Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
Naga sembilan


Ratu Xhin Ye meraba dadanya, dan masih dapat merasakan getaran jantung Xiao Zhou, matanya memejam dalam-dalam sambil menelan ludah nya, dan tersirat kelegaan di wajah nya.


"bagus lah kau masih hidup, suami... apa yang sedang terjadi padamu? kau pasti dalam kesusahan di tempat itu," guman Ratu Xhin Ye, mengusap air matanya dan meninggalkan tempat itu.


*****


Xiao Zhou mencapai puncak gunung itu dengan begitu kelelahan, darah di pakaian nya begitu banyak, dan hanya meninggalkan gambar tanda tambah indah di punggung nya.


"katakan siapa dirimu?" terdengar suara di udara.


"aku... aku Xiao..." suara Xiao Zhou terhenti dan mengerutkan keningnya.


"aku Xiao Zhou," ucap Xiao Zhou sambil menggelengkan kepalanya karena begitu susah mengingat namanya.


"baiklah manusia... kenapa kau ada di sini," ucap suara di udara itu lagi.


"aku ingin bertemu dengan mu," ucap Xiao Zhou lancar.


"ohhh.... sangat mengesankan tekad mu begitu kuat, dan kau bisa melepaskan semua nya tanpa melihat kebelakang sekali pun," ucap suara itu lagi.


"baiklah.... kau sudah berusaha keras, untuk tujuan mu itu, ingatan mu tidak akan berkurang lagi mulai saat ini, sekarang duduk lah di tempat itu, dan kita lihat apa takdir mempertemukan kita atau tidak, aku akan datang saat dunia ini gelap pada siang hari, dan aku datang hanya sesaat, semoga kau berhasil, dan satu lagi jangan meminum tetesan embun yang ada di cawan itu," ucap suara itu.


Xiao Zhou menatap sekeliling nya, terlihat kabut mulai terangkat dan menyisakan hanya rerumputan, bibir Xiao Zhou sedikit terbuka melihat keindahan tempat itu, dirinya benar-benar merasa di puncak tertinggi, mata nya dapat melihat segala penjuru dari puncak itu, lumut- lumut tipis menyelimuti batu batu besar, terdapat sebuah aliran air yang begitu jernih, dan hanya terdapat sebuah pohon tanpa daun, dan di bawah pohon itu terdapat dua buah batu yang juga sudah berlumut.


"aku benar-benar merasakan kedamaian di tempat ini," batin Xiao Zhou.


Xiao Zhou duduk di salah satu batu itu, dan menatap sebuah cawan di atas batu yang satu nya.


"aku akan menunggu seseorang di tempat ini," guman Xiao Zhou dan mengambil cawan yang berisi air jernih di dalamnya dan menatap nya untuk sesaat,


tenggorokan nya begitu haus, dan ingin meminum nya, tapi suara itu telah melarang nya, Xiao Zhou duduk bersila meletakkan cawan berisi air itu di hadapan nya dan sesekali menatap ke dalam cawan itu, karena air jernih itu begitu terlihat menggoda.


Xiao Zhou mulai memejamkan matanya, dan mengatur nafasnya, pikiran nya begitu tenang dan damai, dan tanpa terasa Xiao Zhou sudah berhari-hari duduk menunggu orang itu, dan bulan pun berganti.


beberapa bulan sudah berlalu, tiba-tiba saja matanya terbuka, pulau itu bergetar Xiao Zhou mengingat pesan suara orang itu, dan menatap ke langit dan terlihat matahari tepat di atas kepala nya, dan mulai tertutup setengah nya kini bumi di tutupi oleh bayangan bulan membuat nya menjadi remang-remang,


"gerhana matahari mulai terjadi, dalam beberapa detik lagi siang akan menjadi gelap, orang itu akan menemui ku," batin Xiao Zhou dan siang pun menjadi gelap.


mata Xiao Zhou menatap sekeliling, namun tidak menemukan apapun, hanya angin berhembus pelan, Xiao Zhou memejamkan mata dan tidak dapat merasakan seseorang yang mendekat ke puncak gunung itu.


"apa ini? kenapa orang itu berbohong? ini tidak mungkin," batin Xiao Zhou seperti putus asa.


bayangan bulan mulai lewat, dan matahari mulai menunjukkan sedikit demi sedikit cahaya nya.


"ini tidak mungkin, tidak.... aku mohon... seseorang datang lah," teriak Xiao Zhou panik, matanya menatap ke segala arah mencoba mencari seseorang.


Xiao Zhou menghela nafasnya saat menyadari tidak ada seorang pun yang mendekat, tenggorokan nya terasa begitu kering karena berteriak dan mengambil cawan di depan nya dan dengan kesal meminum nya, perlahan.


dan matanya menatap ke dalam cawan itu dan terlihat bayangan gerhana matahari itu samar-samar di air tertelan itu.


"tidakkkkk..... teriak Xiao Zhou menggelar di udara, karena tidak berhasil menemui orang itu, karena di pikiran nya hanya ingin bertemu dengan nya saja.


"keluar lah bedebah.... kau sudah membohongi ku," teriak Xiao Zhou nafas nya masih tersengal, keringat dingin mulai mengucur di keningnya.


Mata Xiao Zhou melebar dan mulai memerah, kedua tangan memegang lehernya, dan bangkit dari duduknya, langkahnya tidak terkendali dan terjatuh.


"aaahhhkkkk... apa yang telah aku minum barusan?," Xiao Zhou berguling-guling, meski tubuh nya kebal terhadap semua macam racun, tapi kali ini Xiao Zhou begitu merasa kesakitan.


tenggorokan nya seperti terbagi dua, di satu sisi terasa terbakar dan di sisi yang lain terasa sakit karena membeku, dan sakit itu terus kebawah dan ke lambung nya, tubuh bagian kanan dan kiri nya merasakan sakit yang berbeda, dan sesekali sakit itu berbalik dari kedua sisi tubuh nya.


teriak dan raungan kesakitan Xiao Zhou terus, menggelegar, kepala nya terasa berat, dan sekeliling nya belum juga terang, matanya mulai terpejam dan pingsan, darah mulai keluar dari sela-sela matanya, dan semua lubang di kepala Xiao Zhou.


dan di saat Xiao Zhou menutup matanya, disisi lain Sang Pembunuh Dewa membuka mata nya, dan terbangun dari tidurnya.


Sang Pembunuh Dewa duduk bersila dan mulai menyerap energi qi dari bawah laut, tingkat kultivasi meningkatkan drastis,


derr...... tiga alam berguncang


kemampuan langit tingkat akhir, level 1


deggggrrrrrr......


kemampuan langit tingkat akhir, level 2


derrr.....


derrr....


derrrr.....


Sang Pembunuh Dewa menyerap energi qi, dan tingkatan kultivasi nya berhenti di kemampuan langit tingkat akhir, level 5 dan hampir menyentuh level 6, sesuatu yang mustahil dilakukan oleh siapapun.


di tempat lain, seorang remaja dengan wajah di selimuti darah yang sudah mengering, merasakan kesakitan yang teramat sangat bahkan saat dirinya tidak sadarkan diri.


keringat mengucur deras dari wajah nya, dantian nya terasa terbakar dan energi qi yang dimiliki nya mulai menguap karena panas, dan dantian remaja itu sedikit demi sedikit menjadi abu.


Sudah tiga hari Sang Pembunuh Dewa bermeditasi dan membuka mata nya, dan alam kembali normal bersamaan dengan mata Xiao Zhou yang juga terbuka dan tersadar dari pingsan nya,


Dengan tubuh lemas dan bermandikan darah, Xiao Zhou melangkah gontai mendekati sumber air jernih itu, dan tergesa-gesa dengan sisa tenaga yang ada segera meminum air di kolam jernih itu, setelah dahaga nya reda, Xiao Zhou berbaring menghadap angkasa, akan tetapi ada yang berbeda dari pandangan nya saat ini, Xiao Zhou dapat melihat bintang terkecil di langit luas itu dengan begitu jelas.


***


di alam langit.


singasana Kaisar Langit bergetar hebat, Kaisar Langit berdiri dan menjauhi singasana nya.


dan seekor Naga Emas yang begitu besar mulai berputar di aula agung, dan bergerak keluar dari istana itu dan berputar-putar di angkasa, semua Dewa ikut keluar dari aula agung dan menatap ke arah Naga Emas itu.


naga Emas berputar-putar di udara, dan tiba-tiba berhenti, dan perlahan merendahkan kepalanya dan menunduk seperti sedang memberikan hormat.


Kepala Kaisar Langit menggeleng, seperti tidak percaya apa yang di lihat nya.


"apa ini? apa di zaman mu pernah terjadi hal seperti ini?" guman Kaisar Langit, dan menatap Penyihir Agung, yang berdiri tidak jauh dari nya. Penyihir Agung yang sekarang menjadi pejabat di istana Langit setelah kembali ke alam langit.


"tidak pernah Yang Mulia, Dewa naga emas hanya tunduk pada sang Naga sembilan," ucap Penyihir Agung.


"apa Naga sembilan? apa ada naga sembilan saat ini?" guman Kaisar Langit.


Penyihir Agung hanya menggeleng, tidak ada senyum khas dari pria tua itu, wajah nya terlihat begitu serius menatap naga emas itu.


"tidak Yang Mulia, itu hanya mitos... hanya mitos," ucap Penyihir Agung, suaranya terdengar serak.


beberapa pengawal datang dan memberikan beberapa gulungan kepada Dewa Pengetahuan, dan Dewa itu mulai membacanya, dan mendekati Kaisar Langit.


"apa yang di ucapkan Penyihir Agung tidaklah salah Yang Mulia, kegelapan selama tiga hari ini bukan lah sesuatu yang wajar, dan saat ini semua Dewa naga yang masih tersisa semua nya keluar, mata-mata hamba baru saja melaporkan jika Dewa naga api neraka terbangun juga, serta melakukan hal yang sama, Naga sembilan apapun namanya dia pasti sudah muncul," ucap Dewa Pengetahuan, sambil menyerahkan beberapa gulungan.


"apa ini tanda jika Sang Pembunuh Dewa sudah terbangun," guman Kaisar Langit.


Wajah Dewa Pengetahuan menunduk, Kaisar Langit hanya mengangguk melihat reaksi dari Dewa Pengetahuan.


"hanya itu kemungkinan paling masuk akal saat ini Yang Mulia," ucap Dewa Pengetahuan.


****