
Disisi lain, seratus assassin yang melawan sepuluh ribu pasukan kekaisaran Zhang kini sudah tiga hari berlalu dan sudah lebih dari lima ribu orang mereka bunuh termasuk beberapa komandannya. Keadaan seratus orang itu juga tidak jauh lebih buruk, akibat kekurangan orang dan perang yang tidak tau kapan akan berakhir itu membuat mereka tidak memiliki waktu untuk beristirahat.
Ranah ke seratus assassin itu adalah saint tingkat puncak, namun satu-satunya alasan mengapa mereka tidak mengerahkan kekuatan penuh untuk menghabisi musuh dalam satu serangan adalah bahwa empat panglima iblis angin dan kaisar kekaisaran Zhang masih belum bergerak sama sekali. Mereka hanya bisa menunggu dan bertahan selama mungkin sampai pasukan utama tiba.
Seratus assassin itu, melindungi sebuah kekaisaran, tetapi kekaisaran itu sendiri tidak menyadari jika mereka sedang dilindungi. Tentu saja mereka memiliki alasan besar untuk melakukan ini, karena pada jaman Sang Penghakim pertama alam rendah ini jatuh kedalam kegelapan yang dimana iblis hampir menguasai delapan puluh persen seluruh wilayah alam rendah.
Waktu itu, tidak tau berapa banyak nyawa sudah melayang, bahkan mungkin sudah mencapai jutaan. Bau darah, potongan tubuh, tulang belulang manusia berserakan dimana-mana. Jaman itu adalah jaman paling kelam yang pernah dirasakan oleh manusia di alam rendah, tidak pernah satu orang pun akan tenang dalam tidur mereka. Kehadiran istana Penghakim, membawa secercah cahaya harapan bagi umat manusia yang akhirnya harapan itu akhirnya tecapai.
Mengingat bagaimana kelamnya masa itu dan betapa kerasnya mereka berjuang tentunya mereka tidak ingin masa-masa kelam itu kembali lagi.
Saat ini, lapangan pertempuran dipenuhi oleh bau darah yang mengalir seperti sungai dan potongan-potongan tubuh manusia bergelimpangan dimana-mana. Menatap itu, ekspresi Mao Tzu berubah sangat gelap.
"Sampah!! Dasar kumpulan para sampah! Bahkan membunuh seratus orang saja tidak becus!.." Teriak marah Mao Tzu.
"Hahaha.... Yang Mulia, anda tidak perlu begitu marah. Kali ini, biarkan aku menunjukkan sebagian kecil dari kekuatanku.." Ujar Mao Gu seraya tertawa senang. Ia terlihat senang entah karena itu ekspresi Mao Tzu jelek ataukah ia menemukan lawan yang membuat darahnya mendidih.
Setelah berkata demikian, Mao Gu melompat tinggi, mengarah kepada pemimpin assassin ia mengayunkan cakarnya kebawah.
Pemimpin assassin itu yang merasakan bahaya dari atas kepalanya, segera ia menebas leher lawannya saat ini lalu menggunakan pedangnya untuk menahan serangan Mao Gu.
"Trank!!!.."
Cakar Mao Gu terlihat sangat keras dan tajam, bahkan ketika beradu dengan sebuah pedang itu menciptakan percikan api.
"Tidak buruk hahaha..." Ujar Mao Gu tertawa dan menjilati cakarnya.
"Akhirnya salah satu dari mereka bergerak juga, tidak tau apakah aku bisa mengalahkannya atau tidak.." Batin pemimpin assassin itu seraya menatap tajam kearah Mao Gu.
"Kau adalah pemimpin semua orang ini kan?.." Tanya Mao Gu dengan senyuman sinis.
"Kurangi omong kosong! Kita bertarung sampai mati!.." Ujar pemimpin assassin itu lalu melesat kedepan dan mengayunkan pedangnya ke arah leher Mao Gu.
"Hehehe... Kau sungguh bersemangat, sudah tidak sabar untuk mati kah?.." Ujar Mao Gu santai dan tertawa menghina. Detik berikutnya ia menangkap pedang yang mengarah ke lehernya dengan mudah.
Mata assassin itu melebar dengan terkejut, tapi itu hanya sesaat sebelum ia mengaliri pedangnya dengan api merah yang panas.
Mao Gu seketika melepaskan tangannya dari pedang itu karena ia merasakan sangat panas.
Mao Gu memandang musuhnya sinis, "Api merah, apakah itu api kemarahan?.." Ia bertanya seraya mengibaskan tangannya akibat api merah sebelumnya.
"Sudah tau masih bertanya!.." Pemimpin assassin itu, membentuk segel tangan dan dari atas Mao Gu muncullah lingkaran sihir bulat dan dipenuhi dengan ukiran-ukiran aneh dan tulisan kuno.
Mao Gu memandang ke atas dengan senyuman meremehkan, "Tehnik kuat seperti itu, kelihatannya kau memiliki posisi yang tinggi di istana itu."
"Dari tadi kau hanya tau mengoceh seperti seekor anjing yang menggonggong!.." Pemimpin assassin itu membuka matanya lalu berteriak, "Api kemarahan, ledakkan untukku!!.."
"Swosh!!!.."
Sebuah bola api merah sebesar gunung keluar dari lingkaran sihir itu lalu melesat jatuh kebawah seperti meteor.
Aura panas yang mendominasi, mengubah suasana perang menjadi diam seketika. Semua orang memandang keatas dengan mata terbelalak dan mulut terbuka lebar. Semua orang berpikir ini adalah akhir dari hidup mereka, tapi tidak dengan seratus assassin itu. Mereka tersenyum lalu melompat dan berkumpul kembali bersama dengan pemimpin mereka.
"Matilah iblis hina!!.." Teriak semua assassin itu serentak.
Keputusasaan terpampang jelas di wajah setiap pasukan kekaisaran Zhang, mereka pikir seharusnya meraka tidak melawan sekelompok assassin itu.
Melihat itu Mao Gu seketika menjadi kesal, "Hmph!! Sampah tetap saja sampah!! Lihat bagaimana aku menghancurkan api kemarahan itu!!.." Teriaknya seraya membentuk segel tangan dengan cepat, dan detik berikutnya, sebuah bola energi yang sangat hitam yang sama besar dengan api kemarahan, melesat ke atas seperti sebuah peluru.
"Boooommm!!!."
Sebuah ledakan yang sangat dahsyat terjadi ketika api kemarahan dan bola energi hitam itu bertabrakan. Ledakan itu terjadi di ata langit, namun tetap saja membuat tanah bergetar seperti gempa.
"Uggghhhkk!!.. Sial!!.." Pemimpin assassin itu mengumpat dan memuntahkan darah. Ia tidak percaya ternyata iblis itu bisa memblokir serangan api kemarahannya, terlebih lagi saat ini ia terlihat sudah kehabisan energi dan membuatnya terjatuh dan berlutut.
Para bawahannya segera membantunya berdiri, "Pemimpin, kamu istirahatlah, selanjutnya serahkan pada kami!!.." Semua assassin itu langsung mengelilingi pemimpin mereka dan melindunginya.
"Hahaha... Hanya semut seperti kalian juga berpikir bisa mengalahkan ku? Hahahaha!!!!.." Ujar Mao Gu dan tertawa terbahak-bahak. Ia merasa semua orang yang ada dihadapannya saat ini sangat bodoh, jelas-jelas mereka bisa melihat jika api kemarahan saja bisa ditahan dengan mudah, tapi justru mereka masih berpikiran untuk terus melawan? Terlebih lagi, seratus orang itu kini sudah dikepung dari berbagai arah. Dan satu-satunya yang dapat mereka lakukan adalah, membentuk lingkaran dan melindungi pemimpin mereka ditengah.
Keadaan semua assassin itu sungguh buruk, dikarenakan mereka telah bertempur empat hari empat malam tanpa henti dengan jumlah mereka yang sangat sedikit, membuat mereka sekarang telah hampir kehabisan seluruh energi mereka. Ditambah lagi tenaga mereka yang berkurang terus menerus karena tidak minum dan makan, membuat mereka sekarang berada di posisi yang sangat sulit.
Pemimpin assassin itu memandang para anggotanya dengan tatapan tidak tega, didalam batinnya, seharusnya ia tidak melibatkan para anggotanya. Sebagai pemimpin, nyawa para anggotanya adalah tanggung jawabnya.
Pemimpin assassin itu kemudian menggelengkan kepalanya dan berkata, "Kalian semua lari lah dan selamatkan nyawa kalian, aku masih memiliki sedikit energi, sementara aku akan menahan mereka.." Ujarnya dan bangkit perlahan.