Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
ch.81


Dewa Wang Riu mengerutkan keningnya,


"hahaha... tidak ada yang bisa kau lakukan sekarang, saat ini cermin langit di tahap delapan, semua kemampuan mu akan terbaca oleh cermin langit, dan dengan segera mengetahui kelemahan nya, dan setelah di tahap sembilan yaitu tahap sempurna, itu berarti kau akan terkurung di cermin langit selama yang aku inginkan," ucap Dewa Wang Riu.


Xiao Zhou menatap ke arah balkon dan mengangguk ke arah Ratu Xhin Ye.


"itu adalah perintah dari suami kita, sebaiknya kita pergi, tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang, suami kita sepenuhnya sudah berada dalam cermin langit, sampai jumpa suami, ingat lah!! ka-mi a-kan.... akan menunggu mu, selama nya, setiap hari, setiap hari," ucap ratu Xhin Ye dengan suara bergetar, dan terputus-putus,


wanita cantik itu menundukkan kepalanya dengan mata terpejam, seperti menegarkan jiwanya.


dan semua istri Xiao Zhou melangkah mundur, kepala mereka menggeleng seperti masih ingin menatap suami mereka, dan pintu di tutup oleh kedua penjaga pulau yang diperintahkan untuk menjaga keluarga Xiao Zhou, dan balkon itupun kosong.


huruf-huruf suci di sekeliling keduanya kini bersatu, dan bersinar terang, dan perlahan mengeras dan menjadi seperti cermin,


"aahhh... baiklah, hanya ini peluang ku untuk lepas dengan cepat, hanya dengan jiwa yang lengkap aku bisa mengeluarkan seluruh kemampuan ku," guman Xiao Zhou, dan memasukkan Pedang nya ke sarung yang terselip di pinggang nya


pemuda menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan matanya, dua jari nya di kedua tangan nya merapat, dan menyatukan nya di depan bibir nya, dan mulai mengeluarkan sebagian lagi kata-kata yang di ucapkan wanita bercadar itu.


mantra itu mulai menggema di udara, dan kini seperti bisikan yang terus berulang-ulang dan terdengar di seluruh pulau itu.


"aahhkkk....." Xiao Zhou setengah berlutut sambil menekan dadanya, bola mata Xiao Zhou berubah menjadi biru kegelapan,


Dewa Wang Riu mengerutkan keningnya, mendengar bisikan suara Xiao Zhou yang menggema di udara,


seluruh pakaiannya Xiao Zhou kini melambai-lambai, remaja itu melepaskan topeng di wajah, dan berdiri dengan perlahan, mata nya mulai terbuka bola mata biru kehitaman, seperti saat sebelum terkena sentilan Dewi Lin, tulisan Dewa kuno kecil berjejer di bawah mata nya mirip seperti air mata dan menghilang dalam beberapa saat.


dewa Wang Riu menyipitkan matanya, berpura-pura tenang, namun dadanya bergetar hebat, karena untuk pertama kalinya merasa ketakutan dalam dirinya.


"sesuatu telah terjadi di balik topeng itu," batin Dewa Wang Riu


"kenapa kau membuka topeng mu itu?" tanya Dewa Wang Riu.


"apa kau takut? tanpa kau jawab pun aku sudah bisa melihatnya, aku membuka topeng ku karena semua orang yang masuk ke pulauku hari ini akan mati," ucap Xiao Zhou, yang kini terlihat begitu tenang.


"kau jangan konyol, kau sudah terkurung dalam cermin langit, bahkan di tempat ini tidak ada waktu untuk bisa kau kendalikan, aku akan meninggalkan mu di tempat ini selamanya," ucap Dewa Wang Riu membalikkan badannya.


"tidak kah kau mendengar mantra ku tadi? jika aku menggunakan sungai sastra membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangunkan setengah jiwaku, tapi mantra tadi sudah membangunkan ku, meski hanya untuk beberapa hari saja, dan sebagai bayaran nya, aku akan menjadi iblis dalam waktu cukup lama," ucap Xiao Zhou.


"haha.... siapapun dirimu, kau tetap tidak akan bisa keluar dari sini," ucap Dewa Wang Riu dan membelakangi Xiao Zhou sambil melangkah.


"kau pikir mainan kecil mu ini mampu mengurung ku, ketahuilah Dewa Wang Riu, cermin langit memiliki delapan belas tingkatan, jika aku menjadi dirimu aku tidak akan mengeluarkan nya melebihi tahap ke delapan," Xiao Zhou.


Dewa Wang Riu menghentikan langkahnya, dirinya juga pernah mendengar jika pusaka cermin langit memiliki delapan belas tingkatan, namun tidak ada orang yang mampu ke tahap itu.


"omong kosong... aku memiliki cermin langit karena hanya aku yang berada di tingkat tertinggi, katakan tuan pintar! kenapa aku tidak boleh mengurung mu dengan tahap ke sembilan ini," ucap Dewa Wang Riu.


"hahaha.... baiklah bedebah bodoh, dengarkan aku baik-baik, saat kau memiliki cermin langit, aku tidak bisa melukai mu, karena pusaka ini melekat di tubuh mu, butuh pertarungan dua tahun untuk melepaskan pusaka ini dari tubuh mu, tapi di tahap kesembilan ini mungkin ini begitu kuat, dan dengan cepat untuk mengakhiri pertarungan dengan mengurung lawan mu, tapi kau baru saja melepas salah satu pelindung tubuh terbaik di seluruh alam," ucap Xiao Zhou.


wajah Dewa Wang Riu berubah menjadi pucat, karena ucapan Xiao Zhou memang benar,


"kau benar aku sekarang bisa terluka, tapi siapa yang akan mampu melukai ku, jika kau sendiri terkurung di dalam pusaka ini," ucap Dewa itu.


Xiao Zhou menghela nafasnya,


"semua sudah selesai sekarang, ini tidak akan cukup," ucap Xiao Zhou


Dewa Wang Riu menggeleng,


"mengelilingi alam tengah? alam tengah itu sangat kecil, apa kau pernah berpikir menahan energi matahari? sudah kubilang ini tidak akan cukup," ucap Xiao Zhou dan mulai memejamkan matanya.


****


di sisi lain, Lou Fang melesat ke udara sambil mengayunkan tongkat bermata golok nya ke arah jendral Yuan Zhou.


raijuta yang melihat kejadian itu, juga ikut melesat dengan pedang salju nya, dan di selimuti hawa dingin di sekujur tubuh nya.


"kau sudah berani merusak desa, yang begitu aku cintai," teriak pria sepuh itu.


jendral Yuan Zhou yang berdiri gontai melepaskan tebasan nya ke arah tombak Lou Fang.


praaakkkk....


blaaarrrrr....


tombak pria sepuh itu hancur dan Lou Fang pun terlepas begitu jauh dengan sebuah luka panjang dan menganga di dada pria itu.


sreeessstttt....


pedang salju berhasil menebas lengan kiri jendral Yuan Zhou hingga putus, dan menyemburkan darah hitam mendidih,


mata jendral itu melebar begitu marah,


"manusia berani sekali kau melukai Dewa agung seperti ku," teriak jendral Yuan Zhou dan dalam sedetik sudah berada di depan raijuta dengan Pedang tertancap di tubuh pria yang memiliki elemen es itu.


"uhukkkk...." darah menyembur dari bibir raijuta, dan dalam sekejap tubuh nya sudah menyala oleh api dan tidak bersisa,


puluhan roda melesat ke arah jendral Yuan Zhou berdiri,


"bommmm....."


ledakan dahsyat terjadi, menghancurkan lantai bata dan bebatuan di sekitar nya mulai bertebaran.


meski mampu menghindari dari serangan itu, namun beberapa roda bergerigi itu mampu melukai jendral Yuan Zhou, karena gerakan sudah tidak begitu lincah akibat pengaruh racun, dan kehilangan lengan kirinya. bahkan darah hitam mendidih sudah menutupi mata kiri, membuat matanya meleleh.


"aku tidak akan mampu menghadapi pemuda ini dalam kondisi seperti ini," batin jendral Yuan Zhou.


jendral Yuan Zhou menancapkan Pedang api purba di tanah, telunjuk dan jari tengah nya merapat di depan bibirnya, dan sebuah segel muncul menyelimuti pedang itu, dan jendral itu berubah menjadi uap hitam dan bergerak menuju gerbang pulau.


beberapa roda mencoba mengejar nya namun uap hitam itu lebih dulu mampu keluar dari gerbang dan uap hitam itupun lenyap.


*****


Dewa Wang Riu membuka telapak tangannya dan perlahan mengerakkan nya ke atas, bulatan energi itu mulai bergerak mengikuti tangan Dewa Wang Riu dan kini bulatan logam itu sudah melayang tinggi melayang, dan mulai mengecil.


"prakkkkkkk....." terdengar pelan suara seperti bebatuan retak.


mata Dewa Wang Riu melebar, keringat nya mulai keluar membasahi wajahnya.


"apa? i-ni tidak mungkin," guman Dewa Wang Riu.


prakkkkkk....


prakkkkkk....