
Yang Tian mulai merapatkan jari telunjuk dan jari tengah nya di depan bibir nya, dan merapal mantra, saat wanita itu mendekat.
"kau suami tidak bertanggung jawab, aku sudah lama menunggu mu menjeput ku" ucap wanita itu dengan nada begitu marah.
Yang Tian yang mendengar sebutan suami, seketika menghentikan jurus nya, dan perlahan sedikit mundur ke belakang Xiao Zhou.
"tuan seperti wanita ini akan membunuhmu," ucap Yang Tian
"aku tahu, apa kau punya ide bagus" ucap Xiao Zhou sambil menelan ludah nya
"mereka selalu ingin membunuh suami mereka, semua wanita memang selalu bertingkah menyulitkan, dan menyebal....
buk... buk... dua pukulan bersarang di perut Yang Tian, membuat nya berlutut menahan sakit.
"sebaiknya kau menjaga bicara mu tentang wanita saat aku di dekat mu tuan Yang Tian" ucap Dewi pemburu.
Yang Tian hanya mengangguk, dan mengatur nafasnya.
wanita cantik itu mulai menyerang Xiao Zhou dengan pedang kecil, yang lebih panjang dari ukuran biasanya, Xiao Zhou mulai menghidar dari serangan pedang wanita cantik itu, dan tubuh Xiao Zhou mulai tersudut, dan tidak bisa menghindar, mata nya tertutup dan membiarkan ujung pedang milik wanita itu mengarah tepat ke leher nya.
traaangggg.... suara pedang terjatuh ke lantai,
wanita itu berhambur memeluk tubuh Xiao Zhou,
"kenapa lama sekali, apa kau baik-baik saja?" ucap zhania sambil terisak dan mendaratkan bibirnya ke bibir Xiao Zhou dengan ganas.
Xiao Zhou memeluk pinggang zhania dan menempelkan perut indah tanpa di lapisi kain itu ke tubuh nya
"sebaiknya kita mencari tempat yang tepat untuk bicara" bisik Xiao Zhou setelah mereka melepaskan ciuman mereka.
he' eh.. hanya suara itu yang terdengar dari bibir zhania sambil mengangguk.
Dewi pemburu menutup mata Yang Tian,
"kau sebaiknya jangan melihat hal-hal seperti itu, otak mu akan teracuni oleh bocah mesum itu, dan ikut gila sama seperti nya" ucap Dewi pemburu dan menarik lengan Yang Tian mencari tempat untuk mereka duduk.
Dewi pemburu mulai memejamkan matanya, dan melakukan meditasi, dan beberapa saat matanya terbuka lebar dan darah segar menyembur dari bibirnya, dan terjatuh dari tempat duduknya.
"apa yang terjadi nyonya?" ucap Yang Tian membantu Dewi pemburu itu untuk bangkit dari lantai, dan duduk kembali.
"segel ini tidak bisa aku membuka nya, dewa suci Qing Tao menyegel semua kemampuan navigasi yang ada di pikiran ku, bahkan saat ini aku kesulitan menyerang lawan ku, bahkan terbang pun aku sangat kesulitan" ucap Dewi pemburu itu kesal
Yang Tian hanya diam tanpa berekspresi,
"apa maksud mu nyonya?" tanya Yang Tian
Dewi pemburu itu menatap wajah beku Yang Tian dan menggelengkan kepalanya,
"kau tidak akan mengerti, apa kau tahu untuk mengatur gerakan harimau di bantu oleh ekor nya, nah aku seperti harimau tanpa ekor saat ini apa kau bisa mengerti" ucap Dewi pemburu
plakkkk... tamparan mengenai wajah Yang Tian,
"bukan itu maksud ku, aku tidak memiliki ekor, aahhhhh... sudahlah lupakan saja ucapan ku tadi, baiklah dengarkan aku baik-baik, arti nya saat ini aku tidak berguna sama sekali" teriak Dewi pemburu itu kesal.
........
di sebuah ruangan di rumah makan gratis,
"bagaimana kau bisa berada di tempat ini?" tanya Xiao Zhou
"harus aku yang bertanya seperti itu, tapi baiklah, dengan harta yang kita dapatkan di makam itu, aku mendirikan bangunan besar ini, dan menampung anak-anak yang miskin untuk makan gratis di tempat ini" ucap zhania menatap wajah Xiao Zhou.
"kau bagaimana bisa ke tempat ini?" tanya zhania
"aku terlempar ke tempat ini dari gerbang ruang, milik seorang dewa" ucap Xiao Zhou
"jadi kau tidak sengaja datang untuk ku?" tanya zhania terlihat jelas wajah nya kecewa.
"maafkan aku zhania, tapi aku tidak yakin kau benar-benar menginginkan aku" ucap Xiao Zhou
zhania menganggukan kepala, dan air matanya menetes
"awalnya aku hanya ingin bantuan dari mu, tapi seiring waktu hatiku mulai menerima mu, walaupun kau tidak layak untuk ku, kau sudah memiliki begitu banyak istri, aku sudah berkali-kali meninggalkan mu, mencoba untuk tidak menyukai mu, dengan menyibukkan diri melakukan yang selama ini begitu ingin ku lakukan, membantu anak-anak miskin agar bisa makan setiap hari nya. tapi setelah berpisah dengan mu, aku baru menyadari aku sudah mencintai mu dan terlambat untuk ku menghentikan rasa itu" ucap zhania dengan bibir bergetar.
"hatiku benar-benar kesepian, hanya kau yang pernah mengisi nya, dan akan hanya ada satu orang saja," ucap zhania, dan memeluk tubuh Xiao Zhou.
Xiao Zhou mengelus kepala Zhania, dan sesekali mengacak-acak rambut berkepang nya.
"sudahlah nona Zhania, pekerjaan mu sangat mulia di sini, aku tidak ingin egois dan membawa mu bersamaku tinggal di tempat ku, dan juga... aku belum bisa mempercayai ketulusan kata-kata mu tadi" ucap Xiao Zhou
Zhania menganggukan,
"aku mengerti apa yang kau maksud tidak mempercayai ku, aku senang kau sudah belajar, dan tidak mudah tergoda dengan mulut manis wanita, terutama yang tidak berpakaian seperti ku sekarang," ucap Zhania dan mendorong tubuh Xiao Zhou dan menindih nya.
Xiao Zhou tidak percaya apa yang di lihat nya, Zhania sudah tidak menggunakan penutup apapun di tubuhnya,
"nona Zhania, tunggu..." suara Xiao Zhou terputus karena bibir keduanya sudah bersatu lagi,
"akan aku tunjukkan apa arti ketulusan dari bangsa kami, dan kau orang yang ku pilih melihat wajah ku saat membuka cadar ku pertama kali, saat itulah aku resmi menjadi wanita mu, dan malam ini kesucian ku akan kau miliki juga" ucap Zhania bibirnya terbuka, matanya terlihat begitu bergairah, tangan nya mulai sibuk mencari sesuatu milik Xiao Zhou.
Xiao Zhou yang awalnya ragu kini ikut aktif, dan tampak leher jenjang Zhania mulai terlihat bercak kenakalan Xiao Zhou, membuat Zhania semakin panas,
"nona Zhania, apa kau yakin?" tanya Xiao Zhou saat Zhania mulai menekan nya dari atas saat kedua sudah begitu siap.
" iya aku sangat yakin, dari saat aku menyusup ke tenda mu malam itu, kenapa kau tidak memaksaku sedikit saja, aku pasti tidak akan menerima mu, walaupun aku berpura-pura menolak, kau benar-benar bocah tidak berguna waktu itu" ucap Zhania, mata nya mulai memejam dan menggigit bibir bawahnya.
dan desahan-desahan kecil seperti di tahan mulai terdengar dari luar ruangan itu, badai di luar membuat desahan itu tersamarkan.