Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
sesama pencuri


malam itu penari Choe, sedang duduk di kamar nya, dan menatap sekantong kecil koin emas yang tadi di berikan kepada Xiao Zhou kini sudah kembali padanya.


terlihat senyuman kecil bi ujung bibirnya, matanya menerawang jauh.


"kali ini kau pasti akan mengingatkan ku bocah, kemampuan mencuri ku semakin hebat, kau bahkan tidak sadar jika jemariku ini mengambil kantong ini dari jubah mu," ucap penari Choe, sambil menatap jemari nya.


degggg.....


"ini tidak mungkin?" wajah penari Choe berubah drastis, dada nya sedikit bergetar.


"bagaimana bisa??? cincin ku hilang, apa bocah itu yang mengambil nya? aahhh ini memalukan, dan akan sangat memalukan jika seorang pencuri bisa kecurian dari pencuri lain... aaahhhkkkk tidakkkkk" jerit penari Choe.


"apa yang harus aku lakukan? aku akan sangat malu jika bertemu bocah menyebalkan itu lagi, tapi cincin itu sangat berharga bagi ku, itu adalah pemberian mendiang suamiku," batin penari Choe lagi, dan mengusap wajah nya dengan kedua tangannya.


malam berikutnya, Xiao Zhou sedang menutup perpustakaan, penari Choe dan seorang pemuda mendekati nya.


"nyonya kau datang lagi," ucap Xiao Zhou sedikit tersenyum.


"bocah ini benar-benar, tapi baiklah aku akan melakukan nya" batin penari Choe, mulai menguatkan tekad nya.


"tuan... aku minta maaf, bisakah kita bicara sebentar," ucap penari Choe, wajah nya tidak berani menatap Xiao Zhou.


"tentu saja nyonya," ucap Xiao Zhou, yang sudah selesai menutup perpustakaan nya.


"bok Joo kau pulang lah duluan," ucap penari Choe itu.


pemuda bertubuh kekar itu hanya mengangguk, dan menatap kepergian keduanya, meninggalkan perpustakaan itu.


Xiao Zhou dan penari Choe duduk di sebuah bangku di dekat sebuah kedai minuman,


pelayan membawakan mereka minuman, dan beberapa mangkuk makanan panas.


"baiklah, namaku Choe Eun Soo, aku seorang pencuri, kau boleh menghinaku sekarang, atau memukul ku jika kau mau, tapi aku datang untuk meminta maaf," ucap Choe Eun Soo.


Xiao Zhou menatap dalam-dalam mata Choe Eun Soo.


"matamu mengatakan kau bukan sekedar pencuri biasa nyonya Choe, jika kau datang untuk ini, kau bisa mengambil nya dan pergi," ucap Xiao Zhou sambil meletakkan sebuah cincin di atas meja mereka.


Choe Eun Soo, hanya menunduk dengan tangan bergetar perlahan mengambil cincin di atas meja itu, rasa begitu malu membuat nya hampir meneteskan air matanya, dan ingin segera menghilang dari tempat itu.


"aku sudah kehilangan harga diri ku di depan bocah kurang ajar ini," batin Choe Eun Soo, tangan nya merapat dan gigi nya menggeretak.


"terimakasih tuan, jika tidak ada yang kau inginkan dariku aku mohon diri," ucap Choe Eun Soo yang sedari tadi tidak pernah sekalipun menatap mata Xiao Zhou.


"tapi aku rasa kau datang ke kekaisaran Wang ini untuk mencuri sesuatu yang berharga bukan? hemm.. maksud ku mungkin bukan benar-benar mencuri, karena benda itu sebenarnya milik kalian, tapi sudahlah.... nyonya Choe tidak ada lagi yang aku inginkan, kau boleh pergi saat ini." ucap Xiao Zhou, yang sudah mengetahui jika Choe Eun Soo datang untuk stempel kekaisaran Yunha.


mata Choe Eun Soo terbelalak, bibirnya sedikit gemetar,


"aku tidak mengerti maksud ucapan mu?" ucap Choe Eun Soo, berpura-pura tidak mengerti.


Xiao Zhou hanya mengangguk,


"baiklah... lupakan apa yang aku ucapkan tadi, lagipula itu bukan urusan ku," ucap Xiao Zhou dan merogoh jubah nya mengeluarkan guci kesayangan nya.


"katakan siapa namamu, kau terlihat sangat muda, aku tidak percaya kau mengetahui apa yang aku inginkan," ucap Choe Eun Soo, yang tidak jadi meninggalkan tempat itu karena masih penasaran dengan ucapan Xiao Zhou.


"namaku Xiao Zhou, usia ku mungkin 17 tahun," ucap Xiao Zhou acuh, dan meneguk isi cawan nya.


"apa itu, kenapa kau minum dari guci mu, apa kau takut jika aku meracuni mu," ucap Choe Eun Soo dan meneguk guci dari kedai itu, agar mengurangi rasa malunya dan menarik tangan Xiao Zhou dan menatap nya.


"tangan ini begitu lembut dan halus, bagaimana seorang laki-laki memiliki tangan selembut ini, tangan yang sempurna untuk melakukan misiku" batin Choe Eun Soo, yang sudah di pengaruhi sedikit oleh minuman dari kedai itu.


"katakan apa kau seorang pencuri seperti ku juga? aku akan bersedia membayar mu berapa saja asal kau mau melakukan perintah ku," ucap Choe Eun Soo.


Xiao Zhou hanya tersenyum,


"aku sudah tidak melakukan hal itu lagi nyonya," ucap Xiao Zhou


"bocah ini begitu menyebalkan, bagaimana aku bisa memakai kemampuan nya? bahkan dia seperti tidak tertarik dengan uang," batin Choe Eun Soo memutar otak nya, dan meneguk guci dari kedai minuman itu lagi.


"semua pria akan tertarik pada keindahan tubuh ku, tapi bocah ini seperti tidak peduli," batin Choe Eun Soo, yang melihat Xiao Zhou masih sibuk dengan makanan memenuhi bibirnya.


"cihh.. dia bahkan dia lebih tertarik dengan makanan daripada melihat ku, tapi tidak ada salahnya, biar akan aku coba pada bocah ini, dia juga seorang pria," batin Choe Eun Soo


Choe Eun Soo membuka beberapa kancing atas nya, dan memperlihatkan sedikit belahan gunung nya,


"aahhhh..... minuman ini membuat tubuh ku seperti terbakar," ucap Choe Eun Soo mulai menebar jaring-jaring perangkap nya, dan menatap mata Xiao Zhou.


"uhuukk... uhuk...," Xiao Zhou hampir menyemburkan makanan di bibirnya, saat melihat belahan gunung yang begitu halus tanpa cacat,


"bagaimana dengan teman wanita mu itu? apa dia kekasih mu? kau tidak lupa bukan? aku adalah salah satu penari yang kau tonton bersama kekasih mu itu" ucap Choe Eun Soo.


Xiao Zhou menyipitkan matanya, pikiran nya menerawang memikirkan nasib Puteri Yun Qixuan.


"aku tidak ingin membicarakan itu sekarang," ucap Xiao Zhou, menghentikan makannya.


"aahh... baiklah, seperti nya hubungan kalian sedang bermasalah, hihihi..." ucap Choe Eun Soo.


Beberapa kali pelayan di tempat itu harus mengganti guci di atas meja Xiao Zhou, wajah dan telinga Choe Eun Soo pun sudah memerah.


keduanya tampak terus berbincang,


"aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku begitu lelah dengan semua tugas ini," ucap Choe Eun Soo, yang sudah sedikit mabuk.


dan tanpa di sadari oleh keduanya malam telah larut, dan Choe Eun Soo menenggelamkan kepalanya di atas meja itu.


Xiao Zhou mencoba membangunkan Choe Eun Soo, tetapi wanita itu tidak mempedulikan nya.


"aahhh... tidak kenapa aku harus bertemu wanita seperti ini," teriak Xiao Zhou membuat pengunjung lain memperhatikan nya.


Xiao Zhou menggendong Choe Eun Soo, yang sudah mabuk,


"nyonya dimana tempat tinggal mu?" tanya Xiao Zhou.


"bocah kurang ajar, berhenti memanggilku nyonya, panggil aku kakak Eun Soo," teriak Choe Eun Soo yang sudah mabuk, dan beberapa orang menatap mereka.


Xiao Zhou memejamkan matanya karena malu di lihat begitu banyak orang, dan memutuskan membawa wanita itu ke tempat nya.


Xiao Zhou membaringkan Choe Eun Soo di ranjang milik nya, dan melangkah meninggalkan ruangan itu.


"tunggu Zhou'er, kau harus membantu ku, jika kau tidak tertarik dengan uang, aku akan membayar mu dengan tubuh ku," ucap Choe Eun Soo dan menarik Xiao Zhou hingga keduanya kini berbaring di atas ranjang yang sama.


"tunggu kakak Eun Soo," ucap Xiao Zhou.


Choe Eun Soo sudah tidak mempedulikan ucapan Xiao Zhou dan mulai menempelkan bibirnya ke bibir Xiao Zhou dan bibir mereka mulai saling berciuman lembut, dan tidak beberapa lama lidah mereka saling membelit dan bertukar liur,


Choe Eun Soo yang mulai panas, naik di atas tubuh Xiao Zhou, dan memasukkan tangannya ke pakaian bawah Xiao Zhou.


mata Cheo Eun Soo melebar dan menatap Xiao Zhou seperti tidak percaya,


"apa ini? ini benar-benar besar dan berbeda," batin Choe Eun Soo.


"bocah... apa kau yakin usia mu 17 tahun?" ucap Choe Eun Soo


"tapi aku tidak peduli lagi, aku akan menangani nya," guman Choe Eun Soo lagi, dan memasukkan tangannya lagi ke dalam pakaian Xiao Zhou tapi di tahan oleh Xiao Zhou.


"hentikan, aku akan melakukan nya," ucap Xiao Zhou.


tangan Choe Eun Soo berhenti, dan keduanya hanya diam dan saling menatap dalam temaram ruangan kecil Xiao Zhou.


"aku akan mencuri benda itu untuk mu, apa itu cukup," ucap Xiao Zhou


"aahh.... benarkah? itu lebih dari cukup, aahhh.. aku merasa lega kali ini,"ucap Choe Eun Soo dan terbaring di atas tubuh Xiao Zhou, tidak sadarkan diri sambil memeluk nya remaja itu.


****


di sebuah rumah kediaman Choe Eun Soo dan para penari lainnya, di kota huangdong.


di ruangan kecil di belakang rumah itu, terdengar desahan seorang wanita.


seorang laki-laki kekar sedang berada di belakang tubuh seorang wanita kedua tangan si wanita di tarik kebelakang dan laki-laki dengan kasar melakukan nya dari arah belakang.


"aaahhh.... kakak bok Joo, ini nikmat," ucap wanita itu keduanya terlihat begitu terlena dengan kenikmatan permainan mereka, dan berakhir saat kedua nya mencapai puncak permainan itu.


"kakak bok Joo, kau harus menikahi aku jika pekerjaan kita di sini sudah selesai," ucap wanita itu.


"kau tidak perlu banyak bicara, dan jangan sampai ada yang tahu hubungan kita ini, terutama nyonya Choe, dia sama sekali tidak boleh tahu," ucap pria bernama bok Joo itu.


wanita itu hanya mendengus dan keluar dari ruangan itu dengan wajah kesal.


"nyonya Choe kau akan jadi milikku," guman bok Joo.


****


pagi itu Choe Eun Soo terlihat begitu bahagia, senyum nya tidak pernah hilang dari bibir merah nya, dan memasuki ruangan di rumah kediaman nya yang berlantai tiga, sampai seseorang memegang lengannya.