
sudah tiga hari Ratu Xhin Ye tidak keluar kamar nya, dan tidak menerima tamu seorang pun, Xiang Sun sudah selesai menjalankan tugas nya sebagai pelindung dan kembali menjadi manusia lagi.
pagi itu Ratu Xhin Ye sudah duduk di meja makan nya seperti sedang menunggu seseorang, dengan penampilan rapi seperti biasanya.
sorot mata nya tampak sedikit lelah, walaupun dirinya sudah berusaha keras menyembunyikan nya, beberapa dayang sedang menyiapkan minuman untuk nya.
"ini sudah cukup!!! aahh aku tidak bisa menghindari pemuda itu terus, aku harus menghadapi nya, walaupun akan sulit," batin Ratu Xhin Ye.
pagi itu Ratu Xhin Ye mendatangi Xiao Zhou yang sedang berlatih, dengan tatapan dingin.
Xiao Zhou menghentikan latihannya, dan mendekati Ratu Xhin Ye, dan kedua nya duduk sambil menatap kebun pohon persik tua, yang membentang di belakang istana Ratu Xhin Ye, keduanya terdiam beberapa lama, hanya suara nafas yang terhembus panjang dari kedua nya yang terdengar.
"aahhhh.... baiklah, aku ingin meluruskan tentang malam itu, semua nya suatu kecelakaan, pernikahan, ritual bintang besar, dan aku tahu itu semua suatu kesalahan, dan itu karena aku terlalu lemah, seharusnya dari awal aku berterus-terang kepada rakyat ku di sini, tentang kecelakaan topeng suci, aku terlalu memikirkan tentang pandangan orang, dan sekarang sudah terlambat," ucapan Ratu Xhin Ye terhenti, dan memejamkan matanya dalam-dalam.
"dan sekarang aku tidak ingin melakukan kesalahan kedua kalinya, tinggalkan pulau ku secepatnya," ucap Ratu Xhin Ye dengan sorot mata datar.
Xiao Zhou mengangguk sambil menundukkan kepalanya,
"aku sangat menyesal, baik nyonya Xhin, aku akan segera menyelesaikan latihan ku," ucap Xiao Zhou ada rasa bersalah di mata Xiao Zhou.
"apa aku terlalu keras padanya? aku sedikit kasihan melihat wajah nya yang terlihat bersalah seperti itu," batin Ratu Xhin Ye, dan meninggalkan Xiao Zhou tanpa bicara lagi.
"aku tahu apa yang di rasakan wanita itu, ini seperti bagaimana perasaan Li Mei yin yang hampir menyerah tubuh nya kepada Hua Ming, atau Puteri Tang Lien yang hampir diperkosa oleh para pemberontak itu, sama seperti wanita itu tubuh nya pasti akan terasa begitu kotor, karena bersentuhan dengan lelaki yang tidak di inginkan nya, sudah seharusnya dia membenci ku," batin Xiao Zhou, dan mulai membaca kitab nya dengan begitu seksama.
***
sang pengganti dan Ratu Xhin Ye sedang berbincang di aula keluarga seharian dengan kesibukan di aula agung.
"penguasa, aku benar-benar minta maaf tentang kejadian di ruang baca itu, tapi perasaan ku padamu begitu tulus," ucap sang pengganti.
Ratu Xhin Ye meletakkan cawan yang berisikan teh di mejanya.
"sebaiknya kita tidak membicarakan masalah perasaan mu lagi, aku saat ini sudah memiliki suami," ucap Ratu Xhin Ye tegas.
"tapi penguasa... kita sudah bersama begitu lama, aku sudah mengabdikan seluruh hidupku hanya kepada mu, berhenti lah menyangkal tentang perasaan mu padaku" ucap Sang Pengganti.
"apa maksud mu sang pengganti," tanya Ratu Xhin Ye.
"aku yakin kau juga mencintai ku," ucap Sang Pengganti menatap mata Ratu Xhin Ye.
"apa? cinta? aku tidak pernah mengenal kata itu bahkan aku tidak merasakan hal itu pada mendiang suami ku," ucap Ratu Xhin Ye.
"baiklah.... aku akan buktikan pada mu bahwa kau mencintaiku, tapi berikan aku kesempatan, aku mohon penguasa untuk semua pengabdian ku selama ini, hanya satu hari saja..." ucap Sang Pengganti.
Ratu Xhin Ye menghela nafasnya, dan mengenang kembali pengabdian Sang Pengganti yang begitu lama, bahkan sewaktu pemuda itu masih belia.
"aahhh..... apa yang akan kau lakukan dalam satu hari? Zhou Lan berhenti lah membuang-buang energi mu, cinta ataupun tidak, itu tidak akan mengubah apapun, aku tetap lah istri sah dari tuan Yu Jin muda." ucap Ratu Xhin Ye.
bibir Ratu Xhin Ye sedikit terbuka mendengar ucapan Sang Pengganti, dan memejamkan matanya dalam-dalam.
"baiklah.... aku akan memberikan kau kesempatan satu hari, tetapi aku juga harus memberikan kesempatan yang sama pada suami ku, waktu mu lagi dua hari" ucap Ratu Xhin Ye, dan meninggalkan sang pengganti di aula keluarga.
Zhou Lan mengangguk begitu mantan dan begitu bersemangat,
"dua hari lagi bersiap lah penguasa, aku akan membawa mu ketempat terindah di alam ini, dan kau tidak akan dapat menyangkal perasaan mu lagi padaku," batin Sang Pengganti.
****
Ratu Xhin Ye tidak dapat memejamkan matanya, semua bayangan Xiao Zhou kembali terlintas di kepala nya.
"Zhou'er sudah dua hari tidak kembali, dia bahkan berlatih jauh ke dalam hutan persik, agar aku tidak melihat nya, mungkin beberapa hari lagi bocah itu meninggalkan ku selama nya, saat zhou'er pergi... aku akan merindukan senyuman, tatapan teduh matanya, ketulusan, kepolosan, dan juga, aku merindukan sentuhan nya," batin Ratu Xhin Ye.
"apakah aku mulai menyukai nya? pria itu begitu tulus, tidak pernah memanfaatkan aku, akan mudah baginya dengan status nya sebagai suamiku mempelajari semua kitab yang di inginkan, tapi dia tidak melakukan nya, bahkan dia tidak pernah menggoda ku dengan memanfaatkan pernikahan ini," batin Ratu Xhin Ye
"aahhh.... kenapa aku begitu plin-plan seperti ini?" teriak Ratu Xhin Ye.
hari yang di tunggu Sang Pengganti sudah tiba.
Ratu Xhin Ye bersiap berangkat menuju aula agung, langkah nya terhenti dan sedikit terkejut, saat melihat dua pemuda sudah menunggu nya di aula keluarga.
Xiao Zhou dan sang pengganti sudah berdiri di aula keluarga ada yang sedikit berbeda dengan Xiao Zhou, pakaian nya rapi, wajah nya sudah tidak terlihat begitu hitam, dan beberapa kerak terlihat mulai ada yang mengelupas.
berbeda dengan Sang Pengganti yang sedang tidak mengenakan pakaian pejabat nya, hari ini pemuda itu mengenakan pakaian terbaik nya, berwarna putih bersih, di padu dengan jubah senada bermotif harimau keemasan, dan seikat bunga tulip merah di tangan nya.
"hemmm... sang pengganti kau sedang menunggu ku" ucap Ratu Xhin Ye yang tidak menyapa Xiao Zhou.
"ini hari istimewa kita, aku hampir tidak dapat tidur semalaman," ucap Sang Pengganti tersenyum semenawan mungkin, dan menyerahkan bunga indah itu pada Ratu Xhin Ye.
Ratu Xhin Ye menerima bunga itu, dengan senyuman cantik menatap bunga itu, Xiao Zhou hanya menunduk berpura-pura tidak mendengar percakapan pasangan itu.
"aahh... kalian berdua menyebalkan, untungnya aku akan segera pergi." batin Xiao Zhou tersenyum tipis.
Ratu Xhin Ye dan sang pengganti melangkah keluar aula keluarga, sudut mata wanita itu selalu ke arah Xiao Zhou.
"em... istri, hari ini... em hari ini aku sudah menyelesaikan semua latihan ku, aku akan sarapan dulu," ucap Xiao Zhou yang merasa bingung harus memanggil Ratu Xhin Ye dengan sebutan istri.
"degggg...." dada Ratu Xhin Ye berdebar kencang.
langkah Ratu Xhin Ye berhenti, yang mengetahui jika itu adalah sebuah pamitan dari Xiao Zhou.
"apakah secepat ini kami berpisah?" batin Ratu Xhin Ye.