Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
Kitab pedang bulan


Penyihir Agung mendarat di atas makam itu, dan dengan satu gerakan tangan makan itupun terbuka, dan sebuah peti terbuat dari batu melayang ke udara.


terlihat dari kejauhan para mahluk itu berlari ke arah Penyihir Agung, karena merasakan getaran di tanah.


Penyihir Agung meletakkan peti batu itu di tanah, dan mulai melepaskan tembakan-tembakan sihir nya ke arah para mahluk itu,


"sebaiknya kalian pergi mahluk sialan, aku bukan lah mangsa kalian," ucap Penyihir Agung.


Xiao Zhou mengeluarkan pedang kematian nya dan mulai membantu Penyihir Agung,


"bagus bocah teruslah tebas kan pedang mu!!" ucap Penyihir Agung yang mulai membuka peti batu itu, tanpa membantu Xiao Zhou.


Xiao Zhou terus bertarung menghadapi mayat-mayat itu, kecepatan mahluk itu begitu hebat, mereka seperti binatang buas, yang kelaparan.


tapi bagi Xiao Zhou gerakan mereka terlihat begitu lambat, sehingga dengan sangat mudah bagi dirinya memotong-motong tubuh mahluk itu, tanpa tersentuh sama sekali, tapi mahluk itu dalam beberapa detik kembali utuh dan menyerang dengan lebih ganas.


Penyihir Agung berhasil membuka peti batu itu, tampak sesosok jasad yang sudah hancur, yang hanya menyisakan tulang belulang tidak utuh, dari pakaian nya adalah seorang wanita, karena dapat di lihat pakaian Dewi nya yang masih utuh, dan beberapa perhiasan nya yang masih di kenakan nya.


"benda itu yang mengeluarkan hawa ini," ucap Xiao Zhou sambil menunjuk sebuah kitab yang di peluk oleh pakaian wanita itu.


Penyihir Agung menggerakkan jarinya membuat kitab itu melayang ke udara, dan jasad Dewi itu pun berubah menjadi abu hitam dan menghilang.


Semua mahluk yang menyerang tadi tidak ada yang bergerak, mereka seperti ketakutan dan mulai mundur bersembunyi di balik semak-semak.


tangan Penyihir Agung memegang kitab itu, mata nya sedikit melebar saat kitab itu mengeluarkan asap hitam lagi, dan mulai menghisap tubuh Penyihir Agung.


aaahhhkkkkk.....


suara teriakan Penyihir Agung, daging di wajah nya terlihat menciut terlihat seperti tengkorak berkulit, langkah nya mulai gontai dan tidak terarah.


Xiao Zhou dengan cepat mendekati Penyihir Agung mata nya menghitam pekat, dan menulis huruf suci Dewa kuno, mengarah kan nya ke kitab yang di pegang Penyihir Agung.


Segel itupun menjerit kencang seperti sebuah pekikan nyaring yang memekakkan telinga, pekikan itu cukup lama dan mulai menghilang, dan tubuh Penyihir Agung kembali seperti sedia kala.


terlihat beberapa mahluk mengerikan ikut berubah menjadi asap hitam dan lenyap.


"aaahhhh...." Penyihir Agung mengatur nafas nya dan berusaha mendapatkan kesadaran nya kembali, kini Penyihir tua itu mulai tampak tenang.


"terimakasih anak muda, kau telah menyelamatkan nyawa ku, suatu saat aku akan membantu mu, jika kau kesulitan kelak," ucap Penyihir Agung, yang masih mengatur nafas, dan berusaha tetap berdiri dengan bantuan tongkat panjang dengan kristal hitam di tangan nya.


Penyihir Agung mulai membaca sampul kitab itu, tampak sedikit kekecewaan di wajahnya,


"kenapa benda tidak berguna ini harus di lindungi segel iblis tingkat tinggi, dan mengorbankan generasi dari ketiga klan, ini kitab pedang bulan, dan kita Penyihir tidak memerlukan nya," ucap Penyihir Agung dan melempar kitab itu pada Xiao Zhou.


"segel ini begitu hitam Penyihir Agung, pantas saja ginseng pengetahuan tidak dapat tumbuh di tempat ini, karena tumbuhan itu begitu sensitif" ucap Xiao Zhou, yang membaca ginseng pengetahuan dari kitab yang di berikan Dewa Pengetahuan


***


keduanya kembali kekediaman masing-masing saat pagi datang, dan sore hari nya Xiao Zhou ingin berkunjung ke rumah Yu Jin tua.


hari mulai gelap Xiao Zhou melangkah keluar istana dan seorang wanita sedang menghadangnya.


"suami kau akan pergi kemana?" tanya Ratu Xhin Ye yang melihat malam itu penampilan sedikit rapi, matanya tidak menatap Xiao Zhou, dan tampak sedikit acuh.


"aku hanya ingin berkunjung ke rumah ayah angkat," ucap Xiao Zhou.


"hemmm....," bola mata jernih Ratu Xhin Ye sedikit berputar,


Xiao Zhou mengangguk,


"tapi tunggu istri apa kau ingin datang ke rumah mertua mu sebagai penguasa?" tanya Xiao Zhou.


Ratu Xhin Ye tersenyum, terlihat gigi pinggir nya yang kecil dan Agak runcing membuat senyum itu begitu menggoda.


"hihihi... kau benar," ucap Ratu Xhin Ye dan melambaikan tangan membuat rambut nya terurai dan pakaian nya juga tidak menggunakan pakaian Ratu nya lagi.


"apa kau puas?" tanya Ratu Xhin Ye, berputar di hadapan Xiao Zhou, sambil kedua tangannya memegang jubah nya


Xiao Zhou mengangguk dan kedua melangkah tapi Ratu Xhin Ye sedikit menjaga jarak dengan Xiao Zhou.


"kau sedikit berbeda Ye'er, kau seperti menjauhi ku," ucap Xiao Zhou.


"benarkah? hihi... tidak, aku hanya sedang banyak pikiran saja," ucap Ratu Xhin Ye berbohong, dirinya hanya sedikit risih berjalan dengan pemuda yang jauh lebih muda dari nya, meski Ratu Xhin Ye terlihat begitu cantik dengan tubuh yang indah, tapi tetap saja tampak terlihat sedikit dewasa di bandingkan dengan Xiao Zhou yang kini terlihat seperti seorang remaja tanggung, meski tubuh nya begitu tinggi.


jalanan terlihat ramai dan di terangi ribuan lentera berwana warni, karena adanya festival akhir tahun, mereka berdua terlihat begitu senang menatap iring-iringan orang menari-nari di jalanan dengan topeng berbagai jenis, di iringi musik.


keduanya bersandar di tembok salah satu bangunan penduduk di pinggir jalan, Ratu Xhin Ye menatap senyum indah wajah Xiao Zhou yang menatap kemeriahan itu.


"mata dan wajah nya bisa di bilang sedikit lebih kecil jika di bandingkan dengan pria pada umumnya, sangat menggemaskan,," batin Ratu Xhin Ye dan memalingkan wajahnya saat Xiao Zhou tiba-tiba menatap nya.


Xiao Zhou menatap beberapa orang pemuda yang ikut parade memandangi wajah cantik Ratu Xhin Ye, membuat Xiao Zhou kesal.


Xiao Zhou berdiri di depan Ratu Xhin Ye dan menatap wajah nya, tubuh mereka hampir menempel, Ratu Xhin Ye tidak dapat bergerak karena tembok di belakang punggung nya.


"suami apa yang kau lakukan? kau menghalangi ku," ucap Ratu Xhin Ye, sedikit malu wajah nya di tatap Xiao Zhou.


"pemuda-pemuda itu menatap mu Ye'er, aku tidak suka caranya menatap mu," ucap Xiao Zhou.


"hah? apa kau cemburu?" tanya Ratu Xhin Ye bergurau.


Xiao Zhou mengangguk,


"iya... aku cemburu Ye'er," ucap Xiao Zhou bersungguh-sungguh.


Ratu Xhin Ye menundukkan wajahnya dadanya berdebar hebat, tidak menyangka candaan nya mendapat jawaban yang di luar perkiraan nya.


"apa pemuda itu sudah pergi?" tanya Ratu Xhin Ye mencair kan situasi kaku itu.


Xiao Zhou hanya mengangguk, dan melangkah ke kesamping Ratu Xhin Ye, tetapi tangan Ratu Xhin Ye memegang pinggang pemuda itu.


"tetap lah seperti itu, aku menyukai nya," ucap Ratu Xhin Ye wajahnya masih menunduk malu.


jemari Xiao Zhou mengangkat sedikit dagu dari Ratu Xhin Ye, dan sedikit memiringkan wajahnya mendekati wajah Ratu Xhin Ye.


Ratu Xhin Ye sedikit terkejut karena mereka berada di tempat keramaian, dadanya berdegup kencang, dan perlahan sorot mata wanita itu begitu sendu bibir nya sedikit terbuka dan bersiap menerima bibir Xiao Zhou.


Ratu Xhin Ye menjijitkan sedikit kaki nya, dan kedua bibir itu saling bertemu, mereka berciuman begitu lembut dan pelan, tidak panas seperti yang biasa mereka lakukan, kedua nya memejamkan mata mereka dan membiarkan hati mereka merasakan satu sama lain lewat ciuman lembut dengan bibir basah mereka.


cukup lama kedua melakukan itu, dan tidak mempedulikan orang-orang yang menatap mereka, dan kedua berlarian dengan bergandengan tangan diiringi tawa riang, saat beberapa orang menyoraki mereka, karena tidak ada yang berani melakukan itu di depan umum.


"yang tadi itu sangat menegangkan suami, aku sedikit itu," ucap Ratu Xhin Ye tidak berani menyebut kata bergairah, dan merasakan basah di bagian itu.