
hari menjelang sore Xiao Zhou mendekat ke arah Tang Bao.
"adik ipar aku sedikit ada urusan mungkin aku kembali besok pagi," ucap Xiao Zhou.
Tang Bao yang sedang menatap keponakan pria gemuk itu hanya mengangguk, semua ucapan Xiao Zhou hanya seperti angin lalu saja.
Xiao Zhou masuk ke ruangan nya dan membuat sebuah gerbang teleportasi, dan memasukinya, kini Xiao Zhou sudah berada di bagian barat kekaisaran Ming, di bekas reruntuhan perpustakaan milik Dewa Suci Qing Tao.
Xiao Zhou mulai membuka gerbang di bawah tempat itu, kristal biru di kening nya mulai bersinar dan memutar telapak kirinya, sebuah cincin separuh keluar dari punggung nya dan berputar-putar di depan wajah tenang remaja itu.
"Dewi katakan siapa namamu?" tanya Xiao Zhou.
"aku? kau pasti sudah mengetahui siapa namaku dan masa lalu ku," ucap Dewi di dalam cincin langit itu.
"aku hanya tahu jika aku memfokuskan pikiran ku pada mu, dan aku akan melihat apa yang ingin aku tanyakan, tapi saat ini aku sedang malas melakukan nya, sekarang aku hanya manusia biasa, dan hanya ingin sekedar berbincang," ucap Xiao Zhou.
terlihat tangga mulai terbentuk ke bawah tanah dan obor yang ada di sepanjang tangga itu pun menyala, Xiao Zhou mulai menuruni anak tangga itu, dengan langkah mantap.
"baiklah... namaku Dewi Xiao beng dan aku dari klan penyihir sama seperti istri mu Ratu Xhin Ye, aku generasi ketiga dari zaman ku, aku jauh lebih tua dari nya, aku adalah pemimpin dari ke dua belas Dewa terkuat itu," ucap Dewi Xiao beng.
Xiao Zhou hanya mengangguk,
"bocah bisakah kau membebaskan jiwaku dari pusaka ini?" tanya Dewi Xiao beng.
"kenapa kau meminta bantuan ku? bukan kah teman Dewa Kematian yang kau banggakan itu adalah pengendali jiwa satu-satunya," Xiao Zhou balik bertanya.
"tidak... pusaka ini bukan lah tubuh manusia, dia tidak bisa menarik jiwa dari pusaka sekuat ini, hanya kau yang bisa melakukan nya, karena kau adalah tuan nya, dia akan mengikuti semua perintah mu, lagipula pusaka ini sudah tidak membutuhkan aku untuk bergerak," ucap Dewi Xiao beng.
"hemm... seperti itu rupanya, baiklah katakan padaku Dewi... kenapa aku harus melakukan itu?" tanya Xiao Zhou.
"a-ku tidak tahu, tapi hanya saja aku begitu kesal melihat kau melakukan itu, maksud ku kau tahu saat di tebing ilalang itu? aku dapat melihat kau melakukan itu dengan wanita itu, maksud ku itu bukan urusan ku, baiklah lupakan saja," ucap Dewi Xiao beng seperti begitu kesal.
Xiao Zhou sedikit tersenyum mendengar ucapan Dewi Xiao beng,
"bocah mesum kenapa kau tersenyum?" ucap Dewi Xiao beng semakin kesal.
"aku tidak tersenyum," ucap Xiao Zhou.
"iya kau melakukan nya, kau tersenyum," ucap Dewi Xiao beng berdebat.
"tidak aku tidak tersenyum, baiklah... aku melakukan hanya sedikit senyum, tapi apa kau selalu bisa melihat ku saat melakukan itu?" tanya Xiao Zhou.
"tidak... aku hanya melihat jika kau mengeluarkan pusaka ini saja, dan aku tidak ingin melihat hal-hal menjijikkan semacam itu lagi, apa kau mengerti!" ucap Dewi Xiao beng, dengan nada kesal.
"jika aku melepaskan mu apa kau akan bergabung dengan kesebelasan jiwa lain nya," tanya Xiao Zhou.
"tidak... aku akan kembali ke tubuh ku, dan memulai hidup baru ku, aku tidak tertarik akan kekuasaan," ucap Dewi Xiao beng.
Xiao Zhou melanjutkan langkahnya sambil memikirkan ucapan Dewi Xiao beng.
Xiao Zhou semakin masuk ke dalam tempat yang hanya di terangi obor itu, tampak beberapa kerangka manusia berserakan, dan ada yang menempel di dinding bata yang di penuhi debu.
Tidak jauh dari tempat Xiao Zhou terbentang jaring seperti jaring laba-laba, tetapi terbuat dari sejenis urat yang di dalamnya di aliri darah, dengan sebuah benda bergerak-gerak di pusat jaring itu.
Xiao Zhou masih tetap berbincang dengan Dewi Xiao Beng, seperti tidak takut akan mahluk di depan mereka.
"seperti nya kau tidak percaya dengan ucapan ku, kau bisa ke masa depan kau bisa melihat apa yang akan aku lakukan di masa depan, bukan kah kau pengendali waktu seperti ucapan mu," ucap Dewi Xiao beng.
"kau benar, aku bisa ke masa depan dan masa lalu, tapi setelah itu ada konsekuen yang harus aku terima, aku tidak bisa melakukan apapun dengan orang-orang yang aku lihat masa depan nya itu, jadi... aku sebaiknya tidak melakukan hal seperti yang kau katakan tadi, jadi aku sedikit bebas melakukan apapun padamu saat ini," ucap Xiao Zhou tersenyum lebar.
"seperti aku akan selama nya di tempat ini, kau benar-benar bocah menyebalkan, aku membencimu," ucap Dewi Xiao beng kesal.
tiba-tiba saja angin menyapu rambut sedikit panjang Xiao Zhou,
"siapa kalian?" terdengar suara serak wanita di tempat itu.
"hemmm.... aku ingat wajah muda ini," ucap suara serak itu lagi.
"lama tidak bertemu iblis darah, seperti nya kau sedang sibuk dengan benda itu," ucap Xiao Zhou, sambil menunjuk mahluk bergerak-gerak di pusaran benda berbentuk mirip jaring laba-laba itu.
"benda? bocah kurang ajar... dia adalah putra ku dengan Dewa Ling Zhein, dan apa yang ingin kau lakukan di tempat ku?" tanya iblis darah dengan nada marah, namun tidak menampakkan dirinya hanya usus yang seperti jaring itu sedikit bergetar.
"aku harus membunuh putera mu itu," ucap Xiao Zhou.
"hahaha..... dia adalah putera sang pembunuh dewa, dia tidak bisa di bunuh oleh dewa," ucap iblis darah.
"tapi aku bukan Dewa," ucap Xiao Zhou tenang.
"bocah ini mampu membunuh suamiku Sang Pembunuh Dewa, aku tidak meragukan jika bocah ini juga mampu membunuh putera ku," batin iblis darah.
"tunggu.... aku mohon jangan bunuh putera ku, dia tidak bersalah," ucap nya.
"dia akan memakan mu sesaat setelah kau melahirkan nya, bahkan saat ini Putera mu sudah menghisap setengah jiwa mu," ucap Xiao Zhou
"aku tahu... tapi aku tetaplah seorang ibu, aku begitu mencintai nya," ucap iblis darah.