
Setelah itu Tang Lian kemudian menunjuk pelayan yang dia selamatkan sebelumnya menjadi pemimpin kota. Pelayan yang bernama Liu Mingyan itu sebenarnya ingin menolak tetapi Tang Lian mengatakan tidak ada yang pantas selain dirinya dan terus memaksa.
Liu Mingyan adalah gadis muda yang berusia dua puluh tahun, kultivasinya hanya berada pada ranah prajurit perak tingkat awal, namun walaupun demikian pemikirannya sangat pintar, cerdas, baik hati dan parasnya yang cantik. Oleh sebab itulah Tang Lian memilihnya.
Pada awalnya para warga kota singa api itu menolak Liu Mingyan untuk menjadi pemimpin kota mereka, namun setelah Tang Lian menjelaskan tentang kelebihan Liu Mingyan akhirnya para warga setuju.
Kemudian sore hari telah tiba dan Tang Lian beserta para bawahannya kini berada didalam sebuah penjara bawah tanah bersama Liu Mingyan. Tang Lian mengunjungi penjara bawah tanah adalah untuk memeriksa aura menjijikkan yang masih tersisa dan itu ada didalam penjara bawah tanah itu.
Ketika Tang Lian dan para bawahannya sedang berjalan, Tang Lian melihat banyak sekali para gadis dan singa api yang bertaring panjang dan kepalanya yang berapi-api dipenjarakan disana.
Keadaan para gadis itu sangatlah menyedihkan dengan pakaian yang telah kumal dan compang camping, para gadis itu bisa dikatakan setengah telanjang sekarang karena pakaian mereka hanya menutupi bagian sensitifnya saja.
Melihat itu akhirnya melepaskan mereka satu persatu dan memberikan mereka pakaian yang lebih layak lagi untuk dipakai. Pada awalnya para gadis itu ketakutan ketika mereka melihat Tang Lian masuk ke penjara itu, mereka berpikir bahwa Tang Lian akan menodai dan membunuh mereka persis seperti yang dilakukan oleh pemimpin kota sebelumnya.
Mereka tidak tau apa yang telah terjadi diluar sana jadi wajar saja jika mereka ketakutan terlebih lagi penampilan Tang Lian yang lumayan menyeramkan karena seekor ular yang melilit dilehernya.
"Ja...jangan mendekat!!!." Seorang gadis berkata kepada Tang Lian yang telah membuka pintu penjara.
Tang Lian tidak memperdulikan apa yang dikatakan oleh gadis yang ada didepannya dan terus berjalan mendekat secara perlahan dan membuat gadis itu mundur juga dengan perlahan hingga akhirnya mentok didinding.
"Ku...kumohon, tolong jangan bunuh aku, aku bersedia melakukan apapun bahkan jika menjadi budak **** sekalipun.." Gadis itu berkata sambil bersujud dan memohon karena terlalu takut.
Gadis itu telah melihat bagaimana pemimpin kota sebelumnya tanpa ampun memutilasi satu persatu tubuh gadis lainnya dan meminum darahnya hingga gadis itu mati. Karena itu dia juga berpikir bahwa pemuda yang ada dihadapannya juga sama seperti pemimpin kota sebelumnya.
"Nona tenanglah, aku tidak akan menyakitimu.." Tang Lian berkata dengan lembut dan mengangkat tubuh gadis itu perlahan-lahan.
Gadis itu juga telah mendengar kata yang sama dari pemimpin kota sebelumnya dan tanpa sadar dia mendorong Tang Lian menjauh dengan kasar.
"Bo...Bohong, kamu berbohong, pemimpin kota bajingan itu juga berkata seperti itu.." Gadis itu berkata dengan tidak percaya dan tubuh yang gemetaran.
"Terserah nona saja jika tidak percaya.." Tang Lian berkata kemudian melemparkan sepasang pakaian yang bersih dan berjalan keluar meninggalkan gadis itu.
Setelah itu Tang Lian kemudian melakukan hal yang sama juga kepada gadis lainnya hingga selesai.
"Nona Liu Mingyan, bawa mereka keluar dan kembalikan kepada keluarganya.." Tang Lian berkata setelah semua gadis telah dia bebaskan.
"Baik tuan muda..." Liu Mingyan menjawab sambil menangkupkan tangannya tanda dia menghormati Tang Lian.
Gadis sebelumnya yang tidak percaya kepada Tang Lian kemudian menjadi percaya dan merasa bersalah atas sikapnya kepada Tang Lian.
"Tu...Tunggu sebentar tuan muda.." Gadis itu menghentikan Tang Lian yang ingin berjalan masuk untuk mengurus para singa api yang terus berontak didalam penjara.
"Apakah ada yang ingin nona sampaikan?." Tang Lian bertanya dengan bingung dan menghentikan langkahnya.
"I...itu, apakah kamu tidak ikut dengan kami?." Gadis itu berkata dengan gelagapan.
"La...lalu apakah kita akan bertemu lagi?." Gadis itu bertanya dengan malu dan pipi merah merona seperti tomat.
Sejujurnya gadis itu terpana akan ketampanan Tang Lian tetapi karena dia terlalu takut sebelumnya jadi gadis itu bersikap kasar pada Tang Lian.
Tang Lian yang melihat seorang gadis cantik dan gunung kembar yang besar berbicara kepadanya dengan malu-malu kini menyunggingkan senyumnya.
"Nona siapa namamu?." Tang Lian bertanya sambil berjalan mendekat dengan perlahan.
"Ji...Jia Li." Gadis itu menjawab dengan tergagap dan merasakan jantungnya berdegup kencang karena mendekat kearahnya.
Tang Lian yang melihat itu semakin melebarkan senyumnya dan terus berjalan mendekat hingga jarak mereka berdua hanya tersisa satu jengkal saja kemudian Tang Lian mengecup kening Jia Li dengan lembut.
"Kucing penakut yang cantik, tunggu saja aku diluar..." Tang Lian berkata dengan lembut setelah dia mengecup kening Jia Li.
Jia Li yang tidak menyangka akan mendapatkan perhatian yang intim dari Tang Lian kini terdiam melongo dan detak jantungnya yang semakin kencang.
"Ap...Apa artinya itu?." Jia Li bertanya dengan bingung namun pipinya semakin memerah seolah-olah menginginkan ciuman yang lebih dan menggigit bibirnya sendiri dengan lembut.
"Ha? Kamu tidak tau apa artinya itu?." Tang Lian bertanya kembali dengan bingung.
"Tidak, aku tidak tau..." Jia Li menjawab sambil memainkan jari telunjuknya.
"Lalu apakah kamu tau apa artinya ini?." Tang Lian bertanya kemudian mencium bibir Jia Li dengan lembut.
Disisi Jia Li dia hanya menerima ciuman itu dengan hati yang berbunga-bunga, dia tidak menyangka akan bertemu jodohnya disini. Kemudian Jia Li juga membalas ciuman Tang Lian dengan kaku karena ini adalah ciuman pertamanya.
"Apakah sekarang kucing penakut yang cantik ini sudah paham?." Tang Lian berkata setelah melepaskan ciumannya dan membelai lembut pipi Jia Li.
"Emm..." Jia Li menjawab dan menundukkan kepalanya karena malu dan tidak berani menatap mata Tang Lian.
"Baiklah, sekarang tunggu saja diluar, setelah urusanku selesai maka aku akan membawamu menjumpai ayah dan ibumu.." Tang Lian berkata kemudian meninggalkan Jia Li yang masih terdiam menunduk malu.
"Apakah dia akan melamarku?." Jia Li membatin kemudian dengan hati yang berbunga-bunga Jia Li menyusul gadis lainnya untuk keluar.
Diposisi Tang Lian sekarang dia sedang mengeluarkan aura penindasan yang kuat kepada singa api yang terus memberontak didalam penjara.
"Diam!!." Tang Lian berteriak sambil mengeluarkan aura penindasan yang kuat dan seketika semua singa api itu terdiam dan ketakutan karena aura penindasan Tang Lian jauh lebih kuat dari pemimpin kota sebelumnya.
"Nah, begini lebih baik.." Tang Lian berkata kemudian menarik kembali aura penindasannya.
(Author: Halo para pembaca PSP yang setia, mohon maaf karena beberapa hari ini saya hanya update satu episode perhari. Itu dikarenakan saya sedang sibuk dengan urusan dunia nyata, tapi saya janji setelah urusan saya selesai saya akan crazy up lima episode perhari terimakasih.)
***BERSAMBUNG***