Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
ch. 59


langit berwarna merah di ujung timur, pagi itu tidak ada air yang menetes dari langit, meski awan masih menyelidiki dataran utama dengan tipis.


puluhan jendral dan tidak kurang dari dua ribu prajurit sudah berbaris memenuhi jalanan menuju rumah sederhana itu, mereka menyiapkan kereta resmi kekaisaran untuk menjemput putera mahkota Tang Bao yang beberapa hari lagi akan resmi menjadi Kaisar kekaisaran Tang.


Xiao Zhou sedang berbincang dengan Tang Bao dan Song Lung Yi dan juga tuan Song yang masih terlihat masih pening, dan harus di bopong oleh beberapa prajurit membawa nya ke salah satu kereta kekaisaran.


"kakak ipar aku mohon diri, aku sudah mengundang kakak Kaisar Xia, Kaisar Ming yang baru dan kakak Kaisar Zhang, untuk menghadiri peresmian ku menjadi Kaisar," ucap Tang Bao.


"baiklah, berhati-hatilah kalian," ucap Xiao Zhou.


"aku akan berpamitan dengan bibi sebentar," ucap Song Lung Yi sedikit tersenyum menuju gudang tempat Xiao Zhou tidur dengan Park Min Ji.


"hemm... kakak ipar bagaimana caramu mendapatkan wanita secantik dan sedingin nyonya Park, dia bahkan tidak menatap padaku saat ku coba menggoda nya dulu, dan aku juga pernah melihat wanita itu bahkan terlihat kesal saat tangan nya di pegang oleh kekasih pangeran nya itu," ucap Tang Bao


Xiao Zhou mengerutkan keningnya,


"apa? jadi kau menyukainya? kenapa tidak mengatakan padaku, jika aku tahu mungkin aku bisa membantu mu," ucap Xiao Zhou.


Tang Bao hanya tersenyum masam,


"hahaha.... hanya lelaki bodoh yang tidak menyukai wanita secantik itu, dia adalah wanita yang begitu berkelas, dan akan sempurna mendampingi seorang Kaisar seperti ku, tidak salah jika mendiang Kaisar Yunha dalam puisi nya, bahwa nyonya Park berlian di mahkota nya, sumber air di kekaisaran nya, karena wanita itu mampu mencairkan suasana balai agung yang menegangkan, mendebarkan jantung setiap pejabat di aula itu, semua berharap mendapatkan tatapan dari mata indah nya, hahah... tapi sudahlah kakak ipar sekarang itu cuma menjadi khayalan ku saja, lagipula sudah ada adik Song yang menemani aku bertahta." ucap Tang Bao tampak senyum di wajahnya meski tampak ada warna kekecewaan di sorot matanya.


"adik ipar kau sudah seperti Dewa sipit itu, kalian juga mengidolakan Kaisar penyair itu,"ucap Xiao Zhou dan meninggalkan tempat itu.


Park Min Ji yang baru terbangun sedikit terkejut melihat Song Lung Yi masuk dari arah pintu, dengan cepat wanita itu meraih jubah Xiao Zhou dan menutupi tubuh nya.


tangannya dengan begitu pelan mencoba merapikan pakaian nya,


"bibi... aku akan ke istana hari ini, aku ingin berpamitan dengan mu," ucap Song Lung Yi.


Park Min Ji menyipitkan matanya,


"bagaimana dia bisa tahu aku berada di tempat ini, bahkan tidak bertanya bagaimana aku bisa di sini? apa bocah itu memberi tahu nya?" batin Park Min Ji.


"istana? apa telah terjadi sesuatu?" ucap Park Min Ji begitu gugup, sudut matanya menangkap pakaian dalam nya yang dilepas nya karena begitu basah semalam, jemari nya bergerak namun wajah nya menatap Song Lung Yi agar tidak ketahuan.


"hihi... nanti akan aku ceritakan, tapi bibi seperti nya begitu gugup, dan juga mengenakan pakaian itu, apa kalian semalam tidur bersama?" tanya Song Lung Yi sambil memegang jubah Xiao Zhou.


"apa? gadis bodoh... kami hanya tidur di ruangan yang sama, dia pelayan, tentu saja dia tidur di bawah," ucap Park Min Ji.


"hihi bibi benar... aku bisa melihat nya, dia tidur di bawah tubuh bibi yang berkeringat, sudahlah bibiku... berhenti berpura-pura, bibi akan membangun seluruh penghuni desa, jika men*desah sekencang itu," ucap Song Lung Yi dan mengeluarkan sebuah selimut kecil.


Song Lung Yi menganggukkan kepalanya, dan menepuk-nepuk punggung Park Min Ji.


"hihihi...pakai ini di leher bibi, seperti nya lawan bibi begitu buas, aku harus berangkat sekarang," ucap Song Lung Yi dan memakaikan selimut kecil di leher Park Min Ji, serta meninggalkan wanita itu dengan wajah masih merah padam.


****


sore itu Park Min Ji dan Xiao Zhou sedang menikmati makan mereka, keduanya makan di luar ruangan menatap pemandangan cahaya lentera yang memenuhi desa di depan mereka, wajah wanita itu tampak begitu cerah dan seperti begitu lapar menelan makanan nya dengan sedikit rakus.


"apa itu cara makan wanita berkelas?" guman Xiao Zhou mengingat ucapan Tang Bao.


mata Park Min Ji sedikit melebar, tampak gerakan di leher nya seperti sedang menelan makanan nya.


"bocah apa kau menyindir ku? di hadapan mu aku terasa bebas, dan itu membuat ku merasa hidup, lagipula kau sudah melihat semua sisi ku, maksud ku sifat ku," ucap Park Min Ji sedikit terbatuk.


"aku sudah memiliki segalanya yaitu dirimu, aku tidak perlu mengesankan siapapun lagi," batin Park Min Ji.


hawa dingin tiba-tiba menyelimuti tempat makan mereka, wajah Park Min Ji terlihat begitu pucat, air minum dan makanan panas di hadapan mereka mulai membeku, Park Min Ji yang mengetahui ajal nya sudah mendekat, memejamkan matanya dalam-dalam, setetes air mata nya keluar, dan membeku saat mencapai pipinya.


"kau tahu... aku memanggil mendiang suamiku hanya dengan sebutan Yang Mulia saja, tidak pernah muncul kata itu dari bibir ku, tapi aku pernah memanggil mu dengan sebutan itu, dan itu begitu menyenangkan, waktu ku tidak banyak, bisakah kita lewati beberapa tahapan itu, dan... dan izinkan aku memanggil mu dengan sebutan itu lagi," ucap Park Min Ji dengan suara bergetar.


Xiao Zhou meletakkan sumpit nya dan mengangguk, membuat Park Min Ji tersenyum bahagia, dan mengeluarkan sebuah bungkusan kain dan membuka nya, tampak sepotong kue yang sudah menghitam dan kering.


"suami... apa kau masih ingat? itu adalah pemberian pertama mu untuk ku, a-ku... aku begitu bahagia saat itu, dan begitu menyayangi kue itu, kue ini benar-benar berharga bagiku... hngukkk..." Park Min Ji menarik nafas dari hidung nya agar tidak ada air yang keluar dari hidung nya yang tampak memerah.


"terimakasih... kau juga telah memberikan aku segala rasa yang tidak pernah kurasakan seumur hidup ku, saat ini aku sudah siap untuk pergi, meski tidak rela berpisah dari mu tapi aku juga tidak boleh serakah," ucap Park Min Ji.


seorang pria berambut putih panjang melangkah mendekati nya, meski kakinya tidak menyentuh tanah, pria itu duduk sambil melayang.


jemari kurus Park Min Ji meremas tangan Xiao Zhou,


"istriku kau tidak perlu takut, kau tidak akan pergi," ucap Xiao Zhou.


Park Min Ji mengangguk, air mata nya kembali keluar namun lagi-lagi membeku saat mencapai pipinya.


"aku akan mengikuti semua ucapan mu suami, aku begitu bahagia kau menyebutkan panggilan itu untuk ku, aku benar-benar bahagia, hik.... ini air mata bahagia ku," ucap Park Min Ji dan mengusap butiran-butiran membeku di pipinya.


"aku tahu kemampuan mu bertarung begitu tinggi, namun kali ini seperti nya persoalan nya berbeda, mungkin kau tidak akan percaya penyihir yang pernah diceritakan itu datang lagi," ucap Park Min Ji semakin mengeratkan jemari nya.


"apa maksud mu pria berambut putih itu?" ucap Xiao Zhou.