
Liu Fang menaiki anak tangga, dan berhenti di samping Xiao Zhou, yang sudah memasukkan buku milik paman Xiang karena sudah mengetahui kedatangan Liu Fang.
Huan Zhi mengejar Liu Fang mencoba menghentikan nya, tetapi sudah terlambat, mereka sudah berdiri di hadapan Xiao Zhou.
"kecoa berdiri lah, apa kau tidak tahu jika hari ini adalah hari pertunangan kami," ucap Liu Fang menatap Xiao Zhou.
Xiao Zhou menatap ke arah lain sambil mengangguk, dan berdiri menatap kedua orang di hadapan nya.
"baiklah... sekarang aku sudah tahu, dan selamat kepada kalian berdua," ucap Xiao Zhou melangkah meninggalkan kedua orang itu.
Liu Fang tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"cih... aku tidak percaya ini, hei kecoa apa kau sudah gila hah? cepat minta maaf, karena adik Huan begitu kesal karena kau ada di tempat ini, di saat hari yang begitu bersejarah untuk kami," teriak Liu Fang.
Xiao Zhou menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Huan Zhi, kedua nya saling menatap, terlihat mata Huan Zhi seperti berharap untuk Xiao Zhou pergi secepat nya.
"maafkan aku nona," ucap Xiao Zhou dan membungkuk.
"k-kau?? suara merdu Huan Zhi terdengar.
"kau cepat pergi, aku tidak suka kau ada di sini," teriak Huan Zhi, membuat Xiao Zhou hanya mengangguk.
"tunggu!!!! " terdengar suara Liu Fang dan sekarang sudah ada sebuah baskom penuh cairan lengket di hadapan Huan Zhi.
"adik Huan ini akan bisa menghilangkan kekesalan mu terhadap kecoa ini," ucap Liu Fang.
"ini tidak perlu kakak Liu, ini adalah hari bahagia kita, kita tidak perlu membuang energi untuk orang ini, sebaiknya kita merayakan nya dengan teman-teman kita saja," ucap Huan Zhi.
Huan Zhi mendekati Xiao Zhou
"kau dengar, sebaiknya kau pergi sekarang, kita berdua sangat berbeda," bisik Huan Zhi di dekat telinga Xiao Zhou.
Xiao Zhou kembali mengangguk, mendengar bisikan Huan Zhi.
Liu Fang ikut mendekati Xiao Zhou,
"kali ini kau beruntung kecoa, sebaiknya kau tidak pernah menunjukkan dirimu di hadapan kami," ucap Liu Fang.
Liu Fang melambai tangan nya, dan baskom itupun lenyap, dan mereka berdua meninggalkan tempat itu, dan di ikuti oleh para pemuda yang terlihat penampilan berbeda dengan perhiasan begitu mewah, walaupun warna pakaian mereka sama.
terlihat wajah Huan Zhi menunduk, dan terpancar kesedihan sesekali menatap punggung Xiao Zhou yang menjauh.
****
di bawah reruntuhan perpustakaan tua, dua orang bicara dan sesekali desis ular terdengar.
"Fengyin... bayangan ku belum sempurna, bawakan aku setidaknya tiga atau empat dewa lagi," ucap sang pembunuh dewa, yang duduk di kegelapan.
"tuanku... kau sudah membunuh semua Dewa yang bersumpah setia kepada kita, bagaimana kita bisa berperang melawan istana langit jika kau membunuh semua pengikut mu," ucap Yun Fengyin.
"tapi tuan ku....
blaaarrrrr.....
sebuah bilah pedang tebal menghantam dada Yun Fengyin membuat nya terlempar dan menghantam dinding, seteguk darah segar keluar dari bibir nya.
"sekali lagi kau membantah maka mata pedang ini yang menghantam dada mu," ucap sang pembunuh dewa.
"baiklah... dengarkan aku anak manja, saat ini tubuh ku masih lemah, dan aku harus mendatangi dua tempat terlebih dahulu sebelum menghancurkan langit, alam langit bukan lah sekte kecil yang bisa kau hancurkan dengan pasukan ular bodoh mu itu, ingat alam langit masih memiliki pusaka-pusaka hebat, dan jangan pandang lemah dua pilar langit yang tersisa, setidak nya butuh empat sampai tujuh tahun lagi untuk menyiapkan peperangan besar itu, dan aku sudah memperhitungkan semua nya, menjadikan alam langit seperti sebuah neraka, apa kau paham?" ucap Sang Pembunuh Dewa.
"dan lihat lah dalam tujuh tahun itu, akan lebih banyak Dewa yang kita miliki daripada alam langit itu sendiri, sekarang pergilah dan bawakan aku dewa untuk membentuk bayangan ku," ucap Sang Pembunuh Dewa, wajah Yun Fengyin terlihat begitu marah, sesekali lidah bercabang nya keluar menjilati darah di sekitar bibirnya.
*****
empat bulan sudah berlalu,
Xiao Zhou dengan menggunakan pakaian khas pejabat di pulau tingkat kedua, berdiri di halaman luas, di depan istana yang begitu megah, terlihat ribuan orang juga melakukan hal yang sama, para pejabat baru dan lama semua hadir, dan para prajurit militer juga memenuhi halaman itu.
mereka para pejabat baru itu sudah melewati ujian, dan mendapatkan posisi masing-masing, Xiao Zhou kini memiliki posisi pejabat menengah, terlihat Yu Jin tua begitu bahagia, hingga meneteskan air matanya, upacara pengangkatan pejabat baru itu di pimpin oleh seorang pejabat lama yang memiliki jabatan paling tinggi, dan sebagai tugas terakhir nya.
mereka semua tampak begitu bahagia, dan malam hari nya, mereka semua menghadiri perjamuan di istana utama, hanya Xiao Zhou yang terlihat acuh dan tidak peduli dengan kemeriahan itu.
aula utama itu begitu luas, dengan tiang-tiang bulat besar sebagai penyangga, terdapat sebuah jalan lebar membelah aula itu menjadi dua, dan jalan itu sudah di gelar penuh pernak-pernik klan, simbol dan Panji kebesaran setiap klan terpanggang di setiap sudut.
meja-meja panjang sudah di gelar, untuk pejabat menengah dan bawah, sedangkan untuk pejabat tinggi menggunakan meja berbentuk bundar, bangku-bangku indah dan empuk mengelilingi meja-meja itu, dan tidak kurang dari seribu orang memenuhi tempat itu.
aula luas itu memiliki lantai berundak, dimana semakin tinggi jabatan nya maka menempati lantai yang lebih tinggi, Xiao Zhou menempati lantai lebih tinggi beberapa undak dari pejabat tingkat bawah.
semua orang terlihat sedang bergembira, merayakan malam itu, dan setiap meja di kelilingi oleh para pejabat baru dan lama, mereka seperti melepaskan rindu setelah empat bulan berpisah, mereka hanya minum saja, karena makan akan di perbolehkan jika penguasa sudah datang.
"aaahhhh... putera ku, kau berhasil dengan baik, sekarang kau menjadi pejabat menengah, ini sangat membanggakan, aku hampir mati berdiri saat penjaga pulau membawa kabar bahagia ini, hahaha" ucap Yu Jin tua yang selalu memeluk Xiao Zhou, yang sekarang sudah menghadiri perjamuan di dalam istana itu
"terimakasih ayah," ucap Xiao Zhou meneguk isi gucinya.
prakkkkk....
praaakkkkk.... gerbang teleportasi muncul di lantai paling terendah.
udara terasa dingin saat seseorang keluar dari sebuah gerbang teleportasi, wajah terlihat begitu berwibawa, rambut putih nya di gelung keatas seperti seorang pendeta, di hiasi sebuah mahkota kecil dengan ujung tusuk rambut berbentuk kepala serigala, kumis dan janggut panjang yang menyentuh perut nya, memperlihatkan wajah yang mampu mengintimidasi siapa pun di ruangan itu.
Dengan tongkat kayu di hiasi kristal hitam pada ujung nya, pria sepuh yang mengenakan pakaian berwarna hijau tua, dengan lambang serigala besar di punggung nya itu melangkah tenang menuju panggung besar yang berada di bawah singasana penguasa pulau itu.
Semua orang berdiri dan memberi hormat padanya, yang di balas dendam senyum sedikit angker dari pria sepuh itu, tampak guratan-guratan di seluruh wajah nya memperlihatkan jika pria itu sudah melewati begitu banyak pengalaman dalam hidup nya.
"kalian semua duduk lah," ucap pria sepuh itu saat sudah berada di atas panggung, dan duduk di sebuah bangku mewah dan berjejer di panggung itu.