
malam itu Xiao Zhou kembali terbangun dengan keringat dingin.
"mimpi yang sama lagi" guman Xiao Zhou, keluar kamar nya mencari udara segar.
dan terdengar lagi tawa para lelaki yang sedang menikmati malam, dengan minuman mereka.
"hemm... mereka tidak ada bosan nya" batin Xiao Zhou dan melompat dari balkon nya, matanya menatap seorang wanita sedang duduk termenung di balai kecil beratap yang terletak di taman tempat pesta tadi siang. tampak tangan nya sedang meraba sebuah benda di pangkuan nya.
Xiao Zhou mendekati wanita cantik itu.
"apa aku mengganggu mu?" tanya Xiao Zhou
wanita cantik itu terkaget dan melepas benda di pangkuan nya, benda itu adalah sebuah pakaian yang hampir mirip dengan yang di gunakan para mempelai wanita pagi tadi.
"duduklah zhou'er, aku menunggu mu," ucap wanita cantik itu yang tidak lain adalah Puteri Tang Lien.
ilustrasi Tang Lien
Xiao Zhou mengangguk, dan duduk di samping Tang Lien sambil menatap ke udara malam itu.
"apa kau menyukai tempat ini Puteri?" tanya Xiao Zhou.
"aku sangat suka tempat ini, tapi sayang besok aku harus kembali ke kekaisaran Tang, dan sebelum aku pergi ada yang ingin ku bicarakan dengan mu" ucap Tang Lien.
"hemmm..." hanya itu yang terdengar dari bibir Xiao Zhou.
bibir Tang Lien sedikit terbuka ingin bicara tetapi seperti tercekat, seperti sulit memulai dari mana.
"setelah kau pergi meninggalkan kekaisaran Tang, aku begitu kesepian dan sangat merindukan mu, saat itulah Hua Ming datang, dan selalu menghibur ku, dia selalu menemani ku dan membuat ku dapat melupakan kerinduanku padamu.
berkali kali Hua Ming menyatakan cintanya padaku selalu aku tolak, tetapi semua orang di dekat ku mempengaruhi ku, membuat ku goyah, dan aku menerima cinta Hua Ming, itulah yang sangat ku sesali sampai saat ini" ucap Puteri Tang Lien.
"sudahlah Puteri, semua sudah berlalu kita lupakan saja" ucap Xiao Zhou mencoba menenangkan Puteri Tang Lien.
Puteri Tang Lien menggelengkan kepalanya, air matanya menetes.
"tidak... aku tidak bisa, hari ini aku melihat mu menikahi para wanita itu, membuat ku begitu iri, harusnya hari ini aku juga berbahagia seperti mereka bersamamu, tapi karena tindakan ku sendiri aku harus kehilangan mu selamanya, ini penyesalan terbesar dalam hidupku Zhou'er" ucap Tang Lien dan mulai menangis sejadi-jadinya.
"maafkan aku Puteri aku sudah membunuh kekasih mu itu" ucap Xiao Zhou
"bukan itu maksudku bocah bodoh, aku tidak sedih karena kematian manusia keji itu, bagaimana kau bisa mempunyai banyak istri dengan sikap bodoh mu ini dalam menghadapi wanita?" sengit Tang Lien sambil mengusap air mata, dan air yang keluar dari hidung nya.
bibir Xiao Zhou terbuka kesal mendengar ucapan Tang Lien, dan ingin membalas ucapan itu, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar karena kasihan melihat wanita itu menangis.
"Zhou'er, maukah kau berjanji padaku?" tanya Tang Lien
"berjanji?" ucap Xiao Zhou
"jika lima tahun lagi aku tidak menikah, maukah kau memberikan aku kesempatan kedua untuk hidup di sisimu?" tanya Tang Lien, tangan nya menggenggam erat tangan Xiao Zhou.
"maafkan kebodohan ku saat melepaskan mu Zhou'er, selama hidup aku selalu hidup mengikuti apa yang dikatakan orang kepada ku, aku tidak pernah memiliki pendirian ku sendiri, tapi saat ini aku tahu dengan sangat yakin jika hatiku hanya hanya kau lah pemilik nya" ucap Tang Lien kembali menangis.
"tolong katakan kau mau berjanji" ucap nya lagi.
"maafkan aku Puteri, aku tidak bisa menjanjikan apa-apa" ucap Xiao Zhou.
Puteri Tang Lien mengangguk.
"baiklah Zhou'er aku mengerti, aku tidak akan memaksa mu lagi, tapi agar kau tahu, setelah lima tahun dari sekarang, aku akan setiap pagi akan selalu menggunakan pakaian ini, dan menunggu di gerbang yang kau buat, di kekaisaran Tang" ucap Tang Lien sambil menunjukan pakaian yang ada di pangkuan nya.
"pakaian apa itu Puteri?" tanya Xiao Zhou sambil menyipitkan matanya menatap pakaian yang di pegang Puteri Tang Lien.
"ini adalah pakaian pengantinku, aku akan menunggu mu sampai aku mati, dan aku akan mati dengan pakaian pengantin ini" ucap Puteri Tang Lien dengan bibir bergetar.
dan keesokan harinya Puteri Tang Lien berpamitan dengan semua penghuni istana ke 15, di iringi dengan air mata nya.
beberapa hari setelah pernikahan, di kota huangdong, kota yang selalu ramai, walaupun sedang terjadi kekacauan di berbagai wilayah, kota ini hampir tidak terpengaruh oleh situasi itu.
dua orang muda mudi yang tidak lain adalah Lun Zhing yue dan Huang Lang sedang duduk menikmati makan siang mereka, di lantai dua sebuah rumah makan mewah, sampai seorang pria tampan dengan sebuah kipas putih di tangan nya, tersenyum ke arah Lun Zhing yue.
"kalian berdua membuat ku iri" ucap pemuda tampan itu.
"aahhh... kakak Zhu kapan kau datang" ucap Lun Zhing yue sambil tersenyum.
Huang Lang hanya mengangguk, mata nya terlihat tidak menyukai pemuda yang baru datang itu.
"aku sudah beberapa hari ini tiba di kota ini, bagaimana kabar mu adik Lun, apa kau merindukanku?" ucap pemuda yang di panggil kakak Zhu itu, membuat Lun Zhing yue hanya tersenyum, karena sudah mengetahui karakter pemuda itu.
"uhukkkkk..." Huang Lang terbatuk mendengar ucapan pemuda itu.
"hahaha... saudara Huang, kau masih saja seperti dulu, bagaimana kabar ibu mu yang cantik?" tanya pemuda itu lagi.
praaannnkkkk.... cawan yang di pegang Huang Lang pun hancur di genggaman nya.
"sebaiknya jaga ucapan mu Wang Zhu, jangan kau sebut wanita itu adalah ibuku, dia bukan ibuku" ucap Huang Lang kesal.
"oooohhh... hahahah.... baiklah saudara huang, kau tidak harus bereaksi berlebihan seperti itu" ucap Wang Zhu sambil terkekeh.
"kalian berdua hentikan, kalian mengganggu selera makan ku" ucap Lun Zhing yue kesal.
****
tidak jauh dari tempat Lun Zhing yue makan,
dua orang pemuda berusia sekitar 25 tahun menghajar seorang remaja, di jalanan kota huangdong.
semua orang hanya menatap tidak berani melerai mereka, sampai seorang pria tua berlari mendekati tubuh remaja yang tergeletak di tanah dengan pakaian kotor penuh noda lumpur.
" tuan muda tolong berhenti, ampuni anakku ini" ucap pria tua itu, sambil berlutut.
"hahaha... kau orang tua, kau tidak usah ikut campur hari ini kau akan melihat sendiri anakmu akan kami bunuh" ucap pria bertubuh gemuk dengan perut menyembul keluar.
tangan nya menarik pakaian orang tua itu dan mendorong nya sehingga terlempar beberapa meter kebelakang.
"dan kau bocah tengik, kau berani sekali mengganggu kakak wanita kami" ucap orang itu lagi.
remaja itu berusaha berdiri, sambil mengusap wajah nya yang penuh lumpur.
"apa kau sewaktu muda sejelek ini Dewa Lou yi" bisik remaja itu yang tidak lain adalah Xiao Zhou.
"waktu itu aku lah dewa paling menarik, bahkan adik Yun istri mu itu sering tersenyum padaku" bisik Lou yi sambil mengingat masa lalu nya.
dewa kebijaksanaan yang terlihat lebih tampan dan tinggi hanya mengangguk,
" baiklah bocah kurang ajar saat nya memberi mu sedikit pelajaran," ucap dewa kebijaksanaan, mengikuti drama yang di ajarkan dewa Lou yi.
bukkk... pukulan mengenai perut Xiao Zhou yang membuat nya terlempar, pedang di tangan kiri dewa kebijaksanaan pun terjatuh.
"apa yang kau lakukan saudara Li, seorang kultivator tidak boleh menjatuhkan pedang nya" bisik Lou yi kesal karena dewa kebijaksanaan sangat tidak bisa bersandiwara.
"maaf saudara Lou, aku tidak bisa menggunakan pedang, aku hanya menguasai roda kebijaksanaan saja, apa aku harus mengeluarkan nya?" tanya Dewa kebijaksanaan.
"dasar amatiran, apa kau ingin menghancurkan kota huangdong, dengan mengeluarkan pusaka mu itu, dan bahkan dewa terlemah pun akan mengetahui keberadaan kita disini, apa kau ingin pilar langit Huang Fu tahu kita ada di markas nya" ucap Lou yi kesal.
dewa pengetahuan kembali berlutut dihadapan dewa Lou yi.
"apa kau yakin dengan rencana mu ini saudara Lou?" tanya dewa pengetahuan yang menyamar sebagai ayah Xiao Zhou.
"aku sangat yakin, lihatlah sebentar lagi ikan itu akan memakan umpan kita" ucap dewa Lou yi pelan.
Xiao Zhou berusaha bangkit, kristal biru wajah nya sudah di tutup nya, dan akibatnya dirinya hanya seperti manusia biasa, walaupun kulit nya masih sekuat seperti biasa nya.