Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
Kesetiaan pelayan


ehemmm... nona bagaimana agar kau bisa menjadi pengikut ku," ucap Sang Pembunuh Dewa.


"tidak ada... tapi aku akan membantu mu saat ini, tapi aku tidak bisa terikat dengan mu, aku bisa pergi kapan saja saat aku menginginkan nya," ucap cincin langit, dan tiba-tiba saja sebuah logam kecil berbentuk cincin setengah, mulai melingkar di kelingking Sang Pembunuh Dewa.


"bagaimana dengan adik mu, apa dia bisa membantu ku?" tanya Sang Pembunuh Dewa.


"tidak... bocah itu tidak mau bicara itu artinya dia tidak ingin membantu mu, dia adalah monster gila, dalam tubuh pertapa," ucap cincin langit.


dan kedua orang pria itu pun meninggalkan Lembah Kuno dengan sedikit lega, karena berhasil membawa sebuah senjata yang begitu luas biasa


****


tiga gunung besar tiba-tiba saja muncul di alam langit, membuat penghuni langit menjadi gempar, ketiga gunung di selimuti segel yang begitu kuat ke tiga gunung itu mulai menancapkan akar nya di alam langit, dan mulai menghisap energi qi yang ada di alam itu.


Kaisar Langit memerintahkan para menyelidiki tentang kejadian itu.


"demi Yang Agung.... apa ini? guman Kaisar Langit berdiri dari singasana nya, dan melangkah menatap tiga gunung besar di hadapan nya.


"itu adalah para Zhangji yang aku maksud Yang Mulia, mereka sudah terbangun dari tidur panjangnya," ucap Penyihir Agung.


Kaisar Langit menghela nafasnya,


"perang sudah tidak terhindar lagi, Penyihir Agung apa kau punya saran tentang para Zhangji itu," ucap Kaisar Langit.


"tidak ada Yang Mulia... menyerang nya saat ini kita tidak akan mampu karena mereka memiliki segel yang begitu rumit, jika saja," ucapan Penyihir Agung terhenti dan mengingat kemampuan Xiao Zhou membuka segel rumit.


"sebaiknya persiapan pasukan, perintahkan semua Dewa dari klan Petarung untuk bersiap di garis depan, dan kami sudah siap menghadapi perang yang tidak pernah di selesaikan oleh nenek moyang kami," ucap Penyihir Agung.


Kaisar Langit mengangguk, dan memanggil panglima perangnya, dan para ahli strategi dan mulai menyiapkan strategi perang.


****


di istana pulau keseimbangan,


"aahhh... putera ku hari ini kau begitu rewel," ucap seorang wanita yang tampak sedikit gugup menenangkan bayi nya, bahkan berbicara di hadapan Kaisar Langit wanita itu tidak segugup saat ini.


Ratu Xhin Ye yang terlihat anggun mengenakan jubah putih, dengan potongan lebar di atas, rambut nya yang acak-acakan di ikat sekenanya kearah atas kepala mirip dengan bentuk ikatan Cepol, yang memperlihatkan leher dan bahunya serta tengkuk yang putih dan halus.


dan seorang wanita muda mendekati nya,


"kakak Xhin... mungkin dia lapar?" ucap wanita muda itu, sambil tersenyum.


Ratu Xhin Ye menatap Putera nya, dan sedikit melebar nya.


"apa yang kau maksud bayi ini? kau tahu adik Yun? bayi nakal ini sudah menghisap kedua gunung ku, harus dia sudah tertidur saat ini," ucap Ratu Xhin Ye, meremas gundukan indah nya itu.


Puteri Yun Qixuan menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum melihat tingkah seorang wanita yang baru saja menjadi seorang ibu,


"biarkan aku menggendong nya kakak," ucap Yun Qixuan.


"hihi... gadis bodoh... apa kau yakin bisa menenangkan bayi rewel ini?" tanya Ratu Xhin Ye, dan memberikan bayi nya ke Puteri Yun Qixuan.


"kau meremehkan aku kakak Xhin, aku sudah belajar banyak tentang bayi nakal seperti ini," ucap Puteri Yun Qixuan.


keduanya saling tersenyum, dan bayi itu mulai terlelap dalam pelukan Yun Qixuan, sampai seseorang sepuh masuk ke aula keluarga di istana ke 15, membuat kedua wanita itu sedikit kaget.


Wajah pria sepuh itu terlihat begitu serius membuat Ratu Xhin Ye harus sedikit menyipitkan matanya, karena jarang sekali Penyihir Agung menunjukkan ekspresi di wajah nya.


Penyihir Agung membungkuk di hadapan kedua wanita itu,


"ada apa Penyihir Agung? seperti nya ada yang serius?" ucap Ratu Xhin Ye.


Penyihir Agung mengangguk beberapa kali, dan seperti berpikir untuk mulai bercerita, dan Penyihir Agung pun menceritakan tentang semua kejadian di alam langit, sampai cerita nya selesai semua istri Xiao Zhou sudah berkumpul semua di tempat itu.


Semua orang di tempat itu terlihat begitu tegang, mengetahui Perang besar akan segera terjadi di alam langit, tapi yang terlihat paling terpukul adalah Yun Qixuan, wanita itu menggelengkan kepalanya,


"ayah," guman nya, dan menyerahkan bayi di tangan nya kepada Ratu Xhin Ye, dan berlari ke arah gerbang pulau keseimbangan.


"adik Yun kau akan kemana?" teriak Xue, terlihat kekhawatiran di wajahnya.


tapi Yun Qixuan tidak menghiraukan nya, dan wanita itu sudah menghilang, menuju alam langit,


****


empat bulan sudah berlalu sejak gerhana matahari.


di sebuah dataran begitu luas yang di tumbuhi rumput begitu hijau dan subur, di depan istana Kekaisaran langit , seorang pemuda dengan rambut di ikat rapi seperti seorang pendeta, namun sebuah mahkota kecil membungkus ikatan rambut itu membuat nya tidak terlihat seperti seorang pendeta lagi, tetapi seorang lebih mirip seorang penguasa, dia adalah Sang Pembunuh Dewa.


Dengan menggunakan jubah Kaisar Langit pertama, Sang Pembunuh Dewa berdiri di atas sebuah batu, menatap ke arah istana langit yang posisinya berada di belakang benteng-benteng kokoh, namun istana itu dapat terlihat karena tempat nya yang lebih tinggi dari benteng-benteng kokoh itu.


ribuan Dewa yang sudah membelot kini menjadi pengikut Sang Pembunuh Dewa, mereka berada di belakang pemuda itu dan sudah bersiap dengan pusaka mereka masing-masing, tampak pasukan jarum Emas sudah menyebar sesuai dengan posisi nya, puluhan ribu panji-panji berkibar di belakang punggung dari para prajurit jarum Emas, sesuai dengan keahlian mereka masing-masing.


Langit menjadi sedikit gelap, petir menyambar dengan ganas, bahkan petir itu menyambar para pengikut dari Sang Pembunuh Dewa hingga beberapa orang berterbangan karena ledakan dari petir- petir itu.


Hawa pembunuh yang di keluarkan oleh tiga gunung besar di belakang Sang Pembunuh Dewa, mulai membuat udara menjadi begitu dingin, rerumputan yang awalnya hijau kini berubah menjadi layu dan menghitam, dan tidak lama semua rerumputan di tempat itu mati dan mengering.


****


di pulau tingkat ketiga.


Empat bulan Xiao Zhou bermeditasi dan mulai membuka matanya, dan kini berdiri di bibir pulau itu menatap sekeliling di bawahnya, sorot matanya tidak menunjukkan ekspresi apapun, sesekali mata itu terpejam dalam, dan menikmati suara seruling dari hutan bambu yang berada di bawah nya, kedua tangan nya saling terkait di belakang punggung nya.


"namaku??" kata-kata akhirnya keluar dari bibir nya.


"dimana ini?" ucap Xiao Zhou.


"kau sedang berdiri di puncak alam, tidak ada tempat yang lebih tinggi dari ini, dari tempat ini kau bisa melihat kemana pun sesuai dengan keinginan mu, tiga alam sekarang berada di bawah kakimu," ucap seseorang di kepala nya.


Xiao Zhou hanya mengangguk, masih tidak menunjukkan perasaan apapun.


Mata Xiao Zhou menatap ke bawah, dan melihat sebuah pemandangan seperti akan di mulai peperangan, mata nya menatap Sang Pembunuh Dewa yang hanya tersenyum kecil.


Xiao Zhou mengalihkan pandangannya lagi,


"siapa aku?" tanya Xiao Zhou.


"kau tidak perlu memikirkan siapa dirimu lagi, saat ini kau seharusnya mulai terlepas dari ikatan alam ini, kau tidak perlu memikirkan tentang apa yang kau lihat tadi, biarkan semua berjalan dengan sendirinya," ucap suara itu


"dan siapa kau?"


"aku adalah orang yang ingin kau temui di tempat ini, kau telah menelan ku, dan kini kau memiliki kekuatan ku, dan beberapa hari lagi aku akan menyatu dengan jiwamu," ucap suara itu.


"kekuatan?" guman Xiao Zhou.


"benar, kau sudah bermeditasi selama empat bulan, kau sudah bisa mengendalikan ku 80 persen, dan aku akan lenyap saat kau menguasai ku 100 persen, dengan kekuatan ku, kekuatan lain tidak akan berarti di hadapan mu, semua tunduk pada kekuatan mu," ucap suara itu.


"benarkah?" guman Xiao Zhou dan memejamkan matanya, remaja itu mulai dapat merasakan kekuatan di tubuh nya.


zreeeebbbb.....


tiba-tiba sebuah pedang panjang beruap biru menancap di tanah di belakang tubuh Xiao Zhou.


Remaja tanpa ekspresi itu membuka matanya yang jernih dan damai,


"siapa kau?" tanya Xiao Zhou tanpa menatap pedang itu.


"Aku adalah pelayan tuan," ucap Pedang Semesta.


"Pelayan ku?" tanya Xiao Zhou dan berbalik menatap pedang semesta.


"Benar tuan aku pelayan mu, dan aku disini atas perintah mu dahulu," ucap Pedang Semesta.


"baiklah... apa perintah ku?" tanya Xiao Zhou.


"aku harus mengembalikan ingatan Anda," ucap Pedang Semesta.


"sebaiknya kau tidak melakukan nya, kekuatan ku begitu besar, jika aku memiliki ingatan ku, aku khawatir akan menghacurkan tatanan hukum alam, karena hidup berkembang dan musnah harus terjadi," ucap Xiao Zhou, dan melangkah semakin ke pinggiran puncak gunung itu.


"baik tuan Xiao Zhou, aku akan menuruti semua ucapan tuanku," ucap Pedang Semesta.


Xiao Zhou mengangguk, dan menjauh dari Pedang Semesta, tanpa ekspresi.


"Xiao Zhou?" ucap Xiao Zhou, alam bawah sadar nya tiba-tiba mengucapkan nama itu, keningnya mulai berkerut, langkahnya terhenti, bola mata Xiao Zhou berubah menghitam pekat.


"nama itu tidak asing untuk ku, Pedang Semesta bukan kah itu namamu? kembalikan ingatan yang pernah kumiliki, semua nya," ucap Xiao Zhou, dan kali ini ada emosi dari nada bicara nya.


Mata Xiao Zhou beralih ke tempat tadi, dan melihat dengan jelas seorang pria terlihat berusia 50 tahun sedang memainkan logam berbentuk cincin separuh.


dan di tempat lain di waktu bersamaan raut wajah Sang Pembunuh Dewa tiba-tiba berubah, senyum nya menghilang.


"apa ini? seperti nya ada seseorang yang menatap ku," kening Sang Pembunuh Dewa berkerut dan menatap ke atas langit yang di selimuti awan gelap, tangan nya sedikit berkeringat, hal yang tidak pernah terjadi selama ini


keduanya saling bertatapan, meski Sang Pembunuh Dewa tidak bisa melihat Xiao Zhou hanya mengandalkan naluri nya saja.


***