
Disisi para tetua yang masih baik-baik saja dan meliha Tang Lian, mereka seperti melihat seekor monster yang kejam hingga membuat mereka paham mengapa Jia Kun begitu takut dan menghormati Tang Lian.
Disisi Jia Kun dan para bawahan Tang Lian mereka sudah paham akan kekejaman Tang Lian bahkan para bawahan Tang Lian yang lain telah melihat hal yang lebih kejam lagi dari Tang Lian.
Berbeda dengan Jia Li yang hanya terdiam sedari tadi. Karena apa yang dia lihat dari awal membuatnya tidak bisa berkata-kata. Pada sisi ini Jia Li hanya berpikir siapakah orang yang tidak jelas asal-usulnya dan tiba-tiba menjadi kekasihnya ini? Bahkan namanya juga sampai saat ini dia tidak tahu.
Disisi Den Run sekarang dia benar-benar menyedihkan, pada posisi ini dia berharap agar lebih baik mati saja dari pada tersiksa seperti ini. Didalam batinnya Den Run benar-benar telah menyesal karena telah dibutakan oleh dendam, dia berpikir ini sepenuhnya adalah salahnya karena dia gagal mendidik anaknya dengan baik dimasa lalu, namun penyesalan selalu datang belakangan dan sekarang menyesal pun sudah tidak ada jalan untuk kembali lagi.
(Kembali ke Tang Lian).
"Aku hitung lagi sampai tiga..." Tang Lian berkata dari kursinya dan tatapan merendahkan kearah Den Run yang kondisinya sangat menyedihkan, namun ini adalah upah dari perbuatannya.
"Satu..." Tang Lian kembali menghitung.
"Dua..."
"Tiga..."
"Booommm..."
"Aaahhkk..." Den Run menjerit lagi karena kepalanya kembali diinjak oleh bayangan Tang Lian kelantai.
"Bukankah kau sangat sombong sebelumnya? Lalu kemana perginya semua kesombongan dan keyakinanmu untuk membunuhku sebelumnya? Ini hanyalah sepuluh persen dari kekuatan asliku dan kau sudah tidak sanggup berdiri?." Tang Lian berkata dengan seringai yang sangat merendahkan.
"Tu... Tuan, mohon ampuni aku..." Den Run memohon dengan nada suara yang sangat menyedihkan.
"Tidak ada ampun bagimu sebelum kau berhasil bangun..." Tang Lian berkata dengan dingin.
"Satu..." Tang Lian kembali mulai menghitung.
"Dua..."
Den Run yang mendengar perkataan Tang Lian sebelumnya kemudian berusaha lagi untuk bangkit dengan susah payah dan menahan semua rasa sakitnya, namun...
"Tiga..."
"Booommm..."
"Aaaaahhhhkkkk..."
Hitungan ketiga telah sampai dan Tang Lian kembali menginjak kepalanya dengan keras hingga membuatnya menjerit kesakitan lebih keras dari sebelumnya.
Hal yang sama terus terjadi berkali-kali hingga pada akhirnya Den Run sudah menyerah dan pasrah akan nasibnya karena sekarang untuk berbicara saja dia sudah tidak sanggup lagi.
"Hm? Sudah tidak bisa berbicara lagi? Cih... kau membuatku kecewa, pemimpin sekte lakukan apa yang menurutmu pantas untuknya..." Tang Lian berkata dan menghilangkan tehnik menggandakan dirinya.
Tang Lian menyerahkan Den Run kepada Jia Kun adalah karena urusan kedua orang itu masih belum selesai.
Ketika Jia Kun melihat wajah Den Run yang sudah tidak bisa dekenali lagi karena bengkak dan penuh dengan darah dia begitu terkejut hingga membelalakkan matanya. Jia Kun berpikir apakah ini benar-benar Den Run?. Namun baik itu Den Run atau bukan hal ini pantas dia dapatkan.
"Dimana giok jiwa putriku yang asli?." Jia Kun bertanya dengan tatapan tajam.
Disisi Den Run yang masih sedikit sadar hanya menggerakkan jari telunjuknya dengan susah payah seakan mengatakan ada disini.
"Hm?." Jia Kun kemudian melirik kearah jari Den Run dan dia melihat cincin disana dan langsung saja mengambilnya kemudian dia memeriksa kedalam cincin itu untuk mencari giok jiwa putrinya yang asli.
Setelah beberapa menit akhirnya Jia Kun menemukan giok jiwa putrinya yang asli dan langsung mengeluarkannya. Didalam cincin itu juga terdapat berbagai tanaman herbal dan koin emas namun Jia Kun tidak membutuhkan itu karena dia juga memilikinya bahkan lebih banyak lagi. Setelah itu Jia Kun kemudian membuang cincin itu ketubuh Den Run.
"Aku sudah katakan sebelumnya, seorang penghianat hukumannya adalah mati!." Jia Kun berkata kemudian mengeluarkan pedang dari cincin penyimpanannya lalu memotong kepala Den Run.
Setelah Jia Kun memotong kepala Den Run, kemudian wujud Den Run kembali ke bentuk manusianya. Melihat itu mau tidak mau Jia Kun merasa sedikit sedih dihatinya karena Den Run sudah dia anggap seperti adiknya sendiri. Namun terlepas dari itu semua Jia Kun tidak ingin membuat semua orang kecewa padanya karena berbelas kasih kepada orang-orang dari aliran hitam.
"Tetua dari aula hukum, urus mayatnya..." Jia Kun berkata sambil memejamkan matanya kemudian berbalik dan membelakangi mayat Den Run dan kembali ke kursinya.
"Baik pemimpin sekte.." Tetua aula hukum yang aslinya adalah tetua ketiga menjawab kemudian mengambil mayat Den Run dan membawanya keluar dari ruangan itu.
Ketika tetua dari aula hukum keluar dari ruangan dia melihat begitu banyak murid yang berkumpul diluar karena suara pertarungan sebelumnya. Namun walaupun demikian tidak ada satu murid pun yang berani menerobos masuk karena pertarungan yang terjadi didalam ruangan utama itu jauh diatas level mereka.
Para murid yang berkumpul begitu terkejut karena melihat tetua aula hukum membawa tubuh Den Run yang sudah terlepas dengan kepalanya. Sedangkan kepala Den Run sendiri ada ditangan kanan tetua aula hukum dan tubuhnya dibopong disebelah kiri bahunya.
"Saudara, apa yang sebenarnya terjadi didalam dan mengapa wakil pemimpin sekte bisa mati?."
"Aku juga tidak tahu saudara, aku hanya bisa mendengar suara pertarungan didalam tadi, awalnya aku kira semua orang didalam bersatu melawan pemuda yang kurang ajar sebelumnya namun tak disangka ternyata wakil pemimpin sekte menjadi korbannya..."
"Benar saudara, aku juga tidak senang melihat pemimpin sekte bersujud dibawah kakinya, memangnya siapa dia? Terlebih lagi usianya hampir sama dengan kita.."
Para murid yang berkumpul berbisik-bisik dan menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi didalam ruangan utama itu. Namun tidak sedikit juga para murid yang berspekulasi bahwa pertarungan itu adalah untuk memberikan pelajaran kepada Tang Lian. Karena mereka juga memiliki rasa ketidak senang-an didalam hatinya karena pemimpin sekte mereka bersujud dibawah kaki Tang Lian.
Disisi tetua aula hukum dia begitu kesal ketika mendengar bisikan para murid namun heboh dan dapat didengar dengan jelas olehnya. Tetua dari aula hukum takut jika Tang Lian mendengar ini maka sekte ini bisa rata dengan tanah.
"Diam!!." Tetua dari aula hukum berteriak keras dan membuat para murid yang berbisik seketika terdiam.
"Apa yang kalian lakukan disini? Berbisik-bisik dan merendahkan tuan muda? Kalian mencari kematian!!." Tetua dari aula hukum berteriak kesal dan mengeluarkan aura penindasan yang besar kepada semua murid disana.
Para murid yang merasakan aura penindasan yang besar itu kemudian merasa tertekan hingga mereka berlutut dan meminta maaf.
"Te...tetua, maafkan kami, kami tidak bermaksud seperti itu..!" Para murid meminta maaf dan memohon.
"Jika begitu bubarlah dan jangan sekali-kali berani untuk menghina tuan muda, dan jika itu terjadi maka MATI!!." Tetua aula hukum berkata dan mengancam para muridnya.
"Baik... Baik tetua!!." Para murid berkata dan berlari ketakutan kemudian bubar dari sana.
***BERSAMBUNG***