Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
Pertarungan di batas pulau


Dua orang sedang menatap Xiao Zhou keluar dari istana, satu orang mengikuti nya, dan satu orang melaporkan pada tuan nya.


Xiao Zhou tetap tenang dan terus melangkah pelan menikmati pemandangan menuju desa Fuzhu, beberapa petani dari suku Fiji membungkuk saat berpapasan dengan Xiao Zhou.


hari sudah menjelang sore saat mata Xiao Zhou melihat sebuah pohon persik naga yang sudah begitu tua, Xiao Zhou mendekati nya, dan melompat ke dahan pohon itu dan memetik sebiji buah persik naga itu.


Tiba-tiba ribuan senjata rahasia melesat begitu cepat kearah nya dan menghancurkan dahan-dahan dari pohon persik tua itu, puluhan orang berpakaian hitam dengan kemampuan langit tingkat bawah, dan tingkat dasar sudah memenuhi tempat itu.


Xiao Zhou menghindar, dan sayap pedang sudah tercipta dengan sendirinya, dan menghancurkan semua senjata yang mengarah ke tubuh nya.


tangan kiri Xiao Zhou menggenggam buah persik, dan tangan kanannya memegang pedang kematian.


"siapa kalian? kenapa kalian menyerang ku?" ucap Xiao Zhou sedikit berhati-hatilah, karena orang-orang ini semua adalah Dewa.


"kau tidak perlu tahu siapa kami, yang jelas kau adalah sasaran yang harus kami bunuh," ucap pemimpin dari kelompok itu.


Xiao Zhou mengangguk, dan melangkah meletakkan buah persik itu perlahan pada sebuah batu dan membuat segel Dewa kuno di sekeliling nya.


"baiklah, para bedebah tingkat Dewa.... aku rasa kematian ku dan juga kematian kalian sudah tiba," ucap Xiao Zhou, yang menyadari kalah jumlah.


para Dewa itu mulai membentuk formasi, beberapa dari mereka mulai melayang, dan mengeluarkan kemampuan masing-masing.


"Mata pemuda itu mulai terpejam, Pedang panjang Xiao Zhou mulai mengeluarkan uap hitam, dan mulai melesat kearah kelompok itu tangan kanan nya menebaskan pedangnya kematian ke arah kelompok itu.


traannnngggg....


sressttttt.......


traannnngggg.......


tebasan Xiao Zhou berhasil di tahan oleh beberapa orang, dan banyak di antara mereka terluka oleh sabetan pedang kematian.


beberapa orang yang berada di belakang Xiao Zhou tidak menyia-nyiakan kesempatan dan melesat kencang kearah punggung Xiao Zhou.


senyum mengembang di balik cadar mereka saat mengetahui jika pemuda itu akan segera mati, tapi seekor naga air keluar dari punggung Xiao Zhou dan menerobos ke tubuh mereka dan dalam sekejap naga air itu sudah berubah menjadi es, dan membekukan penyerang dari belakang Xiao Zhou.


"lingkaran kematian," ucap Xiao Zhou dan berputar di udara seperti jarum jam, ujung pedang kematian itu mengeluarkan cahaya membentuk lingkaran.


praaakkkkk.....


tubuh beku itu hancur oleh tebasan pedang panjang melengkung milik Xiao Zhou, tidak ada darah keluar dari tubuh beku itu, karena naga itu hampir membekukan setiap sel di tubuh beberapa orang itu.


Lingkaran kematian sudah di gelar, pertarungan mereka begitu sengit dan sudah tidak mempedulikan pertahanan sama sekali,


kali ini Xiao Zhou dapat melihat huruf-huruf suci dewa kuno bertebaran di udara dan membatasi pergerakan lawan-lawannya dan membuat mereka masuk ke lingkaran kematian milik nya, dan menghitung waktu untuk kematian mereka.


"jadi seperti ini cara kerja jurus yang mengandung kutukan, saat kita mengucapkan jurus itu secara tidak langsung kita sudah mengucapkan mantra kutukan yang terkandung di dalamnya," batin Xiao Zhou.


Xiao Zhou mulai menyerang pria yang masuk dalam lingkaran kematian milik nya, meski dapat mengelak tapi orang-orang itu harus membayar nya dengan luka-luka serius di tubuh mereka, begitu juga dengan Xiao Zhou serangan dari lawan nya juga sulit di hindari karena ruang tak terlihat begitu terbatas, tapi itu adalah lingkaran kematian milik nya, resiko untuk terluka parah tidak dapat terjadi padanya semasih dalam lingkaran itu.


Xiao Zhou hanya luka ringan saja di balik kulit nya, sedangkan kulit luar Xiao Zhou tidak tergores sama sekali hanya pakaian nya saja yang sobek, jika saja lawan Xiao Zhou selevel pendekar ranah surgawi mereka sudah di pastikan meregang nyawa dalam lingkaran itu.


pertarungan semakin brutal, darah sudah mulai berceceran dimana-mana, lawan Xiao Zhou bukanlah sembarang, mereka hampir selevel dengan dewa Yang Dong, atau mantan dewa kematian Fei Yu, beberapa diantara mereka sudah tidak bernyawa, tetapi dengan jumlah yang begitu banyak, membuat Xiao Zhou mengalami kesulitan juga, meski tehnik Xiao Zhou lebih tinggi, tapi berkali-kali dirinya harus terhempas karena energi qi lawan-lawannya jauh lebih besar dari milik nya, dan mengakibatkan luka dalam yang cukup serius.


blaaarrrrr....


Xiao Zhou terlempar dan menghantam bebatuan dekat dengan gerbang pulau tingkat ke tiga, pedang kematian nya terlempar dan tertancap di pilar gerbang menuju pulau tingkat ke tiga.


"uhukkkkk.... pruuuurrrsttttt...." darah segar menyembur dari bibir Xiao Zhou, terlihat pakaian di bagian dada Xiao Zhou sudah hancur, dan darah sudah memenuhi pakaian nya


"energi qi murni yang sangat besar, tidak banyak Dewa di tempat ini yang memiliki kemampuan langit tingkat menengah," batin Xiao Zhou.


"seorang ahli pedang melepaskan pedang dari genggaman nya? hahaha... ini seperti sebuah pertanda akhir dari perjalanan nya," ucap Sang Pengganti menatap pedang indah beruap hitam tertancap itu.


Xiao Zhou mengatur nafas nya, darah segar kembali keluar dari hidung nya, dan menatap pria itu, dengan raut wajah merendahkan, dan mengusap darah hitam yang keluar dengan lengan jubah lebar nya.


"kau akan mati hari ini, kau bukan lah anak Yu Jin tua, aku sudah mengetahui nya semua, kau sudah menipu Yu Jin tua, penguasa, dan semua dewa yang ada di tempat ini, kau cukup cerdik juga, katakan padaku, kau ini apa? dewa, iblis, atau manusia?" ucap Sang Pengganti sambil menatap bilah pedang nya yang sedikit retak setelah menebas dada Xiao Zhou.


"aku tidak percaya ini, kulit bocah ini begitu keras, bahkan tubuh emas pun akan terbelah oleh serangan ku tadi," batin Sang Pengganti.


"hahaha.... apa kalian mengaku Dewa? apa cara pengecut seperti ini bisa di katakan Dewa? kau sang pengganti bahkan kau tidak berani bertarung dari awal, dan hanya berani menyerang saat aku lengah, apakah itu yang kau banggakan?" ucap Xiao Zhou tertawa lebar, dengan darah di bibir dan pakaian nya.


"hahaha bocah... itu sudah tidak penting bagiku, aku hanya ingin kau menghilang dari pulau ini selamanya," ucap Sang Pengganti.


Xiao Zhou tersenyum lebar,


"Membunuh ku dengan kemampuan mu? melihat tehnik bertarung mu, ini seperti jauh panggang dari api, setidaknya butuh waktu lama untuk membuat ku menyerah, semua orang akan datang ke tempat ini, penguasa, dan juga penjaga pulau pasti akan datang, dan saat itu semua akan terlihat siapa kau dan juga aku yang sebenarnya," ucap Xiao Zhou.


tangan kanan nya di rentang kan kebelakang tubuh nya, dan sebuah pedang beruap biru perlahan muncul dari gagang nya sedikit demi sedikit sampai ujung nya pedang itu terlihat.


prakkkkk......


praaakkkkk.....


urat mulai bermunculan di lengan Xiao Zhou, dan warna kulit nya mulai keunguan di seluruh tubuh nya, tidak ada yang tahu perubahan itu karena tertutupi pakaian Xiao Zhou, tetapi kali ini wajah pemuda itu tidak berubah sama sekali.


"pedang semesta, bersiap lah membantai para Dewa ketinggalan zaman ini," ucap Xiao Zhou.


sang pengganti menancap pedang nya di tanah,


"bocah ini benar, jika bertarung akan memerlukan waktu begitu lama untuk menghabisi nya, semua orang akan melihat, dan bocah ini pasti akan di lindungi oleh penguasa," batin Sang Pengganti.


Sang Pengganti melangkah dengan tangan kosong membuat Xiao Zhou sedikit bingung,


"kau benar bocah, tapi apa kau bersedia menanggung dosa seumur hidup karena dirimu penyebab kematian seorang ibu dan anak yang tidak berdosa, mereka tidak akan mati jika saja kau tidak datang ke pulau ini,


Tua bangka cepat perintahkan anak angkat mu itu, untuk meninggalkan tempat ini," ucap Sang Pengganti.


Yu Jin tua berlari ke arah Xiao Zhou terlihat wajah lelaki tua itu penuh lebam, bekas noda darah yang mengering terlihat di dagu hidung, bahkan telinga nya, rambut nya yang setengah memutih tampak berantakan dapat di pastikan jika lelaki itu telah mengalami penyiksaan yang lama.


"ayah," guman Xiao Zhou menatap keadaan Yu Jin tua berlari mendekati nya.


"Zhou'er... ayah mohon kau pergilah dari tempat ini, jika tidak orang keji itu akan membunuh ibu mu, dan anak yang di kandung nya," ucap Yu Jin tua,


"Zhou'er.... ayah sangat bangga padamu anakku, jika hanya jiwa ayah dan ibu mu saja di pertaruhan, ayah dan ibumu pasti akan sangat senang mengorbankan nya untuk mu, hidup kami tidak ada artinya, dan kami hidup sudah lebih dari cukup, tapi.... tapi bayi yang di kandung ibu mu adalah keturunan ku yang tidak berdosa, anakku maafkan keegoisan ayah mu ini, tolong tinggalkan pulau ini," ucap Yu Jin tua sambil berlutut, terdengar isakan dari bibir Yu Jin tua.