Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
undangan wu tian


Di villa kabut rindu.


sudah tiga hari setelah pertarungan di kedai pinggiran sungai itu.


Xiao Zhou membuka mata nya, seorang wanita cantik menungguinya, dan tersenyum ke arah nya sekilas terlihat taring yang mempercantik senyum nya, dan Xiao Zhou begitu mengenali pemilik senyuman mengairahkan itu.


"kau sudah sadar suami kecil? " tanya Xue menatap mata Xiao Zhou, sambil memegang erat jemari tangan nya.


"Tolong bantu, aku ingin duduk bersandar," ucap Xiao Zhou lemah.


Xue pun memeluk suami nya dan membuat Xiao Zhou duduk bersandar di kepala ranjang nya.


"Sudah berapa lama aku tak sadarkan diri?" tanya Xiao Zhou.


"Sudah tiga hari, bagiamana kau bisa menjadi sekuat ini suami?" tanya Xue, sambil memperbaiki tirai di ranjang mereka, agar Xiao Zhou mendapat udara segar.


Xue kembali duduk di bangku kecil di hadapan Xiao Zhou, remaja itu mengelus wajah Xue dengan tatapan bersalah.


"Kau semakin kurus Xue'er, apa kau merindukan ku? maafkan suami bodoh mu ini" ucap Xiao Zhou pelan.


Mendapat perlakuan begitu lembut dari suami nya, membuat Xue begitu terharu, tidak menyangka jika memiliki suami begitu membuat nya bahagia, dan tersadar bahwa hidup nya begitu hampa selama ribuan tahun, dengan mata mulai basah wanita cantik itu mendekatkan wajah nya ke ke wajah Xiao Zhou.


"aku begitu bahagia memiliki suami seperti mu, kau selalu bisa membuatku melayang suami" bisik xue yang mengelus wajah xiao zhou,


dan tanpa ada yang meminta, keduanya sudah saling berciuman begitu lembut, bibir basah mereka saling *******, seperti begitu merindukan satu sama lain.


"aku menginginkan dirimu," ucap xiao zhou, yang tanpa sadar sudah memegang gunung xue yang sudah menegang.


"aahhssss.... " Xue mendesah pelan, kini tubuh nya sudah di pangkuan Xiao Zhou meski keduanya kaki nya menjuntai ke sisi ranjang, kedua masih menikmati ******* bibir mereka.


tangan Xiao Zhou mulai bermain dan paha panjang Xue dari dalam pakaian nya, dan mendekati milik nya, membuat Xue bergetar hebat, dadanya terasa berat, dengan nafas tersengal.


"su-ami jangan sekarang," guman Xue dengan suara serak yang hapir tidak terdengar, bibirnya menolak tapi wanita bertubuh tinggi itu melebar kan paha nya , tatapan mata nya yang biasanya begitu nakal, perlahan terpejam menikmati ulah nakal jari -jari lembut Xiao Zhou.


blarrrrr


pintu kamar xue di tendang dan terlepas, membuat kedua insan itu melepaskan diri satu sama lain.


"sebaik nya biarkan bocah bodoh itu istirahat kakak," ucap wanita itu yang tak lain adalah Liu Fenghua dengan tatapan membunuh diikuti seorang pria yang berpakaian rapi, di belakang nya.


"adik Liu?? paman Wu???" suara Xue dengan muka merah nya karena malu, sambil merapikan pakaian nya yang sedikit berantakan.


"maaf aku tidak melihat mu datang, silakan duduk, aku akan ke dapur sebentar," ucap gugup Xue sambil berjalan keluar.


"bagaimana keadaan mu Zhou'er" ucap Wu Tian.


"aku sudah membaik paman," jawab Xiao Zhou.


mereka pun berbincang hangat, tetapi ada mata seorang wanita yang berkaca-kaca ingin memeluk Xiao Zhou, hatinya begitu merindukan pemuda itu, tetapi kehadiran Wu Tian membuat nya tidak bisa di lakukan nya, wanita itu adalah Liu Fenghua yang terus meremas kedua tangan nya.


tidak lama Xue datang membawa nampan yang atas nya terdapat mangkuk berisi bubur.


"Suami... sekarang waktu nya makan bubur buatanku," ucap Xue sambil menatap Liu Fenghua dengan tatapan mengejek.


"aku ini adalah istri yang berbakti pada suami," ucap Xue dengan nada yang menyindir kearah Liu Fenghua, membuat mata Liu Fenghua melebar, kedua nya saling menatap dengan marah.


Xue masih kesal karena momen bermesraan nya di ganggu oleh Liu Fenghua, Xue duduk di samping ranjang di sebelah Xiao Zhou yang duduk bersandar.


"nona rubah biarkan aku yang menyuapi bocah ini," ucap Liu Fenghua sambil melebarkan mata kearah Xiao Zhou dan Xue.


untuk menghindari keributan di depan Wu Tian, Xiao Zhou menganggukkan kepala nya dan menatap ke arah Xue yang sekarang terlihat sangat kesal.


Wu Tian terus saja berbincang, tentang pertarungan nya, dan hanya di jawab sekenanya oleh Liu Fenghua ataupun hanya anggunkan dari Xiao Zhou.


Xue mengerti dan memberikan bubur kepada Liu Fenghua yang ingin menyuapi Xiao Zhou.


Xue berpindah ke sisi kiri xiao zhou, sekarang pemuda itu di apit oleh wanita cantik yang tersenyum dan mengeluarkan hawa pembunuh.


bulir-bulir keringat dingin mengucur di wajah Xiao Zhou, yang berpikir pertarungan bisa terjadi kapan saja, hanya menunggu waktu.


Dengan cepat Xiao Zhou membuka bibir nya dan dengan agak kasar Liu Fenghua menyuapi xiao zhou.


Mata xiao zhou mendelik, wajah nya memerah tetapi diam saja karena mulut nya penuh dengan bubur panas.


"ohhh panas ya? maaf aku lupa meniup nya," ucap lembut Liu Fenghua dan senyum senang di bibir nya.


Xiao Zhou yang kesal, tidak mau kalah, menggerakkan tangan kanan nya dari bawah selimut meraba paha Liu Fenghua, dan mengelus perlahan, membuat bibir Liu Fenghua sedikit terbuka menatap kearah Xiao Zhou, tangan wanita itu bergetar, dan perlahan matanya terpejam menikmati sentuhan yang sudah begitu dirindukan nya.


"emssshhh... ******* Liu Fenghua tertahan.


"ada apa adik Liu" tanya Wu Tian, menghentikan cerita pertarungan nya.


Liu Fenghua tersentak kaget mendengar suara Wu Tian yang duduk di bangku di belakang nya.


"ahhhsss.... a-ku tidak ada apa, seperti nona Xue membuat bubur ini sedikit agak pedas saja," Liu Fenghua, tidak menyingkirkan tangan Xiao Zhou, bahkan tersenyum nakal dan melebarkan pahanya memberi ruang agar tangan nakal Xiao Zhou bisa lebih leluasa bergerak ke arah lebih dalam.


Xue melihat kegiatan Xiao Zhou dan Liu Fenghua menjadi kesal, dan tidak mau kalah Xue menarik tangan kiri Xiao Zhou dan meletakan di paha nya yang kini sudah di tutupi selimut.


xiao zhou mengerti dan melakukan hal yang sama, dan kini tatapan mata kedua wanita itu sedikit sayu dan nafas agak tersendat, dengan bibir sedikit terbuka.


"seperti nya bubur nya sudah habis" ucap Xiao Zhou, mengagetkan kedua wanita itu yang sedang menikmati ulah tangan nakal Xiao Zhou di daerah sensitif mereka, dan dengan cepat merapikan pakaian masing-masing.


Wu Tian juga berhenti membicarakan pertarungan,


"Zhou'er paman hari ini akan pergi, banyak undangan yang harus paman kirim ke sekte-sekte lain nya," ucap Wu Tian


"undangan?" wajah Xiao Zhou memucat menatap Liu Fenghua, bola mata Xiao Zhou bergerak ke arah Wu Tian dan Liu Fenghua bergantian, seperti sedang bertanya, apa mereka akan menikah.


"paman di berikan tugas dari kaisar Ming untuk mengirim undangan ke seluruh sekte di wilayah kita, undangan pertunangan Puteri nya dengan tuan muda Wei anak perdana mentri kekaisaran ini,'' ucap Wu Tian dan bersiap pergi.


Xiao Zhou tampak lega, karena apa yang di pikirkan nya tidak terjadi.


"maaf aku tidak bisa mengantar paman," ucap Xiao Zhou.


"tidak apa... kau istirahat saja Zhou'er" ucap Wu Tian.


wu tian meninggalkan kamar itu di ikuti Liu Fenghua.


sampai di gerbang villa kabut rindu


"aku akan pergi, seperti nya ada yang ingin anda katakan nona Liu," ucap Wu Tian.


Liu Fenghua mengeluarkan sepucuk surat yang dari emas, Wu Tian membaca surat itu dengan wajah di tekuk.


"ini permintaan Kaisar Langit?" tanya Wu Tian


"itu bukan permintaan tetapi perintah, kaisar langit memerintahkan ku untuk menikahi putra bungsu nya" ucap Liu Fenghua.


"meski kita tidak bertunangan, tapi aku tahu kau memiliki perasaan padaku, maafkan aku tuan Wu aku tidak bisa membalas perasaan mu itu," ucap Liu Fenghua dengan wajah datar nya, selamat jalan,"ucap nya lagi.


Wu Tian mengerti ucapan wanita itu,


"baiklah nona Liu aku pamit," ucap Wu Tian dengan wajah gusar nya sambil mengembalikan surat emas milik Liu Fenghua....


"berjanjilah kalau berubah pikiran, aku masih selalu menunggu mu," ucap Wu Tian.


dengan wajah dingin Liu Fenghua membungkuk memberi hormat dan tidak menjawab, serta meninggalkan gerbang villa kabut rindu itu.


Liu Fenghua masuk kamar Xiao Zhou, dengan tatapan begitu marah,


plakkkk...


tamparan mengenai kepala Xiao Zhou,


"apa kau pikir undangan itu adalah pernikahanku dengan Wu Tian hah? kenapa kau bisa berpikir seperti itu tentang ku," ucap Liu Fenghua dengan mata berair meninggalkan kamar Xiao Zhou.