Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
ch. 62


dua pria sudah melayang di atas hutan bambu itu, salah satu nya mengenakan pakaian perang dan matanya mengeluarkan uap biru, menatap ke arah wanita yang sedang memainkan kecapi.


"energi besar ini menarik ku ke tempat ini, dan wanita itu yang mengeluarkan energi sekuat ini," ucap salah satu pria itu yang tidak lain adalah Wang Riu.


"tuanku... apa ini energi dari salah satu dua belas dewa terkuat di zaman anda?" tanya rekan dari Dewa Wang Riu.


Wang Riu menggelengkan kepalanya,


"entahlah Liu Bai.... aku tertidur begitu lama, aku tidak tahu perkembangan kemampuan, ataupun dewa baru yang ada di dua belas Dewa terkuat, energi ini sedikit berbeda, aku tidak yakin jika ada orang sekuat ini dalam dua belas dewa itu, tapi mata wanita itu begitu indah," ucap Dewa Wang Riu, matanya tidak pernah lepas dari gerakan jemari lentik yang sedang memainkan kecapi itu.


Liu Bai sedikit terkejut mendengar ucapan Dewa Wang Riu, yang selama ini tidak pernah memuji wanita lain selain Ratu Xhin Ye.


"aku sudah menguasai kerajaan tempat pulau keseimbangan berada, beberapa hari lagi anda akan di nobatkan menjadi raja di tempat itu," ucap pria berpakaian perang itu.


"bagus.... kerjamu sungguh cepat," ucap Dewa Wang Riu dan membuat energi pelindung di sekitar mereka.


di sisi lain hutan bambu itu, rombongan Zhang Rui masih melanjutkan perjalanan,


"nyonya Park... aku tidak menyangka bisa bertemu di tempat seperti ini," ucap Zhang Rui dari jendela kereta yang di buka oleh nya.


"Yang Mulia suatu keberuntungan bagi ku, Yang Mulia masih mengenaliku rupanya," ucap Park Min Ji sopan, sambil menarik wajah Xiao Zhou agar tidak melihat ke arah wanita itu.


"naiklah ke kereta ku aku ingin berbincang dengan mu," ucap Zhang Rui dengan senyum tipis nya.


"maafkan aku Yang Mulia, seperti nya kami ke arah yang berbeda," ucap Park Min Ji berbohong.


"benarkah... seperti nya kau memiliki teman baru lagi, dan sayang nya aku juga menyukai teman mu itu," ucap Zhang Rui.


wajah Park Min Ji berubah kesal, langkah nya berhenti, Xiao Zhou mencoba memegang lengan Park Min Ji namun wanita itu menghempaskan tangan Xiao Zhou dan menatap pemuda itu beberapa saat serta mendekatkan wajahnya ke pemuda itu.


"tenanglah... aku bukan wanita yang bertengkar karena memperebutkan seorang pria, kami adalah wanita berwawasan luas," ucap Park Min Ji dan melangkah meninggalkan Xiao Zhou dan melangkah ke arah kereta kuda Zhang Rui dan kereta itu berhenti.


Park Min Ji mendekati jendela kereta kuda itu, suaranya sedikit di pelankan dan dengan nada begitu lembut.


"Yang Mulia.... aku tidak akan meladeni anda, jika anda masih mengenakan jabatan mu, aku sudah melepas jabatan ku untuk pria itu, bagaimana apa kau bersedia melepas jabatan mu untuk pria itu?" tanya Park Min Ji, dengan wajah menantang.


Zhang Rui tersenyum dan menatap ke arah Xiao Zhou,


"hahaha... apa? kau meminta ku melepaskan mahkota Kaisar ku demi pria itu?" ucap Zhang Rui.


"jendral Hong... tetap lanjutkan perjalanan ini, dan jaga jarak hingga tidak ada yang mendengar percakapan kami," teriak Zhang Rui dan jendral itupun mengangguk,


jendral Hong memberi isyarat kepada pasukan nya, dan seperti telah terlatih pasukan itu terbelah dan membentuk barisan 50 meter di belakang kereta dan 50 meter di depan kereta, hanya Dewa Fei Yu dan Xiao Zhou yang dekat dengan kereta itu.


Zhang Rui tiba-tiba saja mencabut tusuk rambut di belakang kepala dan melepaskan mahkota nya membuat Park Min Ji membeku tidak percaya yang di lihat nya.


Xiao Zhou hanya memejamkan matanya melihat tingkah kedua wanita itu.


Zhang Rui juga melakukan hal yang sama dengan menurunkan nada suara nya.


"aku sudah melepaskan pakaian ku untuk nya, dan aku akan melepaskan semua yang kumiliki untuk suamiku itu, dan kau wanita Yunha... masuklah kita selesaikan secara wanita persoalan ini, dan aku bukan lagi Kaisar dari kekaisaran Wang saat ini, jadi kau bisa bicara kotor padaku," ucap Zhang Rui.


Park Min Ji tampak gugup dan seperti terpaksa dan naik ke atas kereta itu, dan perjalanan mereka di lanjutkan,


"prakkk....."


terdengar suara begitu pelan, sudut mata Xiao Zhou dapat melihat di kejauhan kepala salah satu prajurit penyapu jebakan tadi hancur, dan menyemburkan darah segar tertekan oleh akar bambu dan perlahan masuk ke dalam tanah.


"bocah ada yang tidak beres, kita tersesat," ucap Dewa Fei yu


Xiao Zhou mengangguk sambil tersenyum,


"adik ipar... kita tidak tersesat, pohon-pohon bambu di hutan ini lah terus bergerak sedari awal kita mulai memasuki hutan ini," ucap Xiao Zhou membuat wajah Dewa Fei yu sedikit menegang.


"jika ini hanya ulah siluman aku pasti menyadari nya, ini ulah seorang Dewa," ucap Dewa Fei Yu, dan melambaikan jari nya ke arah jendral Hong


Jendral itupun mendekat,


"rapatkan pertahanan," ucap Dewa Fei Yu dan formasi mereka mulai berubah, dan sedikit mendekat dengan kereta itu yang berjalan pelan.


tampak kereta sesekali bergoyang, dan terdengar tamparan bahkan pukulan dari dalam kereta itu serta beberapa umpatan dari dua suara yang berbeda juga sesekali terdengar, namun tidak ada prajurit yang berani bicara, ataupun menatap ke arah kereta itu.


"bukkk..."


"bukk...."


"plaakkkkk...."


"apa?? kau juga mencukur milik mu?" terdengar teriakan Zhang Rui,


jendela kereta itu terbuka, wajah Kaisar Zhang Rui keluar jendela dan menatap ke arah Xiao Zhou.


"bocah kau benar-benar tidak akan selamat," ucap Zhang Rui sambil mengusap darah yang keluar dari hidung nya, dan menutup jendela itu lagi, dan kembali terdengar keributan dalam kereta itu.


"hemmm... seperti nya mereka tidak akan bertengkar karena seorang pria, tidak diragukan lagi mereka wanita berwawasan luas," guman Dewa Fei Yu mencemooh Xiao Zhou, namun wajah nya terlihat begitu siaga.


mereka berhenti saat hutan bambu di hadapan mereka itu tidak memperlihatkan jalan lagi, jalan mereka masuk juga sudah tertutup rapat, tampak di kejauhan di tempat yang sedikit lebih tinggi, sebuah gubuk kecil yang hampir keseluruhan nya terbuat dari bambu.


dan wanita bercadar ditemani seekor burung merak masih begitu fokus memainkan kecapi, matanya terpejam seperti begitu menghayati permainan nya,


"suara kecapi ini membuat ku merinding," guman jendral Hong, yang baru bisa mendengar suara kecapi sambil menatap ke segala arah mencari sumber dari suara itu.


jendral Hong yang mulai kesal, mencabut pedang di ikuti oleh semua prajurit di tempat itu,


"aahhh... aku lupa jika hutan bambu ini begitu benci dengan senjata, adik ipar selamat para prajurit, biar aku menjaga wanita yang sedang berbincang ini," ucap Xiao Zhou dan membuat sebuah segel di sekitar kereta, hingga kedua wanita itu tidak mendengar apapun di luar segel itu.


"bocah bodoh... kenapa kau baru mengatakan nya sekarang," ucap Dewa Fei yu dan melesat ke udara dan mencabut dua pedang di punggung nya.


"sungai pedang," teriak Dewa Fei yu.