Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
Kesempatan


"apa yang sedang kau rencanakan? kau mengundang semua istri Zhou'er untuk menghadiri perjamuan mu ini," ucap Choe Eun Soo sambil menggelengkan kepalanya.


"hahaha... apa kau cemburu, akhirnya kau mengakui perasaan mu padaku," ucap pangeran ke empat.


"Kau jangan salah sangka Pangeran, aku sama sekali tidak cemburu, aku bahkan tidak peduli jika kau mengundang semua teman wanita mu, tapi aku begitu malu atas perbuatan mu kali ini, karena aku yang mengenal kan mu pada para wanita itu, aku tidak mau dikatakan memperkenalkan pria kurang ajar oleh mereka," ucap Choe Eun Soo


"kenapa harus malu? mereka adalah teman ku juga, apa salah mengundang teman untuk datang ke perjamuan ku?" tanya pangeran ke empat.


"salah.... kau mengundang seorang wanita bersuami ke acara makan malam, tapi kau tidak mengundang suami mereka, kau tentu tahu aturan seperti itu," ucap Choe Eun Soo dan pergi meninggalkan tempat itu, namun tangan nya di tarik oleh pangeran ke empat.


"aku sudah bosan dengan penolakan mu? kau menolak ku karena kau mencintai Xiao Zhou itu, dan aku ingin bertemu dengan pria itu, aku ingin tahu, apa kelebihan nya di bandingkan dengan ku?" ucap Pangeran ke empat.


"jika kau begitu menginginkan sesuatu kau harus bersabar, Zhou'er pasti akan datang, dan kau bisa melihat perbedaan kalian berdua, meski aku akui kau begitu menarik dan pandai memperlakukan wanita, tapi kalian tidak sama," ucap Choe Eun Soo, dan pergi.


Pangeran ke empat begitu marah dan menghacurkan meja di hadapan nya.


"kau benar... jika aku menginginkan sesuatu aku harus bersabar," guman Pangeran ke empat.


***


dan keesokan harinya Pangeran ke empat sudah di tepi sungai itu, sambil menatap air sungai yang begitu jernih


"anakku apa kau tidak mandi bersama adik mu itu?" tanya Zhang Rui memanggil Pangeran ke empat dengan sebutan anak.


"sudah ku duga kau akan datang, hatiku tidak pernah salah, tidak ada yang bisa melupakan pesona ku, kau pasti begitu merindukan ku, tapi kau begitu malu mengakui perasaan mu," batin Pangeran ke empat.


"hahaha... ibu hari ini aku tidak ingin mandi," jawab Pangeran ke empat membuat suara dan wajah nya selucu mungkin, meladeni candaan dari Zhang Rui.


"Nyonya kenapa kau tidak pernah datang ke tempat ini aku selalu menunggu mu di sini," ucap Pangeran ke empat.


"Kau? benarkah kau menunggu ku? hihihi... aku hanya sibuk jadi tidak ada waktu untuk menemani putera ku," ucap Zhang Rui.


"Nyonya kenapa kau tidak datang ke perjamuan ku?" tanya Pangeran ke empat.


"Tidak... aku sudah tua, aku tidak seharusnya datang ke acara anak muda seperti kalian," ucap Zhang Rui beralasan.


"Nyonya masih begitu cantik, bahkan kau jauh lebih cantik dari semua istriku," ucap Pangeran ke empat.


"hihi... anak muda harus nya kau memuji istri mu, bukan memuji istri orang, baiklah... sepertinya berbahaya jika aku terlalu lama di dekat mu," ucap Zhang Rui, sambil tertawa dan menggelengkan kepalanya.


"Nyonya aku tidak berbahaya, hahah... kenapa harus takut?" ucap Pangeran ke empat.


"aku takut jika kau terus memuji ku, aku bisa-bisa menjadi istrimu nanti nya, hihihi..., aku hanya bercanda pangeran, baiklah aku mohon diri," ucap Zhang Rui dan membawa Putera nya kembali ke istana, karena sudah cukup lama berenang.


"degggg...."


Dada Pangeran ke empat bergetar membayangkan jika Zhang Rui menjadi istri nya, dan bagaimana pergumulan mereka di ranjang, membuat Pangeran ke empat hanya bisa menelan ludah.


"Nyonya bisakah kita bertemu lagi?" tanya Pangeran ke empat.


tanpa di sadari Pangeran ke empat mulai jatuh cinta dengan wanita tinggi itu, rencana nya yang hanya ingin bermain-main kini berubah, pemuda itu kini menggunakan perasaan nya, dan menginginkan Zhang Rui sebagai istrinya.


"hemm... aku tinggal menunggu kesempatan, dan tempat yang sepi, dengan sedikit paksaan di awal, biasanya wanita begitu malu di awal nya, tetapi jika sudah merasakan nya maka dia sendiri lah yang akan bergerak menuntaskan gairah mereka, dan selanjutnya mereka lah yang akan memaksa ingin melakukan itu terus... hahaha... tempat sepi aku mencari mu, mangsa kita seperti nya sudah mulai basah," guman Pangeran ke empat, terus membayangkan jika mereka berdua di tempat yang kosong.


****


di alam langit.


Akar dari para Zhangji sudah menghisap energi kehidupan di alam langit, pohon-pohon di sekitar tempat itu sudah menghitam dan kering, bahkan energi di udara juga mulai terhisap, tapi tidak mampu menghisap terlalu jauh, karena Dewi Phoenix abadi sudah menutup wilayah di luar medan perang itu, dengan pelindung dari hisapan para Zhangji itu.


Dewa Pengetahuan menghadap Kaisar Langit, dengan suara serak dan pelan.


"Yang Mulia... kita tidak bisa berperang terlalu lama, tiga gunung itu akan menghisap semua energi kehidupan di alam langit, meski Dewi Xhuwuan sudah menghambat nya, namun kekuatan nya tidak akan bertahan lama," ucap Dewa Pengetahuan.


"berapa lama?" tanya Kaisar Langit wajah nya tampak begitu serius.


"Pertahanan Dewi Xhuwuan hanya bertahan seratus sampai seratus lima puluh tahun," ucap Dewa Pengetahuan, menundukkan wajahnya.


"hemmm... kita akan bahas strategi untuk memukul cepat kekuatan lawan, kita akan cari posisi yang tepat memukul, agar terjadi kerusakan yang serius dalam formasi mereka," ucap Kaisar Langit.


Dewa Pengetahuan hanya mengangguk, terlihat raut kecemasan di wajah tua nya itu.


****


di Medan pertempuran,


Medan pertempuran itu begitu luas mencakup ratusan mil, tanah yang subur ditumbuhi rerumputan hijau, dan sedikit hutan-hutan kecil yang indah di berbagai tempat, dan bukit-bukit batu di pinggiran dataran luas itu, kini mulai berubah sebagian menjadi gersang saat kedatangan para Zhangji itu.


Seorang Dewa sepuh sudah berada di hadapan Sang Pembunuh Dewa,


"Sang Pembunuh Dewa... aturan perang seperti biasa, kita hanya berperang saat matahari terbit dan selesai saat matahari terbenam, adakah yang ingin kau ucapkan sebelum perang ini di mulai, jika tidak ada berarti kau menyetujui aturan itu," ucap Dewa Kebijaksanaan.


Sang Pembunuh Dewa hanya mengangguk,


"aku setuju, tapi Dewa tua, seharusnya kau berlutut jika bicara dengan seorang Kaisar langit, dan katakan pada Kaisar palsu itu untuk berlutut di hadapan ku, maka perang ini tidak perlu terjadi," ucap Sang Pembunuh Dewa yang sudah menggunakan pakaian kebesaran Kaisar Langit yang pertama.


Dewa kebijaksanaan mengangguk,


"Sayang sekali permintaan mu tidak bisa di kabulkan, meski Kaisar mau melakukan nya untuk menyelamatkan jutaan nyawa, tapi Kaisar langit punya aturan tersendiri, beliau tidak bisa berlutut di hadapan orang yang masih hidup, dan itu bersifat mutlak," ucap Dewa Kebijaksanaan.


"Sangat di sayangkan aturan itu begitu kaku, baiklah kau pergilah, dan sampaikan salam kematian untuk Kaisar lemah mu itu," ucap Sang Pembunuh Dewa.


"aku mengerti dengan sikap mu ini, Sang Pembunuh Dewa ambisi mu telah membutakan mu, kau sudah membunuh jutaan manusia hanya untuk gelar itu, dengan kemampuan mu di tingkat langit akhir, bahkan tanpa perlu menyandang gelar sebagai Kaisar Langit pun kau akan begitu disegani, sangat di sayangkan putera seorang guru besar dan juga pilar Langit bisa melakukan hal sekeji ini, ingat lah Sang Pembunuh Dewa semakin banyak yang engkau inginkan semakin sedikit yang akan kau dapat," ucap Dewa Kebijaksanaan dan melayang mundur dari hadapan Sang Pembunuh Dewa.


"cih.... aku tidak butuh nasehat seperti itu saat ini, " ucap Sang Pembunuh Dewa dan mengangkat tangan nya di samping kepala nya, jemari tangan nya bergerak-gerak mengisyaratkan pasukan nya untuk menyerang.