Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
surat mendiang Kaisar


pria bermata merah itu sedang berbincang dengan tetua Zhifu dan tidak lama Xiao Zhou mendekati nya, dan pemuda bermata merah itu seperti menyampaikan sesuatu kepada Xiao Zhou, dan dengan cepat meninggalkan pulau keseimbangan.


"jadi para Shinobi itu sekarang menjadi bawahan mu, tuan muda?" tanya tetua Zhifu.


"mereka yang berkata seperti itu, aku tidak pernah meminta nya, dan kini aku memerintahkan mereka menyebar keseluruhan dataran utama dan memberikan informasi padaku" ucap Xiao Zhou


tetua Zhifu hanya mengangguk, dan keduanya pun berpisah.


dan seseorang yang terlihat begitu letih dan berpakaian lusuh datang mendekati Xiao Zhou, dan Xiao Zhou mengenali pria berpakaian lusuh itu.


"pangeran, akhirnya aku berhasil bertemu dengan mu" ucap pria berpakaian lusuh itu.


***


Xiao Zhou, Puteri Ming Mei dan pria berpakaian lusuh itu sedang duduk di aula keluarga istana ke 15.


Xiao Zhou membaca surat yang tersegel utuh resmi kekaisaran Ming, dan menyerahkan surat itu kepada puteri Ming Mei.


"kepala Kasim apa yang terjadi waktu itu?" tanya Xiao Zhou.


"itu adalah surat yang di tulis mendiang Kaisar, di saat-saat terakhir nya, dan malam itu mendiang Yang Mulia meminta ku menyerahkan hanya pada anda pangeran, hanya pada anda" ucap pria berpakaian lusuh itu dengan mantap.


mata Puteri Ming Mei sedikit melebar, dan meremas surat itu dengan seluruh tenaga nya, dan mulai memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam, dan beberapa saat mulai bicara.


"aku sangat yakin ini tulisan asli ayah ku, dan kata-katanya juga hanya kita yang mengetahui, Yang Mulia menghadiahkan selir nya padamu, hanya ayah ku yang melakukan hal bodoh kepada menantunya yang juga bodoh" ucap Puteri Ming Mei kesal.


"apa kau senang sekarang?" ucap Puteri Ming Mei sambil melipat kedua tangannya di bawah dada nya, dan sorot mata yang marah.


"ehemmm... Hem..." Xiao Zhou dan kepala Kasim terbatuk hampir bersamaan, dan mata keduanya beralih ke tempat lain dan tidak ada satupun yang berani menatap Puteri Ming Mei yang mulai kesal.


"dan dia juga meminta mu membantu putera mahkota yang sekarang sudah menjadi Kaisar, untuk lepas dari pengaruh buruk orang lain, dan ayahku sudah mengetahui bahwa putera mahkota sedang di bawah pengaruh orang lain, dan memaksa nya meracuni ayah nya sendiri" ucap Puteri Ming Mei.


"jadi Kaisar sudah tahu bahwa yang meracuni nya adalah putera mahkota?" guman Xiao Zhou, sesaat setelah kepala Kasim sudah meninggalkan istana nya.


"bagaimana menurut mu?" tanya Xiao Zhou


"aku sebenarnya tidak mau kembali ke kekaisaran itu suami" ucap Puteri Ming Mei.


"hemmm... aku mengerti tapi ini adalah permintaan terakhir dari mertuaku, baiklah aku akan mencoba semampuku, dan kau carilah informasi dari putera mahkota" ucap Xiao Zhou


"jika seperti itu, aku akan ikut tetapi kau harus berjanji suami" ucap Puteri Ming Mei.


"katakan Mei'er!" ucap Xiao Zhou


"kau tidak akan bertarung melebihi kemampuan mu, aku tidak akan memaafkan diriku jika terjadi apa-apa padamu suami, dan aku tidak akan mampu bertemu lagi dengan semua istrimu yang lain jika itu terjadi" ucap Puteri Ming Mei.


"hemmm.... aku mengerti, kita akan mulai dari malam ini, tapi sekarang ada yang aku harus selesai kan terlebih dahulu, aku sudah pernah kehilangan dan tidak untuk kali ini" ucap Xiao Zhou dan melangkah keluar dari istana nya.


"adik Gou dong, Yang Tian, apa kalian sudah siap membunuh? sekarang ikuti aku" teriak Xiao Zhou kencang dan menyelipkan pedang panjang di pinggangnya, dan melangkah cepat menuju ke sebuah gerbang di pulau keseimbangan itu di ikuti oleh seorang pria tinggi besar, dan juga sebuah bayangan hitam juga mengikuti nya.


*****


di kekaisaran Tang.


pasukan pemberontak sudah memasuki istana dan membantai seluruh keluarga Kaisar Tang dan juga para pelayan nya.


seorang wanita berpakaian pengantin sedang duduk di atas ranjang dan memeluk seorang bocah berusia sekitar 13 tahun, di sebuah rumah yang dulunya tempat kediaman Puteri Kim Yun.


"tenanglah putera mahkota, mereka tidak akan menemukan kita di sini" ucap wanita berpakaian pengantin itu yang tidak lain adalah puteri Tang Lien, menenangkan pria kurus di pelukan nya.


pria kecil itu berhenti menangis,


"kakak, aku takut," ucap pria kecil di pelukan Tang Lien, dengan derai air mata yang tidak berhenti.


pria kecil itu mengangguk, dan berusaha mengusap air matanya dengan punggung lengannya, bibirnya sedikit bergetar.


"oohhh... adik kecil ku, maafkan kakak mu ini, aku sama sekali tidak bisa melindungi mu" batin Tang Lien dan menciumi kening adik nya


"maafkan aku kakak, tapi aku benar-benar masih takut" ucap pria kecil itu, tubuh sedikit gemetaran


"baiklah, adikku sekarang biar kakak yang melindungi mu, kau tidak usah takut lagi" ucap Tang Lien


pria kecil itu hanya mengangguk, lengan kurus nya memeluk erat tubuh kakak nya.


"yahhh.... dewa tolong kami" batin Tang Lien.


blaaarrrrr..... pintu itu terbuka dan beberapa orang bertubuh kekar memasuki ruangan itu.


mata Tang Lien melebar, saat melihat beberapa orang itu memasuki kamarnya,


"kalian mau apa?" ucap Puteri Tang Lien dan menarik tubuh pria kecil itu dan membawanya ke belakang tubuh nya, untuk bersembunyi.


"hahaha.... tuan Puteri dan putera mahkota, kami hampir putus asa mencari kalian, dan malam ini kau terlihat sangat cantik dengan pakaian pengantin itu, dan kau sangat tahu apa yang kami inginkan" ucap pria itu dengan senyum penuh nafsu birahi.


"baiklah, kalian para pasukan pemberontak jangan kau pikir aku takut pada kalian" ucap Puteri Tang Lien dan mencabut pedang indah dari pinggang nya, karena tidak ada pilihan lain.


dan mengacungkan kepada para pemberontak,


"hahahah.... kau sebaiknya menyerah, dan kami akan memberikan mu hidup dan menjadi budak nafsu kami" ucap salah satu pemberontak itu.


"cih... kalian menjijikkan, sebaiknya kau bunuh saja aku, walaupun kalian pemberontak, kalian tidak boleh melakukan perkosaan" ucap Puteri Tang Lien.


"hahaha.... kau ternyata tahu aturan perang juga, tapi itu hanya aturan, dan kami adalah pelanggar aturan" ucap orang tadi, sambil tertawa penuh nafsu


"kau bajingan" teriak Puteri Tang Lien, dan mulai menyerang dengan pedang nya,


traannnngggg.....


dan hanya beberapa jurus sebuah pukulan mengenai lambung Puteri dan membuat terlempar di lantai, dan darah mulai keluar dari ujung bibirnya.


"kakak Lien," teriak pemuda kecil itu dan mendekati Puteri Tang Lien.


"biar aku melindungi mu kakak" ucap pria kecil itu dan mencabut pedang kecil nya dan menyerang para pemberontak itu, dan dengan mudah para pemberontak itu melumpuhkan pria kecil itu dan memukuli hingga wajah nya penuh lebam.


para pemberontak itu menutup pintu kamar itu dan membuka pakaian mereka dan mendekati Puteri Tang Lien, dan merobek pakaian pengantin Tang Lien.


"haha... seperti nya kau sudah mempersiapkan pakaian pengantin untuk kami, dan kami akan mengawini malam ini sampai kau puas" ucap salah satu dari pemberontak itu, dan melempar tubuh Tang Lien dengan kasar ke atas ranjang.


"lihat lah tubuh tuan Puteri ini, begitu indah dan halus, aku sudah tidak tahan lagi, bersiap lah pengantin ku... hahaha" ucap pemberontak itu


pakaian Tang Lien sudah robek sebagian besar, dan mencoba melawan dengan sisa tenaga yang dimilikinya, beberapa pukulan di tubuhnya membuat nya tidak bisa meronta lagi, dan mulai pasrah.


para pemberontak mulai menggerayangi tubuh nya dan menciumi bagian-bagian sensitif,


"hemm... Puteri tubuh mu begitu lembut dan halus" ucap pemberontak itu


"hentikan.... kalian benar-benar binatang" ucap Tang Lien dan mulai meronta lagi saat melihat salah satu dari para pemberontak itu mengarahkan benda nya ke arah milik nya.


pria kecil itu hanya menangis, dan begitu marah melihat kejadian di depan matanya, dan menutup mata saat para pemberontak itu mulai menciumi tubuh indah kakak wanita nya


"putera mahkota buka mata mu, dan di masa mendatang jangan pernah menutup mata untuk perbuatan keji seperti ini, jika kau selamat malam ini ingat lah wajah dari para binatang ini, karena setelah ini aku akan mati, jadi balas kan dendam ku" ucap Tang Lien air matanya keluar dan mulai memejamkan matanya.


dan mulai bayangan Xiao Zhou terbayang di pikiran nya.


"maafkan aku suami aku tidak bisa memenuhi janji menunggu mu di tempat ini setahun lagi, aku mohon datang lah suami" guman Puteri Tang Lien.