
Ratu Xhin Ye menatap kearah lautan manusia itu, dan melihat ratusan Dewa menyamar di antara orang-orang itu,
puluhan para ketua sekte melayang dan berdiri di hadapan Xiao Zhou,
"iblis.... hari ini kau akan kami tangkap, kami aliran putih tidak Sudi hidup berdampingan dengan mu," ucap salah satu ketua sekte itu.
"hgeh.... aku sudah membantu kalian dalam perang di pesisir barat, apa begini cara kalian berterima kasih, rupanya keserakahan sudah mengakar di otak kalian, kalian menginginkan pulau ini, untuk mendirikan sekte-sekte kalian, tapi sudahlah... sebanyak apapun aku bicara tidak ada artinya, jika menginginkan pulau ini singkirkan dulu aku," ucap Xiao Zhou, dan tangan kanan nya mulai memegang gagang panjang dari pedang melengkung nya.
"Ye'er... saat aku masuk dalam cermin langit, bawalah semua wanita dan putera kita ke pintu teratas, masuklah ke pintu itu, dan kalian akan selamat, penjaga pulau sudah aku perintahkan untuk menjaga kalian, pulau ini sudah berakhir," bisik Xiao Zhou.
wajah Ratu Xhin Ye berubah menjadi tegang, bibirnya sedikit gemetar.
"suami kau jangan berlebihan, meski ada beberapa Dewa aku mampu menghadapi mereka semua, mereka tidak memiliki pusaka cermin langit," ucap Ratu Xhin Ye.
"mereka tidak memiliki nya, tapi orang itu memiliki," ucap Xiao Zhou dan sebuah huruf keemasan masuk ke kening Ratu Xhin Ye.
mata Ratu Xhin Ye melebar saat melihat Dewa Wang Riu dengan cermin langit yang sudah melindungi tubuhnya, berdiri di antara manusia-manusia itu, dan juga jendral Yuan Zhou di sebelah nya, keduanya tampak sedang berbicara.
kepala nya menggelengkan seperti tidak percaya apa yang dilihatnya, jemari nya bergetar meremas pakaian di punggung suami, karena mengetahui pertempuran hebat baru saja akan di mulai.
"jadi penculik itu adalah perbuatan dari Wang Riu, aku tidak percaya ini, suami... kau sudah mengetahui dari awal semua ini, kenapa kau tidak memberitahu pada kami," ucap Ratu Xhin Ye, wajah nya begitu khawatir.
"Ye'er... apa kau ingat apa yang ku ucapkan tadi?" tanya Xiao Zhou.
seorang ketua sekte mendekati Ratu Xhin Ye, pria tinggi besar itu terlihat gagah, dengan jenggot dan kumis yang menjuntai.
"nyonya... sebaiknya anda menyingkir, kami akan menangkap iblis ini, aku tidak ingin melukai kulit halus mu ini, dan jika memungkinkan kita bisa berteman setelah ini," ucap salah satu ketua sekte itu, sambil tersenyum, mata nya menatap Ratu Xhin Ye dengan tatapan begitu mesum, dan lidah yang mengusap permukaan bibir.
Ratu Xhin Ye terlihat begitu jijik melihat ketua sekte itu, dan melambaikan jemari nya,
" pyusshhhhh,"
"sresshh... sresshh... sresshh..."
suara sebuah rantai berwarna biru melesat seperti cambuk ke arah ketua sekte itu, dengan debu-debu yang menyembur dari lantai bata yang hancur, seperti air mancur bergerak mengikuti rantai itu.
ketua sekte yang melihat pergerakan rantai mengarah ke tubuh nya, melesat ke udara dengan mencabut sebuah pedang untuk menahan rantai itu.
"praankkkkk...."
tubuh ketua sekte itu terbelah di udara, dan bagian tubuh yang terpisah itu terhempas ke arah yang berlawanan begitu jauh, dan darah mulai menyembur di udara, seperti gerimis membasahi wajah pasukan yang ingin menyerang ke pulau keseimbangan.
"aku tidak suka tatapan mata nya kepada ku," ucap Ratu Xhin Ye, dan melayang mundur dan bergabung dengan para wanita di atas balkon.
melihat sudah terjadi pertumpahan darah, seperti lebah yang di hancurkan sarang nya, manusia-manusia itu mulai menggila, dan menyerang para prajurit yang berdiri di depan mereka, dan pertempuran pun di mulai.
di tengah-tengah halaman itu para ketua sekte sedang bertarung menghadapi para bawahan Xiao Zhou, Yang Tian seperti mendapat mainan baru, meski tanpa ekspresi namun gerakan nya begitu antusias, dan sebagai orang pertama melesat serta membantai dengan begitu brutal para ketua sekte itu, hanya beberapa saja yang mampu menahan gurita bayangan milik pemuda tanpa ekspresi itu, hingga beberapa dewa turun tangan, terbang ke arah Yang Tian karena di anggap paling ganas, namun sungai pedang Dewa Fei Yu sudah menyambut mereka sebelum mencapai tempat Yang Tian.
"traankkkk....."
"traankkkk...."
sungai pedang terlihat lebih mirip ular raksasa yang bergerak melilit beberapa Dewa.
jenderal Yuan Zhou mulai melangkah mendekat ke arah Xiao Zhou, namun seorang Dewa dengan pakaian begitu panjang dan ujung nya melambai-lambai, serta mengenakan penutup kepala seperti setengah kerucut mendarat di hadapan nya, menghalangi pandangan jendral Yuan Zhou ke arah Xiao Zhou
"aku Wang er-lang akan meladeni mu," ucap Dewa itu begitu tenang, dan ribuan roda bergerigi berputar di sekeliling nya.
para Dewa yang menyerang itu mulai merasa ragu, karena teman-teman mereka tidak dapat berbuat banyak, saat kedua penjaga pulau itu dengan mudah membantai teman-teman nya.
diatas balkon istana yang menghadap langsung ke arah halaman luas yang kini menjadi Medan pertempuran.
"kakak Xhin.... biarkan aku membatu suami," ucap Liu fenghua.
"tidak adik Liu, aku di perintah oleh suami untuk menjaga kalian semua," ucap Ratu Xhin Ye, yang menatap pria bertopeng sedang berhadapan dengan pria yang tampak begitu gagah.
keduanya tampak begitu tenang, tapi sorot mata Dewa Wang Riu terlihat begitu marah terhadap lawan nya, rahang nya bergerak-gerak, bulatan energi mulai muncul di sekitar nya, begitu juga dengan Xiao Zhou kedua energi mereka mulai beradu, hanya saja kali ini warna dari energi Xiao Zhou diselimuti kabut hitam.
Dewa Wang Riu merapatkan jari nya di depan bibirnya, dan huruf-huruf berwarna merah mulai muncul di sekitar nya, Xiao Zhou menatap ke arah Ratu Xhin Ye sambil mengangguk, tampak kepala wanita itu menggeleng, air mata nya mengalir hebat.
"tidak suami.... tidak.... tidak seperti ini," guman Ratu Xhin Ye.
"kakak katakan apa yang terjadi," teriak Choe Eun Soo.
"Dewa Wang Riu sudah mengeluarkan cermin langit tahap empat, mulai dari memasuki tempat ini, dan kini sudah di tahap lima, ucap Ratu Xhin Ye.