sui mulai meredakan serangan dari para penyerang itu, jumlah merekapun mulai berkurang,
Xiao Zhou mulai mendekati para korban yang terluka, menotok nya dan menggendong serta membawa ke rumah pengobatan, dalam hitungan jam rumah pengobatan itu penuh dengan orang-orang terluka.
dua orang sedang bertarung membantu kepala desa Lou fang, mereka adalah Jung Min Ha dan Dewa Song Feng.
Jung Min Ha yang tidak menguasai tehnik bertarung, hanya mengandalkan kecepatan nya untuk menghindar dan melakukan serangan, tapi berbeda dengan Dewa Song Feng yang memang merupakan calon pejabat istana Langit kemampuan bertarung nya sangat tinggi.
tetapi saat ini dirinya seperti hanya bermain-main, bahkan Song Feng lebih banyak hanya melempar orang-orang itu ke arah istana ke 15, tanpa melukai mereka.
Song Feng melepaskan pakaian atas nya dan mengeluarkan tinju bayangan nya, pemuda gagah itu lebih banyak berputar di sekitar Jung Min Ha menunjukkan otot-otot tubuhnya, daripada memukul lawan nya.
"lihat seperti nya adik ipar mu sudah tidak memiliki kemampuan untuk bertarung," ucap Dewa Song Feng sambil tersenyum mengejek.
Jung Min Ha menatap ke arah yang di maksud oleh Dewa Song Feng,
Jung Min Ha terbang ke arah Xiao Zhou,
"biar aku bantu," ucap Jung Min Ha dan mulai menebas para penyerang itu, membantu Xiao Zhou yang menggendong seorang pelayan yang terluka, melepaskan diri dari para penyerang.
"terimakasih kakak ipar, berhati-hatilah," ucap Xiao Zhou tanpa menatap Jung Min Ha, dan melesat ke arah rumah pengobatan, yang di susul oleh Jung Min Ha.
wajah Dewa Song Feng sangat kesal melihat Jung Min Ha meninggalkan nya, dan membantu Xiao Zhou dan ingin mengejar Jung Min Ha.
"Dewa muda, apa yang kau lakukan bantu aku, jumlah mereka begitu banyak, pertahankan pesisir timur agar kerusakan tidak terlalu luas" teriak Lou Fang menatap Dewa Song Feng.
"baik ayah" teriak Song Feng, yang kini sudah memanggil Lou Fang dengan sebutan ayah.
mata Jung Min Ha melebar saat melihat korban begitu banyak, para tabib dari suku bul-bul terlihat kewalahan karena begitu banyak orang yang perlu di obati, dan jeritan dari orang-orang yang kesakitan, dan para tabib yang berlarian membuat suasana di rumah pengobatan itu begitu gaduh.
Xiao Zhou dengan cepat membantu orang-orang itu, dengan dasar pengobatan yang di ketahui nya, orang-orang terluka itu mulai tenang, oleh totokan dan obat-obatan yang di berikan Xiao Zhou.
Jung Min Ha juga ikut membantu, kedua nya terlihat begitu sibuk membersihkan luka para korban, dan memberi ramuan kepada orang-orang itu.
langit mulai membiru, pertempuran sudah tidak banyak terlihat.
Xiao Zhou duduk di atas atap rumah pengobatan, sesekali mata nya menatap Jung Min Ha dan siluman laba-laba, yang sedang merawat seorang korban dengan penuh kesabaran, terlihat wajah nya, tangan dan pakaian nya di penuhi noda darah.
"dia pria yang unik, harusnya dia menjadi tabib,"ucap siluman laba-laba.
mata Jung Min Ha menyipitkan tidak mengerti siapa yang di maksud siluman laba-laba, siluman laba-laba memberi isyarat ke atas atap.
"dia memang berbeda," ucap Jung Min Ha.
"apa kau menyukai nya?" tanya siluman laba-laba.
"apa?" ucap Jung Min Ha gugup.
"aahhh... tidak dia adik ipar ku, aku tidak boleh menyukai nya," ucap Jung Min Ha lagi.
"hemm... sayang sekali, tapi sepertinya dia menyukai mu, dia selalu menatap mu dari atas sana," ucap siluman laba-laba.
"benarkah? ahh maksud ku, tidak perlu membahas itu, seperti nya aku harus mengambil ramuan lagi," ucap Jung Min Ha semakin gugup wajah nya merona merah karena malu, dan pergi.
udara terasa begitu sejuk pagi itu, Jung Min Ha menatap ke tempat Xiao Zhou duduk tadi, dan melompat, duduk di dekat Xiao Zhou, sambil menatap puing-puing kehancuran di pulau mereka, tidak ada lagi suara pertempuran yang terlihat.
Xiao Zhou meneguk isi guci kesayangan nya sambil menatap kosong ke arah gerbang pulau itu.
"berikan padaku," ucap Jung Min Ha, dan meraih guci Xiao Zhou.
"kenapa kau tidak ikut bertempur?" tanya Jung Min Ha, mulai meneguk guci itu
"menyelamatkan satu lebih penting daripada membunuh seratus dari mereka, lagi pula aku yakin orang-orang ku mampu menghadapi mereka semua tampa terluka," ucap Xiao Zhou.
"aku sudah melihat begitu banyak pertumpahan darah, mereka hanya memikirkan kebanggaan, kehormatan, tapi melupakan rasa kemanusiaan mereka," ucap Jung Min Ha, terlihat senyum getir di wajah nya, dan meneguk guci Xiao Zhou lagi
Xiao Zhou hanya mengangguk,
seharian itu para pasukan suku bul-bul dan pekerja mulai membersihkan sisa sisa pertempuran, tidak ada korban dari keluarga Xiao Zhou, ribuan mayat di jadikan abu oleh Dewa api Zhang, dan abu mereka di kubur oleh pengendali tanah,
para penghuni alam Qing Sui sudah kembali ke tempat mereka, terlihat wajah kesal dari siluman laba-laba, dan memberi isyarat kepada Xiao Zhou untuk segera membayar nya.
****
di kediaman kepala desa Dewa Song Feng sedang duduk bersama Jung Min Ha. terlihat pandangan Jung Min Ha begitu hampa dan sedih menatap kehancuran kediaman nya.
"adik Jung, aku akan ke alam langit aku akan meminta izin untuk menikahi mu, aku tidak ingin kau berada di tempat seperti ini," ucap Dewa Song Feng.
"apa? menikah? aku belum siap Dewa Song," ucap Jung Min Ha.
"aku tahu kau akan menjawab seperti itu, tapi bukan kah kau lihat sendiri, hari ini kita melewati hari yang sulit tapi kita berdua berjuang, kita seperti sudah di takdir kan untuk bersama, apa kau tidak merasakan sesuatu selama kita bersama? kita tidak perlu membuang waktu lagi," desak Dewa Song Feng.
"kau sangat cantik adik Jung, aku mencintaimu dan ingin menikah dengan mu," ucap Dewa Song Feng memuji Jung Min Ha.
Jung Min Ha menggeleng,
"maafkan aku Dewa Song, sekarang bukan saat nya untuk memujiku, kita baru saja mengalami musibah, aku ingin beristirahat," ucap Jung Min Ha dan masuk ke kamar nya.
Jung Min Ha duduk di ranjang nya, matanya menatap kosong ke arah jendela yang terbuka.
"kenapa aku sama sekali tidak merasakan apa-apa dengan Dewa Song, aku merasa kosong, bahkan setiap ucapannya membuat ku muak, tetapi kenapa aku semakin tidak bisa menolak apapun yang dia inginkan," batin Jung Min Ha.
braakkkkk....
pintu kamar nya terdorong dan Dewa Song masuk dan memeluk tubuh Jung Min Ha,
"Dewa Song apa yang kau lakukan?" ucap Jung Min Ha setengah berteriak.
Dewa Song seperti tidak peduli dan terus menciumi wajah Jung Min Ha,
"kau adalah milik ku, kali ini kita akan melakukan nya adik Jung," ucap Dewa Song dan mendorong tubuh Jung Min Ha hingga terbaring di ranjang nya, dan dengan cepat dewa Song menindih nya.
Jung Min Ha menjauhkan wajahnya dari serangan ciuman Dewa Song, tidak ada kata yang dapat keluar dari bibirnya, air matanya mulai mengalir,
"apa yang terjadi padaku? aku tidak dapat menolak nya," batin Jung Min Ha.