
"pedang ini begitu panas, hanya dalam sekejap jantungku akan meleleh," batin jendral Yuan Zhou, dan dengan cepat tangan kirinya menotok lengan, ketiak serta dada sebelah kanan nya.
jubah yang menutupi lengan kanan jendral Yuan Zhou seketika hancur dan menjadi asap, tampak lengan nya kini berubah warna menjadi gelap dengan di penuhi urat-urat kemerahan, dan garis-garis berwarna merah mulai tampak sesuai dengan otot-otot lengan jendral itu, butuh beberapa menit hingga jendral Yuan Zhou mampu mengendalikan tubuh nya lagi.
"Xiao Zhou.... kehancuran pulau mu tidak akan bisa terelakkan lagi, penghinaan yang kau berikan padaku akan aku balas berkali-kali lipat, kau akan melihat bagaimana pulau mu terbelah dan membara, bersiap lah!!! sebentar lagi neraka akan mendatangi mu, hahaha....." tawa jendral Yuan Zhou menggelegar di udara dan perlahan pria itu masuk ke gerbang teleportasi dan lenyap dari alam bawah.
raja neraka kembali menatap telapak tangannya, mengingat mutiara yang di berikan oleh Xiao Zhou beberapa waktu lalu,
"jiwa gila, aku tidak tahu apa ini yang kau maksud dengan aku membutuhkan benda ini," guman raja neraka dan telapak tangannya terbuka di arahkan ke lautan lava yang sudah berwarna keperakan dan seperti membeku,
mutiara berwarna merah kekuningan itu keluar dari telapak tangan raja neraka dan perlahan tenggelam ke dasar samudra logam itu, dan tidak berselang lama, letupan-letupan kecil mulai terlihat lagi di beberapa tempat, dan semakin lama semakin banyak, uap-uap pun kembali menyembur dari balik lumpur yang masih berwarna seperti logam.
"tuanku itu mutiara apa?" tanya para prajurit neraka, mata mereka semakin melebar saat melihat lautan itu sudah kembali panas, dan berwarna merah seperti sediakala.
"hahaha... jiwa gila, kali ini aku benar-benar berhutang padamu, itu adalah inti bayangan matahari yang dulunya adalah milik sang pembunuh Dewa," ucap raja neraka begitu senang lautan kebanggaan nya kembali panas.
"kalian semua kembali, perketat penjagaan, bunuh setiap penyusup, aku akan menghadap Yang Mulia Kaisar Langit, penjahat itu mungkin saja benar, peradaban ini sudah berakhir, pedang api purba sudah keluar dari alam bawah, maka akan tercipta neraka baru di tempat lain, ini sama sekali tidak boleh terjadi, Yang Mulia Kaisar Langit kali ini benar-benar di uji kembali," ucap raja neraka sambil menggelengkan kepalanya.
***
di danau biru dibawah pulau keseimbangan, sebuah perahu sedang berlayar dengan dua orang di atasnya, salah satu nya seorang wanita begitu cantik dengan pakaian yang begitu berkelas membuat nya tampak begitu anggun, dan sangat karismatik saat sebuah mahkota indah bercokol di atas kepala nya.
meski begitu cantik terlihat dari luar, namun tatapan matanya begitu kosong, sesekali mata indah itu terpejam cukup lama, jemari tangan nya selalu mengelus cincin bermata berlian di telunjuk kanan nya, dan seorang pria dengan kumis tipis dan jenggot pendek sedang mendampingi wanita itu.
"apa kau ingat? dahulu kau begitu menyukai teratai, aku menanam sepuluh ribu teratai, dan membuat nya mekar bersamaan di hari kau menyelesaikan latihan tertutup rantai bulan mu, itu pemandangan yang sangat indah, tapi tidak ada satupun bunga yang memiliki keindahan sesempurna tubuh dan wajah mu ini," ucap Dewa Wang Riu.
Ratu Xhin Ye masih memejamkan matanya, tidak ada jawaban apapun dari bibir merah nya itu.
"Dewi teratai ku, kau tidak mendengar semua yang aku katakan tadi?" ucap Dewa Wang Riu.
Ratu Xhin Ye membuka matanya, dan menatap ke arah permukaan danau yang begitu tenang,
"aku mendengar semua ucapan mu Dewa Wang Riu, kau menceritakan semua kenangan indah di masa lalu kita," ucap Ratu Xhin Ye.
Dewa Wang Riu mengangguk, dan menggenggam jemari kurus dari Ratu Xhin Ye.
"aku tahu ini waktu yang tidak tepat Dewi teratai ku, tapi aku benar-benar merindukan mu, dan aku ingin kita menjadi pasangan suami istri, dan memiliki anak, aku tahu jika hatimu masih mencintai aku seperti dahulu," ucap Dewa Wang Riu.
"bersama mu selama beberapa hari, kau begitu menjaga ku, kau selalu ada di sisiku, dan juga kata-kata indah dan halus selalu mengalir dari bibir mu Dewa Wang Riu, kau adalah orang yang pertama mendebarkan jantung ku, kau Dewa pertama yang menarik perhatian ku, tapi..." ucap Ratu Xhin Ye, wajahnya tertunduk.
Dewa Wang Riu tampak tersenyum dan jemari kekar nya menyentuh pipi dan memegang dagu wanita itu dan sedikit mengangkat nya.
"tidak ada kata tetapi lagi Dewi teratai ku, aku lega mendengar semua ucapan mu Dewi teratai ku, dan itu sudah cukup, aku yang mengurus sisanya, sekarang biar aku akan bicara kepada suami mu itu, aku begitu terkejut bagaimana bisa kau menikahi pria yang tidak setia seperti itu, mungkin kau sudah terperdaya oleh kata-kata nya, tapi sudahlah.... itu tidak penting lagi, aku akan menerima mu dengan sepenuh hatiku," ucap Dewa Wang Riu, dan mendekatkan wajahnya ke wajah Ratu Xhin Ye.
Ratu Xhin Ye memalingkan wajahnya dan menatap ke arah permukaan danau di depan nya,
"ehemm... maafkan aku, aku tidak mampu mengontrol pikiran ku saat di samping mu, aku mengerti kita belum bisa melakukan ini sebelum resmi meni-" ucapan Dewa Wang Riu terputus karena Ratu Xhin Ye sudah berdiri.
Dewi teratai?? apa ada terjadi sesuatu di depan?" tanya Dewa Wang Riu, sambil menyipitkan matanya.
raut wajah Ratu Xhin Ye menjadi berubah seketika, mata indahnya kini melebar, dan tampak senyum bahagia nya hingga gigi samping yang sedikit runcing terlihat, meski kabut tipis menyelimuti permukaan danau tapi matanya mampu melihat begitu jauh.
tampak di kejauhan seorang remaja juga sedang berdiri di ujung perahu nya dengan seorang pria sepuh di dampingi seorang anak kecil sedang mendayung perahu itu di ujung belakang.
remaja dengan rambut sedikit panjang sedang mendongakan wajah nya, dengan mata yang tertutup, seperti sedang begitu menikmati hembusan angin lembut yang menyapu wajah nya, tampak pakaian gelap dengan lengan jubah begitu lebar menutupi tangan kirinya yang memegang pedang panjang yang terselip di pinggangnya.

ilustrasi Xiao Zhou.
"kenapa aku harus mendayung, perahu ini bisa bergerak sendiri jika aku mau, reputasi ku akan hancur jika ada Dewa yang melihat ini," ucap Dewa pengetahuan dengan kesal, sambil menatap ke segala arah.
Xiao Zhou masih memejamkan matanya,
"berhentilah mengoceh Dewa tua, tetaplah mendayung, ini adalah hukuman, kau hanya mampu menyalin hingga 7509 bab sungai sastra, butuh 500 bab lagi, maka kau akan menjadi Dewa suci," ucap Xiao Zhou, masih dengan mata terpejam.
"cih... iblis tengik kau selalu menindasku, jika bukan karena ayah mertua mu, aku tidak Sudi menjadi teman mu," guman Dewa tua itu sambil terus mendayung.
Dewa Wang Riu menggeretakan gigi nya saat melihat orang yang di lihat oleh Ratu Xhin Ye adalah Xiao Zhou bersama putera nya, pria itu ikut berdiri dan mendahului Ratu Xhin Ye berdiri, dan wanita itupun sedikit mundur seperti sedang menjaga jarak dengan jendral tampan itu.
"tenanglah... dia bukan apa-apa, seperti biasa, aku sudah mempelajari tehnik dari semua lawan ku," ucap Dewa Wang Riu, sambil merapikan logam hitam di pergelangan tangan nya, seperti bersiap akan bertarung.