PUTRA SANG PENGUASA

PUTRA SANG PENGUASA
Episode 168 "Yang Kuat Adalah Raja Dan Yang Lemah Adalah Pecundang!."


"Bocah! Kita bertemu lagi!.." Ujar pria botak itu dan menyeringai sombong.


"Kau lagi! Apa yang kau inginkan dariku?.." Ujar Yan Feng yang merasakan niat buruk dari pria botak itu.


"Bocah! Urusan kita yang kemaren belum selesai.." Kata pria botak itu seraya mengepalkan tinjunya dan perlahan berjalan kearah Yan Feng.


"Kau! Aku sudah meminta maaf tetapi kau masih menggangguku!!.."


Pria botak itu tersenyum jahat dan terus berjalan mendekat seraya berkata, "Memangnya kenapa jika aku mengganggumu? Aku adalah murid paling jenius tahun ini, sedangkan kau hanya seorang bocah kecil yang seharusnya tidak ada disini!.."


Para murid sekte yang sedang berada di sana dan memperhatikan pria botak itu sedang menindas Yan Feng, mereka menggelengkan kepalanya dan menyayangkan sikap pria botak itu. Para murid itu juga tidak berusaha menghentikan si pria botak itu karena Tang Lian sudah berada dibelakangnya tanpa ia sadari.


Yan Feng yang melihat ayahnya sudah berdiri dibelakang pria botak itu, tiba-tiba ia tertawa, "Hahaha... Mengakui diri sendiri adalah seorang jenius, monyet botak sepertimu? Hahaha!.." Tawa Yan Feng seraya memegang perutnya. Yan Feng berani bersikap seperti itu karena ayahnya yang berada dibelakang pria botak itu tetapi ia tidak menyadarinya.


Yan Feng yang menyebutnya sebagai seekor monyet botak, pastinya pria botak itu tersulut emosi. Ia sangat marah karena bocah ingusan yang masih berusia tujuh tahun itu sangat berani mengatainya.


"Bocah! Kau cari mati!!.." Teriak pria botak itu kemudian ia melompat dan mengarahkan tinjunya pada wajah Yan Feng.


Namun sebelum tinjunya mengenai Yan Feng, tiba-tiba Tang Lian muncul dari atasnya dan menginjaknya hingga telungkup ditanah.


"Baaam!!!.."


"Aahhkk!!."


"Kau ingin membunuh putraku!? Apa kau sudah bertanya padaku!?.." Ujar Tang Lian dingin seraya menginjak kepala pria botak itu.


"K-kau!!.." Pria botak itu berbicara seraya berusaha bangkit dengan susah payah.


"Hmm!!?.."


"Baam!!."


Tang Lian mendengus dan menginjak kepala pria botak itu kembali ketanah. Tang Lian tentu tidak akan membiarkannya bangun.


Pria botak itu merasakan sakit diwajahnya sekaligus ketakutan. Tang Lian hanya menggerakkan kakinya sedikit tetapi pria botak itu merasa seperti kepalanya sedang ditimpa gunung.


"Lihat! Jika bukan karena Sang Penghakim menahan kekuatannya, aku yakin murid baru itu sudah mati dengan kepala yang pecah." Bisik-bisik para murid.


"Dia yang sudah menamparku kemarin itu!." Teriak Yan Feng mengadu seraya menunjuk pria botak yang telungkup tak berdaya.


"Oh! Ternyata kau yang sudah menampar putraku ya?.." Ujar Tang Lian dan menyeringai menyeramkan.


Pria botak itu seketika menjadi lebih ketakutan, meskipun ia tidak bisa melihat wajah orang yang sedang menginjaknya, tetapi ia bisa merasakan niat membunuh orang itu merembes keluar dan membuat darahnya seolah berhenti mengalir.


"K-kau! Jika kau berani membunuhku maka penatua pertama tidak akan melepaskan mu!!.." Teriak pria botak itu mengancam.


Tang Lian tertawa ketika pria botak itu mengancamnya dengan nama penatua pertama.


"Hahaha! Apa kau mengancam ku?.."


"Benar! Heh! Apa kau takut sekarang?. Aku bisa saja melupakan masalah ini jika kau melepaskan ku.." Ujar pria botak itu yang mengira jika Tang Lian sedang ketakutan.


"Orang bodoh yang merasa dirinya adalah raja. Apa kau tidak menyadari posisimu saat ini?.." Ucap Tang Lian seraya menggelengkan kepalanya.


"Tidak usah berpura-pura lagi, sebaiknya kau segera melepaskanku atau jika tidak, bukan hanya penatua pertama yang akan memburumu tetapi juga...."


"Baaaaammmm!!!..."


"Aku sangat benci diancam!!.." Ujar Tang Lian kemudian mengangkat kakinya dari kepala pria botak itu yang telah mati tanpa bisa berteriak.


Darah pria botak itu seketika mengalir dan membasahi tanah, otak-otaknya dan tengkorak kepalanya juga berserakan kemana-mana.


Para murid yang awalnya hanya biasa saja, kini mereka merasa bulu kuduknya berdiri. Melihat bagaimana sadisnya cara Tang Lian membunuh, mereka tidak bisa untuk tidak bergetar ketakutan. Bahkan juga ada beberapa murid yang muntah karena itu.


Disisi Yan Feng, ia tidak muntah tetapi ia melotot pada mayat itu. Baru kali ini Yan Feng melihat ayahnya membunuh dengan cara yang sadis dan terlihat menjijikkan. Yan Feng menatap mayat itu dengan wajah yang pucat.


Tang Lian tau apa yang dipikirkan oleh putra angkatnya itu, lalu ia berkata, "Ini adalah dunia kultivasi yang sebenarnya. Dunia dimana membunuh adalah hal yang biasa. Yan Feng, kamu harus ingat, jika yang kuat akan menjadi raja sedangkan yang lemah adalah pecundang!.."


Setelah berkata seperti itu, Tang Lian meraih kaki pria botak yang telah mati itu dan melangkahkan kakinya pergi.


Sementara itu disisi Yan Feng, kini ia mengerti jika dunia kultivator ini sungguh kejam dan penuh kelicikan. Dari kata-kata ayahnya, ia bisa mengerti jika orang-orang akan menggunakan segala cara untuk menjadi yang terkuat.


"Aku mengerti ayah.." Jawab Yan Feng lalu mengekori ayahnya dari belakang.


Tang Lian pergi membawa mayat itu untuk menemui tetua pertama sekte elang besi. Setelah berjumpa, Tang Lian mengatakan apa yang sebenarnya terjadi dan meminta maaf karena membunuh muridnya.


Tetua pertama itu juga hanya bisa menghembuskan nafas berat dan ia harus menerimanya dengan lapang dada. Meskipun sebenarnya ia sangat menyayangkan pria botak yang baru saja ia angkat menjadi muridnya. Tetapi karena yang membunuh adalah Tang Lian, dan juga ini semua dimulai oleh pria botak itu sendiri, tetua pertama tidak berani berbicara sepatah katapun.


Setalah itu barulah Tang Lian kembali ke goa dibalik air terjun dan melanjutkan latihannya. Sementara Yan Feng dan para wanitanya kembali keaktivitas biasanya.


Disisi Lao Hu, saat ini ia sudah sampai dialam atas. Di alam atas ia tidak menyembunyikan jati dirinya sama sekali, ia berjalan dengan tubuh besarnya melewati orang-orang yang menunduk dan berlutut ketika melihatnya.


Di alam atas, tidak ada yang tidak mengenal Lao Hu sebagai harimau putih yang suci. Selain itu ia juga dijuluki sebagai pengawal suci. Setiap kali orang-orang melihatnya, maka orang-orang itu akan langsung berlutut karena kehadiran Lao Hu hampir sama seperti kehadiran Tang Lin sendiri.


Lao Hu berjalan, langkah demi langkah ia tapaki dan semakin mendekat kearah gerbang istana kekaisaran Tang. Tetapi dikarenakan dengan tubuh besarnya tidak akan muat melewati gerbang, ia pun mengubah dirinya menjadi harimau putih pada umumnya. Namun orang-orang masih dapat mengenalinya karena ia tidak menyembunyikan auranya sama sekali.


Prajurit penjaga gebang yang telah melihat Lao Hu dari kejauhan, mereka langsung membukakan gerbang lalu berlutut dengan tangan sebelah didada.


"Hormat kepada Pengawal Suci!!.." Teriak para prajurit penjaga gerbang itu serentak.