Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
melewati gerbang


ayah????" batin Choe Eun Soo mata nya menyipit, sesekali menatap bocah kecil yang lebih cocok menjadi adik Xiao Zhou.


"aku harus memastikan nya," guman Choe Eun Soo


"nyonya Choe apa maksud mu?" tanya bok Joo.


"tidak apa-apa, bok Joo ikut dengan ku sekarang," ucap Choe Eun Soo dan mendekati Xiao Zhou dan beberapa orang yang sedang bersama nya.


"suami apa kau mengenal mereka," tanya Liu fenghua, saat Choe Eun Soo dan bok Joo mengangguk sopan.


"iya Hua'er... mereka adalah pelanggan tetap di perpustakaan ini," ucap Xiao Zhou


"cih... suami? guman pelan Choe Eun Soo suara nya hampir tidak terdengar, hatinya begitu kesal, dan cemburu saat Liu fenghua.


mereka semua saling menyapa dan duduk di meja panjang yang ada di depan perpustakaan itu.


"Feng'er ajak adik mu Wei Jin masuk ke perpustakaan" ucap Xiao Zhou.


"adik Choe, apakah ini kekasih mu? kami membawa makan malam apa kalian mau bergabung?" tanya Yun Li Wei, yang terlihat sangat anggun saat bicara, membuat bibir bok Joo terbuka lebar.


"tidak perlu nyonya, kami hanya sebentar," ucap bok Joo.


"tidak... aku mau, maksud ku kami bersedia makan malam bersama jika nyonya tidak keberatan," ucap Choe Eun Soo


"apa ini? hehe tentu saja kami tidak keberatan," ucap Yun Li Wei tertawa sambil menutup bibir merah darah nya, dan melangkah menyiapkan makan malam di meja panjang itu, dan para wanita lainnya pun membantu.


mereka berbincang, sambil menikmati makan malam, bola mata Choe Eun Soo selalu mencuri pandang ke arah Xiao Zhou meskipun wajah nya kearah lain, dan hatinya begitu panas dan ingin marah, saat melihat Liu fenghua dan Yun Li Wei bergantian mengisi mangkuk Xiao Zhou dengan lauk.


"makan yang banyak suami," ucap Liu fenghua dan mengacak rambut Xiao Zhou.


"kakak kenapa kau tidak memanggil suami kalian dengan Zhou Gege?" tanya Choe Eun Soo.


"hahaha.... apa kau ingin kami mati kebosanan, kami semua tidak begitu menyukai hal serius semacam itu, dan bisa di katakan kami tidak romantis berlebihan seperti itu, jikapun situasi nya serius, kami hanya menggunakan panggilan suami," ucap Yun Li Wei.


"dan terkadang kami memanggilnya sayang jika sedang di ranjang," ucap Liu fenghua dan buru-buru menutup bibirnya karena keceplosan bicara.


"uhukkkkk.... uhukkkkk..." bok Joo tersedak, saat mendengar Liu fenghua mengucapkan kata ranjang.


"maafkan aku, tapi aku rasa kita sudah dewasa untuk membicarakan itu," ucap Liu fenghua, dan di iringi senyum dari Yun Li Wei.


"aku juga akan suka memanggil nya bocah jika menjadi istri nya kelak," batin Choe Eun Soo.


"adik Choe.. apa kalian tidak berencana menikah?" tanya Liu fenghua.


wajah bok Joo memerah, tangan Choe Eun Soo meremas tangan bok Joo di hadapan Xiao Zhou, seperti menunjukan kemesraan di hadapan nya.


"kami masih belum memikirkan nya, tuan Xiao bisakah kau mencarikan buku untuk panduan memiliki anak?" tanya Choe Eun Soo seperti memanas-manasi Xiao Zhou.


Xiao Zhou mengangguk tidak bisa bicara karena bibirnya penuh makanan,


"tentu saja nyonya choe," ucap Xiao Zhou, sepotong sayuran terlihat keluar dari bibir Xiao Zhou karena berusaha bicara saat bibir menggelembung penuh makanan.


Yun Li Wei hanya menggeleng, melihat tingkah suami nya,


"suami sebaiknya kau menelan makanan mu dulu baru bicara, kau harus banyak belajar dari kekasih nona Choe yang terlihat elegan sopan saat makan," ucap Yun Li Wei,


ucapan Yun Li Wei sontak membuat bok Joo semakin menjaga sikap nya, dengan mengusap bibirnya dengan sapu tangan, dan sesekali mencuri pandang ke arah kedua istri cantik Xiao Zhou, dengan mengeluarkan senyum se'mempesona mungkin.


"biarkan saja nyonya dia bersikap ada adanya di hadapan semua orang, jarang ada orang bertingkah jujur seperti itu di hadapan wanita cantik seperti kalian," ucap Choe Eun Soo.


Yun Li Wei mengangguk, menyetujui ucapan Choe Eun Soo,


"karena itulah aku menyukai mu bocah, kau tidak bertingkah berlebihan di hadapan ku, hanya untuk mencari perhatian ku," batin Choe Eun Soo.


"kalian berdua seperti seorang Dewi, benarkah kalian berdua istri Xiao Zhou?" tanya Choe Eun Soo yang sedikit terkejut jika ada wanita secantik mereka, yang di jawab dengan anggukan kedua wanita itu.


Xiao Zhou memejamkan matanya pelan,


" apa aku tidak sebanding dengan mereka? Dewa kenapa wajah dan tubuh ku harus lebih mirip wanita seperti ini hah?" batin Xiao Zhou mengutuki Dewa.


"aahhh sudahlah... dasar wanita," guman Xiao Zhou kesal, dan melangkah kebelakang.


Choe Eun Soo melangkah melewati perpustakaan yang sepi, dan berpapasan dengan Xiao Zhou.


"ikut aku," ucap Choe Eun Soo menarik lengan Xiao Zhou dan membawa nya ke sudut di perpustakaan, yang gelap.


"beberapa hari lagi, aku akan pergi katakan tentang bayaran mu? sebaiknya kau tidak memikirkan bayaran yang tidak-tidak, karena aku sudah memiliki kekasih" ucap Choe Eun Soo, hatinya begitu perih melihat kemesraan Xiao Zhou dengan istri-istri nya.


"baik kakak Eun Soo," ucap Xiao Zhou.


"jangan memanggilku kakak Eun Soo lagi, karena kedekatan ku hanya untuk memanfaatkan mu saja," ucap Choe Eun Soo kemarahan nya sudah tidak dapat di tahan, air matanya mengalir dalam kegelapan.


Xiao Zhou mengusap-usap wajah nya, dengan kesal.


"aahhh... ada apa dengan wanita ini?" guman Xiao Zhou.


"seperti itukah cara mu berterima kasih, baiklah nyonya Choe, berikan aku 100 keping emas, apa itu membuat mu senang sekarang?" tanya Xiao Zhou.


"baik... nanti kekasih ku akan membawakan untuk mu," ucap Choe Eun Soo.


"dan sekarang urusan kita sudah selesai," ucap Xiao Zhou meninggalkan Choe Eun Soo yang masih terisak dalam gelap.


"iya... kita sudah selesai, maafkan aku Zhou'er, aku begitu cemburu," guman Choe Eun Soo, seorang diri, memeluk kedua lututnya karena kakinya begitu lemas untuk berdiri.


makan malam pun selesai, semua orang pergi, hanya meninggalkan Xiao Zhou dengan kedua anak nya.


****


Xiao Zhou menatap langit dan terlihat salju mulai turun, pikiran nya menerawang memikirkan kapan sastrawan tangan dewa muncul.


dan seorang pria kecil berlari ke arah nya membuyarkan lamunan nya,


"ayah perpustakaan ini sangat bagus, aku akan datang ke tempat ini setiap hari, dan membaca semua buku yang ada di tempat ini," ucap pria yang berusia tidak lebih dari enam tahun.


Xiao Zhou berjongkok dan mensejajarkan tubuh nya dengan bocah itu,


"Wei Jin, apa kau begitu senang membaca? apa kau tidak ingin menjadi seorang kultivator seperti ayah?" tanya Xiao Zhou, yang mengetahui biasa nya seorang anak akan mengidolakan ayah mereka.


"tidak ayah, aku tidak menyukai kultivasi, saat aku besar seperti mu, aku akan menjadi seorang sastrawan, dan kelak aku akan di panggil SASTRAWAN TANGAN DEWA" ucap Wei Jin sambil mengibaskan pakaian nya, dan memperlihatkan telapak tangan nya pada Xiao Zhou.


telapak bocah itu seperti tidak memiliki garis di telapak tangan nya,


wajahXiao Zhou begitu pucat, matanya melebar, dan mencoba berdiri, tubuh nya hampir kehilangan keseimbangan nya dan segera duduk di tempat nya tadi.


"tidakkk... aku pasti salah dengar," guman Xiao Zhou, menenangkan dirinya sendiri, sambil mengatur nafas nya.


setelah beberapa saat nafas Xiao Zhou mulai teratur lagi, wajah nya pun tenang.


"Wei Jin.... dari mana kau mendengar nama itu nak? apa ibu mu pernah menyebut nama itu?" tanya Xiao Zhou pelan menatap mata Yun Wei Jin.


"nama itu aku karang sendiri ayah, apa aku salah ayah? tolong maafkan aku ayah," ucap Yun Wei Jin dan memeluk pinggang Xiao Zhou.


Xiao Zhou mengelus kepala anaknya, dan menutup perpustakaan itu, tidak lupa dirinya menulis sepucuk surat dan menaruh nya di meja makan, dan membawa kedua anaknya kembali ke pulau keseimbangan.


*****


malam itu, Xiao Zhou benar-benar putus asa, dan meneguk guci nya dalam-dalam.


"jadi sastrawan itu adalah putera ku, dan aku tidak bisa melepas puteraku begitu saja untuk menangani kekacauan ini, Dewa suci kau benar-benar licik," guman Xiao Zhou.


"tidak ada hari-hari yang yang damai, aku akan bergelut dengan kekacauan ini, untuk membantu putera ku," batin Xiao Zhou.


Xiao Zhou kembali mengingat ucapan terakhir Dewa suci Qing Tao.


"di akhir tahun rusa api, datang lah ke gerbang barat kota huangdong, karena di sanalah untuk pertama kalinya nama itu di ucapkan,"


"bagaimana pun aku harus segera sembuh, dan membantu Wei Jin," ucap Xiao Zhou.


Xiao Zhou terus melangkah dengan guci kesayangan nya dan tanpa di sadari nya tubuh nya sudah melewati gerbang menuju pulau tingkat ke dua, dan tertidur karena pikiran nya terlalu lelah, dan malam sudah begitu larut.