
di istana langit seorang wanita dengan mata yang begitu jernih dan bibir merah merekah, sedang duduk di ruang baca, tampak beberapa buku tebal di depan nya.
"ini sudah aku baca, ini sudah, dan ini juga sudah, aahhhh ini benar-benar membuat ku putus asa, tidak ada satupun cara yang bisa membuat siluman menjadi dewa" guman wanita cantik itu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"pelayan masak lah daging yang banyak buatku hari ini" teriak nya
"tapi Puteri Yun Qixuan, selama ini anda sangat jarang makan daging" ucap pelayan tua yang sudah lama menemani nya.
"bibi... mulai hari ini aku harus terbiasa makan daging, anak-anak ku nanti nya akan pemakan daging semua" teriak Puteri Yun Qixuan lagi semakin kesal.
pelayan tua itu pun berlari ke arah dapur dan memanggil tukang masak istana langit menyiapkan pesanan Puteri Kaisar Langit satu-satunya.
"bocah harimau... apakah kau memiliki banyak istri? baiklah sepertinya iya.. kali ini aku tidak akan menyerah kau lihat saja, hihihi" guman Yun Qixuan senyum nya begitu bahagia.
Puteri Yun Qixuan begitu semangat nya membaca buku, sampai tidak menyadari bahwa ada dua pasang mata sedang mengawasi.
keduanya tampak heran dengan perubahan dari Puteri Yun Qixuan.
.................
di sebuah benteng tua, bagian barat kekaisaran Wang.
terlihat tempat itu berubah drastis, benteng tua itu sekarang sudah menyerupai istana megah, dengan banyak menara pengawas yang sangat banyak dan tinggi.
daerah yang awal nya di kelilingi gurun, kini gurun tersebut sudah berubah menjadi lautan lumpur hitam, tidak ada tumbuhan maupun hewan yang sanggup hidup di daerah itu.
lautan lumpur itu keluar dari pembentukan pasukan bangsa Moin zhu, mereka adalah kaum terendah dari iblis masa lampau, yang terbuat dari lumpur, api dan air.
besar tubuh dan kemampuan mereka pun berbeda-beda sesuai dari apa mereka terbuat.
tampak jalan yang begitu lebar, dan kokoh terbuat dari batu sudah di bangun sedemikian rupa di depan istana itu, jalan itu akan di pergunakan untuk pergerakan pasukan yang jumlahnya akan begitu besar.
" kalian lihat mahluk-mahluk besar itu? ini akan menjadi perang besar, yang mau tidak mau di pikul oleh bangsa manusia" ucap salah satu dari delapan dewa.
" hemmm... kau benar, tapi tugas kita di tempat ini sudah selesai, iblis yang harus kita awasi sudah tidak ada lagi, sebaiknya kita pergi dan melaporkan kepada Yang Mulia Kaisar Langit" ucap dewa yang lain lagi, sambil menggelengkan kepalanya.
sementara di dalam benteng tua itu terlihat dua orang sedang berbincang,
"kakak Rong aku membawa dua kabar sekaligus, yang pertama delapan dewa sudah tidak mengawasi tempat ini lagi, dan kabar kedua adalah kabar buruk" ucap salah satu dari dua orang itu.
"katakan saja adik Jong jangan bertele-tele seperti itu" ucap Lou Rong
"kakak Rong adik ke empat kita Lou zi telah terbunuh di kekaisaran Ming, dan rencana yang di susun nya sudah hancur berantakan" ucap seorang Lou Jong yang merupakan adik dari iblis Lou Rong
"siapa yang membunuh saudara kita adik Jong?" tanya iblis Lou Rong
"dari mata-mata kita, adik zi di bunuh oleh pemuda bernama Xiao Zhou dan teman nya seorang pendeta yang memiliki pagoda hitam" ucap Lou Jong
"Xiao Zhou???, pemuda itu aku sendiri lah yang akan membunuh nya, hihihi" guman Lou Rong
"bagaimana dengan adik ke tiga?" tanya Lou Rong lagi
"adik ketiga saat ini sedang merencanakan menghancurkan dewa penjaga pagoda Guang Du, di perbatasan kekaisaran zarzantium dan kekaisaran tang, dewa itulah yang melemahkan aliansi kita di zarzantium, sehingga tidak pernah berhasil memasuki kekaisaran tang" ucap Lou Jong
..............
di tempat entah berantah,
gerbang teleportasi terbuka, ketiga nya keluar dari lingkaran di bawah kaki mereka, mata Xiao Zhou dan Dewi pemburu itu terbelalak,
"Dewi apa kau yakin bisa berteportasi?" ini hanya dua meter dari tempat kita tadi, kita masih di puncak gunung bersalju ini" teriak Xiao Zhou
"iya ini tempat yang tadi" guman Yang Tian
"diammmmm" teriak Dewi pemburu itu dan mulai memikirkan sesuatu
"ini ulah dari dewa suci Qing Tao, dia telah menyegel arah teleportasi ku, kenapa dia melakukan ini?" teriak Dewi itu
" kenapa wanita selalu bodoh" guman Yang Tian
plakkkk... pukulan keras di kepala Yang Tian cukup membuat nya terbenam di bawah salju.
"jangan bicara seperti itu lagi di depan ku" ucap Dewi pemburu itu menatap wajah Xiao Zhou, sekarang dengan tangan terkepal.
"gleekkk..." suara ludah tertelan dari bibir Xiao Zhou, dan membuang wajahnya ke tempat lain, dan mencoba mengenali daerah itu.
"langit sebentar lagi gelap kita harus mencari desa untuk mengetahui kita sedang berada di mana?" ucap Xiao Zhou mengalihkan pembicaraan dan mencoba membantu Yang Tian
"lakukan apa yang kalian mau, dan jangan mengikutkan aku dalam rencana bodoh kalian" teriak Dewi pemburu itu masih kesal, dan mulai mengeluarkan jurus nya.
asap pekat keluar dari tubuh nya dan asap itu berubah menjadi seekor burung elang. Dewi pemburu itu membisikkan kata-kata, dan burung elang itupun terbang ke udara, terlihat burung elang itu berputar tidak terarah.
"sebentar lagi para dewa pemburu lain akan mencari ku disini, dan kami akan membiarkan kalian mati kedinginan disini berdua" ucap Dewi pemburu itu, terlihat senyum di sudut bibirnya.
Xiao Zhou dan Yang Tian hanya diam melihat kejadian itu, dan mulai melangkah menuruni puncak gunung bersalju itu, dan hanya beberapa langkah mereka berjalan terdengar suara.
bruuuukkkkk.....
burung elang milik Dewi pemburu itu, terjatuh dan kembali mencoba terbang, tetapi naas burung itu selalu menabrak pepohonan dan mendarat di atas salju, hingga akhirnya berubah menjadi asap kembali.
Yang Tian hanya mengangguk, dan tetap dengan wajah tak berdosa nya, sedangkan Xiao Zhou tak bisa menahan tawanya,
"hahaha... apa kau tidak mempunyai burung yang lebih pintar darimu" ucap Xiao Zhou
"plakkkkk..." tubuh Xiao Zhou sudah berada di bawah tumpukan salju
Yang Tian hanya menelan ludah saja,
"plaaakkkk..." tubuh nya kini bertemu dengan tubuh Xiao Zhou
"aku tidak percaya ini, kenapa Dewi busuk ini selalu memukuli ku" ucap Yang Tian.
"aku memukul mu karena tidak suka wajah mu yang bodoh itu" teriak Dewi pemburu itu dan mulai melangkah menuruni puncak gunung.
.........