Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
ch 30


Rumor muncul nya Putera mahkota membuat rakyat membicarakan nya di seluruh pelosok, meski hanya dengan berbisik-bisik.


di istana Adipati Zhou Yun,


prannkkkkk......


suara barang-barang di hancurkan,


"bagaimana bisa? kau membiarkan putera mahkota mempermainkan mu begitu mudah, jika saja kau bukan keponakan ku, mungkin saat ini kau sudah menjadi makanan anjing ku," ucap Adipati Zhou begitu marah menatap wajah tertunduk Zhou Chan.


semua orang di tempat itu tidak ada yang berani bicara, nafas mereka seperti berhenti saat pria menyerupai kera itu marah.


"putera mahkota mengaku kerabat Kaisar Zhang, mereka pasti memiliki kaitan, meski kau begitu berkuasa... tidak ku biarkan kau menginjak-injak kepala ku seperti ini, kau benar-benar wanita siluman," guman Adipati Zhou Yun begitu marah kepada Kaisar Zhang Rui.


"cepat temukan keberadaan Putera mahkota, dan mereka yang membicarakan tentang Putera mahkota akan di hukum mati," teriak Adipati Zhou Yun, yang sudah kehilangan akal sehat nya.


salah seorang jenderal maju selangkah dan setengah berlutut.


"mata-mata kita sudah mengikuti mereka, mereka melewati sungai Tang dan kini sedang bergerak menuju desa mutong," ucap seorang jenderal yang setengah berlutut itu.


wajah Adipati Zhou Yun sedikit bersemangat, sambil menggosokkan kedua telapak tangan nya.


"hihihi.... bagus, kau ikuti tikus itu, dan jangan membunuh nya, batasi pergerakan nya, tutup setiap jalan keluar hingga tikus itu tidak bisa kemana-mana lagi," ucap Adipati Zhou Yun.


"dan kau keponakan ku tidak berguna... kau kirim hadiah ku pada Kaisar Zhang Rui, dan juga surat undangan ku, aku ingin menunjukkan sebuah tontonan indah pada Kaisar Pela*ur itu, dan perintahkan Dewa penjaga untuk menjaga perbatasan dengan ketat, aku ingin melihat kemampuan orang-orang dari kekaisaran itu," ucap Adipati Zhou Yun dan semua orang bergegas menjalankan perintah pria itu.


***


beberapa hari kemudian di perbatasan pesisir timur kekaisaran Wang, di istana persinggahan Kaisar Zhang Rui.


beberapa prajurit dengan kaki berjinjit melangkah begitu cepat memasuki aula yang begitu megah.


semua prajurit berpangkat tinggi itu berlutut,


"kami siap berangkat Yang Mulia," ucap salah seorang prajurit paling sepuh dengan wajah begitu serius.


Zhang Rui yang tidak mengenakkan pakaian Kaisar nya malam itu dan hanya mengenakan pakaian berwarna putih dengan manik-manik berkilau serta jubah berenda dengan warna keemasan, mulai berdiri dari singasana nya, dan melangkah mendekati para prajurit itu, dan menatap seseorang yang berdiri tidak jauh dari nya dengan pakaian serba hitam.


"kakak tidak perlu menanyakan kesiapanku, aku di sini untuk menjaga mu, dan sangat siap setiap detik nya," ucap pria berpakaian hitam itu dengan begitu dingin.


Kaisar Zhang Rui hanya mengangguk, dan menatap puluhan peti berisi hadiah dan mengeluarkan sebuah gulungan dari balik jubahnya, yang merupakan undangan dari Adipati Zhou Yun.


"pertunjukan apa yang ingin di perlihatkan padaku, ini sedikit mengganggu ku," guman Zhang Rui sambil menatap gulungan di tangan kanan nya.


wanita tinggi itu melangkah begitu anggun dan tampak pinggul nya yang lebar dan juga menonjol kebelakang bergoyang saat melangkah, membuat pakaian indah itu sedikit sesak di beberapa bagian.


"perintahkan besok sebelum matahari tegak kita sudah memasuki kota binjong jendral Hong," ucap Kaisar cantik itu, dan melempar gulungan itu ke arah pria berpakaian hitam itu.


****


tanah lapang begitu luas membentang di luar perbatasan Kekaisaran Wang, sekitar satu kilometer gerbang kekaisaran Tang yang kini di kuasai Adipati Zhou berdiri megah, lengkap dengan sebuah pagoda bertingkat empat yang merupakan pagoda penjaga empat penjuru kekaisaran Tang, dan merupakan pusaka dewa yang di miliki Kekaisaran itu.


panji-panji kebesaran berbentuk segitiga mulai berkibar, rombongan Kaisar Zhang Rui bergerak melewati gerbang perbatasan nya, jalan besar satu-satunya yang menghubungkan dua kekaisaran itu tampak begitu lurus dan orang-orang yang melalui jalur itu harus menyingkirkan saat rombongan Kaisar Zhang Rui bergerak.


tampak sebuah cahaya merah muncul dari menara di lantai ke empat pagoda itu dan seorang pemuda dengan kristal merah di kening nya melesat dan mendarat di jalan penghubung kedua kekaisaran itu.


pemuda itu dengan gagah berdiri seorang diri di depan gerbang masuk kekaisaran Tang itu seperti menantang pasukan Kaisar Zhang Rui yang bergerak sekitar enam ratus meter di depan nya.


pemuda itu mengerakkan tangan nya berputar, dan merapatkan kedua jari nya di depan bibir nya dan bayangan seekor harimau merah keluar dari pagoda itu dan bergerak ke arah pemuda itu, bayangan harimau itu berubah menjadi sebuah pedang dan menancap di hadapan nya.


jendral Hong yang menjadi pimpinan dari rombongan itu memelankan langkah kuda nya, saat melihat bayangan harimau merah, dan seorang pemuda berdiri menatap ke arah nya dengan hawa pembunuh begitu tinggi.


pria berpakaian hitam yang awalnya hanya berkuda di dekat kereta kekaisaran Zhang Rui memacu lebih kencang kudanya mendekati jendral Hong,


"kenapa kau memelankan langkah kuda mu jendral," ucap pria berpakaian hitam itu.


jendral Hong sedikit membungkuk kan kepala nya,


"seperti nya dewa penjaga pagoda tidak mengetahui undangan dari majikan mereka," ucap jendral Hong.


pria berpakaian hitam itu hanya mengangguk, dan menatap Dewa penjaga pagoda yang mengeluarkan hawa pembunuh.


"jalanlah seperti semula, biar aku yang mengurus Dewa kecil itu," ucap pria berpakaian hitam itu dan melompat dari kuda nya ke arah pemuda itu.