Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
Palung Neraka


Di kota Huangdong.


Seorang wanita dengan wajah tertunduk lesu keluar dari sebuah bangunan perpustakaan, wanita itu menghela nafasnya dalam-dalam, dan menatap secarik kertas usang di tangan nya, dan menyimpan nya dengan begitu berhati-hati, dan menelusuri jalanan kota Huangdong, yang ramai.


langkah nya terhenti dan menatap ke arah sebuah toko yang menjual pakaian khusus wanita, toko itu begitu besar dan memperkerjakan banyak pelayan wanita.


Wajah wanita itu sedikit berbeda dari wanita dataran utama, dagunya tidak terlalu tirus, bibir sedikit tebal, namun begitu sensual, memiliki mata panjang dan sipit, juga pipi berisi, membuat nya tampak begitu panas menggairahkan.


tubuh nya yang sedikit berisi membuat pakaian nya menjadi sedikit sesak, memperlihatkan lekuk tubuh seorang wanita yang sudah matang, terutama di bagian bokong nya tertarik keatas dan menonjol serta membulat sempurna, membuat langkah nya terlihat seperti orang berjinjit. penampakan nya ini lah yang membuat semua mata terutama pria tidak dapat mengalihkan tatapan nya meski sedetik saja, dia adalah Choe Eun Soo, wanita yang selalu mampu menarik perhatian lawan jenis nya.



ilustrasi Choe Eun Soo.


Choe Eun Soo melangkah gemulai, membuat buah pinggul nya yang bulat dan menonjol itu bergerak seirama, yang mengenakan pakaian khas wanita bangsawan yang begitu ketat membungkus paha berisi yang panjang dengan belahan tidak terlalu tinggi, membuat semua mata menatap memasuki toko pakaian khusus wanita di kota Huangdong.


Setelah membeli beberapa pakaian Choe Eun Soo duduk di sebuah meja di lantai dua toko itu, dan menikmati minuman yang di sediakan oleh para pelayan wanita di tempat itu.


"Tuan dan nyonya silahkan di nikmati," ucap pelayan itu ramah dan meninggalkan nya, Choe Eun Soo menatap pria berusia 26 tahun di hadapan nya.


"Pangeran ke empat, apa kau yakin ingin bertemu Xiao Zhou?" tanya Choe Eun Soo.


"tentu saja, aku ingin bicara dengan nya," ucap pria yang di panggil Pangeran ke empat itu, dengan senyum hangat.


pria itu memiliki mata yang teduh, dengan wajah yang terlihat kekanakan, pipinya sedikit berisi, dan sudut bibir sedikit melengkung keatas, membuat nya terlihat seperti selalu tersenyum, meski saat tertidur, berbanding terbalik dengan Xiao Zhou yang lebih sering terlihat acuh dan sorot mata yang seperti kebosanan, meski saat sedang memisahkan kepala dari tubuh lawan nya.


Pangeran ke empat adalah salah satu Putera dari kaisar Yunha, dia begitu tersohor di kekaisaran nya, karena ketampanannya, bahkan saat ini pemuda itu sudah memiliki lebih dari 10 istri yang cantik, hidup nya di kelilingi oleh kemewahan sejak kecil, membuat nya selalu mendapatkan yang diinginkan nya, namun pria ini begitu pintar dalam mendekati wanita karena wajah nya yang mengemaskan.


Matanya Choe Eun Soo menatap ke arah jalan yang di sesaki oleh orang-orang berlalu lalang, dan mendapati beberapa orang yang terus mengikuti nya, pikiran Choe Eun Soo melayang tentang peristiwa yang terjadi setelah meninggalkan kota ini beberapa tahun lalu.


"berkat bantuan pangeran ke empat, aku sudah berhasil membalas dendam, dan membunuh ayah mertua ku, tapi aku sama sekali tidak merasakan kebahagiaan saat ini, aku merasa kosong, satu-satunya kebahagiaan yang pernah ku rasakan selama ini hanya saat di perpustakaan itu, tingkah pemuda itu mampu membuatku merasa hidup kembali, tapi dimana kau saat ini?" batin wanita itu.


****


di bawah Lautan,


Sang Pembunuh Dewa sudah duduk di atas singgasana milik Dewa lautan, rambut nya di ikat rapi dan sebuah mahkota kecil menghiasi sebagian rambut yang terkuncung di atas kepala, hanya menyisakan rambut belakang nya saja yang di biarkan terurai.


sebuah jarum Emas melayang di hadapan pria itu,


"jarum Emas ini adalah pembuat jubah kaisar langit pertama," ucap nya dan bibirnya merapal mantra dan Sang Pembunuh Dewa ikut melayang, dan perlahan sebuah sinar membungkus tubuh kekar nya, dan sebuah jubah tebal dengan motif naga berwarna emas mulai terpasang di tubuh nya.


kini tubuh Sang Pembunuh Dewa terlihat seperti di lapisi cahaya,


"dengan pakaian ini, aku tidak bisa tersentuh senjata apapun," guman Sang Pembunuh Dewa.


Dan tidak lama berselang seseorang masuk dan berlutut di hadapan nya, mata orang itu melebar karena melihat Sang Pembunuh Dewa sudah mengenakan pakaian yang sangat di sakral kan itu.


"ini tidak mungkin?" batin Yun Fengyin masih berlutut.


"tidak... seperti ucapan ku dahulu, aku harus kedua tempat terlebih dahulu, jika aku berhasil di dua tempat ini maka istana langit sudah di pastikan hancur, jadi saat ini aku ingin memastikan kemenangan ku itu, aku akan ke alam bawah terlebih dahulu, tepat nya Palung Neraka." ucap Sang Pembunuh Dewa dan membuka gerbang teleportasi di belakang tubuh nya.


Yun Fengyin memejamkan matanya, dan mulai berdiri, wajah nya begitu marah karena melihat kesombongan dari Sang Pembunuh Dewa.


****


Di alam langit.


Seorang berperawakan tinggi besar, dengan janggut panjang dan kumis tebal, tampak banyak uban mulai membuat rambut di wajah pria besar itu berubah warna, rambut nya yang lebat dan sedikit acak-acakan menambah keseraman penampilan pria besar dengan otot begitu nyata.


"Yang Mulia... Dewa neraka memberi hormat," ucap Dewa neraka menyatukan tinju di depan dada nya.


Kaisar langit sedikit memajukan tubuhnya tidak lagi bersandar di singasana nya, seperti begitu tertarik dengan kedatangan Dewa Neraka.


"katakan, apa yang membawa Dewa Neraka datang ke istana langit ini," ucap Kaisar Langit.


"maafkan aku Yang Mulia Kaisar.... seseorang telah masuk dan menyegel wilayah Palung Neraka," ucap Dewa Neraka.


Mata penyihir Agung sedikit terbelalak, dan dua ketua klan lainnya terbatuk-batuk mendengar nama Palung Neraka di sebut dalam aula agung itu.


Sekilas Kaisar Langit menatap ke tiga Dewa Pertengahan itu,


"apa yang sebenarnya terjadi di Palung Neraka itu," batin Kaisar Langit.


"Katakan Dewa Neraka apa yang tersimpan dalam Palung Neraka itu?" tanya Kaisar Langit.


Dewa Neraka menggelengkan kepalanya,


"aku tidak yakin Yang Mulia, maafkan aku," ucap Dewa Neraka menatap Dewa Pengetahuan seperti meminta bantuan menjawab pertanyaan Kaisar Langit.


Penyihir Agung melangkah maju beberapa meter, dan memberi hormat, dan menghela nafas panjang nya.


"Penyihir Agung... apa kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Kaisar Langit.


"maafkan aku Yang Mulia... aku tidak tahu harus mulai dari mana, ada dua tempat yang begitu ditabukan untuk di sebut di pulau kami saat kami masih terkurung di pulau itu, adalah Palung Neraka, dan satu tempat lagi yang sekarang kalian sebut tempat itu dengan lembah kuno," ucap Penyihir Agung, rahang bawah nya bergerak-gerak seperti kesal karena sudah menyebutkan dua tempat itu.


"apa apa dengan kedua tempat itu?" tanya Kaisar Langit.


"Lembah kuno berada di alam langit, itu adalah makam dari dua belas Dewa terkuat di masa kami, mereka gagal menciptakan penangkal untuk musuh kami, dan menyegel diri mereka sendiri di tempat itu, dan kegagalan mereka di pandang sebagai aib, dan sebagai awal kekalahan perang besar itu, karena istana langit kehilangan petarung hebat dan senjata kuat nya, tapi Palung Neraka adalah kebalikan dari tempat itu, tempat itu adalah tempat musuh kami berada," ucap Penyihir Agung.


Kaisar langit, menarik nafas dalam-dalam setelah mendengar cerita Penyihir Agung.


"jadi apapun yang tersimpan di Palung Neraka seharusnya tidak di keluarkan," guman Kaisar Langit.


"Yang Mulia.... jika seseorang berhasil mengeluarkan mahkluk di Palung Neraka itu, akan sangat berbahaya, ini adalah bencana, perang besar yang memusnahkan hampir seluruh peradaban di zaman kami, mungkin sebentar lagi akan datang ke zaman anda Yang Mulia, mungkin sudah tidak bisa di hindari, sangat ironi kami yang bersembunyi sekian lama harus bertemu dengan musuh yang sama, dan mungkin takdir... kami harus habis di tangan mahluk yang nenek moyang kami ciptakan," ucap Penyihir Agung, sambil menggelengkan kepalanya


***