
Dan seorang pria sepuh, dengan tubuh yang masih terlihat kekar dengan cepat masuk, dan menahan pukulan Sang Pengganti.
"Saudara Zhou Lan tua, maafkan aku... tapi anak mu ini ingin membunuh bayi dalam kandungan dari penguasa kita, aku tidak bisa berdiam saja, aku harus membunuh anak mu ini," ucap Petarung Besar, dan melepaskan pukulan nya ke arah dada Zhou Lan.
blaaarrrrr.... tubuh Sang Pengganti terlempar dan darah segar keluar dari bibir nya,
"uhukkkkk...." dan dalam beberapa saat Sang Pengganti meregang nyawa.
semua terpaku menatap ke arah Petarung Besar yang sudah melepaskan pukulan mematikan nya ke arah Sang Pengganti.
Ratu Xhin Ye berlari mendekati Yu Jin tua, dan tidak memperdulikan keadaan Sang Pengganti yang tewas, dan membantu ayah mertua nya berdiri.
"Ayah mertua maafkan aku, setelah anakku lahir aku akan bunuh diri karena begitu berdosa kepada mu, dan juga kepada suami ku," ucap Ratu Xhin Ye.
Yu Jin tua hanya menggeleng, dan tersenyum.
"hehehe... tidak menantu, kau tidak salah sama sekali, Kau Menantu yang benar-benar berbakat, aahhh.... aku benar-benar beruntung, seharusnya kau memberi tahu Ayah mertua ini sebelum nya, tentang rencana mu," ucap Yu Jin tua.
"tidak Ayah mertua.... aku.... aku bahkan mengatakan jika suami ku sudah mati, aku sama sekali tidak pantas di sebut istri," ucap Ratu Xhin Ye.
"Menantu... dengarkan Ayah mertua mu ini, terkadang kita melakukan kebohongan untuk tujuan yang tepat, meski bisa di bilang ini adalah cara yang salah, selama tujuan nya baik jadi lakukan saja, inilah dunia tidak semua nya bisa di ungkapkan dengan jujur menantu," ucap Yu Jin tua.
Huan Zhi masuk ke ruangan itu tapi tidak mendekati Penyihir Agung yang terluka, melainkan membantu Yu Jin tua berdiri, membuat semua orang menatap nya.
"Ayah mertua, um.. maksud ku Paman Yu Jin apa kau tidak apa-apa?"
Yu Jin tua menatap kearah Huan Zhi, dan ke arah Ratu Xhin Ye yang tampak tidak terkejut akan hal itu, dan matanya yang sedikit ketakutan menatap ke arah Penyihir Agung yang hanya menarik nafas dalam-dalam, sambil mengusap pakaian nya yang tidak kotor.
"hemmm... aku sudah menduga ini," guman Penyihir Agung menaikkan bola matanya.
Penyihir Agung mendekati pintu, dan berbalik menatap Yu Jin tua, sambil menggoyangkan telunjuk panjang nya ke arah Yu Jin tua, tapi tidak ada suara dari bibirnya, keningnya berkerut seperti memikirkan kata yang ingin di ucapkan nya.
"Yu Jin tua bersiaplah, mungkin sebentar lagi kita akan menjadi kerabat," ucap Penyihir Agung keluar dari ruangan itu.
****
labirin tiga alam.
Xiao Zhou dan pedang semesta sudah melewati gerbang roda reinkarnasi, dan terlihat alam begitu berubah drastis mereka sedang seperti berada di bumi pada umumnya, Xiao Zhou dapat menebak tempat itu.
pedang semesta apa Ratu Xhin Ye juga ada di tempat ini waktu tersesat di gerbang ini?" tanya Xiao Zhou.
"tidak tuanku, setengah jiwa Ratu Xhin Ye berada di atas rantai dan hanya merasa kesengsaraan ke tiga alam ini, sehingga setengah jiwa nya begitu merasa tersiksa,"ucap pedang semesta.
Xiao Zhou berlindung dari hempasan angin kencang, di celah-celah ornamen yang ada di pedang besar yang melesat begitu cepat melintas angkasa di alam tengah.
"tuanku gerbang kematian sudah menunggu kita di depan, berfokus lah pada akar jiwa agar tidak tercabut," ucap pedang semesta.
Xiao Zhou memejamkan matanya sesaat, dan membuka nya kembali matanya, bola matanya semakin menggelap, dan pedang semesta mulai memasuki gerbang kematian.
Terdengar jeritan-jeritan mengerikan yang memekakkan telinga, Xiao Zhou semakin masuk ke dalam celah ornamen dan pedang itu semakin membesar, dan melewati dinding gerbang yang terlihat begitu mengerikan.
perjalanan di gerbang kematian terasa begitu lama, dan dalam celah ornamen di pedang Semesta Xiao Zhou dapat beristirahat dan bermeditasi untuk beberapa lama, dan di hadapan mereka kini terlihat dua jalan besar.
"pedang semesta kita pilih jalan yang mana?" tanya Xiao Zhou
"tidak ada tuanku, kedua jalan itu adalah jalan berputar ke tempat tadi, itu jalan ke gerbang reinkarnasi dan jalan ke neraka, kita akan masuk ke celah kecil di dinding tebal itu," ucap pedang semesta.
Jiwa Xiao Zhou terasa terhisap, tapi tidak terlalu terasa, dan keduanya memasuki celah sempit yang gelap itu, tampak di sekeliling mereka tebing-tebing terjal yang gelap dan semakin lama tampak di ujung celah itu terlihat cahaya.
"itu alam ketiga tuan ku," ucap pedang semesta, dan tidak lama pedang Semesta melewati celah itu dan menembus dimensi alam langit.
cahaya biru dari Pedang Semesta melewati angkasa alam langit, tampak sepasang mata melihat cahaya biru itu.
"cahaya biru itu akhirnya muncul, ini sedikit melegakan ku, guru terimakasih atas pencerahannya," ucap pilar langit Zhao shilin, yang mengingat ucapan guru nya Ling Zhai Yuk sebelum kematiannya, dan memejamkan matanya untuk bermeditasi lagi.
mereka akhirnya melewati alam langit, pedang semesta seperti kehilangan cahaya nya, dan semakin melambat dan berhenti kedua mendarat pada sebuah rantai besar.
Xiao Zhou mendarat dengan sempurna dan gagang pedang semesta sudah kembali di tangan kanannya.
Xiao Zhou berlari menelusuri rantai berkabut itu, dan dan akhirnya melihat sebuah daratan dan melompat sekali lagi dan kaki nya menyentuh bibir pulau tingkat ke tiga itu.
"Sudah tugas ku tuan," ucap pedang semesta.
"Berapa lama kita melewati labirin itu Pedang Semesta?" tanya Xiao Zhou.
"Waktu sudah berjalan satu tahun dari pertama kita memasuki labirin itu," ucap Pedang Semesta.
Xiao Zhou memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan udara di pulau itu, Pedang Semesta sudah menghilang dari genggaman nya, dan masuk ke tubuh Xiao Zhou.
Remaja tanggung itu pun membuka matanya dan mulai melangkahkan kaki nya setapak demi setapak dan memasuki gerbang pulau ke tiga.
pulau itu sedikit bergetar, dan terdengar suara menggema di udara.
"manusia... kau memasuki wilayah ku, dan kau tidak akan menemukan apa yang kau cari itu di tempat ini," ucap suara itu seperti sudah tahu tujuan kedatangan Xiao Zhou.
"namaku Xiao Zhou, aku datang ingin menemui mu, dan tentang tujuan ku.... aku akan memikirkan kembali saat kita bertemu," ucap Xiao Zhou.
"hemm... jawaban yang sulit, biasanya orang datang dengan tujuan, tujuan baik atau buruk sama sekali tidak mempengaruhi ku, tetapi karena kau tidak memiliki tujuan menemui ku, maka aku tidak bisa menolak mu," ucap suara itu.
"Baiklah... aku bersedia menemui mu, tetapi kita bisa bertemu atau tidak tergantung dari takdir, aku berada di puncak gunung ini, buang semua harapan padaku dan apapun juga, maka kau akan bisa mencapai puncak gunung ini," ucap suara itu, yang terdengar begitu dingin dan tanpa nada emosi sedikit pun.
udara terasa dingin, kabut tipis menutup seluruh penglihatan nya, hanya dapat melihat samar-samar jalan yang ada di hadapannya.
dengan tenang Xiao Zhou terus melangkah, tanpa terasa dirinya memasuki sebuah hutan bambu yang berjejer begitu rapi, terlihat batang-batang bambu begitu lurus dan tinggi, hanya bagian atas nya saja yang memiliki daun.
angin berhembus pelan menyapukan hutan bambu indah itu, angin masuk ke dalam lubang-lubang kecil yang ada di pohon bambu itu dan menimbulkan sebuah suara seperti suara seruling yang begitu menenangkan, Zhou melangkah semakin masuk hutan bambu langkah nya terasa semakin berat.
"Pedang Semesta kenapa aku merasakan dingin? dan apa kau mendengar suara seruling itu?" tanya Xiao Zhou.
"di tempat ini semua kemampuan tidak berarti tuanku, dan aku tidak mendengar apapun, tapi aku pernah mendengar jika ada hutan bambu yang bisa menghilangkan ingatan," ucap pedang semesta.
Xiao Zhou menghentikan langkahnya, dan mengerutkan keningnya,
"apa? aku melupakan jalan yang baru saja aku lalui," batin Xiao Zhou dan mulai menutup pendengaran nya.
"pedang semesta, bagaimana jika aku melupakan mu, apakah aku masih sebagai tuan mu?" tanya Xiao Zhou.
"semasih jiwa anda ada dalam tubuh ini, aku akan selalu menjadi pelayan anda, terlepas anda gila atau apapun itu," ucap pedang semesta, di kepala Xiao Zhou
"hemm... itu terdengar bagus, kau terlalu menekankan pada kata gila," ucap Xiao Zhou kesal.
Xiao Zhou mengeluarkan kitab pengetahuan nya dan mencari cara menyimpan ingatan, dan mulai membaca nya, sambil duduk di atas sebuah batu.
Xiao Zhou mengangguk, dan memejamkan matanya, tubuh nya di selimuti uap biru.
"pedang semesta aku menitipkan semua ingatan penting ku pada mu, mungkin aku akan melupakan tujuan ku datang ketempat ini, jadi pelayan ku tugas mu adalah mengingatkan tujuan ku datang ke tempat ini, setelah berhasil atau gagal, kembalikan lah semua ingatanku," ucap Xiao Zhou.
"baik tuanku," ucap pedang semesta yang ada di dalam tubuh Xiao Zhou.
Xiao Zhou mulai menyimpan hampir semua ingatan nya dalam pedang semesta, dan kembali melanjutkan perjalanan nya.
langkah nya terasa begitu berat dan hampir tidak bisa melangkah.
"aahhh... kenapa tubuh ku begitu berat?" batin Xiao Zhou dengan nafas tersengal-sengal.
"tuanku kau harus terus melangkah dan meminta bantuan pada orang di tempat ini," ucap pedang semesta, saat mengetahui Xiao Zhou berhenti, dan menceritakan sedikit tentang tujuan nya datang ke tempat ini.
"aku masih ingat Pedang Semesta, tetapi aku sudah tidak bisa melangkah, ini terlalu berat," ucap Xiao Zhou.
"manusia.... tubuh mu terlalu banyak beban, mulai lepaskan lah," ucap suara di udara itu.
Xiao Zhou yang masih memiliki ingatan nya sedikit, hanya mengangguk, dan memikirkan apa yang harus di buang nya, dan dengan cepat meraba jari nya.
cincin penyimpanan nya lah yang pertama terlepas dari jari tengah nya,
"aku melepaskan semua harta yang ku miliki," ucap Xiao Zhou, dan melanjutkan perjalanan nya. meninggalkan cincin yang di penuhi tumpukan jutaan keping emas, dan perhiasan dari harta Karun mendiang Kaisar zharzantium pertama, serta kitab pengetahuan dan banyak benda berharga lainnya.
*******