
Pagi hari nya beberapa pengawal Kekaisaran Ming memasuki rumah makan Merak Putih, kedatangan mereka untuk menjemput Xiao Zhou sebagai pengawal baru untuk Puteri Ming Mei.
Pakaian mereka sedikit berbeda dari prajurit biasa, dengan warna hitam dominan, semua rambut mereka di ikat di atas kepala seperti seorang pendeta,dan di tutupi dengan penutup kepala berbentuk mirip penutup rambut para Kasim istana, yang kesemuanya berwarna gelap, dan pedang melengkung pada bagian pinggang belakang mereka merupakan ciri khas dari pengawal elit untuk keluarga Kaisar Ming.
Mereka terlihat begitu dingin, tidak ada senyum di wajah mereka.
Seorang pengawal itu masuk ke rumah makan itu, dan menarik sebuah bangku dan duduk di tengah-tengah ruangan itu, para tamu yang kebetulan berada di tempat itu terlihat ciut dan semua menundukkan kepalanya.
"katakan kepada orang yang bernama Xiao Zhou untuk segera ikut dengan kami untuk masuk Istana," ucap orang yang duduk itu, dengan wajah tenang, dan tatapan begitu dingin.
***
Xiao Zhou pertama kali masuk istana, selama dua kehidupan nya sedikit tercengang dengan bangunan megah, dan halaman istana yang begitu luas
"ini sangat megah" pikir xiao zhou.
jalan ke kediaman puteri berbeda dengan jalan ke kediaman Kaisar, tembok istana begitu tinggi dan di atas tembok itu di jaga oleh para pasukan prajurit istana, yang mengenakan pakaian yang berbeda dari pengawal elit itu.
penjagaan sangat ketat hanya orang tertentu saja dapat memasuki istana.
Istana kaisar setidak nya di jaga 1000 prajurit istana, hanya pejabat setingkat menteri yang bisa masuk ke aula kerajaan, semua orang terlihat sibuk dengan pekerjaan nya,tidak ada orang terlihat santai semua tegang.
"fuhhh... hidup di istana memang kejam" batin Xiao Zhou.
Xiao Zhou memasuki komplek istana puteri dengan penjagaan ketat, dan menuju sebuah bangunan khusus untuk para pengawal yang bertugas, mendapatkan kamar dan semua perlengkapan yang di butuhkan.
Xiao Zhou memakai pakaian khusus pengawal anggota kerajaan itu, membuat nya tampak gagah, dengan tinggi di atas rata-rata membuat begitu gagah, dan berkharisma bahkan pemuda itu lebih terlihat seperti seorang pangeran daripada seorang pengawal.
***
"namaku Li Bai, aku komandan pengawal puteri, kau boleh memanggil ku komandan Li saja." ucap seorang pria berusia sekitar 45 tahun, pria itu menatap Xiao Zhou dan berputar-putar di sekeliling nya.
"apa kau pernah menjadi pengawal, atau prajurit sebelum nya? hemm... melihat dari usia mu seperti nya aku salah bertanya," ucap komandan Li dengan nada merendahkan.
"yaah Dewa... kenapa aku harus menjadi pengasuh bayi, melindungi Puteri sudah membuat ku pusing sekarang tugas ku akan bertambah," guman komandan Li menghela nafasnya.
"baiklah... tugas mu adalah mengawal kemana pun puteri bergerak, dan tugas ku memastikan Puteri tetap bernafas," ucap komandan Li dengan tatapan ingin memakan pemuda itu.
"sebenar nya banyak yang harus kau ketahui, dan aku tidak mengetahui alasan Puteri menjadikan mu pengawal nya, dan akan sampai kapan kau jadi pengawal Puteri, jadi kau bebas bergerak sesuka mu, bahkan kau boleh hanya tidur di kamar mu, entah kau hidup atau mati, aku tidak peduli, karena kau sama sekali tidak ku anggap tim inti.
aku tidak mau karena kebodohan mu itu bisa merusak formasi pengawalan ku, kau mengerti maksudku bocah??? ucap komandan Li panjang.
"aku mengerti komandan." ucap Xiao Zhou tidak kalah tegas.
"bagus.... dan satu lagi ikuti semua perintah ku," ucap komandan Li.
***
"kau anak baru Puteri memanggil mu" ucap salah seorang yang memakai pakaian yang sama dengan nya.
Puteri Ming Mei menuruni tangga kediaman nya, mata puteri menatap seorang pria yang memunggungi nya di lantai bawah, pria itu memutar dan menatap ke arah nya.
Puteri Ming Mei menghentikan langkahnya, bibir nya sedikit terbuka.
"apa kau Xiao Zhou?" ucap Puteri Ming Mei,, mata puteri melebar untuk pertama kali nya dirinya melihat penampilan xiao zhou begitu rapi dengan penutup kepala sehingga wajah tampan nya begitu jelas terlihat.
Xiao Zhou hanya mengangguk, Puteri Ming Mei dan cepat mengalihkan tatapan nya, ke tempat lain.
"kau ikut sarapan dengan ku bocah," ucap puteri menguasai keadaan.
"baiklah puteri... dan jangan menyebutku bocah lagi, karena usia kita tidak jauh beda," ucap Xiao Zhou sopan.
hari itu Xiao Zhou mengikuti kegiatan Puteri Ming Mei, seharian Xiao Zhou harus mengawal Puteri ke sekte, dan ketempat lain nya.
"aku akan mati bosan jika begini terus," batin Xiao Zhou.
"Malam ini kau kawal aku," ucap Puteri Ming Mei,
malam hari nya seorang pelayan tua datang ke kamar Xiao Zhou memberikan pakaian,
"pakailah ini anak muda," ucap pelayan tua itu.
"baiklah bibi" ucap Xiao Zhou.
Malam itu Xiao Zhou mengantar Puteri Ming Mei menghadiri ulang tahun ibu dari Wei Jilli, hanya karena permintaan Kaisar Puteri Ming Mei menghadiri acara itu, di sebuah rumah makan mewah di pinggiran ibukota.
tamu undangan begitu banyak, para pejabat dan bangsawan terlihat begitu antusias menghadiri ulang tahun nyonya perdana menteri Kekaisaran Ming.
"kau bocah...kenapa kau bisa dekat dengan tunangan ku" geram Wei Jilli.
"dia pengawal ku sekarang, aku harap Wei gege tidak menyulitkan nya," ucap Puteri Ming Mei manja sambil menatap Xiao Zhou.
Wei Jilli yang pertama kali mendapat perlakuan mesra sangat bersemangat dan melupakan kehadiran Xiao Zhou, mereka bertemu ibu Wei Jilli, dan bercengkrama beberapa saat dan mereka duduk terpisah dari para orang tua.
selama makan malam tangan wei jilli selalu menggenggam tangan puteri, Xiao Zhou yang berdiri tidak jauh dari tempat itu hanya melihat kemesraan itu dengan wajah datar nya.
"dasar bocah bodoh, apa dia sama sekali tidak ada perasaan padaku," batin Puteri Ming Mei.
tangan Wei Jilli semakin berani menyentuh lutut puteri, di bawah meja, Xiao Zhou yang bertugas menjaga Puteri Ming Mei melihat gerakan itu.
Xiao Zhou melebarkan mata,
"aku harus pulang sekarang" ucap nya dan pergi meniggalkan rumah makan itu.
Xiao Zhou di paksa oleh Puteri Ming Mei untuk ikut naik kedalam kereta kuda kekaisaran nya.
dalam perjalanan mereka melewati daerah sepi, tidak jauh dari istana kekaisaran, dan tiba-tiba saja kuda penarik kereta terdiam tidak bergerak, komadan Li merasa akan terjadi sesuatu, dan memerintahkan pengawal mulai membentuk formasi.
"bocah tetap di dalam kereta, dan jaga puteri," ucap komandan Li
tiba-tiba dari berbagai arah beberapa bayangan hitam terbang ke arah kereta kerajaan yang di tumpangi Puteri Ming Mei.
"kalian sudah bosan hidup rupa nya hah?"teriak komandan Li dan mulai bertarung dengan para penyerang itu.
traaaaanggggg....
traaaannnnggg....
traaaangggggg....
beberapa pengawal dan para penyerang mulai terluka, cipratan darah dimana-mana.
"apa kau tidak membantu mereka" tanya Puteri Ming Mei, masih tenang, karena sudah pernah melihat Xiao Zhou bertarung dalam hutan.
"aku harus mengikuti perintah komandan Li untuk tetap di kereta ini puteri" ucap Xiao Zhou.
"mereka terlalu banyak," kereta kuda nya tidak mau berjalan kita harus bergerak ke arah istana" teriak komandan Li
"bocah bawa tuan puteri turun, dan bergerak ke arah istana kami akan menahan mereka," ucap komandan Li
Xiao Zhou turun dari kereta,
"naiklah ke punggung ku Puteri," ucap Xiao Zhou pelan,
"dan tutup matamu" guman Xiao Zhou lagi.
Xiao Zhou mencabut pedang yang di dapat dari istana dan melesat ke arah istana.
"puteri melarikan diri cepat kejar mereka" ucap salah satu pembunuh itu.
mereka semua bergerak mengejar kearah Xiao Zhou.
tidak ada yang dapat mengikuti kecepatan Xiao Zhou hanya beberapa tarikan nafas saja Xiao Zhou sudah mencapai 100 meter dari gerbang istana,
"buka mata mu putri kita sudah sampai," ucap Xiao Zhou,
"bagaimana kita begitu cepat sampai?"' tanya Puteri Ming Mei
"masuklah aku akan membantu komandan Li." ucap Xiao Zhou tidak menjawab pertanyaan Puteri Ming Mei.
baru beberapa langkah Xiao Zhou meninggalkan puteri, dari atas gerbang istana melesat seseorang berpakaian pengawal istana dan mengeluarkan pedang menebas ke leher Puteri Ming Mei, ternyata seorang pembunuh sedang menyamar menjadi seorang prajurit istana.
Puteri Ming Mei tidak sempat menghindar,
"Xiao Zhou...."
hanya itu kata yang keluar dari bibir Puteri Ming Mei dan memejamkan mata nya.
swiiiinnnnggggggs
pedang tajam itu mulai memotong sedikit rambut puteri, berhenti hanya beberapa senti dari leher jenjang sang puteri.
pedang itu di jepit oleh jari Xiao Zhou.
"bedebah.... berani sekali kau berani memotong rambut Puteri Ming Mei," ucap Xiao Zhou.
Mendengar suara Xiao Zhou, mata Puteri Ming Mei terbuka dan seperti tersadar dan mencari suara itu, bibir nya hampir menyentuh pipi xiao zhou posisi mereka sangat dekat, dan sekarang melihat pedang yang hanya beberapa centi dari leher nya.
"sekarang terima kematian mu,," ucap Xiao Zhou ke arah penyerang itu, hanya sekali pelintir pedang penyerang itu sudah tidak berbentuk lagi.
bommm...
pukulan telak mengenai dada penyerang itu dan tubuh nya menghantam gerbang istana para pengawal istana yang melihat kejadian dari awal, berlari ke arah mereka. para prajurit itu mengamankan Puteri Ming Mei ke kediaman nya, dan menangkap penjahat yang menyamar itu.
Xiao Zhou melesat ke arah komandan Li dan membantu nya menghabisi para penyerang itu.
"kerja yang bagus anak muda," ucap komandan Li setelah mengetahui puteri sudah aman di kediaman nya.
" maaf aku sudah pernah menyinggung mu"
ucap komandan Li menyesal.
****
Di kediaman Puteri.
Puteri Ming Mei tidak dapat memejamkan mata nya, dan begitu gelisah sambil merubah posisi tidurnya, wanita bermata sendu itu begitu senang Xiao Zhou begitu dekat dengan nya seharian.
"Aku benar-benar jatuh cinta pada bocah itu" batin Puteri Ming Mei, wajah nya tiba-tiba menjadi murung.
"bagaimana dengan Wei Jilli, kami sudah bertunangan, dan seluruh keluarga sudah begitu mengharapkan pernikahan kami," batin Puteri Ming Mei, dadanya terasa berat.