
blaaarrrrr.....
pintu gudang itu hancur menjadi serpihan kecil, kedua insan itu secara membabi-buta memakai pakaian mereka lagi, dan setelah itu tampak seorang pria masuk dan menatap mereka.
"pangeran apa yang kau lakukan?" teriak Kim bong Goo yang begitu marah saat mengetahui jika yang mengganggu nya adalah pangeran ke empat.
"oohhh... kalian, maafkan aku... tapi apa kalian melihat kekasih ku? dia tidak ada di kamar nya," ucap pangeran ke empat.
"oh tidak... kakak sepupu?" ucap Park Geun Soo dan merapikan pakaian nya dan mengelap keringat nya, dan dengan cepat meninggalkan kedua pria itu yang juga segera keluar dari gudang itu, dengan perasaan begitu malu.
di belakang tumpukan jerami Park Min Ji dan Xiao Zhou tidak bergerak, dan mendengar percakapan pangeran ke empat, tapi tidak lama wanita yang sudah ujung kenikmatan itu, sudah tidak peduli apapun mulai mengerakkan sedikit bokong nya lagi dengan begitu pelan, meski kekasih nya masih berapa di tempat itu.
"aaahhh.... aku sudah gilaaa... apa yang ku lakukan? aku sedang bermesraan saat kekasih ku ada di samping ku, ini gila.... tapi ini begitu nikmat bahkan aku sudah tidak peduli lagi jika ketahuan," batin Park Min Ji, dan memejamkan matanya, merasakan kenikmatan yang sudah tinggal beberapa detik saja.
samar-samar suara pangeran ke empat dan Kim bong Goo mulai menjauh, Park min Ji mulai membuka sedikit mata cantik nya, lututnya yang awalnya sedikit di tekuk kini sudah lurus dan, kaki nya sedikit di lebarkan, agar Xiao Zhou semakin mudah menekan dari belakang
mata Park Min Ji semakin sayu, dan dengan begitu pelan menarik pakaian tidur nya sedikit hingga kini Xiao Zhou bisa melihat pakaian dalam yang juga berwarna abu-abu tua keperakan.
"mmmssss...." lenguh pelan dari Park Min Ji, tangan kanan Park Min Ji seperti tidak sadar sudah meremas jemari Xiao Zhou, ingin sekali membawa tangan pemuda itu ke arah gunung nya, yang terasa begitu tegang dan membutuhkan remasan, tapi masih ada sedikit rasa malu masih tersisa di kepala wanita itu.
gerakan pinggulnya semakin liar, dan semakin menekan ke belakang, dan bertumpu dengan tangan kiri nya saja agar tidak menyentuh tumpukan jerami.
benda milik Xiao Zhou semakin menekan, dan sudah mulai membelah bibir basah yang sedikit membengkak dan tampak memerah itu, meski di lapisi kain celana tipis Xiao Zhou ujung benda itu terlihat sudah masuk meski hanya sedikit.
"hakk... aahh.." sedikit pekikan keluar dari bibir Park Min Ji, bibir nya sedikit terbuka tubuh nya terus bergerak mendorong ke belakang.
"eenngghhh.. sedikit lagi," guman Park Min Ji hampir tidak terdengar.
"nyonya mereka sudah pergi," ucap Xiao Zhou.
"jangan berhenti, maksud ku tung-gu sebentar lagi... aah... a-ku takut mereka masih di sekitar sini," ucap Park Min Ji dengan suara bergetar dan terputus-putus, mencari alasan, tangan kirinya mulai meremas jerami di hadapan nya.
tangan kiri Xiao Zhou mulai menyentuh pinggang Park Min Ji, wanita itu hanya menggeleng seperti tidak ingin di sentuh oleh pemuda itu, namun tidak berusaha menolak nya, dan akhirnya puncak kenikmatan mulai menjalar di tubuh Park Min Ji, dengan nafas tersengal hebat, jemari nya semakin erat meremas jemari Xiao Zhou, hingga tubuh nya bergetar hebat perut nya berkedut di balik pakaian tidur nakal nya, dan lutut kembali sedikit ditekuk dan merapat, dan tangan kirinya memegang tumpukan jerami agar tubuhnya tidak terjatuh.
"aahhhh.... aku keluar... emmmmsss," guman Park Min Ji hampir tidak terdengar,
nafas nya masih tersengal tidak ada gerakan nya lagi, matanya terpejam erat, bibir nya masih terbuka, sambil mengatur nafas dengan tertunduk.
Park Min Ji mengangguk, dan mengatupkan bibirnya sambil menelan ludah nya.
tangan nya melepaskan jemari Xiao Zhou,
"kau pergilah dulu," ucap Park Min Ji tersengal, sambil mengatur nafas nya.
dan Xiao Zhou hanya mengangguk, dan dengan cepat keluar dan menghilang.
Park Min Ji mengusap dan menutup matanya dengan kedua matanya, dan masih mengumpulkan kesadaran nya.
"apa yang sudah terjadi, semua nya begitu cepat, aku bahkan tidak sempat berpikir, apa yang harus ku lakukan? bocah yang begitu ku benci sudah melakukan itu, walaupun tidak benar-benar melakukan nya, tapi yang lebih buruk, aku sendiri yang menginginkan dan bergerak, aaahhh... aku benar-benar putus asa," guman Park Min Ji dan dengan pikirannya yang jernih mengeluarkan pakaian.
"aku bahkan tidak berpikir jika memiliki jubah di dalam cincin ku," batin Park Min Ji melepaskan jubah separuh nya dan memakai jubah tidur nya yang baru.
Tess.....
Tess.....
hujan gerimis mulai membasahi rumah mewah di lereng perbukitan tidak jauh dari kota binjong.
pagi itu tampak Park Min Ji seperti membeku, wajah sama sekali tidak berekspresi menatap ke arah jendela yang menghadap ke rumah kecil Xiao Zhou, jemari kirinya meraba bibirnya dan tangan kanannya memegangi sumpit dan hanya meletakkan ujung sumpit itu di permukaan mangkuk nya.
"kakak Min Ji apa kau sakit? kau sama sekali tidak menyentuh makanan mu," ucap Park Geun Soo.
Park Min Ji masih terdiam sampai pundak nya di elus oleh pangeran ke empat.
"tidak.... lepaskan," ucap Park Min Ji seperti terkejut, dan begitu tersadar yang memegang nya adalah kekasih nya, wanita itu segera memejamkan matanya dan menutup wajahnya dengan tangan kirinya.
"aahhh.... maafkan aku pangeran, seperti nya aku kurang sehat hari ini," ucap Park Min Ji.
"kakak Min Ji beberapa hari belakangan ini kau begitu sehat, bahkan kau sama sekali tidak pernah terbatuk," ucap Park Geun Soo.
Bola mata Park Min Ji bergerak dari kanan ke kiri, seperti sedang memikirkan sesuatu.
"adik sepupu benar, aku bahkan tidak merasakan dingin sedikit pun juga, apa aku sudah sembuh? tidak penyakit ku hanya bisa di sembuhkan dengan elemen api abadi," batin Park Min Ji.
"ada yang harus aku lakukan," ucap Park Min Ji meletakkan sumpit nya di, dan meninggalkan meja makannya.
seharian itu Park Min Ji selalu teringat kejadian di gudang jerami itu, meski sudah berusaha keras memikirkan tentang penyebab hilangnya dingin karena tubuh Giok nya, tetapi bayangan yang begitu nikmat dan liar selalu membayangi nya.
"aku merasakan sakit terakhir saat pingsan di pelukan bocah itu," batin nya lagi dan mengerutkan keningnya mengingat kejadian saat itu.
"benar... aku ingat sekarang, bocah itu seperti menotok tengkuk ku, haha... itu tidak mungkin, dia bahkan seorang pelayan tanpa bisa berkultivasi, aahhh... aku cuma berhayal," Park Min Ji duduk dan memejamkan matanya sesaat.
dan pangeran ke empat datang bersama seorang lelaki sepuh bertubuh tambun mendekati nya.
"Ji'a.... aku membawa seorang tabib terbaik di kota binjong ini, dia pernah menangani seorang dengan tubuh giok seperti mu," ucap pangeran ke empat.
Park Min Ji memberi hormat pada laki-laki sepuh itu, dan berbasa-basi sebentar,
"permisi nyonya," ucap lelaki sepuh itu dan jemari gemuk nya meraba nadi di pergelangan Park Min Ji.
tabib itu menghela nafasnya, dan menggeleng beberapa kali dengan wajah seperti tidak percaya, dan meraba nadi di leher panjang wanita itu,
"demi ginseng Dewa, ini tidak mungkin,". guman tabib itu, meletakkan kedua tangannya di atas paha nya sendiri, matanya menyipit dan menatap Park Min Ji dalam-dalam.
"nyonya Park... apa beberapa hari ini anda bertemu dewa?" tanya tabib gemuk itu begitu serius.
"Dewa?" ucap Park Min Ji dan pangeran ke empat hampir bersamaan.
"hemmm.... ini aneh, seperti nya anda pernah di totok, itu membuat peredaran darah anda begitu lancar, dan cenderung sedikit lebih cepat dari biasanya," ucap tabib itu.
"itu tidak mungkin, aku cuma berhayal," ucap Park Min Ji tanpa sadar akan bicara nya.