PUTRA SANG PENGUASA

PUTRA SANG PENGUASA
Episode 86 "Membeli Mansion"


Hancurnya klan Liao membuat kota benteng besi itu gempar, berita menyebar tentang bagaimana sebuah kelompok kecil bisa menghancurkan sebuah klan besar yang ditakuti di kota benteng besi itu, membuat orang-orang menelan ludahnya sendiri. Orang-orang penasaran siapakah kelompok kecil itu sebenarnya? Dan bagaimana dia bisa begitu berani meratakan sebuah klan besar itu?.


Hancurnya klan Liao ini pastinya akan mempengaruhi keseimbangan kekuatan dikota benteng besi ini, dan secara tidak langsung juga telah mempengaruhi pondasi kekaisaran. Pasalnya adalah karena kaisar Long Tian lah yang menempatkan lima keluarga besar dengan kekuatan yang tak bisa dipandang remeh. Dan satu diantara lima klan besar itu telah hancur tanpa sisa tentunya ini adalah penghinaan dan kejahatan yang serius bagi kekaisaran.


Pada saat ini di posisi Tang Lian , dia sedang berjalan ditengah kota setelah dia menghancurkan klan Liao, kemudian tanpa sengaja kelompok Tang Lian lewat dari sebuah mansion yang lumayan besar dan digerbang itu tertulis dijual.


"Waktu yang tepat sekali!!." Tang Lian bergumam dengan senang.


"Suami, apanya yang tepat?." Jia Li bertanya dengan bingung.


"Lihatlah, sepertinya mansion cocok untuk kita tinggali..." Tang Lian berkata seraya menunjuk kearah mansion itu.


"Apa kamu mau membelinya suami?." Jia Li bertanya lagi.


"Benar, akan sangat merepotkan jika kita harus tinggal disebuah penginapan dalam waktu yang sedikit lama, lagi pula itu akan terlalu boros..."


"Tapi suami, bukankah ini terlalu besar? Dan lagi tinggal disini untuk apa? Bukannya kita akan menuju kekaisaran Zhang?." Jia Li bertanya lagi karena semakin bingung.


"Besar dari mananya? Li'er apa kamu tidak sadar kalau kita telah menambah keluarga baru?." Tang Lian berkata seraya melirik Wu Sue yang dipapah oleh adiknya Wu Min.


"Keluarga baru?." Jia Li bergumam seraya melirik juga kearah Wu Sue.


"Aaahh.... Sial, aku tidak paham sama sekali!! Ayolah suamiku, jangan membuatku semakin bingung..." Jia Li berkata seraya membuat ekspresi imut.


Melihat itu Tang Lian hanya terkekeh pelan, Tang Lian berpikir jika sekarang ini mereka sedang berada dikamar maka pasti dia akan memakan istrinya ini, karena pada saat ini saja, dengan ekspresi se imut itu sulit bagi Tang Lian untuk tidak menciumnya.


'Cup'


"Nanti juga kamu akan tahu.." Tang Lian berkata setelah dia mencium keningnya.


"Hmph... Sok misterius sekali!!." Jia Li mencibir dan melipat tangannya di dadanya.


Tang Lian yang melihat itu hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya kemudian berbalik dan masuk kedalam mansion itu. Sedangkan disisi Yun Mei dia hanya tersenyum seraya membatin 'Andaikan bisa seperti ini selamanya maka akan sangat bagus'.


Disisi Wu Sue yang sedang dipapah oleh Wu Min adiknya, dia menatap Tang Lian dengan tatapan memusuhi seraya membatin 'Semua pria yang aku temui sama saja. Dengan semena-mena dia mengklaim aku adalah miliknya, memangnya siapa dia? Mentang-mentang sudah menyelamatkan kami dari keluarga Liao lalu dia berpikir bisa berbuat seenaknya? Dasar tidak tau malu!!'.


Adalah sebuah kewajaran jika Wu Sue berpikiran seperti itu karena memang banyak orang-orang kuat yang sombong dengan kekuatan yang dimilikinya seolah-olah dia sudah berdiri dipuncak kultivasi, ditambah lagi Wu Sue telah mendapat perlakuan yang tidak baik dikeluarga Liao tentunya kebencian terhadap pria tertanam dalam hatinya.


Tang Lian tentu saja tahu apa yang ada dipikan Wu Sue, namun dia hanya akan diam selama Wu Sue tidak bertindak kurang ajar pada Tang Lian. Tang Lian adalah putra dari seorang putra dari seorang penguasa yang ditakuti oleh hampir seluruh alam semesta, tentunya harga diri yang tinggi dan kesombongan juga dimiliki olehnya.


Tang Lian tidak ada bedanya dari para pemuda yang terlahir di keluarga bangsawan ataupun pangeran sombong pada umumnya, namun yang membedakan adalah Tang Lian memiliki rasa simpati yang besar dan mengalahkan semua sifat sombongnya, dan dia tahu kapan harus bersikap sombong dan kapan harus bersikap baik.


Kemudian pada saat ini Tang Lian telah sampai dihalaman depan mansion itu dan terlihat seorang anak kecil berusia sekitar tujuh tahun sedang menyapu dedaunan yang berserakan dihalam itu.


"Permisi nak, kami ingin membeli mansion ini bisakah kamu mengantarkan kami pada pemiliknya?." Walaupun itu hanya seorang anak kecil Tang Lian tetap bertanya dengan sopan.


"Selamat datang di mansionku tuan, aku adalah pemilik mansion ini." Anak kecil itu menjawab dengan sopan juga.


"Jika begitu, dimana orang tuamu nak? Mengapa tidak mendampingimu untuk menjual ini?." Tang Lian bertanya dengan penasaran karena tampilan anak kecil itu sungguh menyedihkan dan pakaian yang sebenarnya sudah tidak layak pakai.


"Tuan, orang tuaku sedang sibuk jadi tidak bisa mendampingiku.." Anak laki-laki kecil itu menjawab dengan bohong dan terdapat jejak kesedihan dimatanya.


"Tentu saja tuan..."


Setelah itu Tang Lian dan kelompoknya pun dibawa berkeliling diseluruh mansion. Anak kecil itu dengan sopan menunjukkan dan menjelaskan seluruh mansion itu dan berharap Tang Lian akan membelinya. Dimata anak itu terdapat jejak kekhawatiran yang besar karena takut Tang Lian tidak jadi membeli mansion itu. Karena mansion ini juga sudah beberapa orang yang sama seperti Tang Lian datang untuk melihat namun tidak jadi membeli karena mansion ini tampak kurang terurus.


"Tuan, ini sudah hampir malam, aku juga tidak bisa berlama-lama disini, aku tahu mansion ini terlihat sudah tua dan tidak terurus, namun jika tuan tidak jadi membeli juga tidak apa-apa.." Anak kecil itu berkata dengan tidak berdaya dan harapannya juga sudah pupus karena sedari tadi Tang Lian juga tidak menunjukkan reaksi tertarik sama sekali.


Disisi Wu Sue dia tidak ikut berkeliling karena tubuhnya lemah dan terdapat luka memar di beberapa bagian tubuhnya sehingga dia hanya bisa duduk dibawah pohon halaman depan bersama adiknya.


"Siapa bilang aku tidak jadi membelinya? Nak sebutkan saja berapa harganya dan aku akan membelinya.." Tang Lian berkata seraya tersenyum.


"Sepuluh juta koin emas tuan.." Anak kecil itu menyebutkan harga dengan mata berbinar.


"Apa!?." Tang Lian dan yang lainnya terkejut serempak.


"Ap-apakah terlalu mahal? Jika begitu akan menjualnya lima juta koin emas saja.." Anak kecil itu mengurangi harga karena dia sangat berharap Tang Lian akan membelinya.


Tang Lian dan yang lainnya seperti ingin muntah darah mendengar anak kecil itu mengurangi harga lagi.


"Nak, kamu menjualnya terlalu murah.." Tang Lian yang baru saja tersadar dari keterkejutannya berkata.


"......."


Anak itu terdiam dan tidak mengatakan apa-apa, karena dia juga bingung.


"Begini saja, ini aku akan membelinya seharga dua puluh juta koin emas..." Tang Lian berkata seraya menyerahkan sebuah cincin penyimpanan yang berisi tiga puluh juta koin emas.


"Ap-apakah anda serius tuan?." Anak kecil itu bertanya lagi dengan mata yang semakin berbinar seraya menerima cincin itu.


"Tentu saja, aku juga sudah menambahkan lima juta koin emas lagi agar kamu dapat membeli pakaian baru..."


"Terima kasih tuan, terimakasih..." Anak itu berkata dengan sangat senang dan ingin bersujud namun Tang Lian menhentikannya.


"Nak, jangan bersujud kepada siapapun selain orang tuamu paham?." Tang Lian berkata seraya berlutut agar sejajar dengan anak itu.


"Baik tuan, sekali lagi terimakasih banyak.."


"Sudahlah, kamu berkata ingin pulang kan?."


"Ah aku hampir lupa, ibu membutuhkan obat!!." Anak kecil itu tersadar lalu kemudian berlari dengan cepat.


Mendengar anak kecil itu bergumam ibunya membutuhkan obat, membuat Tang Lian semakin penasaran apa yang sebenarnya anak itu sedang alami.


"Lao Hu, ikuti anak itu dan lindungilah dia dari balik bayang-bayang dan laporkan padaku apapun yang kau ketahui tentang anak itu nanti..." Tang Lian memberikan perintah


"Baik tuan..." Lao Hu menjawab dan langsung menghilang seperti angin lewat.


Alasan Tang Lian menyuruh Lao Hu adalah karena dengan tubuh kucing hitamnya itu dia bisa dengan mudah menyusup kemanapun tanpa harus takut akan kecurigaan orang.


***BERSAMBUNG***