Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
Kembali nya penghuni alam langit terdahulu.


Yang Mulia sebaiknya anda menemui mereka, Ratu Xhin Ye adalah Ratu Langit zaman dahulu, sebelum kekaisaran langit kita ini, Yang Mulia." ucap Dewa Pengetahuan.


"hemmm... bagaimana kau bisa tahu? dan aku tidak tahu apa tujuan nya datang? tapi baiklah kita akan segera tahu, persilakan tamu itu menghadap ku," ucap Kaisar Langit menatap ke arah dua pengawal itu.


Ratu Xhin Ye dan ketiga ketua klan membungkuk di hadapan Kaisar Langit, dan memperkenalkan dirinya.


"baiklah Ratu Xhin Ye, katakan maksud kedatangan anda?" ucap Kaisar Langit tenang.


Ratu Xhin Ye menggangguk, dan tersenyum tipis,


"aahhh.... istana kalian tampak bagus dan mewah, ini hampir mirip dengan istana ku dulu," ucap Ratu Xhin Ye sambil melangkah melihat melihat sekeliling aula agung itu, dan menatap ke arah Kaisar Langit sambil tersenyum.


Wajah Kaisar Langit sedikit berkeringat, karena belum mengetahui tujuan kedatangan wanita itu, dan juga kecantikan wajah Ratu Xhin Ye begitu membius tempat itu.


"Ratu Xhin Ye apakah anda datang untuk mengambil tempat anda sebagai Ratu Langit terdahulu?" tanya Kaisar Langit, seperti tidak sabaran.


Ratu Xhin Ye hanya tersenyum tipis, dan menggelengkan kepalanya.


"mungkin jika beberapa tahun yang lalu aku keluar dari pulau ku, aku akan melakukan seperti katamu itu, tapi saat ini aku bukan lagi seorang Ratu Langit, aku adalah seorang istri dari penguasa ke 15, jadi Yang Mulia... anda tidak perlu khawatir, aku tidak akan menggangu istana ini, lagipula ini adalah zaman kalian, dan masa ku sudah berlalu," suara Ratu Xhin Ye terhenti, menatap ke tiga ketua klan yang hanya diam.


"tapi Yang Mulia... aku datang ingin meminta satu hal dari anda," ucap Ratu Xhin Ye, tidak ada lagi senyum di wajah dingin itu


"pen-penguasa ke 15?" ucap Kaisar Langit, sedikit gugup.


semua orang yang mengenal Xiao Zhou, kecuali Dewa Kebijaksanaan, begitu terkejut mendengar nama itu, dan tidak percaya jika pemuda itu begitu beruntung mampu menaklukkan wanita secantik dan sepintar itu


"aahhh.... baiklah Ratu Xhin Ye, katakan apa permintaan mu itu, jika aku sanggup aku akan memenuhi nya," ucap Kaisar Langit.


Ratu Xhin Ye mengangguk dan tersenyum tipis, mendengar jawaban dari Kaisar Langit, matanya masih menatap sekeliling tempat itu, wanita itu begitu percaya diri dan bahkan aula agung itu seperti milik nya sendiri, dan para Dewa di tempat itu hanya terlihat seperti para kultivator pemula di hadapan ketua sekte.


"aku ingin meminta kediaman penghuni langit terdahulu, karena kaum kami tidak akan bisa hidup berdampingan dengan manusia, kemampuan kami begitu berbeda dengan manusia, ini akan menjadi bencana jika kami tinggal di alam tengah, tempat kami adalah di alam langit dan kami akan tunduk di bawah kekaisaran anda," ucap Ratu Xhin Ye.


Kaisar Langit mengangguk dan setuju dengan ucapan Ratu Xhin Ye.


"anda benar Ratu Xhin Ye.... baiklah bagaimanapun juga kalian adalah penghuni langit juga, tempat ini juga hak kalian selama kalian datang dengan damai kita bisa hidup berdampingan," ucap Kaisar Langit.


"terimakasih Yang Mulia, aku yakin anda Kaisar yang sangat bijaksana, aku menitipkan rakyat ku padamu, baiklah... tempat ku bukan disini, aku harus kembali ke rumah suami ku, aku mohon diri Yang Mulia," ucap Ratu Xhin Ye.


Semua orang hanya terdiam, bahkan para Dewi di aula agung itu seperti tidak rela jika wanita itu cepat-cepat pergi, mereka masih mengagumi kecantikan wanita itu, yang hanya bisa disandingkan dengan Dewi tercantik sepanjang masa Yun Li Wei.


****


kini kitab nyanyian kematian juga sudah terlepas dari tubuh Xiao Zhou.


"aaaahhhkkkkk..." teriak Xiao Zhou kepalanya terasa pecah saat dirinya kehilangan tehnik pedang itu, darah segar keluar dari hidung nya.


Xiao Zhou kembali melanjutkan langkahnya, berjalan dengan gontai karena rasa sakit yang masih terasa di kepalanya,


Xiao Zhou memejamkan matanya, dan sebutir air matanya keluar bersamaan dengan jatuh nya pedang kematian nya.


sriiiikkkkkk.....


pedang melengkung indah yang selalu menemani nya dalam kesulitan, dan telah merenggut begitu banyak nyawa, kini tergeletak di tanah, lengkap dengan sarung pedang nya.


"aku akan melupakan mu pedang tua," ucap Xiao Zhou dan mulai berdiri dan meninggalkan pedang kematian nya tanpa menatap nya lagi.


Kembali darah segar keluar dari bibirnya dan teriakan tertahan terdengar, Xiao Zhou merasakan sakit di kepala nya, dan duduk di bawah hutan bambu yang mulai gelap.


Suara seruling itu sesekali terdengar, bersamaan dengan hembusan angin menyapu hutan itu, dan hujan pun turun Xiao Zhou yang duduk bersila tidak bergeming, matanya masih terpejam dan bermeditasi.


Pagi datang, kabut tipis masih saja menyelimuti hutan bambu yang di sertai hujan, Xiao Zhou melanjutkan perjalanan nya, matanya tajam nya selalu mengawasi sekeliling di balik rambut basah nya.


Sudah beberapa hari Xiao Zhou menelusuri hutan bambu itu, ingatan nya masih baik, jalan di depan nya kini sedikit menanjak, dan beberapa anak tangga terlihat, tumpukan salju di mana-mana, tidak ada pohon bambu yang terlihat, hanya beberapa pepohonan dengan sedikit daun yang masih bertahan di tempat itu, kabut tipis itu masih menyelimuti sepanjang perjalanan nya.


satu-persatu tehnik bertarung Xiao Zhou telah menghilang, di iringi darah yang selalu keluar dari bibirnya, Naga air nya pun lenyap, dan sekarang bahkan pedang semesta pun ikut terlepas dari tubuh nya.


zreeeebbbb.....


Pedang Semesta tertancap di belakang tubuh Xiao Zhou, Xiao Zhou kembali memejamkan matanya dalam-dalam, dan mengangguk.


"Pedang Semesta kau temui aku saat urusan ku dengan orang itu selesai," ucap Xiao Zhou, tanpa menatap ke belakang, dan kembali melangkah meski sudah terlihat begitu kelelahan.


"baik tuanku," ucap pedang semesta.


Tidak ada lagi perhiasan yang menempel lagi di tubuh nya, dan huruf-huruf suci mulai menghilang satu persatu dari tubuh nya, dan hal ini paling membuat Xiao Zhou kesakitan.


berkali-kali Xiao Zhou harus terjatuh karena merasakan kesakitan yang sangat saat satu persatu ingatan tentang istrinya menghilang.


"aahhh.... aku harus tetap mengingat tujuan ku," guman Xiao Zhou.


****


di bawah pohon persik naga tua, dekat dengan gerbang menuju pulau ke tiga.


seorang wanita duduk, menatap kearah gerbang itu, dan seperti sedang bicara dengan seseorang.


"suami aku sudah bicara dengan Kaisar Langit, dan aku sudah menceritakan semua nya padamu, aahhh... hari ini aku begitu lelah suami, putera kita begitu rewel dan selalu membuat ku tersenyum, nona Huan Zhi mengatakan jika bayi kita begitu mirip dengan mu, hihihi... kau pasti akan menyukai nya," ucap Ratu Xhin Ye, tersenyum tipis.


"bagaimana dengan mu di sana? kenapa kau tidak mengajakku? kau meninggalkan ku di ujung musim gugur yang dingin, suami... tidak tahukah kau, aku begitu kesepian saat ini, aku begitu merindukan mu," ucap Ratu Xhin Ye mulai terisak lagi, air di hidung nya kembali keluar bersamaan dengan air mata nya.


dan tiba-tiba cincin berlian di telunjuk nya melebar, dan terlepas dari jari nya, mata Ratu Xhin Ye terbelalak.


"tidak.... tidak.... suami kau jangan mati, kau tidak boleh mati saat aku tidak ada di dekat mu, katakan kau baik-baik saja," ucap Ratu Xhin Ye dadanya berdebar kencang, dan berusaha memasukkan cincin nya lagi ke semua jari yang ada di tangan nya, tapi usaha nya sia-sia cincin pasangan tidak bisa di pakai lagi.