Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
ch. 58


jauh di Utara di belahan bumi lain nya, di bajauh di Utara di belahan bumi lain nya, di bawah sebuah gunung es, kerajaan yang begitu tua berdiri dengan megah nya, seorang pria berbadan tegap memasuki aula yang tampak lengang, dan diterangi oleh batu-batu kristal.


tirai-tirai panjang yang menempel di dinding kokoh tampak tidak terawat, dan di ujung ruangan itu tampak anak tangga menuju sebuah singasana yang terletak begitu tinggi, yang juga sekeliling nya ditutupi tirai tipis.


"sama persis seperti saat terakhir aku tinggalkan," guman pria itu.


pria dengan kristal merah berbentuk butiran air itu melangkah menuju singasana tinggi itu, melewati pilar-pilar yang begitu tinggi sebagai panopang dari langit-langit yang berukir ornamen berbagai macam, dan berhenti tepat di anak tangga terbawah dan setengah berlutut.


"Yang Mulia ibu ratu... Yang Mulia sudah terjaga rupanya, jendral Wang Riu menghadap," ucap pria berjubah putih dengan motif naga biru itu.


angin berhembus mengerakkan sedikit tirai-tirai tipis penutup singasana tinggi itu.


"jendral ku.... aku sudah terjaga beberapa tahun lalu dari tidur panjang ku," ucap wanita yang di panggil ibu ratu itu.


wah sebuah gunung es, kerajaan yang begitu tua berdiri dengan megah nya, seorang pria berbadan tegap memasuki aula yang tampak lengang, dan diterangi oleh batu-batu kristal.


tirai-tirai panjang yang menempel di dinding kokoh tampak tidak terawat, dan di ujung ruangan itu tampak anak tangga menuju sebuah singasana yang terletak begitu tinggi, yang juga sekeliling nya ditutupi tirai tipis.


"sama persis seperti saat terakhir aku tinggalkan," guman pria itu.


pria dengan kristal merah berbentuk butiran air itu melangkah menuju singasana tinggi itu, melewati pilar-pilar yang begitu tinggi sebagai panopang dari langit-langit yang berukir ornamen berbagai macam, dan berhenti tepat di anak tangga terbawah dan setengah berlutut.


"Yang Mulia ibu ratu... Yang Mulia sudah terjaga rupanya, jendral Wang Riu menghadap," ucap pria berjubah putih dengan motif naga biru itu.


angin berhembus mengerakkan sedikit tirai-tirai tipis penutup singasana tinggi itu.


"jendral ku.... aku sudah terjaga beberapa tahun lalu dari tidur panjang ku," ucap wanita yang di panggil ibu ratu itu.


aku datang untuk meminta petunjuk mu," ucap Dewa Wang Riu.


"hemmm.... aku tidak dapat membantu mu, karena meskipun aku menyuruh mu melupakan wanita itu, kau akan tetap dengan pilihan mu," ucap ibu Ratu.


"maafkan aku ibu Ratu," ucap Wang Riu.


"hahaha.... jendral ku, bahkan seorang jenderal hebat harus takluk di kaki wanita, aahhh... itu adalah takdir mu, tapi kali ini lawan mu tidak mudah, dia adalah pemegang takdir yang awalnya ku coba berikan padamu," ucap ibu Ratu.


"takdir? maafkan aku Yang Mulia ibu Ratu aku sama sekali tidak mengerti," ucap Wang Riu.


"hah... kalian berdua hampir mirip, aku melihat mu dan juga bocah itu tidak memiliki keserakahan dalam kekuasaan, apa kau ingat aku melempar mu kebawah sebuah gunung dengan sebuah bola kristal putih di dalam goa itu?" ucap ibu Ratu.


Wang Riu sedikit mengerutkan keningnya, dan mulai mengingat masa lalu nya.


"aku ingat ibu Ratu, bola kristal itu meminta ku untuk menerima kekuatan nya, aku menerima nya, namun tiba-tiba aku sudah berada di atas sebuah gunung," ucap Wang Riu.


"kau tidak mendapatkan kekuatan dari keponakan ku Dewa Mou Lu, tapi bocah itu menolak kekuatan dari Mou Lu, namun keponakan ku itu memaksa bocah itu, dan menjadikan nya begitu kuat, aaahhh.... aku sama sekali tidak mengerti kenapa dia memilih seorang bocah mesum dan juga bekas pembantai sebagai penerus nya." ucap ibu Ratu.


"aku tidak memerlukan kekuatan Dewa Mou Lu untuk mendapatkan wanita ku Yang Mulia, aku dengar bocah itu bukanlah orang yang picik, jadi kami akan membicarakan ini dengan hati dingin, tanpa pertarungan," ucap Dewa Wang Riu mantap.


dan seorang pria berwajah dingin,dengan seluruh rambut di Gelung begitu rapi ke atas kepala nya dan sebuah pedang melengkung di pinggang tiba-tiba masuk dan berpapasan dengan Wang Riu


"kakak Yuan lama tidak berjumpa," ucap Wang Riu memberi hormat.


"adik Wang, senang bertemu lagi," ucap jendral Yuan, tanpa menatap Wang Riu dan meninggalkan Dewa itu yang keluar dari aula itu.


jendral Yuan Zhou setengah berlutut di hadapan ibu Ratu,


"Yang Mulia ibu Ratu anda sudah membuka mata anda, Dewa mana yang harus aku selesaikan kali ini?" ucap jendral Yuan Zhou begitu lugas.


"hahaha... aku suka caramu yang tidak suka berbasa-basi, dan begitu dingin, bahkan aku tahu kau tidak pernah bermain perasaan terhadap wanita," ucap ibu Ratu.


"aku tidak seperti adik Wang Riu yang mencintai satu wanita begitu dalam Yang Mulia," ucap jendral Yuan Zhou.


"hahaha.... baiklah akan ku ingat kata-kata mu ini, sekarang bantulah jendral Wang Riu dia masih saja begitu naif, aku jadi sedikit penasaran kali ini, sebab mereka sekilas hampir mirip, namun sebenarnya sifat keduanya terhadap wanita begitu berbeda, tapi tugas utama mu adalah pedang itu, kau akan sulit menghadapi nya dalam berpedang," ucap ibu Ratu.


"apa rencana Yang Mulia," tanya Yuan Zhou.


"hemmm....bocah itu adalah kultivator pedang terbaik saat ini dan juga pemegang pedang semesta, aku sama sekali tidak mampu mengukur kekuatan nya, dan itu membuat ku begitu penasaran, bahkan aku tidak yakin jika maha guru pedang Wu Xiang yang memiliki tulang Phoenix sama seperti bocah itu, mampu mengimbangi tehnik nya," ucap wanita itu.


"Yang Mulia... berikan aku kesempatan untuk menghadapi nya, aku tidak akan mengecewakan anda," ucap jendral Yuan.


"aahhh... baiklah, kau masih saja keras kepala, berhati-hatilah, bocah itu benar-benar licik, jangan bertindak terlalu jauh dari misi utama mu, seperti nya kau membutuhkan pedang yang mumpuni untuk mengimbangi pedang semesta bocah itu," ucap ibu Ratu sambil tersenyum.


"Yang Mulia... pedang ku ini sudah lebih dari cukup untuk ku," ucap jendral Yuan Zhou dan mencabut pedang dari pinggang nya.


"prakkkk....."


"prakkkk....."


tiba-tiba bilah pedang itu remuk dan perlahan menjadi abu hanya menyisakan gagang nya saja di tangan jendral Yuan Zhou.


"kau lihat, pedang mu hanya berupa debu di hadapan pedang semesta," ucap ibu Ratu.


kening jendral Yuan Zhou berkerut, begitu kesal pedang kesayangan nya hancur menjadi debu.


"baiklah... dulunya dia adalah Pedang milik maha guru Wu Xiang Feng, meski tidak sekuat pedang semesta tapi pedang api purba memiliki sumber energi sendiri seperti pedang semesta, kau mungkin bisa mengambil nya, tapi untuk menguasai nya dengan sempurna kau membutuhkan energi semesta seperti bocah itu, dan jika kau beruntung pedang semesta mungkin akan memilih mu menjadi tuan nya," ucap ibu Ratu.


"aku pernah mendengar nya, pedang itu adalah sumber panas lautan lava neraka," guman jendral Yuan Zhou.


jendral Yuan berlutut, dan meninggalkan aula itu.


"hemmm... itulah sifat kultivator pedang, ego mereka lebih tajam dari pedang mereka, ini membuat ku sedikit tidak sabar," ucap wanita itu lagi.


***