Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
ch.63


dan seperti ucapan Xiao Zhou pohon bambu itu seperti hidup dan akar-akar mereka tercabut dari tanah dan ranting serta batang pohon bambu itu mencoba melilit para prajurit itu, dan kuda dari pasukan itu.


"trannnnkkkkk...."


"trankkkkkk....."


para prajurit itu menebaskan pedang mereka, dan mengeluarkan seluruh kemampuan mereka, namun batang-batang bambu itu begitu tebal dan keras, hingga membuat senjata mereka patah dan bengkok terjepit pecahan bambu, para prajurit itu berusaha terbang dari kuda-kuda mereka menuju puncak-puncak bambu, namun bambu-bambu itu tidak membiarkan nya, Batang bambu itu melengkung seperti busur dan terhempas, dengan jumlah ribuan membuat prajurit itu kewalahan.


tanpa senjata para prajurit itu kesulitan untuk bertahan,


blarrrrr....


beberapa prajurit terlempar terkena pentalan bambu yang melengkung seperti busur itu.


"uhukkkk....." darah segar menyembur dari bibir para prajurit itu, dan belum sempat mereka berdiri tubuh mereka sudah dililit oleh batang bambu yang lain yang mulai menjepit tubuh para prajurit itu.


"aakkkhhhhh....." teriakan-teriakan para prajurit mulai terdengar dari segala arah.


jendral Hong terbang dan melepaskan tebasan nya, mencoba membantu para bawahan nya, namun hutan bambu itu begitu banyak dan juga keras, bahkan pedang milik jendral Hong patah karena terjepit bambu-bambu itu.


"ini bukan bambu biasa," teriak jendral Hong.


traankkkk......


trinnkkkkkkk......


sungai pedang Dewa Fei yu mulai keluar, ribuan pedang runcing itu berputar dan menghancurkan batang-batang bambu yang mencoba menghancurkan tubuh para prajurit itu menjadikan serpihan kecil, sekaligus membebaskan para prajurit tadi.


sungai pedang itu membuat lingkaran mengelilingi kereta dan semua para prajurit kekaisaran itu, serta menghancurkan setiap batang bambu yang mencoba mendekati mereka.


blarrrrr....


prannkkkkk.....


trrannnnkkkkk.....


suara bambu yang hancur beradu dengan puluhan ribu pedang runcing dan berputar.


"ini terlalu banyak, dan pohon bambu ini seperti tidak akan habis, bahkan ini bisa berlangsung sepanjang tahun," guman Dewa Fei Yu, dan jendral Hong yang sudah dalam posisi aman di dalam lingkaran sungai pedang mengeluarkan tombak dengan mata sebuah golok besar, dan membantu dengan mengeluarkan tebasan tombak energi nya.


blarrrrr...


blarrrrr....


serpihan-serpihan pohon bambu berterbangan di segala arah,


di sisi lain hutan bambu itu, di atas pohon bambu, Dewa Wang Riu dan temannya juga tidak luput dari amukan hutan itu, namun pria yang terlihat begitu jantan itu tetap tenang, setiap ranting bambu yang masuk ke dalam bulatan energi pelindung nya seketika membeku dan menjadi es serta hancur menjadi debu.


***


Dewa Fei Yu sedikit kesal karena harus melindungi begitu banyak orang, membuat nya tidak bisa leluasa dalam mengeluarkan sungai pedang nya.


"bocah tengik berhenti bermain-main, cepat cabut pedang mu dan selesaikan," teriak Dewa Fei Yu.


"adik ipar... apa kau sudah kehilangan keganasan bertarung mu, biasanya kau tidak pernah suka di ganggu saat bertarung," ucap Xiao Zhou dan memutar tangan kanan nya.


dan bersamaan dengan sebuah pusaka berbentuk bulan separuh sebesar cincin keluar dari punggung Xiao Zhou dan membesarkan hanya dalam sekejap pusaka itu sudah lebih besar dari kereta kuda itu,


"sreeessstttt......"


pusaka itu memotong batang bambu tebal itu seperti memotong tahu, dan membersihkan daerah cukup jauh sehingga tampak seperti jalan yang membentang.


namun pohon lain muncul dari bawah tanah dan berkali lipat lebih banyak, dan dalam sekejap pusaka berbentuk bulan separuh itu kembali datang dan menghancurkan hutan bambu yang baru tumbuh itu, dan semakin lama jumlah pusaka itupun juga bertambah banyak.


wajah para prajurit itu tampak lega, dan juga Dewa Fei Yu dapat mengeluarkan serangan yang semakin berkembang, karena hutan bambu itu tidak terlalu menekan nya kali ini.


Xiao Zhou menatap ke arah wanita bercadar yang berada di sisi lain hutan itu.


sebuah pedang beruap biru muncul di tangan Xiao Zhou, remaja itu melayang dan melesat melewati hutan bambu dan hutan itu seperti terbelah dan membiarkan Xiao Zhou melewati begitu saja.


"bocah kau mau kemana?" teriak Dewa Fei Yu, namun Xiao Zhou tidak mengindahkan ucapan adik ipar nya itu dan melesat begitu cepat.


remaja berpakaian hitam dengan motif burung Phoenix emas itu mulai mendekati rumah kecil dengan seorang wanita bercadar memainkan kecapi nya, di depan bangunan itu.


Xiao Zhou menebaskan pedangnya kearah wanita itu, mata wanita bercadar itu terlihat masih begitu tenang.


Dewa Wang Riu melebarkan matanya tidak percaya jika Xiao Zhou begitu tenang menebaskan pedangnya ke arah wanita itu, dan dengan cepat melesat ke belakang wanita itu dan mencoba menghadang tebasan pedang Xiao Zhou.


belum sampai Dewa Wang Riu mendekati wanita bermata indah itu, sebuah pukulan telak mendarat di dada nya, dan pukul itu berasal dari telapak mungil wanita itu.


blaaarrrrr...."


suara energi berbentuk telapak menghantam dada Dewa Wang Riu membuat nya terlempar begitu jauh, hingga keluar dari hutan bambu itu.


"cinnnggggggg....."


suara pedang semesta beradu dengan dua jari lentik merapat di depan leher nya.


mata Xiao Zhou melebar seperti tidak percaya ada yang mampu menahan pedang semesta nya, dan hanya menggunakan jari tangan kiri saja.


wanita itu masih terdiam tangan kiri nya di depan leher nya, dan tangan kanan nya yang masih membentuk tapak masih mengarah kebelakang tubuh nya.


"hemmm... aku tidak percaya kau benar-benar ingin membunuh seorang wanita tidak bersenjata," ucap wanita bercadar itu, tampak dari mata nya jika wanita itu sedang tersenyum.


wusshhhssss......


pedang energi dari tebasan Xiao Zhou melewati leher wanita itu dan memotong rambut halus dari wanita itu, bahkan rumah kecil di belakang wanita itu pun terpotong dan roboh.


mata wanita itu melebar dan memutar jemari nya tangan kanannya yang semula membentuk tapak kini digerakkan seperti posisi menyentil.


"blaaarrrrr...."


wanita itu menyentil kan udara ke dada Xiao Zhou, perlahan pakaian atas Xiao Zhou menjadi serpihan kecil, dan remaja itu terlempar begitu jauh, bahkan ke sisi lain dari hutan itu dan menerobos sungai pedang yang sedang di gelar oleh Dewa Fei Yu.


"prannkkkkk......"


sungai pedang itu hancur berantakan, Dewa Fei Yu begitu terkejut tidak percaya karena ada seseorang yang mampu menerobos sungai pedang runcing nya yang terkenal begitu alot.


dan bersamaan dengan hancur sungai pedang Dewa Fei Yu, hutan bambu itu pun berhenti bergerak, mata Dewa sipit itu semakin menyipitkan, kepala menggeleng tidak percaya jika orang yang menerobos sungai pedang nya adalah Xiao Zhou.


"ini tidak mungkin," ucap Dewa Fei Yu