
"aku tahu kau, selama ini melakukan semua untuk kebaikan kekaisaran ini, tapi katakan dengan jujur Zhou'er, apakah selama ini kau, k-kau pernah menyukai ku, apakah hubungan di antara kita hanya sebatas sandiwara mu saja?" tanya wanita cantik itu yang tidak lain adalah Ibu Suri, dengan suara terputus-putus.
Xiao Zhou hanya mengangguk,
"benar Ibu Suri, semua hanya sandiwara ku, aku tidak pernah menyukai mu" ucap Xiao Zhou dan meninggalkan Ibu Suri seorang diri.
Ibu Suri memejamkan matanya sambil menarik nafas nya dalam-dalam, dadanya berdebar kencang dan terasa berat, seutas senyum terlihat di bibirnya.
Ibu Suri mengelus dada nya,
"kau pembohong yang buruk Zhou'er, baiklah kau pulang lah, dan tunggu saja hadiah mu" guman Ibu Suri, dengan senyum indah di bibirnya, menatap kepergian Xiao Zhou.
di rumah makan merak putih, sepasang suami istri sedang berbincang, keduanya menikmati isi cawan dari guci kesayangan Xiao Zhou.
terlihat wajah cantik Puteri Ming Mei dalam keremangan cahaya lentera, mata sendu nya sesekali menatap wajah suaminya yang terlihat sedikit kelelahan.
beberapa pelayan yang terbangun datang membawakan beberapa makanan, dan menyiapkan peralatan mandi untuk kedua majikan mereka.
"suami... jangan pernah menyuruh ku melakukan hal menjijikkan itu lagi, aku akan mandi tubuh ku terasa kotor di pegang oleh bajingan itu, untungnya semua sudah berakhir," ucap Puteri Ming Mei dan berdiri, bersiap untuk membersihkan diri.
Xiao Zhou menarik pinggang Puteri dan mendudukkan nya di pangkuan nya.
"tidak... kau tidak akan melakukan itu lagi, tapi hari ini kau terlihat sangat menggoda, dengan pakaian dan dandanan mu sedikit tebal ini, bisakah kita melakukan di sini?" tanya Xiao Zhou, tangan nya mulai meraba di beberapa bagian sensitif dari Puteri Ming Mei.
"emmmsss.. bocah nakal bibir mu begitu manis, tapi sayang nya aku tidak mau .... aku akan membersihkan diri dulu" ucap Puteri Ming Mei dan berusaha bangkit dari pangkuan suaminya.
Xiao Zhou tidak membiarkan Puteri Ming Mei kesempatan dan semakin meningkat permainan nya.
"kau tidak akan kemana-mana, apa yang di ucapkan pemuda itu padamu? kau terlihat begitu menikmati sandiwara mu tadi" ucap Xiao Zhou.
"hahaha... suami apa kau cemburu aku di dekat pria keji itu? pria itu menawariku untuk mampir ke tempat tidur nya," ucap Puteri Ming Mei, dan mulai mengeluarkan pusaka Xiao Zhou, dan memainkan nya.
"emmmsss... tentu saja aku cemburu, dan marah" guman Xiao Zhou dan mulai memainkan lidah nya di leher panjang Puteri Ming Mei, dan meninggalkan sedikit bekas di leher indah itu, tangan Xiao Zhou juga sedikit kasar malam itu.
"aahhh..... tubuh ku sangat sensitif hari ini, bocah ini juga sedikit kasar menjamah tubuh ku, apa karena perasaan cemburu nya? tapi aku sangat menyukai perlakuan kasar ini," batin Puteri Ming Mei, dan mendorong tubuh Xiao Zhou sehingga terbaring, tubuh nya sudah mulai terbakar dan mengikuti permainan keras suaminya.
Puteri Ming Mei melepaskan pakaian dalam nya saja, dan naik ke atas tubuh suaminya, dan beberapa gigitan mendarat di leher Xiao Zhou.
"aahhhhsss.... aku sudah tidak tahan lagi, suami kenapa tidak dari awal saja kau membunuh bajingan itu?" ucap Puteri Ming Mei dan mengangkat sedikit tubuh nya, seperti sudah tidak sabar lagi, tangan nya meraih dan mengarahkan benda kesayangan nya ke arah yang tepat.
"Mei'er, apa kau ingin suami mu di kenal membunuh orang tanpa alasan? dan juga jika aku membunuh nya di awal, maka kematian ayah mu tidak akan pernah terungkap" ucap Xiao Zhou dan sedikit memejamkan matanya saat milik nya mulai bersentuhan dan perlahan tertelan, walaupun tidak seluruhnya.
Puteri Ming Mei menurunkan sedikit pakaian bagian atas nya membebaskan dua gunung indah nya, dengan warna merah muda di ujung nya, dan menarik kepala Xiao Zhou untuk memainkan nya.
"aaahhhhssss...... lidah Puteri Ming Mei keluar menahan kenikmatan yang begitu memabukkan, dan dengan buas mencium bibir Xiao Zhou dan saling bertukar liur,
mmmmmmsssss..... suami aku sudah tidak tahan, aku akan keluar" teriak Puteri Ming Mei, gerakan nya semakin liar, juga semakin kasar, dan menggila membuat seluruh milik Xiao Zhou tertelan sempurna.
kedua berteriak hampir bersamaan, tubuh keduanya mengejang untuk beberapa saat dan nafas nya mulai teratur lagi.
"hari ini kau begitu ganas Zhou'er, seperti nya aku perlu membuat mu terus cemburu, selama ini aku lebih menyukai permainan lembut mu, tapi sesekali aku juga ingin merasakan permainan kasar seperti tadi, aku menyukai nya, suami apa kita sebaiknya tinggal di sini lebih lama lagi?" tanya Puteri Ming Mei dan mulai menekan milik Xiao Zhou dengan milik nya yang sudah terasa panas lagi.
"haha... nyonya cantik, sejujurnya aku mau, tapi kau mau aku di hajar oleh wanita-wanita galak itu" ucap Xiao Zhou.
Puteri Ming Mei hanya tersenyum, membayangkan wajah Liu fenghua dan juga Xia xhialun saat marah, dan tiba-tiba mengigit bibir bawahnya, matanya terpejam saat merasakan benda panas yang secara perlahan memasuki tubuh nya lagi, dan memenuhi setiap relung kenikmatan nya.
kedua nya berbaring lemas di ranjang, mereka sudah melakukan nya beberapa kali, dan kini terlelap saling berpelukan hangat.
*****
pagi itu Xiao Zhou dan Puteri Ming Mei keluar dari gerbang di pulau kecil, yang ada di sekitaran pulau keseimbangan, keduanya melangkah mendekati istana nya, dan seorang wanita dengan kecantikan surgawi sudah menunggu nya, mata jernih wanita itu menatap dingin ke arah Xiao Zhou.
plaaakkkk....
sebuah tamparan mengenai wajah Xiao Zhou.
"Puteri Yun, tamparan ini untuk apa?" tanya Xiao Zhou.
Puteri Ming Mei hanya sedikit tersenyum melihat kejadian itu.
"kau bahkan tidak mengabari aku saat berpergian, dan sekarang datang dua calon istri lagi" ucap Puteri Yun Qixuan dan melangkah pergi meninggalkan Xiao Zhou.
"apa itu pantas?" tanya Xiao Zhou menatap Puteri Ming Mei yang kini sudah menutup senyum di bibir merah nya dengan jemari nya.
"hihihi.... kau pantas mendapatkan nya, sebaiknya kita masuk" ucap Puteri Ming Mei dan mengacak-acak rambut Xiao Zhou.
Puteri Tang Lien dan Lou Rong terlihat sudah di istana ke 15, mereka semua berkumpul mengelilingi sebuah meja panjang yang di penuhi hidangan yang terlihat begitu menggoda, dan mereka menikmati makan malam itu sambil berbincang dengan senyum menghiasi wajah mereka.
****