Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
Hari ke dua ratus


Di alam langit.


hancur nya roda kebijaksanaan membuat kekuatan dari pasukan jarum Emas kembali pulih,


tampak wajah pucat dari Dewa kebijaksanaan yang terbaring lemas, sesekali terbatuk dan muntah darah, terbaring di salah satu ruangan luas di istana langit, dan tampak beberapa Dewa sepuh lainnya mengelilingi nya.


"teman ku Dewa Li, bagaimana keadaan mu?" tanya Kaisar Langit.


"hehe... tenanglah Yang Mulia... aku masih bisa bertahan hingga perang ini usai, aku memiliki anugerah kapan aku menginginkan hari kematian meski ini begitu menyakitkan," ucap Dewa Kebijaksanaan, gigi kecil nya terlihat merapat menatap rasa sakit.


"saudara Li bagaimana jika kita berangkat bersama, tunggu lah temanmu ini," ucap Dewa Pengetahuan dengan wajah tua nya yang murung.


"haha... tentu saudara ku... tentu," ucap Dewa Kebijaksanaan dengan sisa tenaga yang di miliki nya.


Kaisar langit menganggukan kepala nya, dan menautkan kedua tangan nya di belakang pinggang nya.


"baiklah Dewa Li, semoga kita bisa memenangkan Perang ini," ucap Kaisar Langit melangkah mendekati sebuah jendela, dan menatap ke arah Medan pertempuran yang di penuhi ledakan dahsyat, dan jutaan anak panah yang terbang di udara seperti burung.


di pihak lain.


Para raksasa batu itu keluar semakin banyak, dan semakin brutal, Petarung Besar terlihat semakin kewalahan dengan lawan yang semakin banyak.


"bagaimana raksasa ini tidak pernah bisa habis? kesal nya.


Pasukan Kaisar Langit mulai mundur, dan benteng pertama sudah hancur, Dewa lautan membuka strategi di benteng kedua beberapa labirin kematian di gelar, namun jumlah pasukan musuh semakin banyak, dan mengurung dari beberapa titik berbeda.


Sang Pembunuh Dewa terlihat tersenyum dengan hancur nya benteng pertahanan pertama Kaisar Langit.


"ini hari ke dua ratus, seperti nya tidak akan lama lagi," guman Sang Pembunuh Dewa, sambil memainkan cincin setengah yang melingkar di kelingking nya.


bagaimana menurut mu apa aku bisa memenangkan pertempuran ini?" tanya Sang Pembunuh Dewa.


"kau sudah tahu jawabannya," ucap cincin langit.


"hahaha... kau begitu pintar, katakan bagaimana aku bisa menaklukkan mu?" tanya Sang Pembunuh Dewa lagi.


"senjata ini memiliki kemampuan sendiri, bahkan aku sendiri yang menciptakan tidak bisa mengendalikan senjata ini, dan kami dua belas Dewa terkuat harus menyelamatkan jiwa kami agar tidak terhisap oleh pusaka ini," ucap cincin langit.


"hemm... jadi kau dan cincin ini adalah jiwa yang berbeda? ini sangat menarik," ucap Sang Pembunuh Dewa.


"aku sudah pernah mengatakan... jika aku terjebak di dalam pusaka ini, seperti nya tidak ada yang bisa membebaskan ku," ucap cincin langit.


"bagaimana jika aku membebaskan mu?" tanya Sang Pembunuh Dewa.


"apa maksud mu? jangan katakan kau menyukai ku?" ucap cincin langit.


"bagaimana jika iya?" jawab Sang Pembunuh Dewa.


"apa ku sudah gila? kau di Medan pertempuran, sebaiknya kau fokus pada peperangan ini, lagi pula aku adalah Dewi dengan elemen es, aku tidak tertarik dengan perasaan seperti itu," ucap cincin langit.


"hahah... sebentar lagi perang ini akan selesai, aku tidak perlu terlalu memikirkan nya lagi," ucap Sang Pembunuh Dewa.


"pusaka ini bereaksi Dewa Ling... seseorang dengan kemampuan tinggi menuju ke tempat ini," ucap cincin langit yang tidak memanggil Sang Pembunuh Dewa dengan sebutan tuan.


"benarkah? aku pikir hanya dua orang yang bisa sedikit mengacaukan pesta ku ini, pilar langit Zhou Shillin dan Dewi Xhuwuan," ucap Sang Pembunuh Dewa.


"seperti nya pusaka ini tertarik dengan Dewi Phoenix abadi," ucap Sang Pembunuh Dewa.


dan tiba-tiba puluhan tebing-tebing batu meluncur dari atas mengubur pasukan raksasa itu.


bommmm.....


ledakan terdengar begitu kencang, debut dan serpihan tubuh berterbangan di udara.


Pilar langit Zhou shillin melayang, kedua tangan nya membentang di udara.


dan seekor burung Phoenix hitam terbang di atas pertempuran itu dan sesaat membelah diri nya menjadi dua.


burung Phoenix merah mulai menembus tubuh-tubuh raksasa batu itu, dan Phoenix biru terbang mengelilingi pasukan yang terluka, membuat luka-luka mereka kembali sembuh, dan tampak sedikit lebih segar.


Sang Pembunuh Dewa, menatap ke arah dua tamu nya itu.


"sudah saatnya aku turun tangan," ucap Sang Pembunuh Dewa.


Pria berpakaian layaknya seorang kaisar langit itu menghentakkan kakinya terbang, dengan kedua kaki yang setengah tertekuk, ke arah Pilar Langit Zhou Shilin, pedang tebal nya sudah berada di tangan kanan nya.


pilar langit Zhou Shillin yang melihat pergerakan Sang Pembunuh Dewa menutupi tubuh nya dengan tebing batu tebal di depan nya.


Sang Pembunuh Dewa mengayunkan nya pedang nya secara vertikal kearah Pilar Langit Zhou Shilin, membuat tebing batu itu terbelah, dan menghacurkan apa saja di bawah nya.


Zhou Shilin tiba-tiba sudah berada di belakang Sang Pembunuh Dewa dan menebaskan pedangnya ke leher Sang Pembunuh Dewa, pemuda itu hanya menyungging senyum di sudut bibirnya.


prannkkkkk....


Pedang Pilar Langit Zhou Shillin hancur, leher Sang Pembunuhan Dewa terlapisi oleh pagoda emas.


"hahaha... aku begitu kecewa dengan mu Pilar Langit, kau sama sekali tidak memberikan aku kejutan, bagaimana kau bisa menyandang gelar Pilar Langit jika cara kerja mu hanya sebatas ini?" ucap Sang Pembunuh Dewa dengan nada merendahkan.


"tenanglah keponakan ku, waktu kita banyak, ini hanya sebagai pemanasan saja," ucap Pilar Langit Zhou Shilin.


"tentu paman... aku ingin melihat bagaimana cara mu menghadapi mahluk abadi seperti ku," ucap Sang Pembunuh Dewa.


keduanya bertarung begitu sengit, ribuan jurus sudah beradu, Dewi Phoenix merah yang melihat pertarungan itu membantu Pilar Langit Zhou Shilin,


namun Cincin Langit membantu Sang Pembunuh Dewa dengan menahan serangan Phoenix merah yang penuh kemarahan,


"cincin Langit jangan melukai nya, dia adalah calon istri ku," ucap Sang Pembunuh Dewa tersenyum ke arah Phoenix merah.


Phoenix merah itu tidak peduli tetapi terus berputar berpadu dengan cincin setengah, yang melesat begitu cepat kesetiap arah yang akan di tuju oleh burung yang mulai membara, karena marah.


Zhou Shilin yang sudah kehilangan pedang nya, menggunakan tangan kosong, kedua tangan berputar, dan puluhan tangan lainnya keluar dari punggung nya, dan mengeluarkan simbol-simbol suci, Sang Pembunuh Dewa menggelengkan kepalanya, seperti tidak peduli apa yang akan di lakukan oleh Pilar Langit Zhou Shilin, dan tetap menyiapkan pedang nya, melesat kearah nya.


Tubuh Pilar Langit Zhou Shilin berputar, petir menyambar di sekeliling nya, dan saat Sang Pembunuh Dewa mendekati nya, Zhou Shillin tidak bergerak, dan masih merapal mantra dengan dua jari merapat di depan bibirnya, dan tiba-tiba matanya terbuka, dengan cahaya keemasan.


blarrrrr......


tiba-tiba saja Sang Pembunuh Dewa sudah terkurung oleh beberapa dinding batu dari segala arah dan dinding batu itu mulai bersatu, dan mengurung Sang Pembunuh Dewa.


dinding batu itu mulai menyatu dan membungkus Sang Pembunuh Dewa, simbol-simbol suci itu masuk ke seluruh bagian dinding batu itu, yang sudah mulai mengeras.


semua menatap kejadian itu, mereka berhenti bertarung dan ingin mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.