Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
ch.83


remaja itu menebaskan pedang panjang nya ke leher Dewa Wang Riu, dan pria itu dengan cepat menarik tongkat nya dan melindungi leher nya, dan semakin lama semakin Dewa Wang Riu semakin terdesak, Dewa itu tidak kini tidak dapat lagi membaca arah serangan remaja itu, karena lebih sering memukul ke arah yang salah,


"aku tidak pernah melihat gerakan pedang begitu lentur seperti ini, dia sangat gesit, begitu brutal, dan aku tidak mampu memikirkan arah serangan nya lagi," batin Dewa Wang Riu dan sekujur tubuhnya sudah mengeluarkan darah terkena sayatan dari pedang kematian.


dalam sekejap mereka sudah terpisah cukup jauh, Dewa Wang Riu kembali membuat tongkat nya membesar dan memanjang serta menonjokkan nya ke arah Xiao Zhou, remaja itu melipat pedang panjang nya di balik punggung, tangan kiri menghempaskan telapak tangan ke arah Dewa Wang Riu, dan sebuah pusaka berbentuk cincin keluar dari punggung Xiao Zhou dan melesat ke arah Dewa Wang Riu, dan membelah tongkat logam besar


"srinnnkkkkkkk...."


"tidak.... itu cincin langit, bagaimana bisa?" guman Dewa Wang Riu


cincin langit berputar begitu cepat, dan begitu mudah membelah tongkat besar nya, Dewa Wang Riu yang melihat cincin langit melesat kearah nya begitu cepat, mendorong tongkat nya kedepan dan melepaskan nya, Dewa itu melayang ke udara untuk menghindari cincin langit, namun wajah nya terlihat begitu pucat, saat melihat sebuah kilatan cahaya melewati tubuh nya dari atas, dan sebuah pedang melengkung menembus tepat di jantung nya.


Xiao Zhou mendarat dengan setengah berlutut, membelakangi tubuh Dewa Wang Riu yang masih melayang di udara, dan perlahan turun dengan posisi terbaring, tubuhnya tampak begitu ringan seperti kapas.


"nyanyian yang begitu indah," ucap Dewa Wang Riu dan menjadi debu sebelum menyentuh tanah.


"jika kau sudah mendengar nya, pertarungan ini sudah berakhir," ucap Xiao Zhou sambil memasukkan pedang nya ke sarung yang terselip di pinggangnya.


Xiao Zhou melayang ke arah pedang api purba, remaja itu memejamkan matanya di udara, di atas Pedang api purba di tancapkan.


"jurus nyanyian pedang Dewa Kematian, pedang tanpa tuan," ucap Xiao Zhou dan membuka matanya.


Pedang di seluruh alam bergetar, dari alam langit hingga neraka terbawah, sungai pedang terhenti dan kedua pedang runcing di tangan Dewa Fei Yu terlepas dari tangannya, dan tertancap di tanah, mata sipit Dewa itu menatap sekeliling, tampak semua orang yang bersenjata pedang kehilangan Pedang mereka, dan semua pedang mereka sudah tertancap di tanah.


"hemmm.. kenapa bocah itu selalu merepotkan ku, mengeluarkan jurus itu di saat seperti ini," guman Dewa Fei Yu dan kini mulai berlari, berusaha menghindar dari serangan salah satu Dewa yang bersenjata kapak.


Pedang api purba mulai tercabut dan menghancurkan segel nya sendiri, pedang itu berputar-putar di sekeliling Xiao Zhou, tampak retakan tanah berhenti, dan lava sudah tidak memerah lagi, hanya terlihat asap yang mengepul di mana-mana.


"kurasa tuan mu sebentar lagi akan terbangun, dan untuk sementara aku akan menyimpan mu," ucap Xiao Zhou sambil membuka telapak tangannya.


perlahan Pedang api purba berubah menjadi bayangan dan masuk ke telapak tangan nya.


Xiao Zhou menghembuskan nafasnya dalam-dalam, dan semua pedang kembali ke tuan mereka.


Xiao Zhou meletakkan kepala pria sepuh itu di lengan kirinya.


"ayah mertua... kau tidak boleh mati, telan obat ku ini, sebentar lagi aku akan mengangkat mu menjadi ketua kota," ucap Xiao Zhou wajah nya terlihat sedih,


Lou Fang tampak tersenyum, dengan darah yang terlihat di bibir dan sedikit di kumis serta jenggot putih nya.


"ha-ha... bocah licik, bahkan... bah-kan sampai di ujung hidup ku pun kau masih ingin membohongi ku tentang ketua kota itu," ucap Lou Fang dengan suara bergetar.


"jangan bicara lagi ayah mertua, cepat telan pil ini," ucap Xiao Zhou, wajah nya terlihat begitu serius.


tangan kanan nya memegang pakaian Xiao Zhou, menahan tangan Xiao Zhou yang memegang pil.


" tidak menantu... tidak, waktu ku sudah tiba, aku hidup sudah begitu lama, dan aku rasa ini sudah cukup," ucapan Lou Fang terhenti sampai mengatur nafasnya,


"menantu... berjanjilah untuk menjaga Puteri angkat ku dengan baik, juga cucu-cucuku semua, kebahagiaan ku ada pada kebahagiaan Puteri angkat ku, dan ju-ga... dan juga menantuku.... pi-lih lah kepala desa yang lebih baik dari ku, aku begitu mencintai desaku ini," ucap Lou Fang tangan kanan nya berusaha merogoh tanah di sekitar nya, namun tenaganya begitu lemah.


Xiao Zhou mengambil tanah dan menggenggamkan nya di tangan Lou Fang, pria tua itu tersenyum seperti begitu bahagia, bibirnya hanya mampu bergetar, sambil menggenggam tanah itu, tangan keriput nya membawa tanah di genggam nya itu ke dada nya,


"terimakasih... penguasa, terima..." kata-kata Lou Fang terputus, pria itu memejamkan matanya dengan bibir tersenyum, dan pria sepuh itu menghembuskan nafas terakhirnya.


Xiao Zhou memejamkan matanya dalam-dalam,


"berangkat lah ayah mertua, selamat jalan," ucap Xiao Zhou pelan dan mengusap wajah tidak bernyawa ayah mertua nya, semua penduduk suku bul-bul dan suku Fiji berlutut dan wajah mereka begitu muram dan sedih.


Xiao Zhou menganggukkan kepalanya dengan mata masih terpejam,


"kepala desa kalian sudah pulang alam tua, siapkan pemakaman yang layak untuk beliau, dan mulai saat ini dia adalah ketua kota pertama dan terakhir di pulau ini, buatkan patung setinggi sepuluh meter di pusat desa, karena ketua kota sangat menyukai hal-hal semacam itu," ucap Xiao Zhou.


beberapa prajurit suku bul-bul dan suku Fiji, dengan cepat mengangkat perlahan jasad Lou Fang dan membawa ke kediaman nya.