PUTRA SANG PENGUASA

PUTRA SANG PENGUASA
Episode 64 "Kompensasi"


Keterkejutan Jia Li membuatnya tidak tahu harus berkata apa lagi, sebelumnya Jia Li dengan bangga dia memperkenalkan Tang Lian sebagai kekasihnya namun ayahnya tiba-tiba bersujud karena takut kepada Tang Lian.


"Ayah?." Jia Li memanggil ayahnya dengan penuh tanda tanya di dalam pikirannya. Jia Li berpikir apakah yang telah dilakukan oleh Tang Lian kepada ayahnya. Walaupun begitu Jia Kun hanya terdiam dan tidak berani bergerak meskipun dia mendengar panggilan putrinya.


Kemudian Tang Lian yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menghela nafas berat. Tang Lian berpikir bahwa ini adalah efek jika orang-orang takut kepadanya. Namun walaupun begitu, Tang Lian juga merasa ini bagus karena akan mengurangi jumlah musuhnya.


Aturan pertama dan yang paling penting di dunia kutivator ini adalah yang kuat akan berkuasa yang lemah akan menjadi pecundang. Lalu apakah Tang Lian ingin mengubah aturan itu? Jawabannya tentu saja tidak, buktinya adalah dia yang sekarang ini juga menggunakan aturan itu. Tang Lian hanya tidak ingin para iblis ikut campur dalam urusan manusia, selebih itu dia tidak peduli baik itu urusan kekuasaan atau balas dendam terhadap sesama manusia.


Pada akhirnya jika salah satu dari manusia yang memperebutkan kekuasaan atau balas dendam mereka melakukannya karena untuk orang-orang yang mereka sayangi. Kemudian ditengah-tengah semua itu para iblis akan masuk kemudian memperdaya umat manusia dan inilah yang sangat dibenci oleh Tang Lian.


Menurut Tang Lian, jalan hidup, dan takdir seseorang diri sendiri lah yang berhak untuk memutuskannya tanpa harus dicampur tangani oleh mereka para iblis. Namun terlepas dari itu semua, apakah langit mendukung jalan hidup seseorang itu tergantung kepada usaha orang itu sendiri.


(Kembali ke Tang Lian).


"Haiss... Tidak perlu sampai bersujud seperti itu pemimpin sekte, aku juga bukan orang yang berbuat semena-mena terhadap seseorang jika orang itu tidak berbuat kesalahan.." Tang Lian berbicara sambil mengangkat tubuh Jia Kun yang masih bersujud.


"Terima kasih tuan muda, dan maaf karena aku telah berpikiran salah tentang anda.." Jia Kun berkata dan berharap perkataan Tang Lian itu adalah benar. Namun meskipun begitu, Jia Kun juga masih memiliki ketakutan didalam hatinya kepada Tang Lian.


Disisi lain, semua orang baik itu para murid, guru, ataupun tetua mereka hanya bisa membelalakkan matanya karena tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Seorang pemimpin sekte yang bersujud dibawah kaki seorang pemuda yang entah dari mana asal-usulnya dan membuat kekacauan disektenya.


Hal itu membuat orang-orang berpikir bahwa Tang Lian ini bukanlah orang sembarangan dan kemungkinan besar latar belakang pemuda itu juga menakutkan.


"Tuan muda, izinkan aku untuk bertanya.." Jia Kun berkata dengan sopan, hal itu dikarenakan dia tidak ingin membuat kesalahan dalam perkataanya dan menyinggung Tang Lian.


"Silahkan saja pemimpin sekte..." Tang Lian berkata.


"Apakah keributan sebelumnya itu dilakukan oleh anda?." Jia Kun bertanya dan berharap Tang Lian tidak tersinggung.


"Itu benar pemimpin sekte, namun kamu harus tahu bahwa itu terjadi karena salah satu murid sektemu ini merendahkanku.." Tang Lian berkata sambil menunjuk kearah murid yang bersembunyi dibelakang Jia Kun.


"Apa!?." Jia Kun berkata dengan marah lalu menoleh kearah murid itu.


"Tangkap dan bawa dia ke aula hukuman!?." Jia Kun mengeluarkan perintah.


"Baik pemimpin.." Tetua dari aula hukum berkata dan langsung melumpuhkan murid itu.


"Pem...Pemimpin sekte, tolong maafkan aku... Aku tidak tahu seberapa tingginya langit... Mohon ampuni aku!!." Murid itu memohon ampun sambil berteriak histeris karena takut.


"Sudah terlambat bagimu sekarang untuk meminta maaf.." Tetua dari aula hukuman berkata dengan dingin dan dia terus menyeret murid itu untuk dihukum.


"Tidak... Tidak... Tidak... Tolong ampuni aku, aku menyesal, benar-benar menyesal..." Murid itu terus berteriak dan membuat tetua dari aula hukuman itu kesal.


Murid-murid lain yang melihat itu hanya bisa menatap kasihan kepada murid yang diseret oleh tetua aula hukuman. Para murid lain bersyukur karena bukan mereka yang menyinggung Tang Lian.


Hal itu juga menambah rasa penasaran semua orang tentang siapakah sebenarnya Tang Lian ini? Dan apakah yang telah dilakukan olehnya kepada pemimpin sekte mereka hingga sangat menghormatinya?.


"Aku harap tuan muda puas dengan hukuman murid itu.." Jia Kun berkata dengan penuh harap.


"Jika aku boleh tau memangnya hukuman seperti apa yang akan diberikan?." Tang Lian bertanya dengan penasaran.


"Jika itu sudah berurusan dengan aula hukum kami, maka paling ringan adalah menjadi sampah dan paling berat adalah mati.." Jia Kun menjelaskan.


"Baiklah, itu sudah cukup.." Tang Lian berkata.


"Tuan muda kita sebaiknya berbicara didalam saja.." Jia Kun berkata dan mempersilahkan Tang Lian mengikutinya keruangan pribadinya.


"Baik.." Tang Lian berkata dan mengikuti Jia Kun.


Disisi Jia Li, dia hanya terus terdiam dalam kebingungan, namun Tang Lian tiba-tiba menggandeng tangannya dan berjalan mengikuti Jia Kun. Jia Li yang digandeng tangannya juga hanya mengikuti saja.


Kemudian setelah itu, Tang Lian sekarang sedang duduk diatas kursi utama yang biasanya hanya bisa diduduki oleh Jia Kun. Sebelumnya Tang Lian menolak untuk duduk disana namun karena Jia Kun terus memaksa akhirnya dia duduk disana.


"Tuan muda, apakah ada yang bisa saya bantu sehingga anda rela menyianyiakan waktu untuk berkunjung kesekte kecilku ini.." Jia Kun bertanya dan membuka pembicaraan.


"Pertama-tama aku akan meminta kompensasi atas tindakan murid sekte ini.." Tang Lian berkata seolah-olah dia belum puas dengan hukuman murid sebelumnya.


"Katakan saja tuan muda, jika aku sanggup aku akan memenuhi apapun permintaan anda.." Jia Kun berkata walaupun dia sedang tenggelam dalam pikirannya tentang sebelumnya Tang Lian mengatakan sudah cukup puas dengan hukuman murid sebelumnya namun sekarang masih meminta kompensasi.


"Aku menginginkan putrimu.." Tang Lian berkata kemudian melapisi tubuh Jia Li yang berdiri disamping ayahnya kemudian menariknya kedalam pangkuannya.


Disisi Jia Li dia tidak menolak ataupun melawan dan hanya terus terus terdiam, namun wajahnya memerah karena Jia Li merasakan sesuatu yang sepertinya berbentuk kayu keras bergerak-gerak dan menyentuh goa keramatnya.


"Apakah pemimpin sekte keberatan?." Tang Lian bertanya lagi.


"Tidak tuan muda, aku tidak keberatan... Silahkan ambil saja putriku..." Jia Kun berkata sambil tersenyum.


Didalam pikiran Jia Kun dia begitu senang karena kompensasi yang disebutkan oleh Tang Lian sangat menguntungkan baginya, bagaimana tidak? Tang Lian adalah seorang pemuda yang sangat kuat, dan walaupun Jia Kun tidak tahu asal-usul Tang Lian, namun dia yakin asal-usul Tang Lian pasti tidak biasa.


***BERSAMBUNG***