
mata Xiao Zhou melebar, sudut bibir nya sedikit melengkung ke atas, mendengar ucapan Xhin Ye yang mengatakan jika tugas sang pengganti seperti seorang suami.
"aku dengar penguasa adalah wanita tercantik di pulau ini, tapi aku yakin kau lebih cantik dari nya nyonya Xhin," ucap Xiao Zhou tanpa menatap Xhin Ye, membuat wajah Xhin Ye sedikit menunduk menyembunyikan rona merah di wajah nya.
"apa bocah kurang ajar ini ingin merayu ku? tidak.... dia bahkan tidak menatap ku dan melihat reaksi ku atas ucapan nya, hemmm... dia seperti anak kecil yang hanya bicara jujur apa yang ada dipikiran nya, tanpa ada maksud tersembunyi, aku sedikit menyukai pria tulus seperti ini," batin Xhin Ye.
"ehemmm, aturan di pulau ini memang seperti itu, penguasa akan memilih sang pengganti setiap pengangkatan pejabat baru," ucap Xhin Ye yang berusaha mengganti topik pembicaraan mengenai masalah cantik.
" ini aturan gila, jadi sudah berapa kali penguasa mengganti suami nya?" tanya Xiao Zhou ada sedikit senyum nakal di wajah nya.
"sekali lagi kau tersenyum seperti itu, kau akan masuk ke kurungan sihir itu lagi kera hitam." ucap wanita itu seperti jengkel.
"maafkan aku nyonya, tapi aku hanya merasa aneh memikirkan seorang wanita berganti-ganti suami, tapi baiklah... itu bukan urusan ku," ucap Xiao Zhou, sambil melemaskan jari-jari tangan nya sehabis berlatih tadi.
"aahhh.... demi apapun, kenapa semua pria hampir berpikiran ke arah sana, apa tugas suami hanya melakukan itu saja?" guman Xhin Ye, menatap Xiao Zhou dengan sangat kesal, dan berdiri ingin meninggalkan Xiao Zhou.
Xiao Zhou menatap sekeliling nya, tampak taman yang sudah mulai di rawat dan tanaman bunga sudah di tata.
"hemmm... ini seperti tidak mirip penjara lagi, katakan kau ini siapa? dan kenapa di kurung di tempat ini?" tanya Xiao Zhou.
Xhin Ye menghentikan langkahnya dan menatap menatap gubuk kecil nya.
"a-ku... em- aku adalah salah satu pejabat terbaik, yang melakukan kesalahan, jadi penguasa masih menunjukkan kebaikan nya padaku," ucap Xhin Ye berbohong.
"katakan padaku, kenapa kau ingin mempelajari kitab seperti itu?" tanya nona Xhin Ye, dan kembali mendekati Xiao Zhou.
"karena kau istri ku... aku akan jujur, aku sudah melepaskan sesosok makhluk mengerikan keluar dari sebuah kurungan, dan sekarang seluruh dunia terancam oleh makhluk itu, dan aku mencoba untuk menghentikan nya dengan mempelajari kitab-kitab itu, aku merasa makhluk itu adalah bertanggung jawab ku." ucap Xiao Zhou, dan meneguk guci nya.
"seperti nya mahluk itu sangat hebat, tapi aku ingatkan sekali lagi padamu, aku bukan istri seperti yang kau pikirkan itu, aku tidak benar-benar menjadi istri mu, apa kau mengerti? dan kau tidak harus jujur padaku" ucap Xhin Ye.
Xiao Zhou mengangguk,
"aku mengerti nyonya Xhin, kita hanya bersandiwara saja," ucap Xiao Zhou tulus.
"setelah semua nya berjalan lancar, kau harus pergi dari tempat ini, aku sudah sangat lelah menghadapi situasi ini karena mu," ucap Xhin Ye.
"baik nyonya Xhin Ye, aku secepatnya pergi dari pulau ini," ucap Xiao Zhou
"kau tahu kau pemuda yang baik, apa kau sudah memiliki kekasih di dunia luar?" tanya Xhin Ye
Xiao Zhou hanya tersenyum sambil menatap telaga yang sudah berwarna gelap karena sinar matahari sudah menghilang.
"di luar sana aku sudah memiliki banyak istri," ucap Xiao Zhou.
"hahaha... seperti itu rupanya," ucap Xhin Ye suara sedikit berubah, terlihat senyum sedikit di paksakan.
"aahh... kenapa aku merasa kesal, saat pria ini mengakui sudah memiliki banyak istri, dasar pria mesum," batin Xhin Ye dan kali ini benar-benar meninggalkan Xiao Zhou.
****
sudah tiga hari Xiao Zhou berlatih, dan membuka sebuah segel di dalam kitab naga air itu, simbol-simbol suci mulai bergerak di halaman buku itu, dan sebuah kristal hijau muncul dari buku itu.
"hemmm... jadi ini sebabnya kau harus belajar dari kitab yang asli, karena kristal ini tersegel dalam kitab yang asli." batin Xiao Zhou.
kristal hijau itu melesat masuk ke dalam telaga luas itu bersama dengan Xiao Zhou yang juga melompat ke dalam telaga itu.
mata Xhin Ye terbelalak, tubuh nya seperti membeku, saat tanpa sengaja melihat seekor naga terbuat dari air keluar dari telaga nya.
"ini bukan naga air biasa, pertama kalinya aku melihat naga air seperti ini, siapa pria itu sebenarnya? aku tidak dapat memikirkan orang macam apa yang bisa menghidupkan naga setua ini?" guman Xhin Ye.
naga air itu bergerak menelusuri tebing curam di sisi telaga itu, dan menghancurkan batu, di tebing itu, mulut naga itu membesar, dan tiba-tiba saja naga itu kembali masuk kedalam air.
sore itu Xiao Zhou sudah selesai memasak dan semua hidangan sudah tersedia di atas meja nya.
"nona Xhin aku memasak untuk mengucapkan terimakasih kepada mu, naga air ku sudah hidup, dan sekarang aku tidak perlu lagi mengganggu ketenangan mu di tempat mu ini," ucap Xiao Zhou sambil memberi hormat.
"oohhh..." bibir Xhin Ye terbuka, seperti terkejut, dan meletakkan sumpit nya kembali.
"pergilah... aku juga tidak menyukai kegaduhan saat kau berlatih, selera makan ku sudah hilang saat ini." ucap Xhin Ye, dan meninggalkan Xiao Zhou.
"kenapa wanita gila ini seperti marah, apa aku melakukan kesalahan," guman Xiao Zhou.
*****
Huan Zhi duduk termenung di sebuah bangku indah di aula utama tempat pelatihan klan penyihir, pikiran nya teringat tentang kejadian di lorong koridor itu, beberapa calon pejabat baru memberi hormat atau sekedar menyapa nya tetapi di jawab dengan anggukan acuh oleh wanita dengan tinggi badan di atas rata-rata itu.
"apa yang terjadi padaku? pemuda itu sama sekali tidak menggunakan sihir saat itu, perasaan asing dan liar itu begitu membekas di kepala ku, oohh tidakkkk... bahkan aku benar-benar badah saat itu," batin Huan Zhi, kedua tangan nya menutup wajahnya yang memerah.
"apa aku sudah gila? caranya dia menatap, ucapan nya, cara nya menyentuh tubuh ku, dan bibirnya yang lembut tidak akan bisa aku lupakan, aaahhhh demi penjaga klan.... aku harus melupakan pemuda mesum itu, kedudukan ku begitu terhormat, ini bukan apa-apa, dan pria itu bukan siapa-siapa," guman Huan Zhi
lamunan buyar saat seorang pria dengan beberapa pengikut mendekati nya,
"adik Huan, belakang ini kau jarang menemani ku," ucap pemuda itu yang tidak lain adalah Liu Fang.
"kakak Liu aku hanya sedikit sibuk," ucap Huan Zhi sedikit gugup.
"benarkah? hemm... sebaiknya kau jujur pada kekasih mu ini, karena hari ini aku akan meresmikan hubungan kita," ucap Liu Fang, sambil mengeluarkan sebuah gelang giok berwarna hijau tua, dengan hiasan emas.
mata Huan Zhi melebar, tidak percaya apa yang di dengar nya, dan hanya berdiri membeku, tapi tiba-tiba pikiran nya kembali melayang ke kejadian itu lagi, tanpa sadar tangan nya menyentuh bibir nya.
"ohhh... ada apa dengan ku? kenapa saat seperti ini harus memikirkan hal lain," batin Huan Zhi.
"kakak Liu kenapa harus sekarang?" tanya Huan Zhi, wajah nya sedikit memerah tidak percaya kata itu yang keluar dari bibir nya.
"adik Huan apa maksud mu? tidak kah kau senang aku melakukan ini?" tanya Liu Fang matanya menyipit menatap Huan Zhi penuh keheranan.
"aahhh... tentu saja aku senang kakak Liu, terimakasih," ucap Huan Zhi dengan senyum yang dipaksakan.
Liu Fang memakai kan gelang indah itu di tangan Huan Zhi semua orang bersorak, wajah Huan Zhi hanya tersenyum, menatap semua orang, tiba-tiba matanya menatap sesosok yang sedang duduk di anak tangga dan menatap serius ke sebuah buku sesekali tangannya menjambak rambut kaku nya sendiri.
mata Huan Zhi kembali kearah Liu Fang, bibirnya bergetar, senyum nya memudar seketika, dan menatap ke arah kekasih nya yang masih tersenyum dan memakaikan gelang, ada keinginan untuk menarik tangan nya, tapi situasi nya tidak mungkin melakukan itu saat ini.
matanya sedikit berkaca-kaca dan matanya kembali menatap ke arah Xiao Zhou, yang masih duduk.
"adik Huan kau tidak perlu menangis seperti itu, aku tahu ini hari yang begitu mengharukan," ucap Liu Fang.
"apa? iya tentu saja kakak Liu," ucap Huan Zhi gugup mata nya masih menatap Xiao Zhou, dan membuat Liu Fang ikut menatap kearah Xiao Zhou.
"oh jadi kecoa itu yang sedang kau perhatikan, baiklah adik Huan aku mengerti, aku akan mengurus nya," ucap Liu Fang, dan melangkah ke arah Xiao Zhou, dan di ikuti oleh Huan Zhi di belakang nya, dengan perasaan tidak menentu.