Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
Kelegaan hati


malam itu Ratu Xhin Ye mengenakan pakaian tidur berwarna hitam, dengan motif bunga tulip berwarna putih, pakaian itu sedikit tipis dengan potongan lebar pada bagian lengannya, dan bagian bawah yang panjang hingga menutupi mata kaki nya, dengan belahan tinggi hingga paha, lengan putih kurus yang di hiasi gelang emas kecil sering terlihat saat Ratu Xhin Ye mengangkat tangan nya.


"bisakah aku tidur di ranjang mu malam ini? bukan, maksud ku benar-benar tidur, aahhh... aku sudah gila, dengar ini tidak seperti yang kau bayangkan, aku bukan wanita seperti itu, aku hanya...


ucapan Ratu Xhin Ye terhenti, tidak dapat menjelaskan keinginan nya hanya ingin tidur saja bersama pemuda itu, tanpa melakukan itu.


"yaaahhh Dewa.... aku begitu malu, entah apa yang di pikirkan pemuda ini tentang ku saat ini," batin Ratu Xhin Ye menunduk.


Xiao Zhou mengerti perasaan Ratu Xhin Ye.


"nyonya Xhin kau adalah istri ku yang sah, jadi sangat wajar kita berbagi ranjang, hari ini kau tampak begitu lelah, mau kah kau beristirahat di tempat ku malam ini?" tanya Xiao Zhou.


Ratu Xhin Ye, terlihat sedikit lega dengan ucapan Xiao Zhou karena mengerti jika dirinya hanya ingin beristirahat dan di temani Xiao Zhou.


"baiklah, jika kau memaksa... aku akan tidur di tempat mu," ucap Ratu Xhin Ye dan meletakkan jari nya dan menelusuri di tepian ranjang Xiao Zhou.


Ratu Xhin Ye duduk di atas ranjang Xiao Zhou dan menggeser tubuhnya ke tengah ranjang, dan menepuk matras di samping nya matanya menatap Xiao Zhou mengisyaratkan agar Xiao Zhou duduk di samping nya.


Xiao Zhou pun duduk di samping Ratu Xhin Ye, tangan Ratu Xhin Ye melambai dan sebuah meja pendek sudah ada di hadapan mereka.


lengkap dengan peralatan minum, dan beberapa makanan kecil.


"maafkan aku sudah memarahi mu setelah malam ritual itu, malam itu aku merasa sangat malu, aku begitu marah dengan diriku sendiri, karena aku menyukai apa yang kau lakukan pada tubuh ku, dan juga aku begitu bingung memikirkan kesetiaan ku pada mendiang suamiku, tapi setelah apa yang kau ucapkan tadi, aku merasa kita dalam posisi yang sama, aku juga tidak berani menyukai mu untuk saat ini, aku sedang menunggu seseorang," ucap Ratu Xhin Ye.


"baiklah nyonya... anda tidak perlu memikirkan nya terlalu dalam, ataupun memaksakan nya, biarkan semua berjalan sewajarnya," ucap Xiao Zhou,


"kenapa... em... kenapa malam itu kau tidak melakukan itu?" tanya Ratu Xhin Ye, wajah nya menunduk dan memerah lagi.


Xiao Zhou mengerutkan keningnya belum mengerti pertanyaan Ratu Xhin Ye.


"saat malam ritual, kau tidak benar-benar masuk, meski kita bersandiwara tentang perasaan kita di depan umum, tapi pernikahan kita adalah sah, aku sebagai istri tidak akan melarang mu jika memasukkan nya," ucap Ratu Xhin Ye gugup, dan sesekali ucapan nya terputus-putus, karena malu matanya sesekali terpejam dan menggigit bibir bawahnya.


"ohhh... itu, dalam hal ini mungkin aku terlihat bertingkah seperti orang suci, seharusnya dalam situasi itu aku benar-benar melakukan nya, tapi seperti itulah prinsip ku nyonya Xhin... aku tidak akan melakukan itu jika wanita itu tidak benar-benar menginginkan diriku." ucap Xiao Zhou.


bibir Ratu Xhin Ye sedikit terbuka mendengar ucapan Xiao Zhou.


"kau benar, malam itu aku masih begitu ragu tentang perasaan ku, bahkan malam ini aku masih seperti bimbang, begitu banyak pikiran di benak ku, tapi hatiku merasa begitu nyaman saat bersama mu, mungkin aku sudah menyukai mu, aku harap kau bisa bersabar sebentar lagi," ucap Ratu Xhin Ye, wajah wanita itu sedikit memelas.


Ratu Xhin Ye menuangkan guci ke dua cawan mungil berwarna putih bersih, dan menatap cawan itu beberapa saat.


"maafkan aku Zhou'er, aku adalah istri yang buruk untuk mu, bahkan aku tidak melakukan kewajiban ku sebagai seorang istri," Ratu Xhin Ye menghentikan ucapannya sesaat,


"dan seharian ini aku mengabulkan permohonan Sang Pengganti untuk menemani satu hari penuh, dia ingin mengetahui bagaimana perasaan ku sebenarnya padaku," ucap Ratu Xhin Ye, wajahnya tertunduk karena merasa begitu menyesal.


"kenapa kau menceritakan ini nyonya?" tanya Xiao Zhou.


"aku tidak bisa menyembunyikan sesuatu seperti ini darimu, jika aku menyembunyikan hal seperti ini itu sama saja jika aku sudah mengkhianati pernikahan kita, dan aku tidak akan pernah melakukan itu," ucap Ratu Xhin Ye.


"aku mengerti nyonya Xhin, dan kau tidak perlu kemana-mana dengan ku," ucap Xiao Zhou tersenyum hambar.


Ratu Xhin Ye menggeleng,


"tidak.... kau harus melakukan nya, aku akan merasa sangat bersalah padamu selama nya," ucap Ratu Xhin Ye bersikeras.


"baiklah jika kau menginginkan itu, kita akan melakukan nya saat kau siap," ucap Xiao Zhou.


Ratu Xhin Ye menggangguk, seperti masih ada sisa-sisa penyesalan di wajah nya.


"apa kau ingat dengan cawan ini?" tanya Ratu Xhin Ye, menyerahkan cawan kepada Xiao Zhou.


Xiao Zhou mengangguk, dan meneguk isi nya,


"namaku Xiao Zhou sekarang aku adalah suami mu," ucap Xiao Zhou mencoba menghibur Ratu Xhin Ye.


"itu tidak lucu," ucap Ratu Xhin Ye, matanya kembali berair mengingat saat mereka menikah dengan sangat sederhana di pinggiran telaga terlarang.


kepala nya rebah di lengan panjang Xiao Zhou,


"apa kau tahu? saat setengah jiwaku terjebak di gerbang pulau ke tiga, aku merasa begitu putus asa, dan aku berjanji jika ada orang yang menolong aku akan mengabulkan apapun permintaan nya padaku, dan jika aku sanggup aku akan memenuhi nya," ucap Ratu Xhin Ye.


"oh itu, aku pernah mendengar dari penjaga pulau nyonya, aku yakin jika orang itu jika seorang laki-laki pasti ingin menikah dengan anda nyonya, karena nyonya sangat cantik," ucap Xiao Zhou dan menuangkan kembali minuman nya.


"benarkah? apa kau sedang merayuku? hihi.... tapi sayang sekali, sekarang aku tidak bisa mengabulkan permintaan seperti itu lagi, karena saat ini aku sudah bersuami, meskipun dia sedikit bodoh dalam memperlakukan istri nya," ucap Ratu Xhin Ye, tersenyum tipis memikirkan Xiao Zhou yang tidak pernah mencoba mendekati nya.


Wajah Ratu Xhin Ye, merona merah dadanya berdebar hebat, saat Xiao Zhou memuji nya untuk pertama kali nya, dan menegakkan tubuhnya serta meneguk isi cawan itu.


"aku Xhin Ye, sekarang aku adalah istri mu," ucap Ratu Xhin Ye, menirukan Xiao Zhou tadi.


"hahaha... itu sama sekali tidak lucu," ucap Xiao Zhou dan keduanya pun tertawa bersama


keduanya saling menatap untuk sesaat, sisa senyum mereka masih terlihat di sudut bibir masing dan wajah Ratu Xhin Ye menunduk, Xiao Zhou juga menunduk kepalanya, kening mereka saling menempel, dan keduanya saling menggoyang-goyangkan kepala mereka seperti anak kecil.


mata mereka saling menatap, sesekali mata Ratu Xhin Ye menatap bibir Xiao Zhou seperti sedang mengundang nya, dan seperti sudah saling menginginkan, kedua tangan Ratu Xhin Ye memegang pipi Xiao Zhou dan mereka berciuman dengan panas, nafas Ratu Xhin Ye mulai memburu, dengan sekali lambaian tangan meja rendah itu pun lenyap beserta semua yang ada di atas nya.


dan tirai renda ranjang itupun ikut tertutup, menyamarkan perbuatan dua insan berlainan jenis itu, yang terlihat sedikit liar, di iringi lenguhan terangsang dari bibir seorang wanita.


aahhhss... emmmssss.... terdengar suara yang keluar di sela-sela ciuman mereka yang panas


keduanya saling memeluk dengan sedikit kasar, kedua paha Ratu Xhin Ye mulai terlihat terangkat dan menjepit pinggang Xiao Zhou, pakaian nya yang longgar melorot ke pangkal pahanya, memperlihatkan bagian cembung yang dilapisi pakaian dalam tipis yang berwarna putih keemasan dan sedikit transparan, tetapi wanita itu sudah tidak mempedulikan nya lagi.


bola mata Ratu Xhin Ye menatap milik nya dan milik Xiao Zhou sudah saling menekan meski di lapisi pakaian yang sangat tipis dan mulai basah, serta sudah tidak lagi menutupi milik nya dengan sempurna.