
Kaisar muda terlihat begitu tertekan, air matanya menetes mengantar kepergian Xiao Zhou.
"kakak ipar, aku akan melakukan yang kau sarankan, meskipun sekarang adalah hari terakhir aku menjadi Kaisar, terimakasih" ucap Kaisar muda itu, sambil memegang surat di tangan nya.
"kepala Kasim.... saat pesta ini selesai, kumpulkan para menteri di tempat rahasia ku" ucap Kaisar muda itu.
"baik Yang Mulia" ucap kepala Kasim dengan sedikit membungkuk.
pesta pun di mulai semua pejabat begitu terlihat bahagia, dan para bangsawan pun saling berbincang dengan serius, dan sesekali saling menawarkan siasat, dan saling melempar jebakan.
seorang wanita cantik memasuki ruangan pesta itu di temani seorang pria gagah, dengan jenggot pendek nya.
semua mata menatap pasangan itu dan harus mengakui jika pangeran Jing Hao adalah pria yang begitu pantas mendampingi Puteri Ming Mei.
ilustrasi Puteri Ming Mei.
"Puteri lihat lah, semua mata menatap mu" bisik pangeran Jing Hao saat mereka sudah duduk di sebuah meja yang di penuhi hidangan istimewa.
"benarkah? apa aku terlihat aneh?" tanya Puteri Ming Mei.
"kau terlihat sangat menggoda dengan dandanan berani seperti itu" ucap pangeran Jing Hao
"pangeran Jing Hao, kau membuat aku malu, kau juga terlihat sangat gagah dan begitu jantan" ucap Puteri Ming Mei dengan wajah memerah.
"hahaha... Puteri bagaimana jika setelah pesta ini kau mampir ke tempat ku, kau bisa buktikan apa aku jantan seperti ucapan mu tadi" ucap pangeran Jing Hao yang sudah mulai tidak dapat menahan nafsu nya.
"aku, aku tidak tahu pangeran, tapi sepertinya malam ini aku akan mampir ke tempat tidur mu" ucap Puteri Ming Mei dan meneguk minuman keras dari cawan nya.
"Hem... aku harap pesta ini cepat selesai" ucap pangeran Jing Hao, matanya begitu buas dan seperti ingin menelan Puteri Ming Mei bulat-bulat.
malam semakin larut, dan para tamu sudah meninggalkan istana, dan pangeran Jing Hao menggenggam tangan Puteri Ming Mei, kedua nya saling meremas mesra.
"maaf pangeran Jing Hao, Yang Mulia Kaisar ingin bicara dengan anda sekarang" ucap kepala Kasim.
"baiklah" ucap pangeran Jing Hao dan kepala Kasim itupun pergi.
"kau akan bertemu Yang Mulia? seperti aku akan tidur sendirian malam ini, pergilah" ucap Puteri Ming Mei yang terlihat kesal.
"tidak, apa yang kau ucapkan tadi sore tentang memilih ku menjadi Kaisar itu benar?" tanya pangeran Jing Hao.
Puteri Ming Mei menatap dalam-dalam dan mendekatkan wajahnya ke wajah pangeran Jing Hao,
"aku akan selalu di sisi mu, apa kau senang sekarang" bisik Puteri Ming Mei.
"baiklah ikut aku menghadap Yang Mulia, aku akan mengatakan jika aku mencintaimu, dan sangat ingin menikahi mu" ucap pangeran Jing Hao, dan menarik tangan Puteri Ming Mei tanpa mendengar kata-kata yang di ucapkan Puteri Ming Mei.
seorang pemuda dengan kristal biru di kening nya menatap kepergian pasangan itu menuju kediaman Kaisar muda.
"Yang Tian, ingat lah lakukan jika sudah detik terakhir" ucap Xiao Zhou dan melangkah meninggalkan tempat itu, dan sebuah bayangan keluar dari punggung Xiao Zhou, mengikuti pasangan yang sedikit berlari itu.
*****
di ruang tidur Kaisar, kekaisaran Ming.
ruangan yang begitu luas, dan mewah terdapat beberapa lukisan indah, dan di terangi puluhan lentera cantik,
terlihat Kaisar muda itu sudah berjalan gontai dengan pakaian berantakan dan rambut yang sudah acak-acakan.
di tangan nya memegang guci arak dan menatap kedua orang yang berdiri di depan nya.
"dan kenapa kau membawa wanita jalang ini ke hadapan ku, hahaha.... kalian memang pasangan yang serasi" teriak Kaisar muda itu tercium bau alcohol yang menyengat di udara.
"tenangkan dirimu Kaisar, dan berhati-hati bicara, atau aku akan mengatakan semua kebusukan mu" ucap pangeran Jing Hao.
Kaisar muda itu mencabut sebuah pedang dan mengancungkan nya ke hadapan pangeran Jing Hao.
pangeran Jing Hao tetap tenang karena dirinya begitu yakin akan kemampuan kultivasi Kaisar jauh di bawahnya.
"kau sudah terlalu lama menguasai ku dan begitu banyak racun kebohongan yang kau berikan padaku, sekarang semua nya sudah jelas, kau tahu sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah, aku tidak mandul dan aku telah menipu ku, dan kau juga menghasut ku agar meracuni ayah ku sendiri, kali ini kau akan aku bunuh" teriak Kaisar muda itu.
"hahaha.... kau akhirnya mengetahui juga, dasar Kaisar dungu, jangan salah aku, salahkan saja kebodohan mu itu, benar aku lah yang merencanakan semua ini, dan kau dengan ketakutan akan kemandulan mu kau dengan mudah aku gunakan sebagai boneka ku, termasuk meracuni ayah mu sendiri" ucap pangeran Jing Hao.
tapi sudahlah... semua sudah terlambat, sekarang sesali kesalahan mu seumur hidup mu, hidup mu tidak akan lama lagi, kau sudah mengkonsumsi racun dengan kadar rendah, tidak lebih tiga bulan lagi kau akan mati, sekarang aku akan memutuskan urat bicara mu, dan melumpuhkan tangan dan kaki mu itu" ucap pangeran Jing Hao.
blaaarrrrr.....
tirai besar terputus,
terlihat Ibu Suri dan semua menteri sudah menatap ke arah pangeran Jing Hao dengan mata tidak berkedip, para pengawal berlari dari belakang menteri itu dan mulai mengepung pangeran Jing Hao.
"apa??? kau?" tidak ada kata yang mampu keluar dari bibir pangeran Jing Hao.
"istriku, sebaiknya kita pergi dari tempat ini, urusan kita sudah selesai" ucap remaja dengan topeng di wajahnya.
"kau benar suamiku kita akan pergi, aku sudah sangat jijik di sentuh bajingan ini" ucap Puteri Ming Mei dan memeluk lengan Xiao Zhou meninggalkan pangeran Jing Hao yang membeku.
"harusnya dari awal aku sudah menduga ini, kau lah di balik semua ini penguasa ke 15" guman pangeran Jing Hao menatap kearah Xiao Zhou.
Xiao Zhou menghentikan langkahnya, dan menatap pangeran Jing Hao dalam-dalam,
"manusia saat merasa nyaman, akan menurunkan kewaspadaan, sama saat rencana mu berjalan begitu mudah saat itu kau menurunkan perhatian pada lawan mu, jadi jangan pernah menurunkan kewaspadaan.
dan benar aku lah yang merencanakan semua ini, dan saat ini salahkan saja kebodohan mu itu" ucap Xiao Zhou dan melangkah keluar dari ruangan itu.
kaki pangeran Jing Hao menjadi lemas dan berlutut di hadapan Kaisar muda itu, wajah terlihat putus asa, dan senyum di bibirnya mulai melebar.
"hahaha.... Kaisar keparat, kau pikir kau akan selamat hah? setidak nya kita akan mati bersama hari ini, hahaha...." ucap pangeran Jing Hao yang sudah kehilangan akal nya, dan melesat ke arah Kaisar muda itu dan merampas pedang yang ada di tangan Kaisar, serta menebaskan pedang indah itu ke leher Kaisar muda.
"apa ini detik terakhir?" guman Yang Tian.
dan sebuah sulur gurita terbuat dari ribuan pedang keluar dari punggung Kaisar muda itu dan menghacurkan pedang indah beserta lengan dari pangeran Jing Hao, dan sulur pedang itu terus berputar menghancurkan kepala dari pangeran Jing Hao, dan tubuh nya terlempar jauh.
hujan darah terjadi di ruang tidur Kaisar muda, para menteri dan pejabat semua menutup wajah mereka dengan lengan jubah lebar mereka.
malam itu Xiao Zhou meninggalkan istana kekaisaran Ming, dan seorang wanita cantik sudah menunggu nya di depan gerbang.
"suami seperti nya kau ada tamu, aku akan menunggu mu di rumah makan merak putih" ucap Puteri Ming Mei meninggalkan Xiao Zhou dan di ikuti oleh Raijuta dan beberapa pengawal.
Xiao Zhou mendekati wanita cantik itu dan mereka saling bertatapan untuk sesaat.
"aku tahu kau, selama ini melakukan semua untuk kebaikan kekaisaran ini, tapi katakan dengan jujur Zhou'er, apakah selama ini kau, k-kau pernah menyukai ku, apakah hubungan di antara kita hanya sebatas sandiwara mu saja?" tanya wanita cantik itu yang tidak lain adalah Ibu Suri, dengan suara terputus-putus.
Xiao Zhou hanya mengangguk,
"benar Ibu Suri, semua hanya sandiwara ku, aku tidak pernah menyukai mu" ucap Xiao Zhou dan meninggalkan Ibu Suri seorang diri.
Ibu Suri memejamkan matanya sambil menarik nafas nya dalam-dalam, dadanya berdebar kencang dan terasa berat, seutas senyum terlihat di bibirnya.