
di alam langit Dewa Kebijaksanaan membuka begitu banyak peti di ruang perpustakaan, kepala nya menggeleng karena tidak menemukan apa yang di cari nya sampai Dewa Pengetahuan datang membawa ke ruang rahasia yang ada di bawah perpustakaan itu.
"ada yang ingin ku bicarakan padamu Dewa kebijaksanaan," ucap Dewa Pengetahuan sambil menuangkan teh ke dua cawan di ruangan temaram itu.
"katakan saudara ku," ucap Dewa Kebijaksanaan.
"ini adalah tentang pulau keseimbangan yang melebur dengan pulau di atas nya, apa kau pernah bertemu Zhou'er?" tanya Dewa Pengetahuan.
Dewa Kebijaksanaan mengangguk, dan berdiri sambil memegang cawan nya,
"aku pernah bertemu, seperti nya dia bersama seorang wanita memiliki kemampuan langit tingkat tinggi," ucap Dewa Kebijaksanaan sambil menatap dinding batu di ruang rahasia itu.
dan tiba-tiba saja mata Dewa Kebijaksanaan melebar menatap sebuah lukisan tua di dinding batu itu, dan mendekati nya.
"tidak mungkin," guman Dewa Kebijaksanaan.
"aahhh... benar tidak mungkin ada wanita berkemampuan seperti itu selain dewi Phoenix abadi," ucap Dewa Pengetahuan yang tidak mengerti jika Dewa Kebijaksanaan sedang bicara tentang lukisan di hadapan nya.
"bukan... bukan itu saudara ku, wanita itu adalah wanita di lukisan ini," ucap Dewa Kebijaksanaan.
mata Dewa Pengetahuan melebar, dan ikut mendekati lukisan itu.
"apa kau yakin, wanita ini adalah Ratu langit zaman yang berbeda dari istana ini, di sini tertulis tahun yang tidak ada di zaman kita, Ratu Xhin Ye adalah wanita tercantik yang pernah tercipta di tiga alam di zaman nya," ucap Dewa Pengetahuan, sambil membaca tulisan di bawah lukisan itu.
"hahaha... benar wanita itu mengaku bernama nona Xhin Ye, aahhh seperti nya dia adalah penghuni pulau tingkat kedua, jadi selama ini Zhou'er berada di pulau itu, aahh... semoga wanita dapat menolong Zhou'er untuk menjaga pulau nya dan keluarga nya, aku bisa sedikit tenang saat ini," ucap Dewa Kebijaksanaan.
*****
malam itu Xiao Zhou dan Ratu Xhin Ye memasuki ruang tidur Ratu Xhin Ye, dan untuk pertama kalinya dirinya memperlihatkan ranjang besar dengan atap indah di atas nya, tirai renda mewah dan elegan menghiasi setiap sisi terbuka dari ranjang dengan matras tebal yang empuk.
"malam ini kita tidur di tempat ini, karena sepuluh hari ke depan kita tidak boleh bersama, aku hanya bisa menemui mu sebentar saja dan kita tidak boleh berduaan," ucap Ratu Xhin Ye.
Xiao Zhou menyipitkan matanya tanda dirinya tidak begitu mengerti ucapan Ratu Xhin Ye.
"sepuluh hari lagi malam ritual kita, dan kita akan melakukan itu..." ucap Ratu Xhin Ye memainkan kedua ujung telunjuk nya seperti anak kecil, matanya tidak berani menatap Xiao Zhou.
Xiao Zhou hanya berdiri situasi itu begitu kaku, dan Ratu Xhin Ye menarik lengan Xiao Zhou dan membawa ke ranjang besar nya mereka berbaring dan saling memeluk.
kepala Ratu Xhin Ye berada di dada Xiao Zhou, setengah tubuh nya menindih tubuh Xiao Zhou.
"apa kau ingat tentang pemuda yang selalu mengganggu pikiran ku?" tanya Ratu Xhin Ye.
Xiao Zhou yang terbaring hanya diam,
"pemuda itu adalah orang yang menolong ku di gerbang pulau ke tiga, aku selalu memikirkan nya, dan aku ingin mengabdikan hidup ku untuk nya, dan begitu bingung saat aku mulai menyukai mu, aku tidak dapat memilih mu atau pemuda itu, bahkan sampai saat kita melakukan itu, aku masih belum mampu menentukan hatiku." ucap Ratu Xhin Ye mengangkat wajahnya dan menatap Xiao Zhou.
"tapi setelah aku melihat naga hitam milik mu di atas danau itu, aku menanyakan kepada penjaga pulau, dan naga itu menceritakan semua nya tentang mu, dan luka di dantian mu, hatiku begitu bahagia dan lega, dan aku sudah memutuskan untuk menjadi istri mu seutuhnya, dan meminta inti darah dari mu," ucap Ratu Xhin Ye.
Xiao Zhou hanya tersenyum,
"oohhhh benar, aku hampir melupakan naga gemuk itu tidak bisa menjaga rahasia," ucap Xiao Zhou kesal.
"hihihi.... sudahlah lupakan semua, kau,naga hitam mu, topeng suci, pernikahan, bintang besar, semua itu bukan suatu kebetulan, kau datang sebagai takdir ku, dan mulai hari ini aku Xhin Ye akan menjalani takdir yang sudah di garis kan menjadi istri mu." ucap Ratu Xhin Ye, matanya berkaca-kaca, dan mengelus lembut wajah Xiao Zhou.
"kenapa kau menangis?" tanya Xiao Zhou.
"ini air mata bahagia ku, apa masih sakit? aku hanya memukuli mu dengan lembut," guman Ratu Xhin Ye.
"kau bilang apa? lembut? cih... kau bahkan melempar suami mu hingga menembus dinding gubuk batu, apa itu masih kau bilang lembut?" ucap Xiao Zhou menekuk bibir atas nya kesal.
"hihihi... maafkan aku suami, aku benar-benar tidak ingin terlihat jelek di mata mu, itu saja..." ucap Ratu Xhin Ye menunduk.
Xiao Zhou tersenyum dan mengelus kepala Ratu Xhin Ye, Ratu Xhin Ye mendekatkan kristal merah di keningnya ke bibir Xiao Zhou, dan Xiao Zhou mencium kening Ratu Xhin Ye, keduanya tersenyum dan tertidur saling berpelukan.
****
Xiao Zhou masuk alam him Sui dan penjaga alam Him Sui membungkuk dan mengangguk saat Xiao Zhou meminta barang yang di perlukan nya.
dan tidak berlangsung lama penjaga alam itu memberikan semua nya, Xiao Zhou melompat dan berdiri di atas batu di tengah danau berkabut yang begitu tenang tempat nya dahulu saat berlatih meningkatkan kemampuan otak nya, dan juga bertapa.
ilustrasi danau tenang di alam Him Sui
"aku harus menaikkan kemampuan otak ku yang baru mencapai 40 persen,"ucap Xiao Zhou dan mulai menyiapkan ramuan, dan sudah sebulan Xiao Zhou di alam Him Sui, kemampuan otak nya sudah meningkat mencapai 65 persen.
"ini sudah cukup untuk melatih dua pedang berbeda secara sempurna dalam satu serangan," ucap Xiao Zhou dan keluar dari alam Him Sui, sebulan di alam Him Sui hanya beberapa menit di alam nyata.
Xiao Zhou sudah kembali berada di bawah pohon persik tua, dan mencari tempat yang sedikit tenang untuk melatih kemampuan pedang nya.
Xiao Zhou duduk bersila di atas sebuah batu, dan memejamkan matanya, dengan kemampuan otak baru nya, tehnik meringankan tubuh nya mulai keluar sendiri, tanpa Xiao Zhou perlu berkonsentrasi bersamaan dengan naga air yang tidak terlalu besar berputar-putar di sekitar nya.
Ratu Xhin Ye terlihat tidak tenang di aula agung yang sedang menerima laporan dari pejabat nya, matanya sesekali melirik cincin indah di jari telunjuk nya, bibir selalu sedikit tersenyum saat melihat benda itu, membuat para pejabat baru itu sedikit kesal, karena penguasa mereka seperti sedang tidak berada di tempat itu, dan mengabaikan laporan mereka.
"sudah dua hari aku tidak melihat bocah itu, tapi aku sudah begitu merindukan nya," batin Ratu Xhin Ye.
"baiklah... kali ini sudah cukup, aku harus beristirahat malam ritual tinggal beberapa hari lagi, aku ingin menyiapkan diriku," ucap Ratu Xhin Ye yang terlihat sangat antusias kali ini, jauh berbeda dari malam ritual pertama yang terlihat begitu tertekan.
terlihat semua pejabat membungkuk dan memberi hormat tidak terkecuali sang pengganti yang tidak mengeluarkan sepatah kata pun hari itu.
semua pejabat keluar dari aula agung menyisakan sang pengganti yang menatap ke arah Ratu Xhin Ye, dan keduanya sudah duduk di taman dekat aula agung,
"penguasa... apa kau sudah melewatkan hari berdua dengan suami mu?" tanya Sang Pengganti berpura-pura tidak tahu, yang sudah memanggil dengan sebutan kamu bukan anda karena tidak ada orang di sekitar mereka.
"sebaiknya kau berhenti Sang Pengganti, ini tidak sudah berakhir," ucap Ratu Xhin Ye menghela nafas.
"tidak penguasa, aku belum menyerah," ucap Sang Pengganti dan melangkah meninggalkan Ratu Xhin Ye.
"kalian berdua sangat berbeda, saat bersama dengan mu aku masih memikirkan Zhou'er, tapi saat bersama nya, aku bahkan melupakan namaku sendiri," batin Ratu Xhin Ye.
Ratu Xhin Ye memasuki aula keluarga dengan langkah lemas, karena tahu jika pemuda itu masih di dalam hutan persik tua, tapi dua orang sedang menunggu nya.
"penguasa, ada yang perlu aku bicarakan dengan tuan Yu Jin muda, tentang kitab milik sang legenda serigala biru," ucap Penyihir Agung.
Ratu Xhin Ye sedikit senang, karena harus bertemu dengan Xiao Zhou, tapi hatinya terasa panas saat nona Huan Zhi juga ikut bersama Penyihir Agung.
"baiklah kalian berdua ikut dengan ku," ucap Ratu Xhin Ye yang sudah tidak sabar ingin melihat Xiao Zhou.
mereka bertiga memasuki hutan persik tua, pohon-pohon besar dan berbogol-bogol, sudah mereka lewati, tampak beberapa dayang terlihat sudah kembali dari membawakan buah untuk Xiao Zhou, wajah para dayang itu terlihat memerah dan saling tertawa.
para dayang itu membungkuk saat berpapasan dengan ketiga orang itu,
"kenapa ekspresi mereka seperti itu," batin Ratu Xhin Ye dan semakin cepat melangkah kan kaki nya.
langkah ketiga nya terhenti saat melihat seseorang seperti berada di dalam gelembung air duduk bersila, tubuh pemuda itu melayang di atas sebuah batu, dan sebuah naga air sedang berputar-putar mengelilingi nya.
Ratu Xhin Ye dan Huan Zhi melangkah semakin mendekati pria itu, tubuh keduanya sedikit bergetar, bibir keduanya sedikit terbuka, saat melihat wajah Xiao Zhou yang sudah tidak memiliki bekas abu naga lagi, wajah putih bersih, dengan rambut kecoklatan yang sedikit panjang, bergoyang-goyang membuat pemuda itu terlihat begitu indah, dan kristal biru di kening nya melengkapi ketampanan nya sebagai seorang pria.

ilustrasi Xiao Zhou
Xiao Zhou yang merasakan hawa lain mendekati nya, membuka matanya dan naga air nya menghilang bersamaan gelembung energi di sekitar tubuh Xiao Zhou.
Xiao Zhou membungkuk memberi hormat, dan menyapa kepada ke tiga tamu nya, sekaligus menyadarkan kedua wanita itu.
glupp....
terdengar suara ludah yang tertelan dari bibir indah nya