
mata wanita itu melebar, mendengar ucapan Xiao Zhou, yang mengetahui bahwa dirinya memang sudah keracunan lebih dari lima tahun.
"kau jangan bicara omong kosong anak muda, tabib istana sudah menyerah dengan racun yang ku derita ini, aku harus ke tempat ini setiap tahun untuk mencari tumbuhan obat, untuk menyambung hidup ku, tapi tahun ini seperti nya tahun terakhir ku" ucap wanita itu.
Xiao Zhou hanya tersenyum tipis,
"bibi benar-benar wanita yang tangguh, jika orang lain pasti sudah menyerah lima tahun yang lalu, sekarang seluruh darah di tubuh bibi sudah mengandung racun, dan beberapa organ dalam sudah hampir tidak berfungsi baik, seperti yang bibi katakan waktu bibi tidak akan lama lagi" ucap Xiao Zhou, yang di sambut senyum getir dari wanita itu.
"tapi bibi tenang saja, sekarang biar aku yang mengatasi masalah ini, bibi pikirkan saja cara memasukkan aku ke dalam bidang farmasi istana" ucap Xiao Zhou dan keluar dari gubuk itu.
beberapa saat Xiao Zhou sudah kembali dan mulai meracik ramuan di sebuah tungku kecil dengan perapian yang dengan menggunakan api biasa, tetapi sesekali tanpa di lihat oleh wanita itu Xiao Zhou menggunakan api Phoenix nya secara sembunyi-sembunyi.
wanita itu mulai bercerita tentang dirinya saat Xiao Zhou sibuk membuat ramuan itu, dan mereka mulai saling berkenalan dan sesekali tertawa bersama.
malam sudah larut saat Xiao Zhou sudah selesai membuat ramuan itu.
"ramuan apa ini? bau nya sangat menyengat, apa kau yakin Zhou'er? tanya wanita itu yang sudah mengenal nama Xiao Zhou.
"percaya saja bibi, kali ini bibi sudah tidak punya pilihan" ucap Xiao Zhou.
"kau benar, jika pun ramuan ini gagal, usia ku juga tidak lama lagi tidak ada ruginya mencoba" ucap wanita itu tersenyum ke arah Xiao Zhou.
Xiao Zhou hanya mengangguk, dan tersenyum.
"mata bocah ini begitu menenangkan" batin wanita itu.
wanita itu mulai meminum dan tidak beberapa saat kepala nya begitu pusing, beberapa kali darah hitam keluar dari bibir wanita itu.
"apa yang kau berikan ini?" tanya wanita itu
"ramuan yang aku berikan adalah ramuan yang sangat beracun, salah sedikit saja dalam meracik nya, bibi akan mati hanya dalam hitungan menit" ucap Xiao Zhou
"apa yang terlihat kadang bukan lah yang sebenarnya, dan apa yang tidak terlihat sebenarnya nyata adanya, seperti itu lah kejam nya dunia ini berikut dengan ilusi nya" ucap Xiao Zhou lagi
"kau meracuni ku Zhou'er, kenapa kau lakukan ini?" tanya wanita itu dan tiba-tiba sekeliling nya menjadi gelap.
mata wanita itu terbuka, kepala nya sudah tidak pusing lagi, dan masih mengingat ucapan terakhir Xiao Zhou.
wanita itu mendapati dirinya sudah terbaring di atas ranjang lembut di gubuk kecil nya.
wanita itu duduk dan menatap sekeliling terlihat Xiao Zhou juga tertidur di ranjang yang sama dengan nya.
mata wanita itu sedikit melebar dan mulai melihat pakaian nya dan meraba tubuh nya di daerah tertentu, tetapi semua nya seperti semula.
"aahhh.... apa yang aku pikirkan, tidak mungkin pemuda setampan ini tertarik pada wanita tua seperti ku" batin wanita itu sambil tersenyum malu, wajahnya sedikit memerah.
"ramuan pemuda ini sepertinya bekerja, aku merasa begitu segar kali ini, hemmm... pemuda ini ternyata tidak berbohong tentang pengobatan, tetapi sebaiknya aku tidak terlalu berharap akan kesembuhan ku" batin wanita itu lagi.
*****
keesokan harinya mereka sudah berangkat menuju istana, rombongan pengawal yang jumlahnya tidak kurang dari lima ratus pengawal dan puluhan pelayan membuat barisan dan di barisan tengah terdapat sebuah kereta kuda yang begitu mewah, di dalam nya duduk dua orang wanita yang tidak lain adalah Ibu Suri, dan kepala pelayan nya.
sudah bukan rahasia lagi jika Ibu Suri dan kepala pelayan nya adalah teman dekat sejak kecil, bahkan mereka masih ada hubungannya saudara, hanya nasib yang membawa nya menjadi seorang pelayan.
gerbang desa terdekat sudah terlihat, Xiao Zhou berada dalam barisan paling belakang, dan di temani oleh beberapa pelayan muda sedang berbincang, dan sampai tiba-tiba ratusan anak panah menyerang rombongan itu, beberapa orang yang tidak sempat menghindar harus menghembuskan nafas terakhir mereka.
"penyergapan" teriak seorang prajurit istana, dan seorang pimpinan pengawal itu mulai membuat formasi bertahan.
"lindungi Yang Mulia" ucap kepala pengawal itu.
dan beberapa orang berpakaian hitam lengkap dengan cadar nya mulai berterbangan dan menyerang formasi pertahanan yang di buat pengawal itu.
pertempuran mulai berlangsung, para penyerang itu begitu banyak dan mendesak para prajurit yang jumlahnya semakin sedikit.
"cepat bawa Yang Mulia ke desa itu dan membuat pertahanan" ucap kepala pengawal.
kusir kereta kuda itu mendengar perintah kepala pengawal, dan dengan kelihaian nya mulai menjalankan kereta kuda itu dengan kencang, menerobos orang-orang yang sedang bertarung, beberapa pengawal dan kepala pengawal mengikuti kereta itu meninggal pertempuran.
"kalian tidak akan bisa kemana-mana lagi, serahkan orang di dalam kereta itu" ucap salah seorang berpakaian hitam itu.
"kalian berani sekali, kau tahu akibat dari perbuatan kalian? seumur hidup kalian akan di kejar oleh prajurit istana" ucap kepala pengawal itu.
pertempuran pun terjadi, kedua wanita di dalam kereta itu keluar dan melihat pertumpahan darah terjadi di hadapan mereka, pasukan pengawal mulai terdesak, dan seorang pemuda tampan dengan jenggot pendek membuat nya tampak berwibawa, mendarat di tengah pertempuran itu.
dengan kemampuan nya di tingkat pendekar legenda, para penyerang itu dengan mudah di habisi oleh pemuda berjanggut pendek itu.
"Yang Mulia anda tidak apa-apa?" tanya pemuda itu, mendekati dua orang wanita cantik.
mata pemuda itu menatap wanita yang di panggil Yang Mulia itu saling bertemu, wajah wanita itu sedikit memerah.
"aku tidak apa-apa" ucap wanita itu dan kembali menegakkan wajah nya.
"pangeran Jing Hao, terimakasih atas bantuannya" ucap kepala pengawal itu dan memerintahkan semua orang untuk masuk ke dalam desa itu.
"tidak perlu sungkan kepala pengawal" ucap Xiao Zhou dan memeriksa mayat dari pimpinan penyerang itu, dan menemukan sebuah lencana.
pangeran Jing Hao melempar lencana itu kepada kepala pengawal Ibu Suri.
mereka semua masuk ke dalam kediaman kepala desa, dan beberapa prajurit yang ada di desa itu membuat pertahanan.
"kita akan membuat markas sementara di tempat ini, sebentar lagi bantuan dari istana akan datang" ucap kepala pengawal itu.
"anda benar kepala pengawal, kita sebaiknya berangkat besok pagi" ucap pangeran Jing Hao yang kini ikut berbicara dalam pertemuan di rumah kepala desa itu.
para pelayan istana sibuk menyiapkan segala sesuatunya, tidak ada satu pun dari para pelayan itu terbunuh, karena para penyerang itu sudah terbunuh terlebih dahulu oleh ilusi Xiao Zhou.
"Yang Mulia Ibu Suri ini sangat buruk, ini adalah lencana perintah dari menteri pertahanan," ucap kepala pengawal itu dan pergi dari kamar yang di sediakan untuk di tempati oleh Ibu Suri.
"menteri pertahanan? dia adalah orang setia ku, bagaimana ini bisa terjadi? kenapa dia bisa berkhianat?" guman Ibu Suri.
"bagaimana menurut mu?" ucap Ibu Suri menatap kepala pelayan nya.
"Yang Mulia di sini terlalu ramai, dinding di tempat ini tidak tebal, sebaiknya kita tidak membicarakan nya di tempat ini" ucap kepala pelayan itu.
"aku tahu" ucap Ibu Suri dan mulai diam.
****
dua orang sedang berbincang kedua nya sesekali saling mencuri pandang.
"kali ini kau sudah berjasa besar pangeran Jing Hao, katakan apa yang bisa aku lakukan untuk mu?" ucap wanita yang di panggil Ibu Suri itu.
"ini sudah kewajiban hamba Yang Mulia, Yang Mulia tidak perlu melakukan apapun untuk ku, hamba hanya ingin bisa membantu di sisi Yang Mulia selama nya" ucap pangeran Jing Hao.
deggg....
dada wanita itu bergetar menatap wajah gagah pangeran Jing Hao.
"pemuda ini sangat gagah, aahhh... demi dewa apa yang aku pikirkan ini, aku ini adalah Ibu Suri tidak seharusnya aku berpikir yang kotor seperti ini" batin wanita itu.
"baiklah, pangeran Jing Hao seperti nya kau akan menjadi pejabat di kekaisaran, meskipun kau dari kerajaan lain" ucap Ibu Suri.
"terimakasih Yang Mulia, hamba berjanji akan mengabdi hanya pada Yang Mulia Ibu Suri saja" ucap pangeran Jing Zhou dan menggenggam tangan wanita cantik itu dan mencium jemari indah nya.
"kau? apa yang kau lakukan?" guman Ibu Suri suara nya begitu lemah, tetapi tidak menarik tangan nya.
"maafkan aku Yang Mulia, aku sangat bahagia dan juga anda sangat cantik membuat aku hilang akal, sekali lagi maafkan aku" ucap pangeran Jing Hao, rayuan pangeran Jing Hao mulai menghangatkan hati wanita cantik itu.
"sudahlah kali ini kau aku maafkan, pergilah" ucap wanita itu tangan nya sedikit gemetar.
pangeran Jing Hao melihat itu, dan tampak bibirnya sedikit tersungging, dengan penuh makna.