Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
ch. 70


"berikan putera ku padaku," ucap Xiao Zhou, sambil mengulurkan tangan kirinya.


telapak tangan panjang Xiao Zhou membetuk seperti ingin menggendong anak kecil itu dengan satu tangan.


"apa kau sudah gila? dengan hawa itu aku tidak yakin jika ada yang berani mendekati mu dalam jarak seratus meter, bahkan pembasmi iblis sekalipun," ucap wanita itu, menghempaskan tangan Xiao Zhou dan melangkah menjauhi Xiao Zhou.


mata wanita itu terlihat begitu sinis menatap wajah Xiao Zhou yang masih terlihat dingin.


"kau ingin membawa nya kemana?" tanya Xiao Zhou mengikuti langkah wanita itu.


"bocah kecil... apa kau ingin i-ibu antar pulang?" tanya wanita itu, yang terlihat sudah menguasai keadaan dan tidak terlihat panik seperti di awal.


bocah itu menatap wanita bercadar itu sambil menggeleng,


"ibu aku ingin bermain, aku tidak ingin belajar," ucap putera Ratu Xhin Ye.


"seperti nya anakmu begitu mengikuti perilaku ayah nya," ucap wanita itu menatap kesal ke arah Xiao Zhou.


Xiao Zhou memejamkan matanya dalam-dalam, sambil mengusap kedua telapak tangan nya di wajah nya.


"sudah cukup... kesabaran ku sudah habis, pria kecil apa kau tidak merindukan ayah mu ini," ucap Xiao Zhou berusaha tersenyum.


"dengarkan ayah... kita akan makan enak, jika kau ikut bersama ayah," ucap Xiao Zhou dan membuat sebuah gerbang teleportasi di depan nya.


wanita itu menatap wajah putera Xiao Zhou dan dengan wajah memelas mendekat wajah nya ke telinga wanita itu telapak tangan nya yang mungil di depan bibir nya seperti ingin berbisik.


"ibu, tolong tenangkan ayah, seperti nya dia marah," ucap bocah itu dengan wajah menunduk.


"ibu akan menjagamu, ayah mu tidak akan marah lagi," ucap wanita itu dan masuk ke gerbang teleportasi yang di buat Xiao Zhou.


mereka berada di sebuah halaman rumah dengan sungai sastra masih di gelar, sinar dari tulisan-tulisan keemasan, membuat wajah Xiao Zhou perlahan kembali normal,


putera Xiao Zhou begitu terkagum melihat hal seperti itu, bocah kecil itu turun dari gendongan wanita itu dan berlari di dan menangkap huruf-huruf bersinar itu namun tidak berhasil karena tulisan itu seperti pantulan sinar di udara saja.


"ayah... apa kita akan bermain?" tanya bocah itu, dan menarik jemari ayah nya.


"tentu saja...," ucap Xiao Zhou.


wanita itu yang sudah melihat keceriaan dari bocah itu membuka gerbang teleportasi dan segera meninggalkan tempat itu, namun seseorang sudah menarik jubah nya.


"ibu ikutlah bermain," ucap putera Ratu Xhin Ye


"ibumu sedang ada urusan, bagaimana jika ayah memasak yang enak untuk mu," ucap Xiao Zhou.


bocah itu mengangguk namun tidak melepaskan jubah wanita itu, dan mereka pun makan di lantai kayu rumah panggung itu, sesekali Dewa pengetahuan keluar dengan wajah setengah gila sambil mencatat, dan tidak menghiraukan orang di sekelilingnya.


"ibu... apa ibu tidak makan?" tanya bocah itu.


wanita bercadar itu hanya menggeleng,


"makanlah... aku bisa melihat wajah mu meski kau memakai sepuluh cadar seperti itu," ucap Xiao Zhou berbohong, sebenarnya pemuda itu sama sekali tidak peduli dengan wajah seseorang termasuk wanita bercadar itu.


"iblis bodoh itu melanggar aturan, kau tidak boleh melakukan nya, tapi sudahlah... tidak mungkin aku berharap hal baik dari iblis seperti mu," ucap wanita itu pelan.


bocah itu mengambil sepotong daging dan menyodorkan ke wajah wanita itu,


"ibu... makanlah," ucap bocah itu


wanita itu menerima daging itu dan membuka cadar nya, dan mengigit sedikit daging yang di berikan oleh anak Xiao Zhou.


mata Xiao Zhou dapat melihat hidung indah yang sedikit mendongak ke atas, bibir merah gelap cukup tebal dan begitu sensual serta begitu serasi dengan mata nya, dengan leher yang panjang dan kulit nya yang putih bersih, wanita itu memiliki kecantikan yang begitu berbeda, dan tampak lekuk kedewasaan di wajah itu.


bibir Xiao Zhou sedikit terbuka, matanya dengan cepat beralih menatap tangan nya yang masih memegang sumpit, tidak berani lagi menatap wajah cantik wanita itu.


mata bocah itu menyipit dan mengamati wajah wanita berambut pendek itu, membuat wanita itu sedikit canggung.


"ayah... apa dia ibu ku yang baru? aku tidak pernah melihat nya," ucap bocah itu.


"uhukkkk...." wanita itu terbatuk dan memakai cadar nya lagi.


"baiklah anak nakal, sekarang biarkan ibu mu makan, ayah masih ada urusan dengan teman ayah itu, jadi bermain lah sendiri," ucap Xiao Zhou dan masuk ke dalam ruangan yang cukup tentang.


Xiao Zhou terus mengerakkan kuas nya dan menulis di atas sebuah gulungan kertas, sepasang mata indah mengintip nya dari balik jendela yang sedikit terbuka,


"apa kau senang sekarang?" tanya Xiao Zhou sambil terus menulis.


"ini bukan masalah kesenangan atau apapun di kepala mu itu, ini hanyalah takdir yang harus di jalani," ucap wanita itu dan terdengar suara anak kecil yang menarik wanita itu.


langit mulai gelap Xiao Zhou melambaikan tangan nya dan semua lentera di rumah itu menyala, samar-samar terdengar suara rengekan putera nya, dan kini wanita itu di tarik ke arah ranjang yang ada di depan Xiao Zhou, dan wanita itu mencoba menidurkan anak Ratu Xhin Ye.


"ayah kita tidur," ucap putera nya begitu riang, tampak rambut bocah itu sudah terikat rapi, dan terlihat sudah bersih.


"anak baik cepatlah tidur, ayah mu sedang bekerja," ucap wanita itu.


Xiao Zhou sesekali menatap ke arah ranjang yang tertutupi tirai renda berwarna gelap, dan kini sudah tidak terdengar suara anak-anak, hanya dengkuran pelan dari putera nya.


wajah wanita yang di panggil ibu Ratu itu tampak membeku, saat tangan bocah itu sudah menyentuh gunung nya dari luar pakaian nya, dengan pelan jari-jari panjang nya mencoba menyingkirkan jemari mungil anak Xiao Zhou.


"sebaiknya kau biarkan saja," guman Xiao Zhou pandangan nya masih fokus ke arah gulungan di depannya.


"cih... " hanya itu yang terdengar dari balik cadar wanita itu, nafas nya tampak sedikit lega saat berhasil memindahkan jari-jari di atas gunung nya.


tapi tidak berselang beberapa lama wajah nya kembali membeku, mata wanita itu terbelalak, dan nafas nya kini terdengar memburu, tangan mungil itu kini sudah masuk ke dalam dada wanita itu dan begitu nyaman memegang pucuk dari gunung nya.


"aku sudah memperingatkan mu," ucap Xiao Zhou.


"iblis, aku bisa menebak apa yang ada dalam pikiran yang tanpa kebijaksanaan itu," ucap wanita itu, dan berusaha memejamkan matanya.


"apa aku tidak bisa memindahkan jemari anakmu ini?" tanya wanita itu.


"kau bisa menggunakan kekuatan mu, dan membiusnya agar tertidur nyenyak tanpa bergerak selama setahun, tapi ada baiknya jika kau mencoba merasakan kesulitan yang di hadapi seorang ibu mengurus anak mereka sepanjang hari, tapi sepertinya kau tidak akan mampu nyonya," ucap Xiao Zhou.


"tentu saja aku mampu," ucap wanita itu tidak ingin kalah, dan memejamkan matanya


tidak beberapa keningnya berkerut, dan terdengar seperti ludah tertelan.


"apa setiap anak tidur dengan memegang milik ibunya?" tanya wanita itu yang seperti sudah tidak mampu untuk tertidur.


Xiao Zhou tidak menjawab dan hanya tersenyum tipis, tangan nya masih terus mengerakkan kuas nya.


"bagaimana wanita bisa tidur jika jemari itu terus bergerak?" ucap wanita itu lagi


****