Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
ch.66


para prajurit iblis itu mulai menghindari tebasan pedang Xiao Zhou, mereka melesat ke udara dan menyerang balik ke arah Xiao Zhou dengan senjata mereka masing-masing.


"blarrrrr....."


"blarrrrr...."


tampak hutan bambu yang awalnya begitu lebat mulai hancur, berserta tanah dan bebatuan di daerah itu, dan dalam sekejap hutan itu sudah di penuhi debu dan serpihan bambu serta bebatuan


"sreeessstttt......"


"sreeessstttt...."


"ini begitu membosankan, " ucap Xiao Zhou dengan wajah acuh nya, dan terus melesat seperti bayangan hitam sambil menebaskan pedangnya ke arah para prajurit, dan seperti tanpa kesulitan melewati serangan-serangan dari para prajurit iblis itu.


"ini tidak mungkin," ucap Liu Bai tidak percaya jika pasukan nya yang begitu tersohor kini terlihat seperti gerombolan orang bodoh.


Liu Bai melesat ke udara, dan mengeluarkan segenap kemampuan,


"kau terlalu sombong bocah, aku pastikan kau mati berkeping-keping," ucap Liu Bai.


"hahaha... apa kau bernama Wang Riu, sebaiknya kau tangkap bawahan mu itu, jiwa nya sudah hancur menjadi tujuh setelah terkena tinju milik ku tadi," ucap Xiao Zhou tertawa.


"aahkkkkkk...." darah menyembur dari seluruh tubuh Liu Bai, tubuh nya melengkung di udara, dan bersamaan dengan itu Dewa Wang Riu melesat ke udara dan menangkap tubuh bawahnya itu.


"kalian masih memiliki waktu tujuh hari untuk bermesraan, sebelum jiwa nya benar-benar lenyap, itupun jika kalian tidak mati di tangan ku hari ini," ucap Xiao Zhou sambil menghancurkan para prajurit yang jumlahnya semakin sedikit itu.


Wang Riu terlihat begitu marah dan membaringkan tubuh Liu Bai di tanah,


"biar aku memberinya pelajaran atas kesombongan nya itu," ucap Wang Riu.


"tuanku... maafkan aku, ini semua karena kebodohan ku, aku begitu gegabah dan tidak mengukur kemampuan lawan ku begitu tinggi, sebaiknya tuan memikirkan misi datang ke tempat ini yaitu Ratu Xhin Ye," ucap Liu Bai.


"Liu Bai... aku tidak bisa melihat kau mati tanpa pembalasan," ucap Wang Riu, dengan tangan terkepal.


"tidak tuanku, aku akan mati dengan lebih tidak tenang jika mengetahui karena aku misi Anda gagal, dapat kan Ratu Xhin Ye, dan setelah nya balaskan dendam untuk ku," ucap Liu Bai.


Wang Riu menghela nafasnya dalam-dalam, tampak rahangnya bergerak karena begitu marah, dan kembali mengendong tubuh Liu Bai dan melewati sebuah gerbang teleportasi, serta meninggalkan hutan bambu itu.


tidak berselang lama hutan bambu itu sudah menjadi seperti tanah lapang penuh kawah dipenuhi dengan remukkan bebatuan, tidak terlihat satu sosokpun di tempat itu, hanya tubuh tidak bernyawa yang berserakan, dan tidak ada yang tahu kemana perginya sosok apa yang menghacurkan tempat itu.


****


sebulan berlalu, pulau keseimbangan.


di rumah kecil milik Jung Min Ha siluman laba-laba sedang terbaring untuk menetralkan racun di tubuh nya,



ilustrasi Jung Min Ha.


"Ratu Jung, terimakasih kau sudah merawat ku begitu lama," ucap siluman laba-laba.


"aahhh... nona siluman, kau tidak perlu begitu sungkan, kau memerlukan energi Yin semesta ku cukup banyak, aku harap kau memberikan imbalan yang setimpal," ucap Jung Min Ha dengan senyum licik.


siluman cantik pun tersenyum penuh kepalsuan,


"kurasa kita tidak perlu berbasa-basi lagi," ucap Jung Min Ha dan duduk dengan kaki menyilang diatas paha nya, sehingga memperlihatkan sedikit keindahan dari paha panjangnya yang begitu halus.


"ajari aku tehnik seperti yang kau ajarkan pada adik Yun," ucap Jung Min Ha.


siluman laba-laba tidak dapat menahan tawanya,


"hahaha.... aahhh maafkan aku Ratu Jung, tapi aku dengan senang hati akan mengajari anda, kalian bisa mencoba nya bertiga jika penguasa sudah kembali," ucap siluman laba-laba.


"siluman mesum... apa kau sudah gila? kami melakukan nya bertiga dengan saudara kembar ku, aaahhh... itu memalukan," ucap Jung Min Ha sambil menutup wajahnya.


"hihi... jika Ratu malu, bagaimana jika aku yang mengajari anda terlebih dahulu, aku, anda dan penguasa tentunya," ucap siluman laba-laba.


"sudah cukup, sekarang bersiaplah untuk menyerap energi Yin semesta yang sudah ku simpan dalam mutiara ini, setelah ini... aku yakin racun itu akan menjadi bagian darimu," ucap Jung Min Ha.


dan tiba-tiba tercium seperti obat terbakar,


"Ratu Jung apa semua baik-baik saja, aku mencium aroma gosong," ucap siluman laba-laba.


"kucing bodoh itu lagi, Yoon'er...... peliharaan mu membakar tumbuhan ibu lagi, cepat tangkap, atau ibu akan memasak kucing mu itu," teriak Jung Min Ha begitu panik dan berlari keluar ruangan, meninggalkan siluman laba-laba yang mulai menelan mutiara yang penuh hawa Yin semesta.


sepasang mata pria menatap ke arah gubuk kecil itu,


"hawa Yin semesta berasal dari wanita yang tidur dalam gubuk itu," ucap pemilik mata dan memutar sebuah ranting pohon di udara, dan mengalihkan perhatiannya ke arah Jung Min Ha yang sedang mengejar anak kecil yang menggendong kucing api.


tidak jauh dari gubuk itu di aula agung istana keseimbangan.


seorang Ratu yang begitu cantik sedang duduk di singgasana yang begitu megah, meski terlihat tenang sesekali raut kesedihan terpancar di matanya yang indah, dan para pejabat begitu lengkap hadir hari itu di aula istana.


wanita itu sedang menerima seorang utusan seorang pria yang tampak masih gagah meski di usia nya yang senja.


wanita itu berulang-ulang membaca gulungan di tangan nya yang di berikan oleh pria sepuh itu, sesekali kepalanya menggeleng tanpa di sadari nya.


"ouuhhh.... hemmmm..." tampak jemari tangan nya yang di hiasi beberapa cincin cantik sedikit bergetar, dan menggulung surat itu dengan begitu perlahan dan memasukkan kedalam cincin penyimpanan nya.


wanita itu memejamkan matanya dalam-dalam, tidak ada nafas terdengar dari semua orang di tempat itu.


"suami kenapa kau memberi tugas berat ini padaku, harusnya kau ada di dekat ku saat bayangan masa laluku datang, ini benar-benar membuat ku bimbang," batin wanita itu dan mengepalkan tangannya erat-erat seperti menguatkan tekad.


"hari ini aku Ratu Xhin Ye, menggantikan posisi penguasa ke 15 menjadi penguasa tertinggi di pulau keseimbangan ini, dan semua urusan yang dibebankan untuk nya, mulai saat ini akan berpindah ke tangan ku," ucap Ratu Xhin Ye.


"Dewa pengetahuan bisakah kita bicara sebentar," ucap Ratu Xhin Ye lagi.


"bagaimana keadaan nya? ti-dak bisakah a-aku menemui nya?" tanya Ratu Xhin Ye menatap Dewa sepuh yang berjalan beriringan dengan nya di balkon tamu istana.


"nyonya anda seperti begitu gugup? apa ada yang anda rahasiakan? surat itu di tulis saat kesadaran nya masih bagus, apa nyonya ingin menentang isi surat suami anda?" ucap Dewa pengetahuan.


"a-ku, maksud ku kami semua begitu merindukan nya," ucap Ratu Xhin Ye menutupi kegundahan nya tentang Dewa Wang Riu.


Dewa pengetahuan mengangguk sambil memejamkan matanya,


"aku mengerti nyonya, kali ini pulau keseimbangan dalam masalah yang besar, anda harus mampu bertahan, keselamatan isi pulau adalah prioritas utama anda," ucap Dewa pengetahuan.


"Wang Riu????" ucap Ratu Xhin Ye meninggalkan Dewa pengetahuan yang masih bicara, dan seperti tanpa berkedip menatap pria yang juga menatapnya jauh di gerbang pulau keseimbangan.