
bibir Ratu Xhin Ye bergetar hebat, ingin berlari keluar dari ruang bacanya saat mengetahui pulau nya tiba-tiba menjadi gelap, namun kaki nya begitu lemas dan Ratu Xhin Ye pun terjatuh,
"bagaimana ini bisa terjadi? siapa yang memerintahkan penjaga pulau, berubah menjadi naga pelindung," guman Ratu Xhin Ye dengan suara bergetar.
pikiran nya kembali mengingat ucapan nya, wajah nya memucat, keringat dingin bercucuran dari kening dan seluruh tubuh nya.
"ohh tidak, apa yang telah aku ucapkan beberapa hari yang lalu," guman Ratu Xhin Ye sambil jemari nya menutup bibir merah nya.
"lakukan apa yang terbaik menurut kalian," ucapan nya berkali-kali memutar di pikiran nya, dan tiba-tiba saja semua nya, menjadi gelap.
Ratu Xhin Ye pingsan di pintu ruang baca nya.
"hahaha.... lakukan apa yang terbaik menurut kalian, hahahaha......" terlihat Ratu Xhin Ye tertawa duduk di atas singgasana nya, dan terus mengucapkan kata-kata itu.
"tidaakkk...." Ratu Xhin Ye terbangun, tapi tidak tahu dimana dirinya berada, terlihat beberapa tabib sedang memeriksa nya.
"selamat Yang Mulia ada mengandung," ucap tabib itu, wajah tabib itu hitam seperti wajah hitam Xiao Zhou, mata Ratu Xhin Ye terbelalak....
"tidaakkk......" dan kali ini Ratu Xhin Ye benar-benar terbangun dari mimpi nya, dan duduk dia atas ranjang nya, nafas nya tersengal-sengal, wajah dan tubuh nya basah oleh keringat, dan menatap sekeliling, dan mengenali bahwa itu benar-benar ruangan nya, tangannya memeriksa dada dan nadi nya, terlihat tabib masuk dan memeriksa nya wajah tabib itu berbeda dari mimpi nya.
"apa yang terjadi padaku tabib?" tanya Ratu Xhin Ye
"penguasa.... anda sudah sadar, dayang menemukan anda pingsan di ruang baca anda, tapi tidak apa-apa, hamba sudah memeriksa semua nya, anda hanya kelelahan, penguasa..... sebaiknya anda beristirahat, hamba akan menyiapkan ramuan nya," ucap tabib itu dan keluar dari ruangan Ratu Xhin Ye.
"apa yang harus ku lakukan? aku tidak dapat mengeluarkan anak muda itu saat penjaga pulau menjadi naga pelindung, kali ini aku benar-benar terjebak," guman Ratu Xhin Ye.
"sangat ironi, aku yang biasa nya menjerat seseorang dengan permainan kata-kata, tapi kali ini? aaahhh.... ini seperti karma untuk ku, saat ini aku lah yang terperangkap oleh kata-kata ku sendiri, yahh dewa... tolong aku!" batin Ratu Xhin Ye.
****
senja mulai berganti, lentera sudah mulai di nyalakan di semua tempat, Ratu Xhin Ye masih berdiam di kamar nya, rambut panjang nya terurai, wajah nya terlihat begitu lelah, dan hanya menggunakan baju tidur, dan di lapisi jubah sutra, berwarna putih, dengan motif huruf Dewa berwarna keemasan.
dan tiba-tiba saja sang pengganti menerobos masuk tanpa bisa di halangi oleh para dayang.
"ada apa ini?" tanya Ratu Xhin Ye.
"aku datang karena mendengar anda sudah sadar, penguasa... dan juga aku datang untuk mencegah anda untuk melakukan ritual itu," ucap sang pengganti.
Ratu Xhin Ye mengisyaratkan para dayang nya, dan semua dayang pergi, dan membiarkan pintu kamar nya terbuka lebar.
"apa maksud mu sang pengganti?" ucap Ratu Xhin Ye dan berdiri dari tempat tidur, mendekati sang pengganti.
"aku tidak tahu apa yang terjadi, hingga kau bersedia menikah dengan pemuda kotor itu," ucap sang pengganti membuat tubuh Ratu Xhin Ye membeku karena terkejut.
"apa dia mengetahui nya?" batin Ratu Xhin Ye, mengerutkan keningnya.
belum selesai keterkejutan dirinya itu, tiba-tiba sang pengganti sudah memeluk tubuh Ratu Xhin Ye,
"tolong hentikan semua ini, kau jangan melakukan ritual itu, aku begitu mencintaimu, aku tidak peduli tentang pemuda itu, kita akan mulai dari awal, semua nya." ucap sang pengganti.
"bocah itu kenapa dia harus ada di sini saat ini? harus nya aku tidak peduli dengan nya, tapi hatiku merasa kan bahwa akau tidak ingin jika pemuda itu salah paham.
kepala Ratu Xhin Ye menggelengkan seperti menjelaskan bahwa ini tidak seperti yang terlihat kepada remaja itu, air mata nya mengalir begitu deras.
"ti-tidak... tidak... i-ni... aku mohon jangan pergi," suara Ratu Xhin Ye bergetar dan tidak terdengar
Xiao Zhou hanya mengangguk, dan tersenyum tipis melangkah meninggalkan Ratu Xhin Ye yang membeku di peluk oleh sang pengganti, bahkan tangan Ratu Xhin Ye seperti sedang menerima pelukan pria itu.
" ti-tidak, tunggu!!!! aku mohon jangan pergi, suamiku," ucap Ratu Xhin Ye, tapi suara nya masih begitu pelan, ingin sekali dirinya mengejar dan menenangkan hati Xiao Zhou, namun tubuh nya tidak dapat digerakkan, karena semua terjadi begitu mengejutkan, secara bersamaan.
"sang pengganti.... kau tahu aku memiliki hak membunuh di pulau ini tanpa alasan apapun? jika kau tidak pergi sekarang juga, aku bersumpah akan melakukan nya" ucap Ratu Xhin Ye, membuat sang pengganti tidak bersuara dan pergi.
****
Ratu Xhin Ye berdiri di balkon nya, bayangan saat Xiao Zhou menyelimuti nya dengan jubah, dan memeluk nya, di kediaman Penyihir Agung, dan tatapan mata bocah itu, saat dirinya peluk oleh sang pengganti, terlintas di kepala nya.
"apa aku harus menjelaskan tentang masalah sang pengganti padanya? tidak.. aku tidak perlu menjelasakan nya, yahhh dewa..... apa yang terjadi padaku? apa aku menyukai Zhou'er? tidak boleh menyukai nya, selain mendiang suamiku, hatiku hanya di isi oleh seorang pria lain, dan aku akan menunggu nya untuk menyatakan cinta padaku," batin Ratu Xhin Ye menatap kosong ke arah langit.
"tetapi aku begitu merasa nyaman di dekat Zhou'er, karena pemuda itu tidak pernah memiliki niat terselubung apapun padaku, baiklah.... setelah kejadian di kediaman Penyihir Agung, aku mulai merasakan hal berbeda pada pemuda itu," batin Ratu Xhin Ye begitu mulai berkecamuk.
"tapi meskipun aku menyukai nya, aku tetap tidak bisa melakukan ritual itu dengan nya, ooohhhh.... ini benar-benar membuat ku gila," guman Ratu Xhin Ye.
****
Sudah beberapa hari sejak kejadian di ruang tidur Ratu Xhin Ye,
Xiao Zhou berlatih Xiao Zhou duduk di sebuah bangku sambil membaca kembali kitab nya, seekor naga kecil terbuat dari air sedang bermain dengan jemari kiri nya.
dari kejauhan terlihat seorang wanita cantik datang ke tempat nya puluhan dayang mengiringi wanita itu, dan para dayang itu berhenti, dan membiarkan wanita cantik itu sendirian mendekati Xiao Zhou.
tampak wajah nya terlihat lelah, dan seperti dalam tekanan hebat, wanita itu menghempaskan tubuhnya dan duduk di dekat Xiao Zhou.
"apa yang terjadi nyonya, kau duduk seperti seorang gadis kecil, aku ingin pergi tapi aku tidak dapat melakukan nya, karena tubuh paman Xiang Sun menutupi gerbang," ucap Xiao Zhou.
"apa? jadi kau berencana pergi tanpa berpamitan?" ucap Ratu Xhin Ye sambil melebarkan matanya.
"aahhh sudahlah.... itu tidak penting lagi, ini adalah akhir hidup ku," ucap wanita itu, dan melempar dua kitab tipis di atas kitab yang sedang di tatap Xiao Zhou.
naga kecil itu menghilang menjadi tetesan air yang terserap lantai bata abu-abu di bawah kaki Xiao Zhou, mata Xiao Zhou menatap dua kitab yang baru saja di lempar oleh Ratu Xhin Ye.
mata Xiao Zhou melebar, dan bibir nya tersenyum geli, kitab itu berisikan langkah-langkah melakukan ritual penyambung keturunan, kepala Xiao Zhou menggeleng dan menutup kitab tipis itu.
"apa ini? ritual penyambung keturunan?" ucap Xiao Zhou menatap wajah Ratu Xhin Ye.
"aku sudah memikirkan semua cara, tapi tidak ada yang bisa membantu, pelajari kitab itu dan persiapan dirimu, nanti malam kita akan melakukan kewajiban kita sebagai suami istri," ucap Ratu Xhin Ye dan melangkah meninggalkan Xiao Zhou.