Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
pangeran Jing Hao


apa yang di perbincangkan Xiao Zhou dengan Puteri Ming Mei di ranjang mereka malam itu, seharusnya berjalan seperti yang di ucapkan Xiao Zhou jika pangeran Jing Hao manusia biasa, tapi pangeran Jing Hao bukan lah orang yang sesederhana itu.


ini di mulai sekitar 34 tahun yang lalu, saat pangeran Jing Hao masih di dalam kandungan, ayah pangeran Jing Hao yaitu raja Jing Yuan ingin menikah lagi, dan pada saat itu ibu pangeran Jing Hao, meminta bantuan seorang penyihir untuk membatalkan keinginan Jing Yuan yang ingin menikah lagi.


penyihir itupun mulai memberikan mantra iblis, dan ramuan terlarang untuk membuat bagian intim nya begitu memanjakan suaminya, dan perlahan raja Jing Yuan pun melupakan keinginan nya untuk menikah lagi.


tapi hal itu tidak berjalan mulus, semua yang di dapat di dunia ini harus di bayar dengan harga yang setimpal.


dan efek dari mantra dan ramuan iblis itu, mempengaruhi janin yang di kandung nya, dan beberapa bulan kemudian lahirlah seorang bayi yang kelak akan memiliki sifat yang sangat jahat.


beberapa tahun setelah melahirkan, ibu pangeran Jing Hao meninggal, karena ramuan terlarang itu menghisap jiwa nya, dan Jing Hao tumbuh menjadi pemuda yang begitu ambisius, serakah, dan juga penuh kedengkian.


raja Jing Yuan melihat sifat ini, dan mengangkat kakak Jing Hao menjadi putra mahkota, dan menyingkirkan pangeran Jing Hao.


pangeran Jing Hao, begitu terpukul dan iri dengan kenyataan ini, dan bersumpah akan menjadi orang yang lebih kuat dari kakak nya.


dan di sekte tempat nya belajar kultivator lah di mulai ambisi nya, saat usia nya menginjak 15 tahun, dengan segala akal nya mulai mendekati putera mahkota yang berusia tiga tahun di bawahnya, dan mempelajari sifat-sifat dari putera mahkota.


dan saat putera mahkota berusia 17 tahun.


"Yang Mulia, apa yang mulai pernah mendengar tentang seorang peramal di desa Goh?" tanya Jing Hao yang saat itu berusia 20 tahun.


"hahaha... kakak Jing, aku tidak tahu, apakah peramal itu benar-benar hebat?" tanya putera mahkota yang memang menyukai hal-hal semacam itu, dan sangat penurut dengan ibu nya.


"Yang Mulia biar aku yang mengantarkan anda ke tempat itu" ucap Jing Hao


"tidak kakak Jing, aku yakin ibuku akan memarahi ku jika melakukan itu" ucap putera mahkota.


dan Jing Hao mulai meyakinkan putera mahkota, dan beberapa hari setelah nya mereka sudah duduk di hadapan peramal di desa Goh itu.


wajah peramal itu sedikit berkerut mengetahui bahwa yang di depan nya putera mahkota.


"hormat ku putera mahkota" ucap peramal itu.


putera mahkota sangat terkejut bagaimana dirinya bisa di kenali, tanpa mereka berkenalan terlebih dahulu, dan mulai mempercayai peramal itu sepenuhnya.


setelah beberapa saat,


"maafkan aku yang mulia, tapi ini sangat buruk, menurut ramalan, anda tidak bisa memiliki keturunan, bahkan para tabib terhebat pun tidak akan bisa mengetahui ini" ucap peramal itu gugup.


"berani sekali kau bicara sembarangan peramal tua, apa kau tidak tahu sedang bicara dengan siapa, dan apa arti ramalan konyol mu itu hah?" teriak Jing Hao marah.


"maafkan hamba putera mahkota, tapi itu adalah kebenaran" ucap peramal itu sambil bersujud di hadapan putera mahkota.


putera mahkota begitu terpukul, wajah nya terlihat pucat dengan tatapan kosong.


sreettttsssss......


putera mahkota tersadar saat wajah nya terkena cipratan darah.


tangan putera mahkota yang masih begitu muda mulai bergetar, dan menatap sekeliling dan mendapati bahwa peramal itu sudah tidak berkepala lagi.


"putera mahkota sebaiknya kita pergi dari sini, cerita ini tidak boleh tersebar keluar sedikit pun juga dari rumah ini, dan biarkan cerita itu tetap di rumah hangus ini" ucap Jing Hao, dengan pedang berlumuran darah dari peramal itu, dan mereka pun meninggalkan rumah peramal itu dalam kondisi mulai terbakar.


dan mulai detik itu Jing Hao mulai berkuasa terhadap putera mahkota, pangeran Jing Hao mulai membatasi pergaulan putera mahkota, setiap ucapannya adalah perintah untuk putera mahkota.


pangeran Jing Hao mulai mendekati wanita yang di sukai putera mahkota secara diam-diam, wanita itu adalah puteri dari keluarga bangsawan bermarga Wei, dia adalah Wei Huaran, wanita yang memiliki wajah yang sedikit kekanakan, dengan kulit tidak terlalu putih, dan tubuh langsing yang ideal.


dan ini adalah hal yang mudah bagi Jing Hao, karena pangeran Jing Hao tumbuh menjadi seorang pria yang sangat gagah, dengan hidung mancung, rahang tegas, dan tubuh kekar membuat nya terlihat begitu jantan, sehingga dirinya begitu terkenal di kalangan para gadis muda, bahkan wanita yang sudah bersuami tidak pernah lepas dari incaran nya.


tidak hanya itu, kemampuan nya mengambil hati wanita begitu hebat, setiap ucapannya mampu meluluhkan hati wanita, dan kemampuan di atas ranjang sudah begitu tersohor.


****


di pulau keseimbangan.


seorang wanita cantik, dengan jubah sutra putih ke emasan turun dari sebuah kereta kuda di depan istana ke 15.


"aku tidak percaya melakukan ini, aku benar-benar sudah kehilangan akal ku" batin wanita itu


rambut panjang terurai terlihat begitu halus dan lembut, menghiasi wajahnya dengan mata indah dan bibir yang merah alami.


dan dua buah anting panjang bermata biru dan merah membuat terlihat begitu menawan sore hari itu.


wanita itu melangkah kan kaki nya ke dalam istana ke 15, yang di antar penjaga gerbang, dan di sambut oleh Liu fenghua.


"adik Lun, kau akhirnya datang mengunjungi ku, apa kau sendirian?" tanya Liu fenghua.


Lun Zhing Yue hanya mengangguk dan tersenyum, kedua tangan nya saling meremas terlihat sedikit kegusaran dan keraguan di sorot matanya.


"suamiku sedang sibuk kakak Liu, aku harap tidak menggangu waktu mu berharga mu" ucap Lun Zhing Yue berbasa-basi, dan keduanya memasuki aula keluarga, dan duduk mulai berbincang sambil menikmati teh yang di bawakan oleh dayang di istana indah itu.


mata Lun Zhing Yue selalu menjelajah ke semua arah, mencari sosok yang sangat menggangu pikiran nya.


"baiklah, di mana dirimu aku hanya ingin melihat mu sekali saja, dan mencari kelemahan mu, dan kelemahan mu itulah yang akan menjadi senjata ku untuk melupakan mu, kelemahan itu juga akan membuat ku menjadi bosan dengan mu" batin Lun Zhing Yue, yang ingin melupakan Xiao Zhou dan kembali kehidupan normal nya, menjadi istri yang baik bagi suami nya.


"adik Lun apa kau baik-baik saja, kau terlihat seperti sedikit gugup?" tanya Liu fenghua yang tidak pernah melihat Lun Zhing Yue gugup seperti ini.


"aku baik kakak Liu, hanya istana mu ini begitu mewah, dan juga sangat can-tik" ucapan Lun Zhing Yue sedikit terputus saat melihat sosok yang terus di pikiran nya itu tiba-tiba saja melintas.


"aahhh... dadaku terasa sesak," batin Lun Zhing Yue wajah nya terlihat sedikit memerah saat mata Xiao Zhou bertemu dengan mata nya.


Liu fenghua juga melihat Xiao Zhou mendekat kearah mereka, dan kedua wanita itu pun berdiri.


"suami kau mau kemana" ucap Liu fenghua


"Hua'er... ahhh... aku hanya ingin keluar sebentar, hemmm... ada tamu rupanya, nyonya Huang senang anda sudah mampir," ucap Xiao Zhou sedikit tersenyum, dan meninggalkan kedua wanita itu yang masih berdiri membeku.


"adik Lun maafkan suami ku, dia memang seperti itu tidak bisa berbasa-basi" ucap Liu fenghua yang dijawab dengan anggukan dari Lun Zhing Yue.


"hemmm... kakak Liu, aku juga ingin mencari udara segar, apa aku boleh berjalan-jalan sebentar" ucap Lun Zhing Yue.


"baiklah adik Lun biar aku antar" ucap Liu fenghua, sambil mulai berdiri.


"kakak Liu, kau tidak usah repot, kau pasti sangat sibuk, biar aku jalan-jalan sendiri saja" ucap Lun Zhing Yue.


****