
Keesokan paginya Tang Lian kemudian bangun karena mendengar kicauan burung dipagi hari lalu menatap wajah Yun Mei yang terlelap tidur didalam pelukannya, dari wajahnya Tang Lian bisa melihat bahwa Yun Mei kelelahan.
Setiap kali Tang Lian menatap wajah isterinya itu dia merasakan kedamaian didalam hatinya hingga dia tidak bisa menyembunyikan senyumnya kemudian mencium keningnya dan perlahan bangkit dari kasurnya agar tidak membangunkannya. Tang Lian paham jika aktivitas tadi malam pasti membuatnya lelah.
Pada saat ini Tang Lian masihlah berada di sekte elang besi, karena tadi malam Tang Lian berbicara dengan Jia Kun hingga tengah malam jadi Tang Lian memutuskan untuk menginap di sekte itu.
Dari pembicaraan Tang Lian dan Jia Kun sebelumnya, Tang Lian telah mengetahui sedikit banyaknya tentang sekte teratai hitam. Tang Lian menanyakan tentang sekte itu adalah karena salah satu tetua luar dari sekte itu telah dia bunuh.
Sekte teratai hitam adalah sekte aliran hitam terkuat nomor tiga di alam rendah ini, kemudian sekte teratai hitam ini juga berada dibawah naungan kekaisaran Zhang. Karena itu Tang Lian telah memutuskan tujuan selanjutnya adalah kekaisaran Zhang dan memusnahkan sekte teratai hitam.
"Zhao Yu, aku akan mengatakannya sekali lagi bahwa perjalan kita kali ini bukanlah untuk main-main. Kamu tahu jika seseorang telah berjalan di jalan iblis maka kekuatannya jauh diatas kemampuan aslinya. Perjalanan ini sungguh berbahaya terlebih lagi musuh kita kali ini adalah salah satu sekte terkuat dari aliran hitam.." Tang Lian menjelaskan kepada Zhao Yu yang dimana mereka telah berkumpul disebuah ruangan yang disiapkan oleh Jia Kun atas permintaan Tang Lian.
"Maksud tuan?." Zhao Yu bertanya karena tidak paham akan maksud Tang Lian sebenarnya.
"Maksudku adalah, aku tidak tidak tau siapa kamu sebenarnya, kamu muncul bersamaan dengan tahta dewa penghakim dan tiba-tiba memanggilku tuan.."
"Itu... Itu..." Zhao Yu bingung bagaimana harus menjelaskan karena ini berkaitan dengan Tang Lin sang penguasa.
"Namun aku tidak akan bertanya tentang itu sekarang. Yang ingin aku tanyakan adalah apakah kamu siap berjalan di sampingku untuk menempuh jalan yang mengancam nyawa ini? Jika kamu tidak siap maka kembali lah ketempat asalmu dan itu tidak apa-apa bagiku, aku juga tidak akan marah padamu karena aku paham meskipun ranah kultivasimu setara dengan kami tetapi musuh menang dalam jumlah.."
Tang Lian bertanya tentang kesiapan Zhao Yu karena mau bagaimana pun juga Tang Lian bukanlah orang yang sanggup melihat orang-orang yang telah dia anggap sebagai keluarganya mati didepan matanya.
Disis Zhao Yu yang mendengar penjelasan Tang Lian kemudian membatin 'Ternyata tuan memikirkan keselamatanku? Aku pikir tuan akan curiga padaku apakah aku mata-mata dari aliran hitam'.
Adalah sebuah kewajaran jika Zhao Yu berpikiran seperti itu karena memang benar dia tidak pernah mengatakan siapa dia dan dari mana asalnya sebenarnya. Karena Zhao Yu muncul bersamaan dengan tahta dewa penghakim tentu saja ini mencurigakan, namun ternyata Tang Lian tidak peduli dengan itu sehingga Zhao Yu merasa sangat beruntung mengikuti Tang Lian kemudian dia bersujud.
"Tuan, aku tahu jika aku tidak memiliki cukup kekuatan untuk berdiri di sampingmu saat ini, tetapi aku telah mengabdikan hidupku untukmu, hidup dan matiku ada di tanganmu tuan, maka izinkanlah aku berjalan disisimu meskipun hanya sebagai pelayan, itu sudah lebih dari cukup bagiku..." Zhao Yu memohon sambil bersujud pada Tang Lian.
Melihat itu, mau tidak mau Tang Lian menjadi tidak tega kepada Zhao Yu karena hampir setiap kali Zhao Yu memohon maka dia akan bersujud, namun disisi lain Tang Lian juga merasa sangat senang karena kesetiaan Zhao Yu padanya, kemudian Tang Lian menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.
"Zhao Yu, kamu tidak perlu sampai bersujud seperti ini.." Tang Lian berkata dan ingin mengangkat tubuh Zhao Yu yang bersujud dihadapannya, namun terhenti untuk sesaat.
"Tidak tuan, seorang pelayan yang memohon kepada tuannya maka haruslah seperti ini.." Zhao Yu berkata seraya masih bersujud.
" Zhao Yu, aku mengakui kesetiaanmu padaku namun kamu bukanlah pelayanku..." Tang Lian berkata kemudian mengangkat tubuh Zhao Yu yang masih bersujud.
Disisi Zhao Yu dia tenggelam dalam pikirannya hingga dia tidak sadar jika dia sudah berdiri. Zhao Yu berpikir 'Jika aku bukanlah pelayan maka seperti apa aku dianggap oleh tuan?'.
"Melainkan kamu adalah tangan kananku paham?." Tang Lian melanjutkan perkataannya setelah Zhao Yu berdiri berhadap-hadapan dengannya seraya menepuk kedua bahu Zhao Yu.
Perkataan Tang Lian membuat Zhao Yu terkejut hingga pikirannya terasa kosong. Sebenarnya Tang Lian ingin mengatakan Zhao Yu sudah dia anggap seperti adiknya karena Zhao Yu terlihat lebih muda darinya, namun tidak jadi karena Tang Lian merasa cukup malu untuk mengatakannya.
"Jadi apakah aku di izinkan untuk terus mengikuti tuan?." Zhao Yu bertanya.
"Tentu saja, namun kamu harus ingat bahwa AKU TIDAK MENGIZINKANMU UNTUK MATI!!." Tang Lian berkata seraya tersenyum namun serius.
Tang Lian yang melihat Zhao Yu jarang tersenyum lalu kali ini dia tersenyum membuat Tang Lian yakin dan sepenuhnya percaya padanya. Disisi Tang Lian yang mendengar jawabanZhao Yu kemudian hanya tersenyum.
"Baaamm.." (Suara Pintu di dobrak).
"Mei'er?." Tang Lian memanggil nama Yun Mei dengan bingung karena tiba-tiba mendobrak pintu.
"Hmph!." Yun Mei hanya mendengus kesal dan tidak menjawab perkataan Tang Lian kemudian mendorong Tang Lian hingga duduk kembali dikursinya, lalu Yun Mei juga langsung meringkuk di pelukan Tang Lian.
Melihat ini Tang Lian tidak tahu harus bereaksi seperti apa dan hanya bisa berkata "Eh?." Karena bingung.
"Kesepian.." Yun Mei hanya mengatakan itu dengan singkat dan sambil tersenyum meringkuk di pelukan Tang Lian.
"Ha? Ini hanya satu jam setelah aku meninggalkan kamu yang masih tertidur didalam kamar, dan aku juga tidak akan pergi kemana-mana tanpa kamu kan?. Tang Lian berkata dengan bingung.
"Humph... Kamu tanyakan saja kepada yang namanya kesepian itu mengapa dia menghampiriku!." Yun Mei berkata dan membuat ekspresi kesal, namun di mata Tang Lian ekspresi itu sangatlah menggemaskan sampai-sampai dia ingin menarik pipinya.
"Yang namanya kesepian itu tidak memiliki bentuk, dia hanyalah sebuah perasaan yang tak berwujud. Lalu bagaimana aku bisa bertanya padanya?." Tang Lian berkata seraya mengelus lembut rambut Yun Mei.
"Cih... Sungguh pandai mengarang kata-kata..." Yun Mei tidak menjawab perkataan Tang Lian dan hanya terus membuat ekspresi kesal dan menggembungkan pipinya.
"Baiklah, baiklah kelinci manja aku salah.." Tang Lian berkata dan akhirnya dia tidak tahan dan menarik pipi Yun Mei dengan lembut.
"Mou!! Itu sakit!!." Yun Mei mengeluh dengan ekspresi yang semakin imut.
"Hahahaha..." Tang Lian yang melihat itu hanya tertawa pelan dan terus menarik pipi Yun Mei.
***Author : Halo semuanya, saya ingin menyampaikan beberapa kata.
Mungkin kalian bingung dan merasa bosan karena adegan romantisnya terlalu banyak, namun juga saya telah menulis ini dalan kategori ROMANCE DAN HAREM.
Kemudian saya hanya menuangkan semua isi imajinasi saya disini tidak peduli bagaimanapun hujatan yang telah saya terima dan saya tetap berusaha untuk semangat.
Dan kalian mungkin bingung kenapa imajinasi saya seperti itu, mungkin karena saya membutuhkan cinta seorang wanita dihidup saya yang telah 21 tahun ini.
Ketika usia saya Satu tahun delapan bulan, ayah dan ibu saya cerai lalu saya diurus oleh ayah saya seorang diri dan ibu saya pergi entah kemana dan tidak ada kabar sampai saat ini. Dan ini sudah hampir 20 tahun lamanya dan saya juga tidak tahu bagaimana rupa ibu kandung saya.
Kemudian empat tahun yang lalu ayah saya yang satu-satunya mengurus saya sedari kecil wafat dan meninggalkan saya seorang diri. Dan saya tidak memiliki saudara satupun, sebelumnya saya memiliki seorang kakak perempuan namun dia meninggal ketika usia lima tahun dan usia saya pada saat itu telah tiga tahun. Sejak saat itu saya hidup berdua bersama ayah saya yang dimana lapar dan kenyang, panas dan dingin telah kami lalui berdua dan sekarang pria yang luar biasa itu juga pergi meninggalkan saya didalam kehampaan hidup seorang diri.
Menurut kalian apakah aku tidak membutuhkan cinta juga? Saya hanyalah seorang putra tunggal dari sebuah keluarga miskin yang tinggal di pelosok negeri, lalu apakah salah jika saya ingin berkarya dan menuangkan imajinasi saya?.
***TERIMAKASIH***