PUTRA SANG PENGUASA

PUTRA SANG PENGUASA
Episode 213 "Nafsu Yang Tak Kunjung Mereda.. "


Malam itu, dipenuhi oleh erangan-erangan cabul Wu Sue dan Tang Lian. Memang pertama kalinya Wu Sue merasakan sakit luar biasa karena besarnya adik kecil Tang Lian.


Namun setelah itu, Wu Sue merasakan kenikmatan yang tiada tara. Jika bukan karena Tang Lian akan pergi, Wu Sue sudah pasti akan meminta melakukan ini setiap malam, atau bahkan setiap kali ada kesempatan. Ia sudah gila dan candu akan kenikmatan yang diberikan oleh Tang Lian.


Entah sudah sudah berapa kali Wu Sue mencapai puncak ia tidak tahu, mungkin sudah belasan kali? Atau mungkin sudah puluhan kali? Tapi yang pasti, Tang Lian sudah keluar lima kali.


Saat ini Tang Lian sedang memeluk Wu Sue seraya berbaring, ia menatap wajah bahagia Wu Sue. Wanita itu terlihat sangat kelelahan, sekarang ia berada diantara sadar dan tidak sadar. Kenikmatan malam ini, tidak akan pernah ia lupakan.


"Terimakasih.." Ucap Tang Lian lembut dan mencium lembut pucuk kepala Wu Sue. Wu Sue mendengar itu mengangguk lemah.


"Kuharap benih bayiku bisa tumbuh dengan baik.. " Ucap Tang Lian, dan lagi-lagi Wu Sue mengangguk lemah. Ia terlalu lelah dan malas untuk berbicara, namun ekspresi nya terlihat sangat bahagia.


Kurang dari lima menit, Wu Sue sudah tertidur dengan lelap. Menatap wajah bahagia Wu Sue yang tertidur, membuat Tang Lian tidak ingin mengganggunya.


Tang Lian ingin bangun, namun ia baru sadar jika tangan kanan Wu Sue masih menggenggam adik kecilnya di bawah. Tang Lian menghela nafas, pantas saja dari tadi adik kecilnya tidak mau tidur kembali, rupanya Wu Sue masih menggenggamnya.


Nafsu Tang Lian pun kembali memuncak, tapi ia menahannya karena Wu Sue sudah tertidur. Perlahan ia melepaskan tangan indah Wu Sue, setelah itu ia memakai pakaiannya kembali dan meninggalkan Wu Sue yang tidur tanpa busana. Hanya selimut merah yang menutupinya.


"Sial! Kenapa aku masih menginginkannya!?.." Tang Lian mengumpat kesal karena nafsunya tidak kunjung mereda.


Adik kecilnya terus saja berontak menginginkan lembah keramat seorang wanita.


Tang Lian berpikir akan menemui Jia Li dan melakukannya dengan istri keduanya itu. Tapi pada saat berjalan, ia menemukan Fei Fei yang masih terjaga di halaman belakang. Lantas pikiran cabul langsung memenuhi otaknya.


"Janda cantik itu sudah tidak perawan, bagaimana ya rasanya? Apakah masih sempit? Hehehe..." Tang Lian bergumam dan tersenyum cabul.


Lihatlah sekarang, setelah ia lepas hubungan dari keluarga aslinya, ia semakin cabul dan tidak bisa menahan diri. Tang Lian seolah-olah telah berubah menjadi predator wanita. Apa lagi kalau wanita itu cantik, Tang Lian pasti akan langsung menggonikannya tanpa pikir panjang. Setiap wanita cantik di dunia ini, hanyalah miliknya! Pikirnya.


Fei Fei terlihat melamun, ia sedang memikirkan sesuatu. Tadi ia ingin bicara dengan Wu Sue, tapi tidak jadi karena mendengar erangan cabul dari dalam. Ia pun sempat mengintip sebentar, alhasil sekarang ia menginginkan itu juga. Dan itulah yang ia lamunkan.


Sebentar lagi Tang Lian akan pergi, janda itu ingin meminta hubungan badan dengan Tang Lian, tapi ia terlalu malu. Bagaimana jika pria itu tidak mau karena ia sudah tidak perawan? Pikiran seperti itu membuatnya ragu untuk meminta.


Tapi jika tidak, ia mungkin tidak akan merasakan itu lagi. Ia sudah tidak melakukan itu selama bertahun-tahun, dan ia sangat menginginkannya. Memikirkan itu, membuat bagian bawahnya banjir jus cinta.


Ia merapat kan pahanya dan menggosokkannya, ia berharap mendapat kenikmatan seperti yang ia pikirkan, namun itu percuma, justru ia semakin bernafsu dan bagian bawahnya semakin menginginkan dimasuki oleh sesuatu. Dan akhirnya ia memilih menggunakan tangannya.


Ini sebenarnya memalukan, karena ini adalah kedua kalinya ia sangat bernafsu setelah mengintip Tang Lian melakukan itu. Dulu ia mengintip ketika Tang Lian melakukannya dengan Jia Li, dan sekarang ia mengintip lagi ketika Tang Lian melakukannya dengan Wu Sue.


Ketika tangannya hampir menyentuh lembahnya, tiba-tiba sebuah tangan menangkapnya. Fei Fei terkejut bukan main, ia spontan melihat ke arah orang yang menghentikannya.


Ketika ia melihat Tang Lian di sampingnya, ia sangat malu sampai ke ubun-ubun. Rasanya ia ingin bersembunyi di lubang semut sekarang.


Fei Fei menunduk tidak berani menatap Tang Lian karena ia tertangkap basah ingin melampiaskan nafsu seorang diri.


Tang Lian menarik Fei Fei ke pangkuannya, pada saat itu juga Fei Fei sadar jika adik kecil Tang Lian sudah keluar dari sarangnya dan berdiri tegak.


Tang Lian tidak menanggalkan pakaiannya sama sekali, ia hanya membuka resleting celananya.


"K-kamu.. A-ah!.." Kata-kata Fei Fei tertahan dan diganti dengan erangan menggoda karena Tang Lian menyentuh lembahnya.


"Kamu basah.. Hehehe.. Dasar cabul.. " Ucap Tang Lian lembut dan menggoda.


Fei Fei semakin malu, jantungnya berdetak tidak karuan, ia benar-benar ingin melarikan diri dan bersembunyi. Tapi mengapa ia seolah tidak bisa menggerakkan tubuhnya?


"I-itu tidak benar... A-aahh!!~"


Fei Fei menjawab tidak, tapi ia tiba-tiba mengerang karena adik kecil Tang Lian menembus lembahnya dengan satu kali hentakan.


"Lihat? Tongkatku bahkan sangat mudah masuk karena lembahmu yang basah.. "


Ucap Tang Lian menggoda di telinga Fei Fei. Tang Lian tidak langsung bergerak, sempitnya lembah Fei Fei hampir berhasil membuat Tang Lian mengerang hebat!.


Tidak ia pungkiri, ternyata lembah seorang wanita yang sudah lama tidak sentuh sangat sempit luar biasa!


"K-Kamu... A-aahh~" Wu Sue ingin mengatakan sesuatu tapi malah mengerang lagi karena Tang Lian menggerakkan pinggulnya keatas.


"Aku apa hm?.." Tanya Tang Lian seraya terus menggerakkan pinggulnya keatas perlahan-lahan, namun semakin lama semakin cepat, membuat Fei Fei menggeliat kenikmatan. Tanpa sadar Fei Fei justru mengikuti irama gerakan Tang Lian. Fei Fei menggerakkan pantatnya naik turun seirama dengan gerakan Tang Lian.


"Ahh.. Ahm... Ssshhh.. Uhh.. Oh... Ahhh~"


Fei Fei meracau tidak jelas, entah apa yang ia katakan semuanya tidak ada yang jelas. Hanya terdengar erangannya yang semakin membuat Tang Lian bergairah.


Dibawah sana, adik kecil Tang Lian rasanya dipijit-pijit oleh dinding Goa Fei Fei. Tang Lian yang tidak tahan dengan kenikmatan itu, akhirnya mempercepat gerakannya, begitu pula Fei Fei.


"A-aahh! A-aku hampir sampai~" Erangan Fei Fei seraya merem melek. Kenikmatan yang ia terima terlalu besar.


Adik kecil Tang Lian yang sedang mengacak acak lembahnya terasa semakin lama semakin besar.


Tang Lian yang sama dengan Fei Fei, juga memfokuskan segalanya ke bagian intim mereka, Tang Lian menghentakan sekuat tenaga dan akhirnya...


"AAAAAHHHHH!!~"


Erangan keduanya ketika mencapai puncak bersamaan. Tang Lian mengeluarkan jus cintanya di lembah Fei Fei.